Friday, 15 April 2016

BEHIND THE SCENE [BTS]: PRISCILLA'S EASTER EGGS AND THE OTHER EASTER STORIES



Beberapa tahun yang lalu, ketika mengajar Sekolah Minggu, saya kesulitan mencari buku-buku cerita tentang Paskah. Sampai ketika saya menjadi penulis sekarang ini, jarang sekali saya menemukan cerita bertema Paskah di toko buku. 
Saya pun terpikir, kenapa tidak membuatnya?

Dengan itu, saya lalu mulai mengerjakan naskah ini.
Sejak awal saya memang menginginkan naskah ini dalam bentuk picture story book, untuk anak usia 3 – 6 tahun. Dalam bayangan saya, cute sekali Paskah itu untuk anak usia dini. Namun, karena untuk anak usia dini, kesulitannya adalah menerjemahkan katekese Paskah menjadi lebih sederhana.
Prapaskah dan Paskah itu berat dan dalam. Saya ingin anak-anak menangkap intinya, yakni kasih sayang Allah melalui Yesus tapi saya tidak ingin ceritanya menjadi terlalu biblis-teologis (yang mana saya juga nggak bisa). Di lain pihak, saya agak keberatan kalau ceritanya hanya festive saja lalu mengaburkan inti perayaannya.

Dengan berusaha tarik ulur antara dua titik itu, saya menyusun ceritanya.
Kurang tahu deh, apakah saya berhasil berdiri di posisi tengah antara sisi bliblis-teologis dengan sisi festive. Yang jelas, kemudian jadilah lima buah cerita yang saya anggap cukup unyu.
Saya minta tolong InnerChild Std. untuk membuatkan ilustrasinya. Hasilnya, luar biasa! Serangkaian ilustrasi super cute dibuatkan oleh InnerChild Std.! Saya menggunakan kata “dibuatkan” di sini karena saya sama sekali tidak membuat usulan ilustrasi. Jadi, ilustrasi murni interpretasi InnerChild Std. atas naskah saya. Hasilnya, seperti saya katakana tadi: rruarrr biasa! Mungkin agak aneh, hehehe… tapi saya jatuh cinta pada ilustrasi naskah ini.

Ilustrasi oleh InnerChild Std.

Maka, selanjutnya, naskah berikut ilustrasinya ini saya usulkan ke Penerbit Andi. Puji Tuhan, Penerbit Andi menerimanya. Proses di Penerbit Andi cukup lama, apalagi kemudian saya sakit. Naskah ini sebenarnya sudah selesai setahun lalu namun karena jatuhnya setelah masa Paskah maka ditunda ke tahun berikutnya yaitu tahun 2016.

Maret 2016 saya menerima email dari Penerbit Andi, mengabarkan bahwa naskah ini  sudah terbit per 1 Maret 2016. Betapa lega rasanya, mendengar berita itu. Naskah ini melewati perjalanan waktu yang cukup panjang sampai terbitnya. Lebih bersemangat lagi waktu saya menerima bukti terbit dan melihat isinya. Woah! Super duper cute! Apa yang saya bayangkan tentang isi buku yang kristiani dan cute tertuang di situ. Puji Tuhan!

Terima kasih pada Penerbit Andi. Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk InnerChild Std. Mudah-mudahan buku ini bermanfaat (untuk anak-anak Sekolah Minggu, khususnya) dan diterima oleh anak-anak di seluruh Indonesia ya.


Pembatuan, 16 April 2016

@agnes_bemoe

Info detil tentang buku ini bisa dibaca di sini.

