Friday, 5 February 2016

Monster Mimpi


Monster Mimpi menyerang kota Orey-Stroberey! Ia mencuri mimpi anak-anak kecil.

Anak-anak kecil sekarang tidak lagi bermimpi. Akibatnya, pagi hari di kota Orey-Stroberey jadi sunyi. Anak-anak tidak lagi saling menceritakan mimpi mereka. Biasanya, begitu bangun pagi terdengar riuh suara anak-anak kecil yang berebutan menceritakan tentang mimpi mereka semalam.

“Mama, aku mimpi bertemu dengan Robot Kluxendox dari Planet Zoar.”

“Aku bermimpi pergi ke Afrika, bertemu dengan gajah dan cheetah…”

“Hii…! Aku mimpi dikejar-kejar sepasukan kucing raksasa!”

Setelah bangun dari tidur mereka langsung mandi, sarapan, pergi ke sekolah.

Siang hari di kota Orey-Stroberey juga menjadi sunyi. Anak-anak tidak lagi saling menceritakan mimpi mereka pada teman-temannya. Pekerjaan mereka hanyalah menulis, berhitung, membaca. Pada jam istirahat mereka hanya saling menatap satu sama lain. Mereka duduk dengan tertib, tidak ada pembicaraan satu sama lain. Sekolah menjadi begitu sunyi.

Sepulang sekolah mereka juga hanya duduk menghadap ke layar televisi. Mereka duduk diam di situ tanpa berkata apa-apa.

Semua orang senang akan keadaan ini. Tidak ada lagi anak-anak yang ribut. Semua orang? Tidak! Ada satu orang yang tidak senang. Dia adalah Kakek Dominggo.

Kakek Dominggo pergi menemui Monster Mimpi. Beliau meminta supaya mengembalikan mimpi anak-anak di kota Orey-Stroberey.

“Tidak bisa! Kecuali…”

“Kecuali apa, hai Monster Mimpi?”

“Kecuali aku dibuatkan brownies yang enak setiap pagi! Aku suka brownies!” Monster Mimpi tertawa-tawa.

“Monster, aku, aku tidak bisa membuat kue…”

“Ya, kalau begitu, aku tetap akan menyimpan mimpi anak-anak!”

Dengan lemas Kakek Dominggo pulang. Namun demikian, ia bertekad membuat kue brownies untuk diberikan pada Monster Mimpi. Kakek Dominggo mengambil buku resep Nenek Dominggo, lalu berusaha membuat kue. Sekuat tenaga Kakek Dominggo berusaha membuat kue brownies yang lezat. Apa daya, jangankan lezat, jadi pun tidak. Kasihan Kakek Dominggo. Ia kelihatan kuyu dan sangat sedih.

Hal ini dilihat oleh Nenek Dominggo. Setelah mengetahui bahwa Kakek Dominggo membuatkan brownies untuk Monster Mimpi, Nenek Dominggo pun turun tangan. Nenek membuat kue brownies yang lezat! Hore!

Langsung saja Kakek Dominggo membawa kue brownies itu pada Monster Mimpi.

“Lho! Kok cuma sepuluh? Aku mau SERATUS!” Monster Mimpi cemberut.

Terpaksalah Kakek Dominggo kembali ke rumah dengan tangan hampa. Sampai di rumah mereka berdua terburu-buru membuat seratus kue brownies. Saking sibuknya, mereka sampai tidak menyadari ada tamu di rumah mereka.

“Kakek, Nenek, ini kan waktunya Kakek dan Nenek membacakan cerita!” Anak-anak kecil itu berseru.

“Kali ini aku tidak bisa, anak-anak.” Kakek Dominggo melap peluh di keningnya. Beliau lalu menceritakan perjanjiannya dengan Monster Mimpi.

“Kakek, kami ingin sekali membantu, tapi bagaimana?” seru Suli.

“Kakek, mari kita perangi Monster Mimpi!” teriak Obbie.

“Kakek, biar aku yang mengaduk adonannya!” jerit Lucy.

Semua berebut ingin membantu. Mereka memang sangat menyayangi Kakek Dominggo. Kakek Dominggo suka menceritakan dongeng yang seru buat mereka.

“Aku tahu, teman-teman!” Lipo berseru. “Kita tidak bisa berperang, kita juga masih terlalu kecil untuk mengaduk adonan ini. Tapi…”

Teman-temannya mencondongkan kepala mereka, menunggu perkataan Lipo.

