Thursday, 27 August 2015

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: Dari Urat ke Jakarta

Judul Buku                              : Tuan Ringo
Penulis                                     : Fidelis R. Situmorang
Cover                                      : Dapur Naurah
Penerbit                                   : Penerbit Sinar David
Genre                                      : Kumpulan Cerpen
Jumlah Halaman                      : 81 halaman
Tahun Terbit                            : 1 Mei 2011




Keluarga. Apa yang terbayang di benak anda ketika mendengar kata tersebut? Wajah orang-orang tercinta yang selalu setia memberikan pelukan hangat? Ataukah wajah dari orang-orang yang sering membuat anda kecewa dan terluka?
Itu kutipan pengantar di kumpulan cerpen “Tuan Ringo” karya Fidelis R. Situmorang (FRS). “Tuan Ringo” adalah buku kedua penyair berdarah Batak ini.
Bicara mengenai keluarga rasanya masyarakat Batak salah satu yang memiliki sistem kekerabatan yang mapan. Konsep Dalihan Na Tolu dengan tarombo dan marga kait mengait di dalamnya jadi bukti lengkap dan mapannya kekerabatan di masyarakat Batak. Dari prinsip Hagabeon keluarga merupakan salah satu ukuran kesuksesan masyarakat Batak. Walaupun tidak menceritakan kekerabatan Batak dalam setiap cerpennya, kelihatan FRS berangkat dari norma dan nilai tersebut.
Cerpen  “Tuan Ringo” membuka buku berisi sepuluh cerpen ini. Diceritakan dengan gaya pop, cerpen ini menceritakan kembali silsilah marga Situmorang. Unik bahwa silsilah itu malah dipaparkan dari sudut pandang perempuan, dalam hal ini Boru Sitompul, istri Tuan Ringo. Entah apa maksud penulis memakai tokoh perempuan untuk menceritakan sebuah masyarakat yang patriarki ini.
Dalam cerita-cerita selanjutnya konsep Hagabeon seolah bertransformasi menjadi lebih kekinian: pergolakan hidup dalam keluarga -suami-istri, orang-tua anak- dengan permasalahan sehari-hari, dan bukannya melulu pada romantisme masa lalu seperti di cerpen pertama. Namun demikian, sambil membaca kita tetap merasakan sapuan halus pengaruh nilai Hagabeon di kesembilan cerita lainnya itu.
 “I Love You More” adalah salah satu contohnya. Dalam cerpen yang mengaduk-aduk perasaan ini si “Aku” harus merelakan kepergian anak laki-laki satu-satunya. Si “Aku” tidak hanya kehilangan buah hatinya, namun juga kesempatan untuk melanjutkan nama keluarga –hal yang sangat kritikal dalam keluarga Batak-.
Demikian selanjutnya cerpen-cerpen dalam “Tuan Ringo” mengulas satu persatu problema dalam keluarga. Ditulis dengan bahasa yang manis, khas FRS, cerita-ceritanya mengajak kita kembali ke ruang keluarga, dimanapun itu pernah berada.
Tidak selalu, memang, FRS berkisah tentang keluarga baik-baik. Dalam “Lembur” pembaca diberi kejutan yang cukup menyentak. Dikaitkan dengan tema keluarga sebagai hasil peradatan dan budaya, cerpen ini memang seolah-olah “berada di tempat yang salah”.  Namun, saya menilai, cerpen ini mengingatkan kita semua: inilah yang mulai dihadapi keluarga-keluarga sekarang. Konsep keluarga konvensional akan banyak mendapat benturan dari konsep-konsep yang menyelinap muncul, terlepas dari benar salah dan semua pertimbangan moralnya.
Selain mengenai adat istiadat, kesepuluh cerpen di “Tuan Ringo” ini juga membawa kita pada berbagai permasalahan sosial yang sehari-hari kita lihat di masyarakat: dari kekejian pelaksanaan masa orientasi sekolah sampai penculikan anak. Kesemuanya diceritakan dengan gaya bertutur yang sederhana, manis, dan menyentuh tanpa menghakimi pihak manapun. FRS malah mampu menghadirkan sisi humanis yang lembut dalam cerita yang berlatar kelam.  Baca saja “Mei”, yang menyinggung kerusuhan Mei 1998.
Sayangnya, hanya ada sepuluh cerita. Jujur, saya kurang puas. Namun demikian, dengan kepekaan penulisnya akan masalah-masalah sosial sehari-hari, termasuk keluarga, dan keterampilannya mengolah kata, kesepuluh cerita pendek itu tidak hanya membawa pembaca berkelana dari Urat (tempat asal Tuan Ringo) ke Jakarta tapi juga menjadi asupan yang nikmat buat mengisi ruang bathin, apapun situasi keluarga yang dihadapi oleh pembaca.