Sunday, 20 March 2016

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: KETIKA ANAK 8 TAHUN MENULIS

Judul Buku                  : Ugly Hammerhead Shark
Penulis                         : Kiera E. Kusuma, Jaythaneal S. Sutrisno, P. Nina Hamdani
Bahasa                         : Bahasa Inggris
Ilustrator                     : Hans Christian
Penerbit                       : CV Jade Edukasi
Genre                          : Fiksi Anak
Jumlah Halaman          : 56 halaman



Kata orang, kualitas lebih berarti daripada kuantitas. Buku ini salah satu buktinya. Isinya hanya tiga buah cerita tapi cerita-cerita di dalamnya sangat menarik dari segala aspeknya.
Ambil contoh cerita yang ditulis oleh P. Nina Hamdani (8 tahun). Nina menulis tentang Ade, orang utan yang super manja. Karena kemanjaannya itu orang tua angkatnya memutuskan untuk mengembalikannya ke kebun binatang. Dari situlah permasalahan Ade dimulai: ia yang terbiasa manja tidak tahan dengan kehidupan mandiri dan bebas di luar rumahnya.
Kedengarannya sederhana ya? Tapi justru kesederhanaan ide itulah yang membuat cerita ini menarik. Apalagi, Nina piawai mengeksekusi ide dan menuangkannya ke dalam cerita. Cerita mengalir lancar dalam bahasa Inggris yang berterima. Cerita juga terasa cute, khas cerita anak.  Melihat betapa sempurnanya tata bahasa dan kosa kata, disertai dengan gaya bercerita yang luwes, sulit untuk percaya bahwa cerita itu ditulis oleh anak yang baru duduk di kelas 3 SD. Dua cerita lainnya, yang ditulis oleh anak berusia 8 dan 9 tahun, juga memiliki kualitas yang sama. 
Cerita-cerita di buku ini menawarkan ruang yang luas pada pembacanya untuk berimajinasi. Lembar demi lembar menuntun pembacanya untuk sejenak pindah ke kehidupan Bella, Hammerhead Shark, dan Ade. Masing-masing adalah ketiga tokoh dalam cerita-cerita tersebut. Apa lagi yang bisa diharapkan pembaca selain dipuaskan kehausannya untuk berimajinasi?
Ketiga cerita itu juga menunjukkan bahwa penulisnya punya pengetahuan yang dalam tentang apa yang ditulisnya. Bacalah cerita “Ugly Hammerhead Shark”, cerita kedua yang menjadi judul buku ini, anda akan dibawa pada keindahan beraneka ikan, khususnya hiu.
Buku ini, menurut saya, sebentuk angin segar dalam dunia perbukuan anak Indonesia. Tidak hanya karena isinya yang bagus dan menarik tapi juga karena ditulis oleh anak-anak Indonesia, dalam usia mereka yang masih sangat muda.
Beberapa kali dalam beberapa tulisan saya mengungkapkan keprihatinan saya tentang buku anak Indonesia yang semakin denotatif, penuh ajaran/informasi (beberapa di antaranya malah ajaran untuk membenci kelompok/makhluk lain), miskin imajinasi, dan ditulis dengan bahasa yang amburadul. Buku ini saya rasa menjadi alternatif bagi orang tua yang membutuhkan bacaan bermutu untuk anak-anaknya.


Pekanbaru, 21 Maret 2016

Agnes Bemoe

Sunday, 6 March 2016

SERU SETIAP SAAT

SERU SETIAP SAAT
Saya langsung jatuh cinta pada Seru Setiap Saat sejak pertama kali membaca cerita-ceritanya. Ceritanya (yang berupa picture story book) dibuat dengan sederhana.  Bahasanya indah, isinya  menarik, serta memanjakan daya imajinasi anak.
Akhir-akhir ini saya melihat buku anak (bahkan yang picture story book) bergerak dari imajinatif menjadi informatif. Pembahasaan konotatif menjadi denotatif. Implisit menjadi eksplisit. Buku anak dipenuhi dengan pesan-pesan moral atau ilmu pengetahuan yang eksplisit. Ruang untuk berimajinasi menyempit, kalau tidak mau dikatakan tidak ada.
Masa kanak-kanak adalah masa dimana imajinasi anak sedang berkembang dengan “liar”. Perhatikan bahwa anak bisa mengarang sendiri cerita sambil bermain. Tunas imajinasi itu hendaknya dipupuk dan dibina. Salah satunya dengan bahan bacaan yang baik, yang memberi ruang bagi imajinasi anak.
Sebaliknya, bila pada masa bermain dengan imjinasi itu anak-anak disesakkan dengan informasi dan pengajaran lain, daya imajinasinya tidak sempat berkembang, sudah langsung terkotakkan dengan pengajaran dan informasi yang didapatnya. Anak-anak dengan kapasitas berpikir yang terkotakkan adalah kerugian besar, buat anak, buat keluarga, buat masyarakat, buat bangsa.