“Kita bisa bernyanyi bersama-sama untuk menghibur Kakek Dominggo!”

Maka, mereka pun mulai menyanyi dengan penuh semangat. Mereka menyanyikan lagu “Kelinciku”, “Balonku”, dll.

 

Jauh di atas gunung Monster Mimpi terbangun dari tidur nyenyaknya.

“Hoaah!! Suara apa itu!” Monster Mimpi mengaum. Dengan mata besarnya ia melihat sekumpulan anak-anak kecil bernyanyi di sekeliling Kakek Dominggo.

“GRMHLKZSHG!! Anak-anak! Lagi-lagi anak-anak! Huh! Mendengar mereka menceritakan mimpi mereka saja sudah membuat aku sakit kepala! Sekarang, aku malah mendengar mereka bernyanyi! Rrhoooaarrrhhh!!” Kembali Monster Mimpi mengaum dengan marahnya.

Ia lalu melesat menemui Kakek Dominggo.

“Hai Pak Monster, kue browniesmu hampir selesai….” Kakek Dominggo terengah-engah. Membuat seratus biji kue brownies merupakan pekerjaan yang berat untuk beliau.

“Aah! Diamlah! Lupakan kue brownies! Tapi, suruh anak-anak ini DIAM!” Monster Mimpi menutup kupingnya yang kesakitan mendengar suara nyanyian anak-anak.

“Kami tidak akan diam selama engkau masih saja mengganggu kakek kami!” teriak Lipo dengan berani.

Monster Mimpi terkejut melihat anak kecil yang pemberani itu. Wajahnya berubah menjadi merah kehijauan, ungu, oranye, biru, merah lagi, lalu kuning.

“Kau! Kau bera…” Monster Mimpi hendak mencengkeram Lipo.

Melompat-lompat jalan kelinciku!!!” Serentak anak-anak kembali bernyanyi.

“Aduh! Aduuhh! Sakit telingaku. Tolooong!”

“Nah, Pak Monster,bertindaklah bijaksana. Jangan pernah melawan anak-anak kecil ini. Ayo, kembalikan mimpi mereka sekarang juga! Kalau tidak…” Kakek Dominggo berseru.

“Ba… Baikah! Akan aku kembalikan mimpi anak-anak… separuhnya….”

“Telinganya bergerak selalu!!!”

“Aw! Aw! Aw! Akan kukembalikan mimpi anak-anak seluruhnya! Dan aku tidak akan pernah lagi mengganggu mereka! Tolooong!”

Anak-anak bersorak gembira. Mereka saling berangkulan. Tidak lupa, mereka melompat ke pelukan Kakek Dominggo.

 
***

Pekanbaru, 6 Februari 2016
@agnes_bemoe

---

Apa yang salah dengan bermimpi dan berimajinasi? Setiap anak normal memiliki imajinasi yang luar biasa "liar". Lalu, mengapa imajinasi itu pelan-pelan digerus? Diganti dengan informasi dan kuliah moral atau religi? Kenapa tidak dibiarkan tumbuh bersama-sama? Tidak bisakah keduanya tumbuh bersamaan?

"Imajinasi penting bagi anak-anak," kata aktris Julie Andrews dalam "Tooth Fairy", film yang mengkritik sikap meremehkan orang dewasa terhadap imajinasi anak-anak.

Cerita ini saya buat beberapa tahun yang lalu, waktu saya mulai tercenung melihat beberapa buku anak-anak Indonesia. Ditulis dengan judul-judul yang denotatif, dengan isi yang super realis sarat dengan ajaran agama, pesan moral, atau informasi ilmu pengetahuan. Seakan belum puas, pesan-pesan itu bahkan ditulis ulang di bagian akhir cerita.

Apakah anak-anak Indonesia memang "selemah" itu? Tidak mampu menangkap moral cerita bila judul dan isi ceritanya konotatif? Tidak mampu mengenali makna cerita kecuali disuapi?


