Saturday, 10 December 2016

BEHIND THE SCENE [BTS]: 12 HIASAN POHON NATAL



Belum pernah saya menarik napas sepanjang ini untuk buku terbit seperti terbitnya '12 HIASAN POHON NATAL' (12 HPN). Legaaaa! Itulah yang saya rasakan, di samping haru, lelah, bangga, bersyukur, dan seribu macam perasaan yang saling campur aduk.

Bagaimana tidak, 12 HPN adalah naskah dengan 'Jalan Salib' terpanjang di antara pengalaman saya menerbitkan buku. Entah kenapa, banyak sekali kerikil tajam mengusik perjalanan naskah ini. Termasuk di antaranya adalah saya dan Lisa, ilutrator, jatuh sakit.

Saya kena HNP (sudah sering saya ceritakan ya) yang menyebabkan naskah ini terhenti lama, sampai hitungan tahun. Naskah ini saya tulis tahun 2012, baru bertemu dengan penerbit di tahun 2015. Tahun 2016 akhirnya naskah ini resmi terbit di Penerbit Grasindo.

Maka ... fiuh, syukur kepada Allah, Puji Tuhan!
Apapun yang terjadi di belakang, itu sudah lewat. Sekarang melangkah dengan penuh keyakinan dan harapan agar buku ini diterima pembaca kecilnya.



MENGAPA NASKAH NATAL?
Jujur, awalnya saya tidak terlalu tertarik menulis naskah Natal. Menurut saya, cerita Natal sudah banyak. Lalu, saya bertemu dengan beberapa teman yang bukan Kristen tapi menulis cerita Natal. Saya merasa tertohok. Saya rasa, saya telah meremehkan moment Natal untuk anak-anak. Maka, saya pun mulai merancang naskah ini.

Biarpun tentu saja tetap ingin atmosfer Natal yang festive, saya menyelipkan ide tentang Natal yang lebih dalam. Cerita 'Christie Kabur dari Rumah' adalah harapan saya tentang Natal yang lebih sederhana tapi bermakna. Cerita 'Hari Natal tanpa Mama Papa' juga menampilkan opini saya bahwa Natal adalah kepekaan terhadap lingkungan sekeliling kita. Saya yakin, hal-hal mendasar dan universal seperti inilah yang perlu diketahui oleh anak sejak dini. Saya memanfaatkan moment Natal untuk menyampaikannya. Dengan kata lain, makna ceritanya sebenarnya bisa diterapkan sepanjang tahun, tidak hanya dalam suasana Natal saja.



IDENYA DARI LAGU
Biasanya, saya memetik ide dari baca buku, cerita teman, pengalaman pribadi, dan lain sebagainya. Nah, untuk naskah ini awalnya saya mencari ide dari lagu-lagu Natal. Psst... awalnya naskah ini berjudul 'Christmas Carol' yang mengacu pada tradisi menyanyikan lagu-lagu Natal oleh paduan suara kecil.

Dengan berjalnnya waktu, ide juga mengalami penyesuaian. Akhirnya, tidak semua cerita didasarkan pada sebuah lagu. Namun, jejak 'Christmas Carol' masih ditemui di banyak cerita, semisal 'Natalie Ingin Bertemu Sinterklas' (Santa Claus Is Coming to Town) atau 'Di dalam Rumah Kue Jahe' (It's The Most Wonderful Time of The Year). Judul '12 HIASAN POHON NATAL' sendiri terinspirasi dari lagu 'Twelve Days of Christmas'.

ILUSTRASI dan ILUSTRATOR
Sejak awal, ilustrator yang saya pilih adalah Lisa Gunawan. Saya tidak mengadakan audisi. Saya suka gaya ilustrasi Lisa yang imut. Pilihan saya tidak salah. Lisa memberikan ilustrasi yang luar biasa meriah, manis, dan cute untuk keseluruhan buku. Seingat saya, sata tidak pernah mengkoreksi atau minta perbaikan. Ilustrasi Lisa langsung mendapat persetujuan saya.



Ilustrasi yang bagus, 'tidak sebanding' dengan ilustrator yang baik. Saya salut banget pada pribadi Lisa. Jujur, kalau ilustratornya bukan Lisa, mungkin saya dan naskah ini sudah lama mogok.

TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih yang tak terhingga saya sampaikan pada ibu Maria Silabakti dan Penerbit Grasindo yang memercayai naskah ini.
Terima kasih juga tentu saja buat Lisa Gunawan. Semoga lain waktu kita bisa bekerja sama lagi.
Terima kasih buat teman-teman yang sudah PO. Sangat menyemangati.

Akhirnya, semoga buku ini diterima oleh anak-anak.
Selamat menyambut Natal, Damai buat kita semua.
***

Pekanbaru, 11 Desember 2016
@agnes_bemoe

Thursday, 24 November 2016

12 HIASAN POHON NATAL DAN ANAK-ANAK UNIVERSAL


Ah, akhirnya, saya punya juga buku cerita Natal! Sangattt puas dan bangga. Biarpun sudah lumayan punya buku, belum afdol rasanya kalau belum punya buku Natal. Tetapi tentu saja, saya menulis ini bukan untuk gagah-gagahan, sekedar memuaskan ego sebagai penulis. Ada hal yang saya ingin anak-anak mengenalnya sedini mungkin.