MENULIS UNTUK SERU SETIAP SAAT
Karenanya, saya senang sekali diajak ikut menulis di “Seru Setiap Saat” oleh Gita Lovusa, kreator “Seru Setiap Saat”.
Saya mengirimkan cerita yang berjudul "Harta Karun Kakek". Isinya tentang salah satu kekayaan alam Indonesia yang belum semua orang tahu, yakni ikan terubuk. Apa uniknya ikan ini? Baca saja ceritanya ya.


Selanjutnya, saya menyarankan teman-teman saya yang punya anak balita, silakan berkunjung ke “Seru Setiap Saat”. Kunjungi fanpage di sini dan IG-nya di serusetiapsaat. Saya merekomendasikan cerita-ceritanya untuk dibaca bersama putra-putri di rumah. 
Buat Mbak Gita Lovusa, salut berat! Angkat topi! Mudah-mudahan semakin berkembang!

***



Pembatuan, 6 Maret 2016
@agnes_bemoe

Thursday, 18 February 2016

Apakah Kau Merasakan Rindu yang Sama

Apakah kau merasakan rindu yang sama
Yang mengetuk-ngetuk seperti gemericik air di kali kecil
Mendesau seperti daun-daun dihela angin musim gugur

Rindu yang mengganggu
Setiap kali kulihat hanya bayangmu

Rindu yang kucoba titipkan pada siul burung pagi
Atau percik sinar matahari

Rindu yang membuncah waktu bintang-bintang asyik berkelip
Berlomba-lomba menarik malam dalam rengkuhnya

Rindu yang kuharap hinggap pada pucuk-pucuk jemarimu
Dan menghangat waktu kau sentuh dadamu,
Tempat hatimu berada

Apakah kau merasakan rindu yang sama,
Yang kutahan dalam-dalam
Dalam syair puisi miskin makna

Apakah kau merasakan rindu yang sama,
Atau biar kurelakan ia terlunta-lunta
Di padang tandus tak bernama
Sampai suatu saat, ia akhirnya bertemu
ajalnya

 ***

Pembatuan, 19 Februari 2016
@agnes_bemoe

Foto milik Agnes Bemoe



Friday, 5 February 2016

Monster Mimpi


Monster Mimpi menyerang kota Orey-Stroberey! Ia mencuri mimpi anak-anak kecil.

Anak-anak kecil sekarang tidak lagi bermimpi. Akibatnya, pagi hari di kota Orey-Stroberey jadi sunyi. Anak-anak tidak lagi saling menceritakan mimpi mereka. Biasanya, begitu bangun pagi terdengar riuh suara anak-anak kecil yang berebutan menceritakan tentang mimpi mereka semalam.

“Mama, aku mimpi bertemu dengan Robot Kluxendox dari Planet Zoar.”

“Aku bermimpi pergi ke Afrika, bertemu dengan gajah dan cheetah…”

“Hii…! Aku mimpi dikejar-kejar sepasukan kucing raksasa!”

Setelah bangun dari tidur mereka langsung mandi, sarapan, pergi ke sekolah.

Siang hari di kota Orey-Stroberey juga menjadi sunyi. Anak-anak tidak lagi saling menceritakan mimpi mereka pada teman-temannya. Pekerjaan mereka hanyalah menulis, berhitung, membaca. Pada jam istirahat mereka hanya saling menatap satu sama lain. Mereka duduk dengan tertib, tidak ada pembicaraan satu sama lain. Sekolah menjadi begitu sunyi.

Sepulang sekolah mereka juga hanya duduk menghadap ke layar televisi. Mereka duduk diam di situ tanpa berkata apa-apa.

Semua orang senang akan keadaan ini. Tidak ada lagi anak-anak yang ribut. Semua orang? Tidak! Ada satu orang yang tidak senang. Dia adalah Kakek Dominggo.

Kakek Dominggo pergi menemui Monster Mimpi. Beliau meminta supaya mengembalikan mimpi anak-anak di kota Orey-Stroberey.

