Follow Us @agnes_bemoe

Tuesday 27 June 2017

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: PERNIK ASYIK MARIA SYAUTA

Judul Buku                  : Pernik Indah di Kain Hidupku
Penulis                         : Maria Syauta
Jenis                            : Motivasi

Pernik Indah di Kain Hidupku - Maria Syauta

Dalam kehidupan yang serba sibuk dan bising, banyak hal kecil dilewati, dianggap remeh, lalu dilupakan begitu saja. Maria Syauta memilih jalan berbeda. Ia memilih berhenti sejenak, menajamkan telinga, melihat lebih dalam, lalu ‘mengunyahnya’. Kunyahannya itulah yang dikumpulkan menjadi duapuluh sembilan tulisan di buku ini.
Sebuah lorong ICU yang bersebelahan dengan ruang bersalin di sebuah rumah sakit, misalnya, yang sehari-harinya adalah hal yang amat sangat lumrah mengantar Maria Syauta pada permenungan tentang siklus hidup manusia. Lahir dan mati. Suka dan duka. Datang dan pergi. Semuanya itu adalah satu paket keniscayaan yang tidak bisa dielakkan oleh manusia. Kalimat seperti ini mungkin sering terbaca di berbagai tulisan. Namun, pernahkan kita hening sejenak merasakan maknanya?  
Buku ini asyik dibaca terutama karena mengangkat hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Diawali dengan kutipan lagu atau puisi, setiap tulisannya memaparkan perjalanan refleksi penulisnya dengan ringan. Penulisannya ringkas dan tidak bertele-tele. Tulisannya pendek dengan bahasa yang efektif. Karenanya, beberapa tulisan di dalamnya langsung menjadi favorit saya. Sebut saja “Don’t Give Up” di halaman 35 atau “Komitmen Cinta 40 Hari” di halaman 89.
Selain isinya yang menyenangkan, saya ingin secara khusus mengangkat topi pada kualitas bahasa yang digunakan Maria Syauta. Bila pengamatan saya tidak keliru, buku ini tidak menggunakan editor profesional. Namun demikian, saya nyaris tidak menemukan kesalahan berbahasa yang memalukan. Menurut saya, sudah saatnya yang mengaku penulis konsekuen dengan kualitas pembahasaannya. Dan, saya sangat menghargai Maria Syauta dalam hal ini. Ini menjadi standar baru yang akan mengangkat martabat buku-buku indie.
Bila saya boleh menyampaikan kritik, yang mengganggu buat saya adalah jumlah endorsement di bagian awal. Saya pernah menemukan buku-buku serupa dan saya menamainya buku dengan “entrée yang terlalu berat pada jamuan three-courses meal”. Karena isinya cenderung sama, pembaca ‘kekenyangan’ sebelum menikmati isi buku sebenarnya. Saya memilih memanfaatkan endorsement sebagai pemancing terhadap isi. Karenanya, satu, dua, atau tiga buah yang benar-benar ‘nonjok’ akan lebih menyegarkan dan bermanfaat.
Namun demikian, terlepas dari kekurangannya (yang mungkin juga selera pribadi saya), saya menikmati buku ini. Mengutip yang dikatakan Fidelis R. Situmorang –salah seorang endorser-: buku ini sangat saya rekomendasikan kepada para pembaca karena sebenarnya semua orang mengalaminya dan pemaknaannya tergantung pada semua pengalaman dan input yang masuk entah tersaring secara spiritual atau tidak. Buku ini menjadi cerminan dan tuntunan yang sangat apik bagi kita untuk memaknai kehidupan kita sehari-hari. Highly recommended! (db)

***

Pembatuan, 28 Juni 2017

@agnes_bemoe

No comments:

Post a Comment