Saya merasa, anak-anak sekrang menghadapi radikalisme di satu sisi dan krisis kepercayaan terhadap agama dan Tuhan di sisi lain. Saya tidak ingin anak-anak terperangkap dalam kedua sikap tersebut. Saya tidak yakin, dua kutub itulah kondisi ideal. Bagi saya, anak beriman (apapun agamanya), tetapi tidak buta dan sempit, melainkan terbuka pada dunia yang beraneka warna, itulah yang ideal.

Anak-anak UNIVERSAL, begitulah.

Maka, saya mengambil moment Natal 2016 ini untuk mengajak anak-anak: percayalah kepada Tuhan, pada kasih sayang Allah, sambil menyayangi sekitarmu yang berbeda. Itulah yang saya tuangkan ke dalam 12 cerita di "12 Hiasan Pohon Natal" ini. Vertikal ke Allah dan horisontal ke manusia.

Ambil contoh kisah "Baju Merah Berenda Putih". Hanna dan Tara adalah dua orang anak yang berbeda nasib. Apakah lantas mereka tidak bisa bertemu? Ternyata tidak. Ajaran baik yang diterima Hanna membuatnya mampu melihat Yesus sendiri dalam pribadi Tara.

Tidakkah kita ingin anak-anak kita hidup berdampingan dalam harmoni, apapun perbedaan yang mereka miliki?

Dengan tujuan seperti itu, saya berharap orang tua mau memilih buku ini untuk anak-anaknya. Saya juga berharap, anak-anak menikmati ceritanya dan mengambil hikmah Natal yang indah buat mereka.

Buku ini dihiasi dengan ilustrasi indah karya Elisabeth Lisa dan diterbitkan oleh Grasindo. Akan terbit awal Desember ini, tapi teman-teman bisa menghubungi saya untuk PO. Oh iya, harganya Rp. 95.000,- saja.

Akhirnya, saya ucapkan selamat menyambut Adven dan Natal, dan selamat membaca!




***

Pembatuan, 25 November 2016
@agnes_bemoe

Saturday, 12 November 2016

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: SEBUAH PESTA UNTUK SENJA

Judul Buku                  : Melukis Senja
Genre                          : Fiksi - Kumpulan Puisi
Penulis                         : Tantrini Andang dan Yusup Priyasudiarja
Penerbit                       : Penerbit Pohon Cahaya, 2016




Tentang hal-hal yang tak terungkapkan,
aku ingin punguti apa-apa yang kau tinggalkan,
sajak cinta, senja, dan hujan,
lalu satu demi satu,
akan kueja bersama waktu,
karena selalu akan ada yang tak sama,
dalam setiap langkah kepergian,
yang menjadi rahim dari rasa kehilangan.
(Tentang Kehilangan, Hal. 89)

Puisi di atas seolah menjadi ringkasan atasantologi bertajuk “Melukis Senja”. Cinta, senja, dan hujan ditaburkan dengan indah di sepanjang buku 182 halaman ini. Dari ketiganya, senja seolah mendapat porsi sedikit lebih banyak sehingga tidak berlebihan kalau kumpulan puisi yang ditulis oleh Tantrini Andang dan Yusup Priyasudiarja ini terasa sebagai sebuah panggung untuk senja.
Seratus empatpuluh puisi kamar; sembilanpuluh karya Tantrini Andang selebihnya karya Yusup Priyasudiarja mengalir dengan indah dan lembut sejak dari “Senja Tanpamu” sampai “Gerimis atau Hujan”. Konsistensinya sungguh patut diacungi jempol. Kelihatan sekali penulis memilih diksinya dengan cermat dan merangkaikannya dengan terampil. Tidak hanya konsisten dalam kualitas puisi, namun juga dalam hal penuturan. Saya kagum dan salut kepada kedua penulisnya. Puisi-puisi di buku ini seolah ditulis oleh satu orang yang sama! Karena menyangkut rasa, saya pikir hal ini tidak mudah.
Namun demikian, yang jauh lebih penting daripada diksi dan teknik pemuisian adalah kesediaan penulis untuk membuka diri secara jujur dan otentik, membiarkan pembaca masuk pada ruang batin si aku liris di setiap puisinya, dan karenanya membiarkan pembaca untuk ikut merasakan apa yang dirasakan si aku liris; entah rindu, rapuh, ataupun penuh harap.
Saya bersyukur atas terbitnya kumpulan puisi ini. Dunia tulis-menulis sekarang ini saya rasa sedang dirajai oleh tulisan yang bertabur kata-kata indah namun lebay tanpa makna. Antologi ini menunjukkan kepada kita bahwa kita bisa menggunakan kata-kata dengan indah dan anggun  sambil menitipkan makna yang dalam di setiap kata-katanya.
Selain karena puisi-puisinya yang seolah-olah membawa para pembaca terbang dengan awan-awan, saya salut dengan tata tulisnya. Tidak sedikit penulis –bahkan yang mengaku penyair- abai tentang tata tulis ini. Akibatnya, puisi yang sebenarnya indah menjadi berkurang nilainya. Syukurlah, puisi-puisi dalam antologi ini tidak mengalami penurunan nilai karena tata tulis yang ceroboh.
Namun demikian, ada beberapa hal yang mengusik saya. Yang pertama, tentang tema dan para penulisnya. Apa yang mengikat mereka? Apa bedanya kalau Tantrini Andang dan Yusup Priyasudiarja menulis sendiri-sendiri dalam buku masing-masing? Saya teringat akan “Tiga Menguak Takdir”, karya besar tiga orang penyair Rivai Apin, Chairil Anwar, dan Asrul Sani. Mereka mengikat diri dalam tema mendobrak kekunoan pemikiran Sutan Takdir Alisyahbana saat itu dalam menginterpretasikan sastra. Kembali kepada “Melukis Senja”. Tentu saja tidak wajib ada semacam tema kuat pengikat keseratusempatpuluh puisi di dalam buku ini. Namun, saya pikir akan lebih kental seandainya Tantrini Andang dan Yusup Priyasudiarja bersedia menyortir lagi puisi-puisinya ke dalam sebuah tema yang lebih sempit.
Hal berikutnya adalah cover. Saya tidak mempermasalahkan ilustrasinya (saya dengar, cover bahkan digambar sendiri oleh Tantrini Andang, yang mana ini merupakan nilai lebih bagi kumpulan puisi ini). Hanya saja, untuk selera pribadi saya, cover terkesan suram.  Endorsement Joko Pinurbo yang diterakan di bagian cover pun seolah tenggelam dan agak sulit ditangkap. Dan ini, menurut saya, sangat disayangkan.
Namun demikian, terlepas dari itu, antologi puisi ini adalah buku yang sangat berharga untuk dimiliki dan dikoleksi. Saya sangat menikmati puisi-puisinya dan saya merekomendasikannya pada siapa saja yang gemar membaca atau menulis puisi.