“Tidak bisa! Kecuali…”

“Kecuali apa, hai Monster Mimpi?”

“Kecuali aku dibuatkan brownies yang enak setiap pagi! Aku suka brownies!” Monster Mimpi tertawa-tawa.

“Monster, aku, aku tidak bisa membuat kue…”

“Ya, kalau begitu, aku tetap akan menyimpan mimpi anak-anak!”

Dengan lemas Kakek Dominggo pulang. Namun demikian, ia bertekad membuat kue brownies untuk diberikan pada Monster Mimpi. Kakek Dominggo mengambil buku resep Nenek Dominggo, lalu berusaha membuat kue. Sekuat tenaga Kakek Dominggo berusaha membuat kue brownies yang lezat. Apa daya, jangankan lezat, jadi pun tidak. Kasihan Kakek Dominggo. Ia kelihatan kuyu dan sangat sedih.

Hal ini dilihat oleh Nenek Dominggo. Setelah mengetahui bahwa Kakek Dominggo membuatkan brownies untuk Monster Mimpi, Nenek Dominggo pun turun tangan. Nenek membuat kue brownies yang lezat! Hore!

Langsung saja Kakek Dominggo membawa kue brownies itu pada Monster Mimpi.

“Lho! Kok cuma sepuluh? Aku mau SERATUS!” Monster Mimpi cemberut.

Terpaksalah Kakek Dominggo kembali ke rumah dengan tangan hampa. Sampai di rumah mereka berdua terburu-buru membuat seratus kue brownies. Saking sibuknya, mereka sampai tidak menyadari ada tamu di rumah mereka.

“Kakek, Nenek, ini kan waktunya Kakek dan Nenek membacakan cerita!” Anak-anak kecil itu berseru.

“Kali ini aku tidak bisa, anak-anak.” Kakek Dominggo melap peluh di keningnya. Beliau lalu menceritakan perjanjiannya dengan Monster Mimpi.

“Kakek, kami ingin sekali membantu, tapi bagaimana?” seru Suli.

“Kakek, mari kita perangi Monster Mimpi!” teriak Obbie.

“Kakek, biar aku yang mengaduk adonannya!” jerit Lucy.

Semua berebut ingin membantu. Mereka memang sangat menyayangi Kakek Dominggo. Kakek Dominggo suka menceritakan dongeng yang seru buat mereka.

“Aku tahu, teman-teman!” Lipo berseru. “Kita tidak bisa berperang, kita juga masih terlalu kecil untuk mengaduk adonan ini. Tapi…”

Teman-temannya mencondongkan kepala mereka, menunggu perkataan Lipo.

“Kita bisa bernyanyi bersama-sama untuk menghibur Kakek Dominggo!”

Maka, mereka pun mulai menyanyi dengan penuh semangat. Mereka menyanyikan lagu “Kelinciku”, “Balonku”, dll.

 

Jauh di atas gunung Monster Mimpi terbangun dari tidur nyenyaknya.

“Hoaah!! Suara apa itu!” Monster Mimpi mengaum. Dengan mata besarnya ia melihat sekumpulan anak-anak kecil bernyanyi di sekeliling Kakek Dominggo.

“GRMHLKZSHG!! Anak-anak! Lagi-lagi anak-anak! Huh! Mendengar mereka menceritakan mimpi mereka saja sudah membuat aku sakit kepala! Sekarang, aku malah mendengar mereka bernyanyi! Rrhoooaarrrhhh!!” Kembali Monster Mimpi mengaum dengan marahnya.

Ia lalu melesat menemui Kakek Dominggo.

“Hai Pak Monster, kue browniesmu hampir selesai….” Kakek Dominggo terengah-engah. Membuat seratus biji kue brownies merupakan pekerjaan yang berat untuk beliau.

“Aah! Diamlah! Lupakan kue brownies! Tapi, suruh anak-anak ini DIAM!” Monster Mimpi menutup kupingnya yang kesakitan mendengar suara nyanyian anak-anak.

“Kami tidak akan diam selama engkau masih saja mengganggu kakek kami!” teriak Lipo dengan berani.