Pekanbaru, 28 Agustus 2015

Agnes Bemoe

Saturday, 1 August 2015

[Book Through My Eyes - BTME]: Kalau Imajinasi Berpetualang

Judul: Glooob - Petualangan Makhluk Ajaib, Buku #1
Penulis: Naning Chandra
Desainer Sampul, Penata Isi, Ilustrator: Hutami
Penerjemah: Pipit MP
Genre: Fiksi Anak
Penerbit: PT Grasindo



Guli, Gina, dan Gogo adalah tiga Glooob yang mengalami peristiwa-peritiwa seru di Pohon Smara, tempat tinggal mereka di hutan. Glooob adalah makhluk makhluk aneh yang mirip monster tapi jauh lebih imut.

Biarpun mirip monster, kisah mereka lebih mirip manusia. Misalnya, Gogo mengalami cegukan parah dan demam panggung hebat.

Asyik sekali membaca tiga buah cerita dalam buku ini. Hal pertama yang menakjubkan adalah ilustrasinya. Ilustrasinya hidup dan segar. Karakter Glooob menjadi karakter yang unik dan punya kepribadian. Karenanya cerita-cerita di dalam buku ini menjadi menarik buat dibaca.

Setting dan karakterisasi dalam kumpulan cerita ini juga menyegarkan sekali. Makhluk-makhluk rekaan semacam Glooob dan dunia kecil tempat tinggal mereka menjadi bagian yang memanjakan imajinasi pembaca.

Cerita-cerita di dalamnya, biarpun jelas punya amanat, tapi jauh dari kesan menggurui. Penulis terampil menyisipkan amanat tanpa membuat bosan dan muak para pembacanya. Buku ini bagus karena melatih kepekaan pembaca kecil menyingkap makna tersirat sebuah cerita dan bukannya mencekoki mereka dengan hal-hal yang gamblang tersurat.

Melihat ilustrasi dan karakterisasinya, buku ini adalah pesta imajinasi yang meriah sekali. Salut untuk penulis dan ilustratornya.

Bila ada hal yang sedikit mengganggu buat saya ketika membacanya adalah terjemahannya. Ada beberapa (tidak banyak) yang menurut saya bisa dicarikan padanan kata yang lebih baik. Misalnya, panggilan "Kakak" dalam Bahasa Indonesia saya kira tidak serta merta menjadi "Brother" dalam bahasa Inggris. Sejauh yang saya tahu, masyarakat berbahasa Inggris tidak punya kebiasaan memanggil "Kak" atau "Dik". Panggilan "Brother" atau "Sister" malah berkembang menjadi sesuatu yang dianggap rasis sebelum menjadi bagian dari budaya pop di Amerika.

Namun demikian, buku ini menurut saya sangat patut dibaca oleh anak-anak Indonesia. Buku ini menjadi semacam asupan yang bergizi sekali untuk daya imajinasi anak-anak. Dan seperti kata Albert Einstein yang dikutip di bagian awal tulisan: "Imagination is everything. It is the preview of life's coming attractions." (db)

***

Pembatuan, 2 Agustus 2015
@agnes_bemoe


Tuesday, 28 July 2015

Those Sweet Little Things

Although you are an author and a word-genius one, especially when it comes to romantic words, it is not your big words that melt me. It is the sweet little things you do that make me stay. 



It was my birthday, my first time with you. You came up with the idea to sing the Happy Birthday's Song through the phone, in the middle of the night, for me! Your sweet baritone voice warmed my heart. It was absolutely my best birthday surprise ever! I was like a five years old girl, having her first birthday party. Definitely, it made me smile all day long.



From the very beginning it is clear that I am the one with attitude. You actually have more than thousand reasons to give up on me. But you didn't. On the contrary, every time I lost my temper, you come and give me your big warm tight hug. 



I was horribly hospitalized. However, it was your every day company that helped me walk through that dark tunnel. Your being funny and half-full minded encouraged me, second by second. You never let me feel lonely, painful, or sad. I just couldn't thank you enough for that. 