***


Pekanbaru, 12 November 2016

@agnes_bemoe

Friday, 11 November 2016

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: MENGENAL NILAI DAN NORMA SECARA SEDERHANA

Judul Buku                  : Cerita Bijak untuk Anak
Penulis                         : Krismariana
Penyunting                  : Deesis Edith M.
Ilustrator                     : InnerChild Studio
Penerbit                       : Penerbit Bhuana Ilmu Populer
Genre                          : Fiksi Anak



Buku ini berisi lima buah cerita yang –dari judulnya sudah dapat kita tebak- mengajak anak untuk bersikap bijak. Ada Bubu si Polisi yang dihadapkan antara keinginan memiliki kue ulang tahun dan tugasnya sebagai penegak hukum sampai Si Kancil yang kehabisan persediaan mentimun padahal ia ingin sekali makan timun.
Kelimanya dituturkan dengan apik dan menarik. Apik, karena tidak menggurui biarpun mengandung muatan pesan moral yang cukup berat. Apik, karena penggunaan bahasanya sederhana.  Menarik, dengan ilustrasi yang hidup dan cerah karya InnerChild Studio. Menarik, dengan bonus stiker dan puzzle di akhir cerita. Secara khusus saya suka ukurannya yang besar (25 X 25) dan tidak terlalu tebal. Anak akan mudah memegangnya saat membaca. Dengan kelebihan ini, buku ini tak diragukan lagi ideal untuk anak-anak.
Yang mengganggu buat saya adalah judulnya. Mungkin ada pertimbangan tersendiri untuk hal ini tapi judul “Cerita Bijak untuk Anak” menurut saya sangat predictable sehingga kurang menantang dan menarik. Yang juga mengganggu buat saya adalah Kata Pengantar di halaman awal. Menilik dari pembahasaannya Kata Pengantar tersebut sepertinya ditulis untuk konsumsi orang dewasa. Apapun maksud dan tujuannya, bukankah ini tetap buku anak? Mengapa tidak memberi ruang semaksimal mungkin untuk anak?
Namun demikian, buku ini sangat layak dibaca, bahkan wajib dibaca, oleh anak-anak. Bagi orang tua yang masih memiliki anak berusia 4 – 7 tahun, saya sarankan untuk membeli dan membacakan buku ini. Bila saya seorang guru TK atau SD kelas 1 atau 2, saya akan dengan senang hati membacakan ini ke murid-murid saya dan membicarakan isinya. Saya yakin, inilah maksud buku ini ditulis; supaya anak-anak mulai menginternalisasi nilai dan norma yang terstandar.

***

Pekanbaru, 12 November 2016
@agnes_bemoe




Saturday, 5 November 2016

DARI NASKAH KE BUKU

Beberapa waktu yang lalu saya menulis tentang bagaiman menulis cerita anak. Sekarang, saya ingin berbagi tentang bagaimana membuat naskah menjadi buku. Oh iya, seperti "Menulis Cerita Anak a la Saya", proses teknis ini adalah yang saya alami karena saya bukan ahlinya. 