Monster Mimpi terkejut melihat anak kecil yang pemberani itu. Wajahnya berubah menjadi merah kehijauan, ungu, oranye, biru, merah lagi, lalu kuning.

“Kau! Kau bera…” Monster Mimpi hendak mencengkeram Lipo.

Melompat-lompat jalan kelinciku!!!” Serentak anak-anak kembali bernyanyi.

“Aduh! Aduuhh! Sakit telingaku. Tolooong!”

“Nah, Pak Monster,bertindaklah bijaksana. Jangan pernah melawan anak-anak kecil ini. Ayo, kembalikan mimpi mereka sekarang juga! Kalau tidak…” Kakek Dominggo berseru.

“Ba… Baikah! Akan aku kembalikan mimpi anak-anak… separuhnya….”

“Telinganya bergerak selalu!!!”

“Aw! Aw! Aw! Akan kukembalikan mimpi anak-anak seluruhnya! Dan aku tidak akan pernah lagi mengganggu mereka! Tolooong!”

Anak-anak bersorak gembira. Mereka saling berangkulan. Tidak lupa, mereka melompat ke pelukan Kakek Dominggo.

 
***

Pekanbaru, 6 Februari 2016
@agnes_bemoe

---

Apa yang salah dengan bermimpi dan berimajinasi? Setiap anak normal memiliki imajinasi yang luar biasa "liar". Lalu, mengapa imajinasi itu pelan-pelan digerus? Diganti dengan informasi dan kuliah moral atau religi? Kenapa tidak dibiarkan tumbuh bersama-sama? Tidak bisakah keduanya tumbuh bersamaan?

"Imajinasi penting bagi anak-anak," kata aktris Julie Andrews dalam "Tooth Fairy", film yang mengkritik sikap meremehkan orang dewasa terhadap imajinasi anak-anak.

Cerita ini saya buat beberapa tahun yang lalu, waktu saya mulai tercenung melihat beberapa buku anak-anak Indonesia. Ditulis dengan judul-judul yang denotatif, dengan isi yang super realis sarat dengan ajaran agama, pesan moral, atau informasi ilmu pengetahuan. Seakan belum puas, pesan-pesan itu bahkan ditulis ulang di bagian akhir cerita.

Apakah anak-anak Indonesia memang "selemah" itu? Tidak mampu menangkap moral cerita bila judul dan isi ceritanya konotatif? Tidak mampu mengenali makna cerita kecuali disuapi?


 

 

Wednesday, 27 January 2016

TETANGGA SEBELAH TEMBOK

Tidak ada yang aneh di sekolah hari itu. Kegiatan rapat dengan guru-guru pengawas UN berlangsung lancar. Selain materi rapat tidak rumit, guru-guru yang hadir sebagai pengawas UN sebagian besar guru-guru senior yang sudah cukup makan garam tentang UN ini.
Saya sedang memimpin rapat dengan antusias ketika Lina, yang bertugas membantu saya di bagian konsumsi, muncul di pintu. Wajahnya yang tegang membuat saya tidak enak hati. Lina memberi isyarat ingin berbicara dengan saya. Sungguh, melihat raut wajahnya, seolah-olah saya melihat sebuah papan besar bertuliskan: “Cepat, Bu! Situasi gawat nih!” tertempel di dahinya.
Ketika bapak Kepala Sekolah saya sedang berbicara, saya keluar ruangan.