It was raining dog and cat that day, when we had to rush ourselves to see a doctor. None of us brought an umbrella. You looked for a dry spot for me in front of a store and asked me to sit on that area while you managed yourself to find a taxi, in the pouring rain! 



Walking home from the doctor I mentioned prior, we found a little stall that sold meatballs and beverages. You, as usual, had a cup of coffee while I enjoyed drinking a cup of hot lime juice. It turned out that the coffee was so delicious that you asked me to taste it. And as if it was not gracious enough, you let me empty your cup. 

I do not have pictures to describe every little things you did to me. I wish I had. However, I remember every single things you've done to me. How you gave me your shoulder when I was tired and sleepy. How you brought my girly red hand bag through the mall since it was too heavy for my broken spine. How you stroke my head when I clumsily bumped my head toward the car's deck. 

I hope it will never end. But, as we both know, life become a tricky game for us. If only we just had the chance :(

I wish you luck. I wish you happiness. I wish you all the best. 

God loves you, and I do too....

Pembatuan, July 29th, 2015
@agnes_bemoe


Friday, 3 July 2015

Selamat Ulang Tahun

Jiwa ini bukan milik diri semata. Ada pemilik sesungguhnya yang benar-benar mengasihinya.
(Butir-Butir Hujan, Fidelis R. Situmorang)

Akhirnya, kata-kata penulis di atas itulah yang aku ucapkan berkali-kali untuk meredakan rasa tidak terima atas ketidakadaanmu. Jiwamu yang cantik itu sudah kembali ke pemiliknya. Dia, Si Pemilik Jiwamu, lebih tahu apa yang terbaik buatmu.

Tapi, seandainya, aku boleh berandai-andai, ingin rasanya sejenak menarikmu dari surga tempatmu beristirahat kini. Kini, hari ini, persis di tanggal kelahiranmu.

Lalu kita bikin mie instan sama-sama. Telur-nya satu, sayurnya sedikit, tapi cabenya... segenggam. Hehehe... kamu masih suka yang pedas-pedas, kan?

Atau kita cari cake yang kecil-kecil itu? Kamu tahu, aku paling suka itu. Di setiap kesempatan ke Padang, kamu pasti belikan mini cake buatku.

Eh, tapi, ini kan ultahmu. Harusnya tentang segala sesuatu yang jadi kesenanganmu.

Dan itu dia yang aku tidak bisa lupa: mudah sekali membuatmu senang. Sederhana sekali keinginan dan cita-citamu. Tak pernah aneh-aneh, tak pernah neko-neko. Hal paling kecil pun bisa membuat matamu berbinar dan senyummu mengembang ceria.

Bersamamu, makanan sesederhana mi instan atau karedok bisa jadi istimewa. Oh iya, aku ingat kamu suka sekali dengan karedok. Karedok dan telur dadar. Sekarang aku sudah lebih pandai memelintir telur supaya terdadar dengan cantik. Bukan seperti dulu, asal cemplung, asal matang... hahaha....

Hanya ada satu saat dimana kamu begitu cerewet dengan makanan. Waktu itu kamu minta dibuatkan sayur kangkung. Bukan hanya sekali, hampir tiap hari! Beugh, aku sudah curiga. Dan, Puji Tuhan, aku benar. Kamu lagi ngidam, ngidam kangkung... hihihi.... Biarpun sudah separuh eneg, aku rela. Senang malah! Akhirnya buah hati yang kamu tunggu-tunggu datang juga. Kalau melihat jagoanmu itu sekarang sudah jadi pemuda tampan, aku selalu teringat sayur kangkung... hahaha...!

Kehidupan kita naik turun. Aku senang, kamu hidup dengan sangat layak dan bahagia. Aku lebih senang karena dalam kondisi yang berkecukupan kamu tidak berubah. Tetap orang periang, penyayang, sederhana, dan manis seperti yang kukenal dulu.

Sayang sekali, waktu kita buat bersama di dunia ini sangat sebentar. Kamu pergi duluan. Pergi ke Sang Pemilik Jiwamu.

Di hari ini, hari ulang tahunmu, aku sampaikan doa dan rinduku. Tuhanku, jagalah sepotong jiwa cantik yang sekarang ada di RumahMu.