 

 

Wednesday, 27 January 2016

TETANGGA SEBELAH TEMBOK

Tidak ada yang aneh di sekolah hari itu. Kegiatan rapat dengan guru-guru pengawas UN berlangsung lancar. Selain materi rapat tidak rumit, guru-guru yang hadir sebagai pengawas UN sebagian besar guru-guru senior yang sudah cukup makan garam tentang UN ini.
Saya sedang memimpin rapat dengan antusias ketika Lina, yang bertugas membantu saya di bagian konsumsi, muncul di pintu. Wajahnya yang tegang membuat saya tidak enak hati. Lina memberi isyarat ingin berbicara dengan saya. Sungguh, melihat raut wajahnya, seolah-olah saya melihat sebuah papan besar bertuliskan: “Cepat, Bu! Situasi gawat nih!” tertempel di dahinya.
Ketika bapak Kepala Sekolah saya sedang berbicara, saya keluar ruangan.

“Mati kita, Bu! Mati kita!”
Iya, oke, jangan mati dulu. Ada apa ini?
Jawaban Lina memang potensial bikin saya “mati”: baru saja datang telepon dari pihak katering yang kami mintai jasanya untuk menyediakan konsumsi rapat pagi ini. Catatan, untuk rapat dengan pihak luar, saya selalu memesan makanan di katering profesional. Harganya lebih mahal namun kualitas makanan terjaga.
Ternyata tadi pagi mobil katering yang mengantar makanan mengalami kecelakaan. Kurang jelas bagaimana detilnya yang jelas itu berarti hidangan untuk sekitar enampuluhan orang ikut melayang.
Segera saya menelepon balik ibu pemilik katering. Saya mengucapkan ikut prihatin atas musibah yang sedang mereka alami dan meyakinkan beliau untuk tidak terlalu mencemaskan makanan yang kami pesan.
Setelah menutup pembicaraan dengan ibu pemilik katering, saya segera menyadari bahwa saya menghadapi masalah yang lebih nyata: bagaimana dengan konsumsi rapat. Memesan makanan secara mendadak tentu tidak mungkin. Tidak ada katering yang siap dengan makanan sejumlah itu.
Dikejar waktu, pikiran saya langsung melayang ke para penjual makanan di dekat sekolah. Ada beberapa yang sudah buka lapak pada jam itu, di antaranya adalah lapak sate Padang yang letaknya persis di dinding sekolah.
“Tapi, makanannya begitu lho, Bu,” kata Lina yang tahu benar standar saya untuk menjamu tamu.
Saya mengangkat bahu.
“Okelah, bisa kita coba.”
“Jadi, kita pesan di sana aja, Bu?”
Saya mengiyakan.

Sambil berharap-harap cemas, saya menunggu kedatangan Lina.  Entah berapa lama kemudian, Lina muncul bersama seorang berbadan gempal yang saya kenali sebagai abang penjual sate Padang. Bersama mereka ikut dibawa enam puluh porsi sate Padang!
Lina dan timnya mengatur agar sate itu dihidangkan di piring kaca yang bagus milik sekolah. Kuahnya diletakkan di mangkok kaca yang besar, juga milik sekolah. Sekilas, tidak ada yang percaya kalau hidangan itu berasal dari gerobak jualan makanan di dekat sekolah. Apalagi, rasanya enak: ketupatnya lembut dan dagingnya padat mantap.
Konsumsi rapat UN hari itu terselamatkan.

Ketika menerima kuitansi pembelian sate Padang barulah saya tahu nama penyelamat saya. Anto Fals. Itu nama yang tertulis di kuitansi. Hehehe… mengingatkan saya pada Iwan Fals, penyanyi idola saya.
Hubungan saya dengan Bang Anto Fals berlanjut. Untuk kegiatan-kegiatan pertemuan guru-guru, saya jadi ketagihan pesan sate Padang pada Bang Anto Fals, si tetangga sebelah tembok sekolah saya.

Simulasi Tabungan Taseto Mapan Bank BTPN


***


Pekanbaru, 28 Januari 2016
Agnes Bemoe

Tuesday, 26 January 2016

PITA DAN NURI

Pita terbang mendekati Nuri.
“Aku melihat Obie sedang bermain bersama Tutu dan Kiki. Mengapa engkau tidak bermain bersama mereka?”
“Obie? Tutu dan Kiki?” Nuri terperanjat. “Tidak! Aku tidak diperbolehkan bermain bersama mereka!”
“Lho! Kenapa?” tanya Pita keheranan.
“Orang tua mereka penjahat! Mama melarang aku main dengan mereka!”