“Mati kita, Bu! Mati kita!”
Iya, oke, jangan mati dulu. Ada apa ini?
Jawaban Lina memang potensial bikin saya “mati”: baru saja datang telepon dari pihak katering yang kami mintai jasanya untuk menyediakan konsumsi rapat pagi ini. Catatan, untuk rapat dengan pihak luar, saya selalu memesan makanan di katering profesional. Harganya lebih mahal namun kualitas makanan terjaga.
Ternyata tadi pagi mobil katering yang mengantar makanan mengalami kecelakaan. Kurang jelas bagaimana detilnya yang jelas itu berarti hidangan untuk sekitar enampuluhan orang ikut melayang.
Segera saya menelepon balik ibu pemilik katering. Saya mengucapkan ikut prihatin atas musibah yang sedang mereka alami dan meyakinkan beliau untuk tidak terlalu mencemaskan makanan yang kami pesan.
Setelah menutup pembicaraan dengan ibu pemilik katering, saya segera menyadari bahwa saya menghadapi masalah yang lebih nyata: bagaimana dengan konsumsi rapat. Memesan makanan secara mendadak tentu tidak mungkin. Tidak ada katering yang siap dengan makanan sejumlah itu.
Dikejar waktu, pikiran saya langsung melayang ke para penjual makanan di dekat sekolah. Ada beberapa yang sudah buka lapak pada jam itu, di antaranya adalah lapak sate Padang yang letaknya persis di dinding sekolah.
“Tapi, makanannya begitu lho, Bu,” kata Lina yang tahu benar standar saya untuk menjamu tamu.
Saya mengangkat bahu.
“Okelah, bisa kita coba.”
“Jadi, kita pesan di sana aja, Bu?”
Saya mengiyakan.

Sambil berharap-harap cemas, saya menunggu kedatangan Lina.  Entah berapa lama kemudian, Lina muncul bersama seorang berbadan gempal yang saya kenali sebagai abang penjual sate Padang. Bersama mereka ikut dibawa enam puluh porsi sate Padang!
Lina dan timnya mengatur agar sate itu dihidangkan di piring kaca yang bagus milik sekolah. Kuahnya diletakkan di mangkok kaca yang besar, juga milik sekolah. Sekilas, tidak ada yang percaya kalau hidangan itu berasal dari gerobak jualan makanan di dekat sekolah. Apalagi, rasanya enak: ketupatnya lembut dan dagingnya padat mantap.
Konsumsi rapat UN hari itu terselamatkan.

Ketika menerima kuitansi pembelian sate Padang barulah saya tahu nama penyelamat saya. Anto Fals. Itu nama yang tertulis di kuitansi. Hehehe… mengingatkan saya pada Iwan Fals, penyanyi idola saya.
Hubungan saya dengan Bang Anto Fals berlanjut. Untuk kegiatan-kegiatan pertemuan guru-guru, saya jadi ketagihan pesan sate Padang pada Bang Anto Fals, si tetangga sebelah tembok sekolah saya.

Simulasi Tabungan Taseto Mapan Bank BTPN


***


Pekanbaru, 28 Januari 2016
Agnes Bemoe

Tuesday, 26 January 2016

PITA DAN NURI

Pita terbang mendekati Nuri.
“Aku melihat Obie sedang bermain bersama Tutu dan Kiki. Mengapa engkau tidak bermain bersama mereka?”
“Obie? Tutu dan Kiki?” Nuri terperanjat. “Tidak! Aku tidak diperbolehkan bermain bersama mereka!”
“Lho! Kenapa?” tanya Pita keheranan.
“Orang tua mereka penjahat! Mama melarang aku main dengan mereka!”

Pita menghela napas. Obie, Tutu, dan Kiki adalah serigala-serigala kecil. Walaupun demikian mereka adalah serigala-serigala kecil yang manis dan lucu.
“Apakah mereka pernah berbuat jahat padamu, Nuri?” tanya Pita.
“Aku tak pernah mau main dengan mereka, jadi mereka tidak akan bisa berbuat jahat padaku.”

Kembali Pita terbang mengitari Nuri.
“Jangan begitu, Nuri. Mereka tidak jahat. Sebaliknya, mereka sangat lucu dan baik hati…”
“Tidak! Mama melarangku bermain dengan para serigala.” tukas Nuri.

Pita hanya bisa mengangkat bahu. Ia lalu terbang meninggalkan Nuri sendirian. Ia terbang menuju ke Obie, Tutu, dan Kiki yang sedang bermain petak umpet.
Ketiganya bermain dengan gembira sambil tertawa riang.
“Pitaa! Ayo ikut main bersama kami!” seru Obie.

Ketika sedang asyik bermain, tiba-tiba mereka mendengar suara teriakan.
“Tolooooong!!!”
“Itu suara Nuri!” seru Pita.