Mudah-mudahan suatu saat kita bertemu lagi. Kita makan mi instan, dengan cabe segenggam ya....

***

Pembatuan, 4 Juli 2015
@agnes_bemoe

Yenny Mulyani
Bandung, 4 Juli 1972 - Padang, 31 Janjari 2014

Tuesday, 23 June 2015

Welcome Home

Do you believe that all dogs go to heaven? I do.
Do you believe that we can still communicate with our beloved one in heaven? I DO.

Thirteen days ago I lost my baby boy, Gabriel Oscar. It has been the most devastating 13 days of my life. Oscar was a super sweet lad. A clever and nice one as well. It's just so unfair that he was leaving so early.

Then, this morning I got this beautiful picture. Aniek Soetaryo, a dearest friend of mine posting it onto my fb's wall.

Receiving this, I was like chocking. The picture of Lord Jesus hugging a simple dog brought many tears to my eyes. It was about ten minutes after starring only to the picture when I found then words printed right on the top side. "Welcome home", it is said.

I was beyond speechless!

It was like my beautiful Oscar himself whispering to me: "Mami, I'm home. I'm with Him. He hugs and kisses me every single minute, just like you did."

Oh my! Am I able to finally release him? I don't know. But, knowing that he is now Home is huge to me. What is better than Home and Lord Jesus Himself? This thought eased my broken heart. Oscar is no longer around. However, we are still connected in all possible way we can imagine. I just cannot challenge my Lord Jesus in this point.

Through my dear friend, he spoke to me. For your record, my friend sent me the picture without knowing that I am in an ugly grief of loosing my sweet heart. She sent it just because she knows I am a frantic fan of dog. That it turned out to be something greater than just a picture, I think I know Who did this.

***

Pembatuan, June 23rd 2015
@agnes_bemoe


Friday, 19 June 2015

Sweet Surprise

"Sebagai ucapan rasa syukur atas kebaikan Tuhan di hari ulang tahunmu ini, kukirim cerita untukmu. Iya, satu buku cerita, seperti apa yang sekarang dirimu kerjakan dan persembahkan dalam hidup ini..."

Bohong berat kalau aku tidak melonjak senang membayangkan sebuah hadiah darimu. Bukan, bukan karena hadiah itu sendiri, karena hadirmu dalam hidupku sudah merupakan hadiah terindah yang pernah kuterima. Ada, atau tidak ada hadiah itu, aku bahagia. Aku bahagia, karena segala tentang dirimu membuatku bahagia.

Namun, jujur, sebuah buku darimu di hari istimewaku tentu membawa kehangatan tersendiri di hatiku. Makanya, aku sangat tidak sabar menanti kedatangannya.

Dan hari inilah harinya.

Ketika kubuka bungkusnya, aku hampir tidak bisa bernapas!

"Aku mendapatkan buku cerita itu di toko buku dekat rumah. Waktu melihat judul buku itu, aku seneng banget, yakin (berharap), bahwa dirimu akan suka menerimanya."

Seharusnya kamu melihat sendiri ekspresi wajahku. Aku bukan hanya suka, aku suka sekali. Amat sangat suka! Ini sebuah buku klasik, buku yang nyaris menjadi "kitab suci" dalam dunia bacaan anak-anak -dunia yang sedang aku geluti sekarang-.

Mendapat buku ini, di hari ulang tahunku, dari orang sespesial dirimu, seperti sebuah inaugurasi buatku. Buku ini sendiri semacam impian terpendam yang jarang aku ungkapkan (karena tidak yakin bisa mendapatkannya). Sekarang kamu tahu, kan, kenapa aku sampai tidak bisa bernapas? Dadaku bertambah sesak ketika teringat kata-katamu: kamu langsung teringat padaku, begitu melihat buku ini....

Sambil membelai buku baruku, aku teringat ceritamu ketika membelinya. Buku itu ternyata ada bercak-bercak kuningnya. Karenanya, kamu merasa tidak elok memberikannya sebagai hadiah.

Ah, kamu yang perfeksionis kalau sudah mengenai buku.
Kamu sempat bimbang antara mencari judul lain atau bertahan di buku yang menurutmu kurang bagus kondisinya itu.

Menurutmu, dalam kebimbangan seolah ada sesuatu yang menarikmu kembali pada buku itu. Kamu pun memutuskan untuk mencari copy yang lebih bagus.