Pita menghela napas. Obie, Tutu, dan Kiki adalah serigala-serigala kecil. Walaupun demikian mereka adalah serigala-serigala kecil yang manis dan lucu.
“Apakah mereka pernah berbuat jahat padamu, Nuri?” tanya Pita.
“Aku tak pernah mau main dengan mereka, jadi mereka tidak akan bisa berbuat jahat padaku.”

Kembali Pita terbang mengitari Nuri.
“Jangan begitu, Nuri. Mereka tidak jahat. Sebaliknya, mereka sangat lucu dan baik hati…”
“Tidak! Mama melarangku bermain dengan para serigala.” tukas Nuri.

Pita hanya bisa mengangkat bahu. Ia lalu terbang meninggalkan Nuri sendirian. Ia terbang menuju ke Obie, Tutu, dan Kiki yang sedang bermain petak umpet.
Ketiganya bermain dengan gembira sambil tertawa riang.
“Pitaa! Ayo ikut main bersama kami!” seru Obie.

Ketika sedang asyik bermain, tiba-tiba mereka mendengar suara teriakan.
“Tolooooong!!!”
“Itu suara Nuri!” seru Pita.

Segera ia terbang menuju ke tempat Nuri. Obie, Tutu, dan Kiki ikut juga lari menyusul Pita.
Nuri, si kucing kecil, ternyata tersesat di atas sebuah pohon. Ia sangat ketakutan. Ia tidak bisa turun.
“Pita, tolong akuuuu!!!” teriak Nuri dengan suara putus asa.
“Tenang! Tenang!” seru Pita. Secepat kilat ia terbang mendekati Nuri. “Aku sudah di sampingmu. Engkau tidak akan jatuh asalkan engkau ikuti petunjukku ya…”

Pelan-pelan Pita menuntun kucing kecil itu turun dari pohon.
Namun, malang bagi Nuri. Tiba-tiba kakinya menginjak sebuah dahan yang sangat licin! Tak ayal lagi, Nuri terpeleset jatuh!
“PITAAA!!!!” teriak Nuri ketakutan.

Belum habis rasa takutnya, tiba-tiba Nuri merasakan sebuah tangan dengan kuku-kuku yang tajam mencengkeram pundaknya. Tangan Obie, si serigala! Nuri merasa akan pingsan saat itu juga! Ia tertangkap oleh serigala jahat!
Apalagi, ia mulai merasakan rasa sakit yang luar biasa di pundaknya. Kuku-kuku Obie ternyata telah mencengkeram dirinya. Nuri yang malang! Ia sungguh sangat ketakutan.

“Nuri! Nuri!” Terdengar suara Pita memanggil-manggil nama Nuri.
“Pita! Engkau sungguh kejam! Engkau meninggalkan aku sendirian bersama serigala-serigala jahat ini! Sekarang, tamatlah riwayatku. Huaaaa!!! Mamaaaa!!!” Nuri menangis sejadi-jadinya.
“Nuri! Tenanglah! Mereka tidak jahat!” seru Pita.
“Tidak jahat? Lihat, pundakku berdarah!” jawab Nuri sambil menunjuk pundaknya yang berdarah.
“Oke, pundakmu berdarah. Tapi lihat, di manakah engkau duduk sekarang? Lihat, di mana serigala-serigala yang engkau bilang jahat itu?”

Nuri melihat ke sekelilingnya. Ia terduduk di atas rumput. Ya, Nuri ingat Obie meletakkannya di atas rumput. Lalu, agak jauh dari situ Obie, Tutu, dan Kiki berdiri dengan tatapan cemas.
“Mereka belum juga memakan diriku, Pita?” bisik Nuri.
“Hush! Sampai kapan pun mereka tidak akan memakan dirimu! Kita semua bersaudara. Apalagi, mereka adalah anak-anak yang baik. Kalau bukan Obie yang menangkapmu tadi, engkau pasti sudah patah tulang karena terjatuh dari pohon yang tinggi itu!”

Nuri terdiam mendengar perkataan Pita. Ia lalu menoleh pada ketiga serigala kecil itu.
“Terima kasih, Obie. Maukah engkau bermain denganku?”
Obie, Tutu, dan Kiki tertawa senang.
“Maafkan aku, peganganku tadi terlalu kuat ya, sehingga bahumu sampai luka…”
Nuri mengulurkan tangannya menepuk pundak Obie.
“Biarlah. Supaya aku ingat, aku punya teman baik.”