Segera ia terbang menuju ke tempat Nuri. Obie, Tutu, dan Kiki ikut juga lari menyusul Pita.
Nuri, si kucing kecil, ternyata tersesat di atas sebuah pohon. Ia sangat ketakutan. Ia tidak bisa turun.
“Pita, tolong akuuuu!!!” teriak Nuri dengan suara putus asa.
“Tenang! Tenang!” seru Pita. Secepat kilat ia terbang mendekati Nuri. “Aku sudah di sampingmu. Engkau tidak akan jatuh asalkan engkau ikuti petunjukku ya…”

Pelan-pelan Pita menuntun kucing kecil itu turun dari pohon.
Namun, malang bagi Nuri. Tiba-tiba kakinya menginjak sebuah dahan yang sangat licin! Tak ayal lagi, Nuri terpeleset jatuh!
“PITAAA!!!!” teriak Nuri ketakutan.

Belum habis rasa takutnya, tiba-tiba Nuri merasakan sebuah tangan dengan kuku-kuku yang tajam mencengkeram pundaknya. Tangan Obie, si serigala! Nuri merasa akan pingsan saat itu juga! Ia tertangkap oleh serigala jahat!
Apalagi, ia mulai merasakan rasa sakit yang luar biasa di pundaknya. Kuku-kuku Obie ternyata telah mencengkeram dirinya. Nuri yang malang! Ia sungguh sangat ketakutan.

“Nuri! Nuri!” Terdengar suara Pita memanggil-manggil nama Nuri.
“Pita! Engkau sungguh kejam! Engkau meninggalkan aku sendirian bersama serigala-serigala jahat ini! Sekarang, tamatlah riwayatku. Huaaaa!!! Mamaaaa!!!” Nuri menangis sejadi-jadinya.
“Nuri! Tenanglah! Mereka tidak jahat!” seru Pita.
“Tidak jahat? Lihat, pundakku berdarah!” jawab Nuri sambil menunjuk pundaknya yang berdarah.
“Oke, pundakmu berdarah. Tapi lihat, di manakah engkau duduk sekarang? Lihat, di mana serigala-serigala yang engkau bilang jahat itu?”

Nuri melihat ke sekelilingnya. Ia terduduk di atas rumput. Ya, Nuri ingat Obie meletakkannya di atas rumput. Lalu, agak jauh dari situ Obie, Tutu, dan Kiki berdiri dengan tatapan cemas.
“Mereka belum juga memakan diriku, Pita?” bisik Nuri.
“Hush! Sampai kapan pun mereka tidak akan memakan dirimu! Kita semua bersaudara. Apalagi, mereka adalah anak-anak yang baik. Kalau bukan Obie yang menangkapmu tadi, engkau pasti sudah patah tulang karena terjatuh dari pohon yang tinggi itu!”

Nuri terdiam mendengar perkataan Pita. Ia lalu menoleh pada ketiga serigala kecil itu.
“Terima kasih, Obie. Maukah engkau bermain denganku?”
Obie, Tutu, dan Kiki tertawa senang.
“Maafkan aku, peganganku tadi terlalu kuat ya, sehingga bahumu sampai luka…”
Nuri mengulurkan tangannya menepuk pundak Obie.
“Biarlah. Supaya aku ingat, aku punya teman baik.”

Matahari bersinar cerah di atas Hutan Kumalama. Pita, Nuri, Obie, Tutu, dan Kiki bermain bersama.

***

Pembatuan, 27 Januari 2016
@agnes_bemoe

--------

Betapa tidak berhaknya kita merampas imajinasi anak-anak dan menjejalinya dengan pemikiran untuk membenci orang atau hewan tertentu demi sebuah kepercayaan yang sebenarnya adalah interpretasi kita terhadap apa yang kita percayai itu.

Cerita anak ini saya tulis karena keprihatinan mendalam saya atas sempitnya pola pikir manusia dan institusi sekarang ini. Kesempitan itu malah diajarkan dan ditularkan secara sistematis pada anak melalui cerita.

Seharusnya, cerita anak membawa anak untuk saling mengasihi, menyayangi dan menghormati. Seharusnya cerita anak adalah wadah tentang dunia yang ideal, yang tidak tersekat-sekat oleh interpretasi sempit orang dewasa. 

Agnes Bemoe 2016

-----------