Aku membayangkan, kamu menyisihkan waktu untuk memilih satu persatu dari sekian banyak buku, memeriksanya dengan amat sangat teliti, serta membandingkan satu dengan yang lainnya. Aku membayangkan  kamu sengaja mengabaikan kecemberutan pemilik toko ketika membongkar rak buku -padahal kamu adalah tipe orang yang sangat menenggang perasaan orang lain-. Semua itu kamu lakukan demi mendapatkan buku dengan kondisi yang paling baik untuk dihadiahkan buatku.

Aku rasa, sampai kapanpun aku tidak akan berhasil meyakinkamu, bahwa buku yang kuterima itu sangat bagus kondisinya. Seandainya kurang bagus pun, aku tidak memedulikannya. Senyum lebarmu yang menempel di setiap sudut buku itu membuatku tidak sempat memikirkan hal lain selain ingin segera membacanya.

Puas membelai, kupeluk erat-erat buku setebal 600-an halaman itu. Andaikan bisa kusampaikan secara langsung rasa terima kasihku....

"Sekali lagi, selamat ulang tahun ya... Berbahagialah!"

Bagaimana mungkin aku tidak berbahagia kalau aku punya penyemangat dan pendukung sepertimu?

Terima kasih buat kadomu. Terima kasih buat apa yang sudah kamu lakukan buatku.

"Semoga Tuhan yang Maha Baik itu memberikan kekuatan dan rahmat yang tak pernah putus dan tak terhitung banyaknya untuk dirimu."

Tuhan yang Maha Baik itu memang memberikan kekuatan dan rahmatnya. Ia mengirim dirimu, sebagai hadiah buatku.

***

Pekanbaru, 19 Juni 2015
Agnes Bemoe


Sunday, 24 May 2015

Bersahabat dengan HNP

Persis dua bulan sejak saya berobat ke Pak Yuyun, seorang akupunkturist di Jakarta.
Sejak pulang dari tempat Pak Yuyun, saya merasakan perubahan yang cukup signifikan. Malahan, sehari setelah berobat saya kuat jalan-jalan ke mall (yang mana agak mustahil bagi saya di waktu-waktu sebelumnya). Namun demikian, saya tidak mau buru-buru senang. Saya memutuskan untuk menunggu sampai beberapa waktu. Saya takut kecewa.

Selama sebulan setelahnya saya merasakan badan saya enakan. Bangun tidur tidak lagi sakit, jalan tidak sakit, batuk dan bersin juga tidak sakit. Saya lebih kuat duduk, baik untuk menulis maupun menyetir. Saya sudah ingin menuliskan kemajuan ini ketika saya kembali merasakan sakit. Itu hampir sebulan setelah saya berobat ke Pak Yuyun.

Waktu itu, merasa agak sehat, saya melanjutkan kegiatan mengedit naskah yang sudah lama saya tinggalkan dan sudah berulang kali ditagih oleh para penulis naskah (mereka tidak tahu kalau saya sakit). Selain itu, saya juga mencoba menulis naskah cerita anak-anak untuk sebuah penerbit.

Entah bagaimana cara saya mengetik/duduk, saya kembali merasakan nyeri di pinggang sampai ke telapak kaki. Saya memutuskan untuk istirahat total. Mencegah stress yang bisa memicu depresi, saya menghabiskan waktu dengan mendengarkan musik, nonton film, dan ngobrol dengan teman baik saya (lewat dunia maya, tentunya). Puji Tuhan, setelah semingguan istirahat, nyeri pun hilang. Selanjutnya, saya praktis tidak lagi merasakan nyeri (kecuali kemarin waktu saya ke Gramedia. Mungkin saya kelamaan di sana :p).

“SEMBUH” BUAT PENDERITA HNP
 Tanpa bermaksud mengecilkan semangat, mengecilkan perjuangan sesama HNP-ers, buat saya sembuh total dari HNP itu “nyaris mustahil”. Saya beri tanda kutip karena frasa ini butuh penjelasan.
Saya percaya pada kesembuhan. Namun, sepertinya saya harus punya pandangan lain terhadap HNP. Kondisi syaraf saya sudah “cacat”. Yang bisa dilakukan adalah semaksimal mungkin mengupayakan supaya kecacatannya tidak bertambah parah. Untuk itulah saya berenang (untuk menguatkan otot punggung dan perut) dan menjaga posisi badan termasuk tidak mengangkat beban terlalu berat (untuk mencegah syaraf semakin teriritasi).