Matahari bersinar cerah di atas Hutan Kumalama. Pita, Nuri, Obie, Tutu, dan Kiki bermain bersama.

***

Pembatuan, 27 Januari 2016
@agnes_bemoe

--------

Betapa tidak berhaknya kita merampas imajinasi anak-anak dan menjejalinya dengan pemikiran untuk membenci orang atau hewan tertentu demi sebuah kepercayaan yang sebenarnya adalah interpretasi kita terhadap apa yang kita percayai itu.

Cerita anak ini saya tulis karena keprihatinan mendalam saya atas sempitnya pola pikir manusia dan institusi sekarang ini. Kesempitan itu malah diajarkan dan ditularkan secara sistematis pada anak melalui cerita.

Seharusnya, cerita anak membawa anak untuk saling mengasihi, menyayangi dan menghormati. Seharusnya cerita anak adalah wadah tentang dunia yang ideal, yang tidak tersekat-sekat oleh interpretasi sempit orang dewasa. 

Agnes Bemoe 2016

-----------

Sunday, 27 December 2015

HELL BLESSED!

Tahun 2015 saya mulai dengan berat. Secara fisik,  masih belum pulih dari HNP. Karena kondisi itu, saya tidak bisa menulis (dan tidak/belum bisa ke gereja, ke pasar, dll). Secara psikis kondisi saya memburuk di triwulan pertama sampai saya perlu menemui psikiater dan psikolog lagi.

Perubahan terjadi dengan amat sangat perlahan dan nyaris tidak terasa. Sungguh luar biasa ya, kita mengalami perubahan yang begitu kecil sehingga tidak terasa, tetapi begitu signifikan hasil akhirnya.  
Pelan-pelan berat badan saya naik. Dari 35 kg setelah sakit, menjadi 36, 37, 39, lalu 40. Lalu masih naik lagi sampai sekarang berat badan saya di kisaran 47 – 48 kg! Saya butuh menambah berat badan karena terbukti badan saya yang kurus waktu itu (40 kg, tinggi 161 cm) tidak membantu ketika sakit.
Pelan-pelan saya bisa memperluas aktivitas fisik. Saya tahan duduk agak lama, bisa sampai 1 – 2 jam. Biasanya saya masih merasa sedikit kemeng menjurus ke cekot-cekot dan kesemutan kalau duduk. Lama-lama, rasa kemeng itu hilang.
Saya bisa kembali masak di dapur. Biasanya saya tidak tahan berdiri untuk mengiris atau menggoreng. Sekarang saya bisa melakukannya kembali. Yang belum bisa saya lakukan adalah menguleg. Pinggang saya kembali nyeri kalau saya pakai untuk menguleg.
Terakhir, saya kembali bisa jongkok! Hehehe… sepele ya? Buat saya ini hal besar. Sejak sakit, saya tidak bisa jongkok. Sekitar sebulan lalu, saya membetulkan komputer dan harus berjongkok. Ternyata saya bisa melakukannya dengan mulus, tanpa sakit. Saya seperti penari ballet yang bisa melakukan pointe untuk pertama kalinya. Yeay!
Hal-hal di atas adalah hal-hal kecil yang saya dapatkan lagi secara perlahan di tahun 2015. Ada beberapa hal yang belum bisa saya lakukan, seperti membawa sesuatu yang berat, memakai sepatu berhak, atau mengucek/menguleg. Tapi, tidak mengapa. Saya yakin suatu saat saya bisa melakukannya lagi.