‘ANATOMI’ BUKU
Ada baiknya kita kenali dulu bagian-bagian penting buku sebelum kita menyusun buku. Secara sederhana, buku terdiri dari:
1.      Cover
2.      Halaman Prancis
3.      Isi
4.      Punggung buku

Cover adalah lembar pertama dan terakhir buku. Istilah yang sering dipakai adalah “Front Cover” dan “Back Cover”. Cover bisa berbentuk cover tebal (hard cover) atau tipis (soft cover).
Contoh cover: Aubrey dan The Three Musketeers, Soft Cover

Di Front Cover dituliskan judul buku, nama penulis (dan illustrator), nama penerbit, serta logo penerbit. Sedangkan di Back Cover dituliskan blurb. Blurb berisi ringkasan isi buku. Blurb berbeda dengan sinopsis. Bila sinopsis menceritakan secara ringkas isi buku dari awal sampai penyelesaian, blurb menyisakan penyelesaiannya sebagai daya tarik untuk pembaca.

Contoh sinopsis (diambil dari “Bo & Kawan-Kawan di Peternakan Kakek Ars): Lomba Lari Musim Panas: Vicky Kelinci sangat kecewa ketika dia hanya menempati posisi juara dua dalam lomba lari. Ia sudah berlatih sangat keras dan harapannya adalah merebut gelar juara satu. Bo membuatnya sadar bahwa kekalahan tidak harus disikapi dengan keputusasaan.
Contoh blurb: Setiap hari Vicky Kelinci berlatih lari bersama Bo. Tujuannya hanya satu: menjadi juara dalam Lomba Lari Musim Panas! Berhasilkah Vicky mendapat gelar juara itu? Setelah pertandingan, mengapa Bo malah mendorongnya jatuh?

Halaman prancis atau prelim adalah halaman yang berisi cover dalam (half cover), KDT (Katalog dalam terbitan); nama penulis, editor, layouter, desain kaver, penerbit, tahun terbit, alamat, dll; kata pengantar; daftar isi, dll.

Isi tentu memuat isi naskah. Pada buku anak, isi naskah dipecah-pecah menjadi beberapa halaman, misalnya duapuluh delapan atau tigapuluh dua. Jumlah halaman haruslah yang habis dibagi 4.
Masih ingat contoh “Lila Mencari Tetes Air Hujan” di tulisan saya sebelumnya? Cerita itu dibagi menjadi tigapuluh dua halaman termasuk cover.

Punggung buku adalah bagian yang menghubungkan front cover dengan back cover.

Halaman. Pada pembuatan buku, halaman dibedakan dengan ‘halaman kiri’ dan ‘halaman kanan’. Kiri dan kanan ini dari arah pembaca. Selain kiri dan kanan, halaman dibedakan menjadi halaman single dan spread. Halaman single adalah halaman kiri saja atau kanan saja. Halaman spread adalah halaman kiri dan kanan.

MEMBAGI NASKAH
Secara sederhana, naskah bisa dibagi begitu saja secara seimbang sesuai dengan jumlah halaman. Namun, idealnya, naskah dibagi berdasarkan plot-nya. Ini dimaksudkan agar anak-anak pembacanya tertarik untuk terus membaca buku tersebut sampai halaman terakhir.
Naskah bentuk matriks

Secara teknis, pembagian naskah bisa dibuat konsepnya seperti contoh di bawah ini. Format semacam ini sering disebut matriks. Naskah dibagi dari Front Cover sampai Back Cover, halaman single atau spread, termasuk teks yang akan diterakan di halaman tersebut.
Naskah dibagi dari cover sampai blurb


ILUSTRASI DAN USULAN ILUSTRASI
Buku cerita anak membutuhkan ilustrasi. Dalam hal ini, penulis perlu bekerja sama dengan illustrator. Ilustrasi pada buku haruslah berupa kerja sama harmonis antara penulis dan illustrator. Penulis bisa berinisiatif memberikan usulan ilustrasi. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan ilustratorlah yang merancang ilustrasi berdasarkan teks yang dibacanya. Tentu saja, ilustrasi itu –siapapun penggagasnya- tetap dibicarakan bersama.
Contoh Sketsa, diambil dari "Kumpulan Kisah Santo Santa", Agnes Bemoe & Fanny Liem

Di luar negeri cara kedua itulah yang lebih sering diterapkan. Itulah sebabnya, buku anak sering ditulis “Oleh: … & …”, misalnya “Oleh Agnes Bemoe & Lisa Gunawan” karena memang dipikirkan dan diolah oleh dua orang –penulis dan illustrator-.

SELANJUTNYA BAGAIMANA?
Naskah sudah ada, sudah dibagi ke dalam format matriks. Selanjutnya?
Selanjutnya, lengkapi dengan kata pengantar yang baik dan data diri, kirimkan ke penerbit. Ada baiknya kalau naskah itu dikemas dalam bentuk proposal naskah. Proposal naskah berarti pengiriman naskah dilengkapi dengan beberapa detail seperti ukuran buku, pembaca target, sinopsis, keunggulan buku, selling point, dll.
Proposal Naskah

Bila sudah lengkap semuanya, kirim dan… lupakan! Hehehe… send and forget. Jangan terlalu dipikirkan seolah-naskah kita akan dibalas keesokan harinya. Penerbit menerima ratusan (bahkan mungkin ribuan) naskah tiap harinya. Butuh waktu bagi naskah kita hingga sampai di tangan editor. Namun demikian, anda bisa tanyakan nasib naskah anda setelah kurang lebih tiga bulan.