Berenang dll bukan obat untuk kesembuhan. Ini untuk membantu memperkuat otot, memperkecil potensi iritasi, dan karenanya meminimalisir kecacatan. Upaya ini harus saya lakukan terus menerus tanpa mengenal kata “sembuh” (kalau sudah baikan lalu berhenti). Tidak heran kalau Ari Wijaya, salah seorang penderita HNP yang mendirikan sebuah grup, menamakan grup-nya “Bersahabat dengan HNP”. Saya memang harus melihat Mr. HNP ini sebagai sahabat saya. Saya harus mulai belajar hidup dengannya dan mengakrabinya. Walaupun tetap yakin bisa sembuh total, saya tetap memposisikan diri sebagai yang “selalu berusaha sembuh” supaya tidak kecewa dan frustrasi.

Tentu saja HNP dapat sembuh total. Caranya dengan operasi. Namun, bagi saya, operasi sangat tinggi biayanya.
dr. Syafruddin

CARA SAYA BERSAHABAT DENGAN HNP
HNP memberikan pengaruh luar biasa dalam hidup saya; fisik dan mental. Secara fisik saya sempat bed-rest berbulan-bulan. Secara mental saya terkena depresi. Menyadari bahwa saya harus hidup berdampingan dengan HNP entah sampai kapan, maka saya mulai menata diri.
Ini adalah beberapa hal yang saya lakukan dalam persahabatan saya dengan HNP:
  1.  Berenang, 3 kali seminggu. Berenang tidak hanya menguatkan otot badan saya saja tapi juga mengurangi stress. Kata orang, air adalah wahana pengurang stress. Manfaat lain, di kolam renang saya berekenalan dengan orang baru. Ini baik untuk kebutuhan saya untuk bersosialisasi. Ujung-ujungnya, mengurangi stress juga.
  2. Pijat Refleksi, ini saya lakukan seminggu sekali. Manfaat yang saya rasakan sama seperti berenang; badan saya terasa ringan, stress saya berkurang, saya bisa tidur nyenyak, makan banyak.
  3. Latihan Pernapasan dan Meditasi Ringan, ini saya lakukan setiap hari di pagi hari. Terus terang, ini adalah latihan yang berat. Sering kali saya “gagal”. Tapi saya berkeras melakukannya setiap pagi. Manfaat yang saya rasakan adalah saya lebih tenang, tidak gampang takut (kalau depresi kambuh, saya mudah ketakutan).
  4. Senam HNP, saya lakukan dua hari sekali. Baru sebulan ini saya mempraktikan senam HNP (saya cari dari internet). Terasa memang saya lebih kuat dalam beraktivitas. Merasakan manfaatnya, saya malah merencanakan mau mengikuti yoga khusus untuk low-back pain. Mudah-mudahan kuat! :D
  5. Menata lingkungan saya, ini lebih ke manfaat secara mental. Saya bukan orang yang pemilih atau super sensitive dalam berteman. Tapi entah kenapa, semenjak terkena depresi, saya kurang kuat menghadapi pemikiran atau pembicaraan negatif cenderung toxic. “Lingkungan” pertama yang saya tata tentu saja diri saya sendiri. Saya berjuang keras menghindari berpikir negatif, berpikir tegang, atau mellow. Saya menghindari bacaan-bacaan atau tontonan-tontonan yang potensial membuat saya cemas atau mellow. Saya tidak kuat menonton tayangan berita tentang kecelakaan dan kematian. Saya juga tidak bisa membaca novel-novel mellow (padahal beberapa di antaranya favorit saya). Sudah hampir sebulan ini saya meng-unfriend beberapa teman di fb. Pemikiran sektarian dan selalu memicu permusuhan yang tertuang dalam status mereka tidak cocok untuk kondisi saya sekarang. Fb saya sekarang “monoton” dan “sepi”. Tapi, saya tidak lagi tegang dan terhenyak dikagetkan oleh status-status negatif. Termasuk juga saya jadi pemilih dalam berteman dengan sesama penderita penyakit. Jangan salah sangka, bukannya saya “berdarah dingin” tidak mau berempati dengan sesama yang sakit. Ada yang mengeluh secara proporsional lalu berupaya mencari cara mengatasinya. Namun, ada juga yang mengeluh tidak ada habisnya. Lalu, bukannya menjalani atau melakukan terapi/pengobatan/atau kondisi sakitnya dengan tenang dan dewasa, malah asyik membicarakan penyakitnya. Seolah-olah yang bersangkutan “senang” dengan kondisi sakitnya karena dengan begitu bisa jadi “selebritis” biarpun sesaat. 