Secara psikis, saya juga merasakan perubahan. Lagi-lagi bukan perubahan a la sulapan yang terjadi dalam sekejap. Saya merasakan perbedaan. Contohnya, dulu, kalau ditinggal sendirian di rumah, saya sering cemas. Cemas kalau-kalau ada kecelakaan atau bahaya, atau apa saja yang tidak mengenakkan. Yang saya lakukan adalah terus-terusan berbisik: “pintu ada di sana. Kalau terjadi apa-apa, pintu ada di sana…” Saya butuh waktu amat sangat lama untuk merasa tenang dan yakin bahwa tidak akan terjadi bahaya apa-apa.
Hal lainnya, setiap pagi tetangga selalu menghidupkan mesin cuci sekitar pukul 9. Entah mengapa, dengung mesin cuci itu kedengaran sangat tidak nyaman di telinga saya. Saya merasa harus lari dari dengung itu.
Nah, saya juga tidak sadar kapan berhentinya gangguan-gangguan itu. Tahu-tahu saya saya tidak lagi merasa takut atau terganggu. Suatu saat saya menyadari bahwa saya sedang sendirian di rumah. Dan eh, tidak ada lagi tuh dorongan untuk lari. Begitu juga dengan dengung mesin cuci tetangga. Saya tetap mendengar suara dengung halus mesin itu, tapi kali ini saya biasa-biasa saja. Puji Tuhan!

Tahun ini saya juga pelan-pelan menulis lagi. Menulis naskah, bukan “hanya” menulis status di facebook atau tulisan di blog. Ada teman menawari menulis naskah cerita anak. Saya jelaskan kondisi saya, bahwa saya tidak bisa menulis panjang, tidak bisa menulis dengan target halaman serta deadline. Sangat tidak ideal untuk penulis. Puji Tuhan, teman tersebut tidak memberikan target, tidak memberikan deadline, dll. Oke deh, saya setuju kalau begitu. Maka, saya mulai menulis lagi, dengan kemampuan menulis setengah jam sehari (dan belum tentu setiap hari bisa menulis :D)

Ketika hendak menutup tahun 2015 ini kondisi kesehatan saya membaik, baik kesehatan fisik maupun psikis. Kemampuan menulis pun meningkat, selain kemampuan-kemampuan fisik lain seperti yang saya sebutkan di awal tulisan. Belum lagi saya mendapati kenyataan bahwa saya didampingi oleh orang-orang yang luar biasa sabar, pengertian, dan selalu berpikir positif. Pendampingan mereka membuat saya bertahan dan bangkit kembali.
Oleh karenanya, tidak ada kata lain yang bisa saya ucapkan selain TERIMA KASIH, TUHAN. Ada saatnya Engkau memberi awan hitam penuh hujan dan badai. Namun, setelahnya ada langit biru yang segar dan cerah.

Apakah tidak ada kekecewaan dan kesedihan di tahun 2015 ini? Tentu saja ada. Memangnya saya malaikat yang problem-free. Hanya saja, saya belum bisa menuliskannya tanpa menimbulkan rasa luka (dan mengacaukan kondisi emosi saya). Mudah-mudahan kalau sudah bisa merelakannya, akan saya tuliskan.


Sekarang ini saya bersyukur untuk semua yang terjadi pada saya. Bersyukur untuk orang-orang baik di sekeliling saya. Tahun ini saya tutup dengan gembira dan dengan pemikiran “how blessed I am”. And yes it is true, I am hell blessed! 

***

Pembatuan, 28 Desember 2015
@agnes_bemoe







Tuesday, 15 December 2015

BEHIND THE SCENE [BTS]: KISAH SANTO SANTA DAN BINATANG


Kisah Santo Santa dan Binatang, terbitan Kanisius, November 2015

TERTARIK PADA RIWAYAT HIDUP SANTO SANTA
Waktu kecil ibu saya sering bercerita tentang para kudus. Diantaranya yang saya paling ingat adalah kisah tentang Santo Christophorus yang memanggul Yesus di pundaknya. Cerita itu terasa epik benar di ingatan saya.

Lalu, waktu SD, Suster yang mengajar agama sering bercerita tentang para kudus: Santa Agnes, Santo Agustinus, dan Santo Nikolaus (Santa Klaus). Saya jadi semakin tertarik dengan kisah-kisah para kudus ini. Saya menemukan serial berjudul “Sahabat-Sahabat Yesus” di perpustakaan SD saya (kalau tidak salah buku ini terbitan Kanisius). Saya langsung jatuh cinta dengan buku yang isinya riwayat hidup para kudus ini.

BUKU PERTAMA
Ketika mendapat kesempatan menulis di penerbit mayor untuk pertama kalinya, naskah yang saya kirim adalah tentang santo-santa. Puji Tuhan, naskah ini terbit dengan judul “Kumpulan Kisah Santo Santa”. (Silakan baca info tentang "Kumpulan Kisah Santo Santa" di sini.)