Selamat menulis, membagi, dan mengirimkan naskah!

***
"Hujan! Hujan! Hujaaan!", Agnes Bemoe, Gramedia Pustaka Utama, 2014


Pekanbaru, 6 November 2016

@agnes_bemoe

Saturday, 22 October 2016

MENULIS CERITA PENDEK ANAK A LA SAYA

Seminggu yang lalu saya dimintai oleh mantan guru Bahasa Indonesia SMA saya membuat format cerita anak. Saya yakin sepuluh ribu persen, beliau lebih mampu membuatnya daripada saya. Namun sebagai (mantan) murid yang baik, saya buatkan juga.
Berikut ini bukan teori karena saya tidak punya secuil degree pun dalam bidang penulisan cerita anak. Yang akan saya sampaikan adalah yang sehari-harinya saya lakukan bila menulis cerita anak. Saya lebih sering menulis cerita anak untuk pembaca target berusia 4 sampai 12 tahun. Maka, pada ruang itulah saya berbicara.
 
Buku anak pertama yang saya tulis. Berisi 10 cerita motivasi (bilingual) 

UNSUR INTRINSIK
Sama seperti cerita pada umumnya, cerita anak juga dibangun atas adanya konflik, karakter, alur, setting, tema, sudut pandang, gaya bahasa, serta amanat. Lalu, apa bedanya dengan cerpen bukan anak-anak? Ary Nilandari –seorang pakar cerita anak- punya istilah yang unik tentang ini. Menulis cerita anak berarti penulis (yang biasanya sudah bukan anak-anak lagi) harus bersedia “jongkok dan melihat dunia dari kaca mata anak”.

LILA MENCARI TETES AIR HUJAN
Agnes Bemoe

Hari itu hujan turun deras sekali. Brush! Brush! Brush! Begitu bunyinya. Tetes airnya berkelap-kelip di udara sebelum jatuh menimpa tanah. Indah sekali! Namun, lama kelamaan tetes hujan semakin sedikit. Tes! Tes! Tes! Lebih menyedikit lagi. Tik! Tik! Tik! Akhirnya berhenti!
Lila terperanjat melihat air hujan yang berhenti menetes. Ia berlari keluar dan melihat langit. Langit cerah. Tidak berawan apalagi hujan.
Lila menunggu satu hari. Hujan tidak turun. Dua hari, tiga hari, sampai satu minggu. Huh! Kemana perginya hujan?

Lila lalu memutuskan untuk mencari Tetes Air Hujan.
Ia menempuh perjalanan panjang sampai ke luar kota. Di tepi kota ada persawahan yang luas menghijau. Di sana ia bertemu Orang-Orangan Sawah.
“Bapak Orang-Orangan Sawah, di manakah Tetes Air Hujan?” Lila membungkuk dengan hormat.
“Di Gunung Ratu banyak air hujan,” jawab Orang-Orangan Sawah.

Lila berjalan lagi. Kali ini ia menuju ke Gunung Ratu. Ia bertemu Naga Ungu.
“Paman Naga, di manakah Tetes Air Hujan?”
Naga Ungu menunjuk ke atas. “Di atas awan ada Tetes Air Hujan,” serunya sambil menyemburkan api.
Lila minta tolong pada Datuk Angin untuk membuatkan sebuah tangga menuju ke langit. Lila lalu memanjat tangga angin itu. Di langit Lila bertemu Tuan Awan.
“Tuan Awan, di manakah Tetes Air Hujan?”
Tuan Awan tertawa sambil menempuk-nepuk perutnya yang gendut.
“Anak manis, tunggulah di rumahmu. Tidak berapa lama lagi Tetes Air Hujan akan datang.”
Lila terdiam sejenak.
“Hmm… berapa lama aku harus menunggu?”
“Hitunglah sampai enam kali Ibu Bulan Purnama muncul di langit. Oke?”
Lila mengangguk-angguk senang. Ia mencium pipi Tuan Awan lalu pamit pulang.
***
( “Hujan! Hujan! Hujaaan!” Gramedia Pustaka Utama, 2014)

Ilustrasi "Lila Mencari Tetes Air Hujan" oleh Clay Illustration

Bagi orang dewasa, hujan berhenti tidak menimbulkan rangsangan apapun dalam pikiran mereka. Namun, bagi anak-anak yang sedang penuh dengan rasa ingin tahu, berhentinya hujan menimbulkan pertanyaan besar dalam diri mereka: kemana si hujan. Melihat dunia dengan kaca mata anak ini yang pertama-tama harus ditanamkan dan terus menerus dilatih. Jangan sampai, kita menjejalkan ide orang dewasa dalam format cerita anak. Cerita anak seharusnya menjadi kerajaan bagi dunia anak, dimana anak-anak menjadi raja atau ratunya.
Dalam kaitannya dengan hal itu, penggunaan bahasa menjadi amat penting. Kalimat pendek-pendek dan sederhana (kalimat efektif) akan lebih menarik bagi anak. Bahasa yang efektif menjadi tuntutan standar karena biasanya ruang untuk menulis juga dibatasi jumlah katanya. Saya pribadi membatasi satu cerita hanya 500 kata, mengikuti beberapa lomba yang pernah saya ikuti (termasuk Singtel Asian Picture Book Award). Majalah Bobo dan Kompas Minggu Anak memberi ruang 500 – 700 kata.