    Sr. Maristella, JMJ
  6. Menikmati Hidup Saran ini sudah sering didengungkan. Namun bagi saya (yang selalu over-thinking dan ribet) alangkah susahnya menikmati hidup, terutama saat saya tidak bisa kemana-mana dan tidak bisa berbuat apa-apa. Saya diingatkan tentang hal ini persis ketika saya berobat ke psikolog. Bukan, bukan oleh psikolognya, tapi oleh seorang kakak asrama di Duri yang secara kebetulan saya temui di depan ruang praktek ibu psikolog. “Satokkin hidup i, ndang pola dipikiri sude!” begitu kata kakak asrama saya yang boru Batak ini. Artinya kira-kira: hidup ini sebentar saja, jadi jangan diberatkan dengan pikiran yang bukan-bukan. “Hidup itu, Dik, senang-susah-senang-susah, lalu mati.” Dia menyarankan saya untuk melakukan apa yang saya suka: berdandan, jalan-jalan, mau makan bakso ya beli bakso, mau karaoke ya pergi ke karaoke, dll. Intinya, nikmati hidup. Saya rasa, saya harus mulai mencoba hidup dengan cara itu. Selama ini, terus terang, pikiran saya tersedot oleh sakit saya. Saya jadi malas lalu takut melakukan apa-apa. Saya malas keluar rumah, malas tampil rapi, takut nyetir, takut jajan (kawatir mengganggu keuangan), dll. Mencerna berulang kali kata-kata kakak asrama saya itu, saya pikir, mungkin itu yang seharusnya saya lakukan. Kerjakan apa yang ingin saya kerjakan dan harus mulai melatih diri saya untuk lebih rileks, tidak over-thinking.
  7.  Bersyukur, Bersyukur, Bersyukur. Banyak hal “sepele” sehari-hari yang tidak pernah saya syukuri. Saya bersyukur sudah bisa lebih mandiri (mengambil makan-minum sendiri sampai menyetir sendiri, dll). Saya bersyukur masih bisa berobat, baik kedokteran modern maupun alternatif. Saya bersyukur masih bisa “bersenang-senang” (jajan bakso/rujak/gado-gado, atau jalan-jalan ke Alam Mayang, atau main gitar sambil bernyanyi, dll). Saya bersyukur dipertemukan dengan dokter-dokter yang baik yang memberikan saran profesionalnya dengan luar biasa bertanggung jawab (harusnya saya punya tulisan tersendiri tentang ini). Dari awal sakit sampai sekarang saya dipertemukan dengan dokter yang baik: dr. Syafruddin, dr. Elly Anggraini Ang, dr. Juwanto. Saya bersyukur dipertemukan dengan Suster Maristella, JMJ yang kata-katanya meneguhkan dan menguatkan iman saya yang ambrug berkeping-keping (hasyahh… lebay ya…) Saya bersyukur atas orang-orang baik yang ada di sekeliling saya. Entah bagaimana saya kalau yang di dekat saya bukan orang-orang yang sekarang ini. Mereka merawat saya dengan luar biasa sabar dan tetap ceria. Saya juga bersyukur atas para sahabat dari dunia maya yang terus menerus memberi support. Menghitung begitu banyak berkat itu membuat saya merasa “kaya” J
dr. Elly Anggraini Ang


MASIH JADI PENULIS?
Daftar kegiatan di atas tidak menunjukkan kegiatan menulis saya. Apa saya masih jadi penulis?
Masih dong!

Hampir dua tahun saya tidak menulis apa-apa. Saya anggap ini fase turun mesin saja. Saya memang harus istirahat. Mudah-mudahan pelan-pelan saya bisa kembali seperti dulu lagi: rutin menulis setiap hari dan menerbitkan buku. Tuhan yang Maha Baik pasti tidak akan membiarkan saya tidak mengerjakan kegiatan yang saya sukai itu.

***
Pembatuan, 25 Mei 2015

@agnes_bemoe

Baca juga: Berobat ke Jakarta