Saya lalu keranjingan menulis tentang para kudus. Menurut saya, kisah tentang para kudus adalah sumber cerita (dan tentunya sumber iman) yang tidak ada habisnya, dilihat dari jumlah para kudus dan angle yang bisa diceritakan.

Salah satu angle yang saya temukan adalah relasi para kudus dengan binatang. Semakin saya baca semakin saya tersentuh dengan kisah-kisah indah para kudus dengan binatang ini.

Santo Antonius dari Padua memberkati para ikan yang tekun mendengarkan kotbahnya.
Peristiwa ini membuat warga Rimini bertobat dan memeluk agama Kristen. 

Mengumpulkan dan menulis naskah para kudus dan binatang ini tidaklah terlalu sulit buat saya. Kedengarannya saya mengulang-ulang menuliskan ini: saya menulis dengan asyik. Tapi, memang itulah yang saya rasakan. Senang sekali menulis kembali kisah-kisah indah, unik, dan menyentuh tentang hubungan para kudus dan binatang. Ambil contoh tentang kisah Santo Rocco yang secara ajaib ditolong oleh seekor anjing. Atau, Santo Antonius yang membuat seekor keledai menyembah Hosti. Sungguh menyentuh!

Menerbitkannya yang butuh perjuangan, doa, dan air mata… aih, lebay! Hehehe….

DITOLAK, TERKENDALA ILUSTRATOR, SAKIT, NYARIS TIDAK TERBIT…
Ya, naskah ini sempat ditolak oleh sebuah penerbit mayor umum dengan alasan pangsa pasarnya kecil. Oke deh. Saya tinggalkan naskah ini dengan patah hati. Sampai suatu saat saya terpikir untuk menawarkan ke penerbit buku rohani. Saya mengincar Kanisius, penerbit buku rohani yang bacaannya jadi favorit saya sejak kecil. Namun, saya dengar, menerbitkan buku rohani di Kanisius itu super duper triple sulit. Naskah harus melewati seleksi ketat terkait isi dan kebenarannya sesuai dengan ajaran Gereja Katolik.

Dengan berpikiran “tidak ada salahnya mencoba” saya pun mengirimkan naskah ini.  Puji Tuhan, Kanisius menerima naskah ini.

Beres? Belum… hehehe…. Selain beberapa revisi, ada kendala mengenai illustrator. Karena illustrator sepenuhnya dari Kanisius, saya tidak bisa membantu banyak. Saya menunggu saja (tentu saja sambil menulis naskah lain).

Lalu, akhir 2013 saya sakit. Saya nyaris “melupakan” semua naskah yang saya kirim, termasuk naskah santo-santa ini. Awal 2015, saya diingatkan dengan naskah ini karena ada sebuah penerbit yang minta naskah anak kristiani. Pikir saya, kalau Kanisius tidak jadi menerbitkannya, akan saya alihkan ke penerbit yang meminta naskah ini. Syukurlah, biarpun ada kendala, Kanisius tetap bersedia menerbitkannya.

Namun demikian di Agustus 2015 saya menyerah. Saya mengambil keputusan menarik naskah ini. Tampaknya naskah ini memang tidak berjodoh dengan Kanisius. Betapa terkejutnya saya ketika mendapat balasan bahwa naskah ini akan terbit Oktober 2015. Contoh cerita pertamanya bahkan sudah diterjemahkan ke Bahasa Inggris dan akan diikutkan ke Frankfurt Book Fair 2015.
"The Story of Animals and Saints" di Frankfurt Book Fair 2015

TERBIT!           
Memang molor satu bulan ke November 2015, tapi akhirnya buku ini terbit juga! Betapa bersyukurnya saya. Terima kasih Penerbit Kanisius, khusunya ibu Erny Setiawati dan ibu Victima Paska. Terima kasih pada Rm. Adam Soen, Pr yang sempat saya tanyai tentang kebenaran isi naskah.

Terima kasih pada para santo santa yang telah memberikan inspirasi melalui kisah hidup mereka. Dan tentu saja, terima kasih tak terhingga buat Tuhan Yesus dan Bunda Maria.

Mudah-mudahan buku ini disukai oleh siapa saja yang membacanya. Amin.


***

Pembatuan, 15 Desember 2015

@agnes_bemoe

Info detil tentang buku ini baca di sini.