Kumpulan Kisah Santo Santa, Penerbit Genta (Imprint Penerbit BIP Gramedia), 2013

Yang paling penting (dan membuat saya tergila-gila menulis cerita anak) adalah ruang imajinasi. Anak-anak yang sehat dan cerdas pasti punya imajinasi yang “liar dan aneh” (pernah perhatikan anak anda bicara sendiri dengan mobil atau bonekanya? Luar biasa sekali melihat pikiran mereka yang melompat ke sana kemari dengan cetusan-cetusan ceritanya). Kalau cerita yang kita tulis berada di bawah standar imajinasi anak, bisa diduga anak (yang cerdas) akan bosan.
Pernah baca buku-buku cerita anak karya Clara Ng? “Padi Merah Jambu”, misalnya? Atau buku-buku Roal Dahl? “Charlie and The Chocolate Factory”? Atau serial “Pippi Langstrump”? Masa kecil anda sangat luar biasa kalau sempat membaca buku-buku itu. Itu buku-buku yang sangat memanjakan imajinasi anak-anak.
 Menulis cerita anak memberi ruang pada penulisnya untuk “berpikir secara liar” (sehingga buat saya sangat menyenangkan). Saya bisa membuat tokoh berbentuk segi empat berwarna kuning (ingat Sponge Bob?) atau saya bisa mengambil kecoa (binatang yang aslinya menjijikkan itu) sebagai tokoh utama (Oggy and the Cockroaches). Ini privilege yang tidak saya dapati ketika menulis cerita dewasa.
Menulis cerita anak juga berarti harus terampil merajut amanat sehingga tidak terkesan menggurui, berkotbah, apalagi indoktrinasi. Anak-anak yang cerdas tidak akan mau membaca cerita-cerita seperti itu.

Buku saya "Nino, Si Petualang Ciik" diresensi oleh Majalah Bobo, 2014


BONEKA RASA JUS JERUK
Noni melap keringatnya. Matahari bertambah panas. Suaranya juga habis karena berteriak-teriak dari tadi. Diliriknya tempat jus jeruknya. Masih terisi penuh. Huh, Noni mengeluh dalam hati. Dari tadi baru dua gelas yang terjual. Ternyata sulit sekali berjualan jus jeruk. Apakah ini berarti boneka beruang impianku tidak bisa kudapatkan ya…
Noni bukan penjual jus jeruk. Ia berjualan jus jeruk karena ia ingin punya uang. Dengan uang itu ia ingin membeli sebuah boneka beruang yang dilihatnya di mall. Bila minta dibelikan, pasti mama tidak akan setuju. Papa dan mama hanya akan membelikan buku atau peralatan sekolah. Ketika itulah muncul ide di kepala Noni untuk berjualan jus jeruk.
Mama dan papa memang tidak melarang tapi mereka sempat mengingatkan bahwa berjualan itu tidak mudah.
“Papa dan mama tidak keberatan, Noni. Tetapi, berjualan itu tidak mudah lho. Kamu harus menyiapkan jus jeruknya. Kamu juga harus memperhitungkan baik-baik harganya berapa, supaya kamu tidak merugi.”
“Harus siap mental juga, karena tidak selalu jualan kita langsung laris…” sambung mama.
Noni teringat perkataan papa dan mamanya itu. Ternyata, perkataan papa dan mama benar. Sudah sesiangan Noni menyiapkan jualannya. Sesiangan pula ia sibuk menjajakan jus jeruknya. Ternyata, hanya laku dua gelas.

Noni terduduk dengan lemas. Huh! Ternyata berjualan itu memang tidak mudah, keluhnya. Terbayang kembali boneka beruang yang besar dan lucu. Boneka itu nampak semakin jauh dari angan-angannya….
“Hai, Noni! Kamu berjualan apa?” tiba-tiba sebuah suara mengejutkan Noni. Ternyata itu adalah suara Tante Ningsih, yang rumahnya tidak jauh dari rumah Noni.
“Jus jeruk, Tante. Enak, segar, dan murah!” Noni jadi bersemangat. “Gulanya gula asli, Tante. Pasti manis dan sehat!”
“Wah, wah, wah, pintar benar kamu berpromosi!” Tante Ningsih tertawa. “Tante coba satu gelas deh….”
Dengan sigap Noni melayani menuangkan satu gelas jus jeruk.
“Hm… segar!” Tante Ningsih meneguk jus jeruknya sampai habis. “Apakah bisa dibungkus? Tante mau membelikan untuk Tommy dan Heidi.”
“Bisa, Tante!” Kembali, dengan sigap Noni membungkuskan jus jeruk pesanan Tante Ningsih.
Tante Ningsih membayar pesananannya kemudian berlalu. Sementara itu, Noni menyimpan baik-baik uang dari Tante Ningsih di sebuah kotak plastik. Sejenak, timbul kembali semangatnya. Ia berteriak-teriak, menjajakan dagangannya.
Sampai sore, jus jeruk Noni ternyata belum habis. Dengan kecewa, Noni mengemasi jualannya. Benar kata papa, berjualan itu tidak mudah, pikir Noni masygul.
“Bagaimana hasilnya, Noni?” Tanya mama.
Noni menghela napas.
“Tidak habis terjual Ma, walaupun ada beberapa pembeli hari ini….”
“Wah, hebat itu! Kamu kan baru pertama berjualan. Orang-orang kan belum banyak yang tahu bahwa ada yang berjualan jus jeruk di sini.” Mama menghibur Noni.
Noni mengangkat bahu.
“Atau, kelihatannya kamu mau berhenti saja, tidak jadi berjualan jus jeruk lagi?” tantang mama.
Noni terperanjat. Ia memang kecewa, tetapi berhenti? Tentu tidak!
“Tidaklah Ma! Aku kan belum mulai, kok mau berhenti!”
Mama tertawa mendengarnya.
Tiba-tiba terdengar suara telepon bordering. Mama bergegas menuju meja telepon untuk menjawabnya.
Noni pun segera beranjak untuk mencuci gelas-gelas yang tadi terpakai. Tiba-tiba terdengar suara mama di belakangnya.
“Kejutan, Noni!”
Noni mengangkat kepalanya.
“Tadi Tante Ningsih ikut membeli jus jerukmu ya?”
“Iya, Ma. Kenapa?”
“Tante Ningsih mau pesan 30 gelas untuk besok sore. Kamu siap mengerjakannya?”
Noni terbelalak senang.
“Siaaa, Bosss!” serunya.

Sampai beberapa hari Noni masih melanjutkan jualannya. Terkadang banyak pesanan, terkadang tidak ada. Tetapi Noni tetap semangat. Lama kelamaan uangnya sudah cukup untuk membeli boneka beruang yang besar dan lucu itu.
“Ayo, papa antarkan membeli boneka,” ajak papa.
Noni menggeleng.
“Tidak, Papa. Terasa sulitnya mencari uang, bahkan untuk lima ratus rupiah sekalipun. Aku tak mau membeli boneka. Uangnya mau kusimpan saja…”
Mendengar ini, papa tertawa. Mama memeluk Noni sambil mengusap kepalanya.
***
(Pernah dimuat di Kompas Minggu, Maret 2013)

Pesan entrepreneurship sangat kuat di sini. Namun, pesan itu dirangkaikan dalam bentuk pengalaman Noni. Pembaca dibiarkan merasakan dan mengambil kesimpuannya sendiri. Akan berbeda sekali keasyikannya kalau diceritakan bahwa ayah dan ibu Noni berkotbah panjang lebar mengenai entrepreneurship.

Ilustrasi "Bo dkk di Peternakan Kakek Ars" oleh InnerChild Std.

BAGAIMANA MEMULAINYA?
Ya mulai tulis saja ide yang sudah ada di kepala. Kalau belum ada ide? Cari ide! Dari mana? Buka mata, lihat sekeliling. Pendeknya, stop whining, start writing.
Salah satu “teknik keledai” yang bisa membantu adalah dengan membaca cerita orang lain dan mengadaptasinya. Perhatikan, adaptasi ya, bukan plagiasi.
Ambil contoh cerita “Lila Mencari Tetes Air Hujan” di atas. Ganti tokohnya (tokoh tidak harus manusia, bisa hewan, bisa sayur mayor, bisa juga tokoh fantasi), ganti settingnya (menjadi musim kemarau, misalnya), ganti konfliknya (menjadi mencari matahari, misalnya). Susun menjadi cerita yang enak dibaca. Tentu saja, ini teknik yang “sangat keledai”. Pada tahap tertentu anda akan sangat tertantang untuk tidak lagi menggunakannya.
Cara lain adalah dengan menuliskan sebanyak mungkin ide-ide yang muncul: tikus yang menjadi detektif, perjalanan ke mars, negeri para peri yang diserbu raksasa, dan lain sebagainya. Perhatikan ide mana yang langsung membuat anda tertarik. Mulailah menentukan tokohnya (karakter), jalan ceritanya bagaimana, konfliknya bagaimana, dan seterusnya. Lalu susun pelan-pelan menjadi cerita.

"Priscilla's Easter Eggs", ilustrasi oleh InnerChild Std.


SELAMAT BERKELANA DI DUNIA CERITA ANAK
Demikianlah serba sedikit yang saya ketahui tentang menulis cerita pendek anak. Tentu jauh dari sempurna karenanya saya akan senang sekali kalau teman-teman mau berbagi ilmu dengan saya.
Last but not least, bila anda tidak pada posisi menulis cerita, saya ajak anda untuk dukung cerita-cerita anak Indonesia dengan membeli buku-buku pengarang Indonesia, memilih buku-buku yang imajinatif dengan pesan universal, serta tidak bosan dan lelah membacakan cerita untuk ananda di rumah.
Cerita Anak saya di Majalah Bobo

*** 
Pekanbaru, 22 Oktober 2016

@agnes_bemoe

Saturday, 15 October 2016

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: TEMAN DALAM DERITA

Judul Buku                  : Why Me, Lord – Bulir-Bulir Derita sebagai Mutiara Hidup
Penulis                         : Dedeh Supantini
Penerbit                       : Penerbit Obor, Jakarta