Saturday, 12 December 2015

Hampir Natal

Hampir Natal.
Rumah-rumah sudah mulai meriah dengan pohon Natal dan harum kue kering. Lagu-lagu Natal mulai menyelip dimana-mana.

Natal sepertinya tak kenal duka, seperti seharusnya.

Seharusnya. (Pahit juga mendengar kata itu.)
Semua orang bergembira, seharusnya, termasuk aku. Sayang sekali, sulit bagiku menemukan alasan buat gembira. Sebaliknya, tak bisa kutahan sesak yang menggigit dadaku, dan yang lagi-lagi membuat mataku basah.

Di awal tahun ini kita sempat bertemu. Persis di hari ulang tahunmu. Rasanya seperti mimpi, bisa melihat langsung wajahmu. Merasakan sendiri dirimu, yang lembut tapi juga periang dan lucu....

Betapa tak terduganya waktu mengukir nasib.

Kini, ketika tahun ini hampir berlalu, ketika kita semua seharusnya bergembira menjelang Natal, aku malah kehilanganmu....

Andai aku punya kata-kata untuk melukiskan betapa limbungnya duniaku. Betapa tak ingin aku melihat matahari esok hari. Betapa berat rasanya udara yang kuhela.

Andai aku punya kata-kata, untuk menahan pergimu sejenak saja....

Sampai-sampai terpikir olehku, andai aku masih layak memohon pada Santa Klaus, aku akan minta dirimu.

Tapi, ah, sudahlah...
Berharap dan berkhayal hanya menambah luka.

Hampir Natal.
Dimanapun kamu berada, kuharap kamu selalu dipenuhi kebahagiaan. Kegembiraan dan kebahagiaan.

Selamat (menjelang) Natal.

***

Pembatuan, 13 Desember 2015
@agnesbemoe



Thursday, 26 November 2015

Love You, Still....

Heran ya, akhir-akhir ini kita sering sekali bertengkar.

Aku tak tahu bagaimana dengan dirimu. Namun, dari diriku, aku merasa ada yang berubah denganmu. Buatku, kamu jadi orang yang makin tak kukenal. Hari ke hari aku mencoba mencari seraut wajah lembut yang penuh senyum, kata-kata sejuk dan manis, pelukan hangat, atau malah cengiran "menyebalkan" bersama candamu.

Entah bagaimana, aku kehilangan semua itu.

Tenggelam di antara lelah dan permasalahan hidup yang kita hadapi setiap hari. Terhisap oleh kenyataan keras dan beratnya kehidupan.

Aku tak meminta banyak. Aku hanya berkhayal waktu bisa kembali membawa kita ke saat-saat itu, saat kita saling bicara, saling dukung, dan dengannya saling mempersembahkan cinta.

Sebaliknya, aku merasa sesak dengan kenyataan ini: kita malah saling memanfaatkan satu sama lain sambil mengambil keuntungan untuk diri sendiri. Kita saling menggerogoti, menghabisi satu sama lain, dan akhirnya terjerembab kekelahan oleh besarnya beban cinta diri pada ego kita sendiri.

Dan, di sinilah kita, dengan percik salah paham dan kemarahan yang tak berkesudahan. Melelahkan. Sangat melelahkan.

Malam ini aku sendirian, memikirkan kembali semuanya. Mengumpulkan keping demi keping kenangan bersamamu. Mereka-reka, dengan keping yang manakah cinta ini akan kukayuh.

Kamu sendiri entah di mana. Aku tak berani menduga. Aku pun tak berani menunggu. Aku yakin kamu tahu yang terbaik buatmu.

Namun, apapun yang akan terjadi dengan kita, satu hal yang aku yakini: aku tidak pernah menyesali keputusanku mencintaimu. Aku akan selalu menyayangimu. Aku menyayangi kelembutanmu, keceriaanmu, kesabaranmu, kecerdasanmu. Sama seperti aku menyayangi keusilanmu, ketengilanmu, juga keras kepalamu. Semuanya, yang sebentar lagi hanya akan jadi kenangan buatku.

Bila cinta ini tak berhasil buat kita, aku ingin kamu mengingat saat-saat ini dengan bingkai yang lebih indah.

Sebelum semuanya ini berakhir, aku ingin sekali lagi mengatakan: aku mencintaimu.
I do love you.... Still....

***

Pembatuan, 27 November 2015
@agnes_bemoe