Why Me, Lord - Dedeh Supantini


Tidak ada satu manusiapun yang tidak pernah mengalami penderitaan. Intensitasnya bisa sangat subyektif dan variatif. Respons manusia terhadap penderitaan pun bisa bermacam ragam. Namun, satu hal yang layak kita sadari adalah tidak satu orang pun dari kita yang kebal terhadap penderitaan.
Buku kecil bertajuk “Why Me, Lord – Bulir-Bulir Derita sebagai Mutiara Hidup” ini memaparkan pengalaman penulisnya, Dedeh Supantini, sebagai seorang dokter di sebuah rumah sakit swasta di Bandung. Dalam kesehariannya, dr. Dedeh bertemu dengan banyak sekali pasien yang bergumul dengan penderitaan mereka. Pertemuan dengan pasien dan penderitaan mereka itulah yang “dikunyah” oleh dr. Dedeh dan kemudian disampaikan kembali kepada para pembaca.
Saya menghindari membaca buku-buku sejenis dengan beberapa alasan yang sangat pribadi. Pertama, buku-buku tersebut terlalu berat buat saya sekarang ini yang sedang “terlalu peka radarnya terhadap cerita/berita penderitaan”. Kedua, beberapa buku (tulisan) yang saya coba baca biasanya berhenti pada kegiatan mendramatisir penderitaan; mengemas penderitaan menjadi semacam hiburan. Karenanya, itu menjadi tulisan yang tidak hanya tidak menarik, tetapi juga kejam dan kering.
Puji Tuhan, saya menemukan hal yang berbeda. Buku ini sangat empatik memandang orang-orang yang sedang menderita. Empati, inilah kelebihan buku ini. Inilah yang dibutuhkan oleh para pembaca. Dan, penulis sangat memahaminya. Terbukti, pemaparan dan penjelasannya sangat empatik dan jauh sekali dari kesan menghakimi.
Buku ini juga tidak meremehkan para penderita. Tidak menggampangkan. Buku ini memandang kita, para pembacanya, dengan pengertian dalam akan apa yang kita alami. Berapa banyak dari kita yang bertemu dengan orang-orang yang mudah saja bilang: “ah, itu karena kurang iman!”, “berdoa sajalah, beres!”, dan kalimat-kalimat sejenis. Biarpun menghiasi tulisannya dengan banyak doa dan kutipan kitab suci, dr. Dedeh tidak sepatah kata pun menggiring pembaca ke pemikiran bahwa “berdoa sajalah, beres!”. Terkadang, seseorang yang sedang menghadapi situasi sulit “hanya” butuh teman. Buku ini hadir sebagai teman tersebut.
Ketiga, buku ini memposisikan dirinya sebagai teman bagi pembacanya. Penulis membagi-bagi “proses penderitaan” (ini istilah saya) ke dalam beberapa tahapan. Setiap tahapan diolah, dibicarakan, dan direnungkan tersendiri. Dalam sudut pandang saya sebagai pembaca, seolah-olah pembaca ditemani dengan sabar dan perlahan-lahan untuk menjalani dan memahami apa yang sedang berlangsung dalam dirinya. Dalam posisi sebagai teman itulah buku ini kemudian memberi kekuatan ekstra (empowering) bagi pembacanya. Saya rasa, elemen inilah yang sering hilang dari buku-buku motivasi (yang best seller sekalipun).
Buku-buku seperti ini bisa jadi sangat bagus isinya tapi membosankan pemaparannya. Syukurlah, hal itu tidak terjadi dalam buku kecil bersampul biru ini. Penulis menyelipkan puisi-puisi, kutipan kitab suci, dan doa yang mencairkan tulisan. Bahasa yang digunakan oleh penulis juga ringan dan lancar. Biarpun topiknya berat, pembaca tidak akan merasa berat membacanya.
Satu-satunya keberatan saya atas buku ini adalah pada bagian pembukaannya. Ada banyak sekali kata pengantar, pendahuluan, serta endorsement yang menurut saya menjadi sedikit terlalu banyak. Ibarat sebuah three courses meal yang kebanyakan appetizer-nya. Biarpun appetizer itu semuanya lezat rasanya, pembaca bisa jadi “kekenyangan” sebelum masuk ke main course.
Namun, selain itu, saya sangat merekomendasikan buku ini untuk siapapun, dalam segala umurnya (remaja atau dewasa). Saya bahkan berharap setiap rumah tangga mau mengkoleksi buku ini seperti mereka mengkoleksi buku pintar atau ensiklopedi. Buku ini bisa jadi panduan dan panutan sepanjang masa. Saya juga berharap sekolah-sekolah (minimal menengah atas) mau mengkoleksi buku ini di perputakaannya dan mengadaptasikan isinya ke dalam bimbingan atau retret di sekolahnya. Setiap kita tidak kebal dari penderitaan, maka, bersyukur sekali kita punya “teman” yang mengerti dan memahami kita menjalaninya. Buku ini adalah salah satunya.

Pekanbaru, 16 Oktober 2016

Agnes Bemoe