Tuesday, 22 August 2017

TANDA-TANDA

Hari ini 30 tahun yang lalu bapak berpulang. Seminggu ini saya teringat mendiang bapak.

Saya teringat saat-saat terakhir beliau. Ada hal-hal, yang kalau saya pikir lagi, seperti jadi pertanda buat kepergiannya.



TAPE RECORDER
Saya beruntung bisa berada dekat dengan beliau secara fisik. Waktu itu saya baru lulus SMA dan sedang tidak ada kegiatan (saya diterima di PT melalui PMDK jadi saya relatif tidak repot mencari PT).

Bapak sedang menjalani masa pemulihan setelah operasi pembersihan kanker di usus besarnya (secara teknis, usus besar bapak dipotong karena sudah digerogoti kanker).

Ada hari-hari dimana bapak merasa cukup kuat dan sehat biarpun lebih banyak hari beliau hanya bisa tertidur dengan lemah.

Nah, suatu saat, ketika merasa cukup sehat, beliau mulai mengutak-atik kabel-kabel loudspeaker berikut tape-nya. P.S. itu adalah tape kesayangan beliau, sebuah JVC yang keren banget saat itu. Buat kami sih, tak ada yang salah dengan tape itu. Suaranya halus dan bersih. Tapi beliau berpendapat lain. Ada yang harus diperbaiki, katanya. Ya sudah. Tak tega juga melarang beliau.


Buat orang sehat, pekerjaan membereskan kabel-kabel loudspeaker mungkin kerja ringan belaka. Tapi buat beliau, ini seperti naik gunung. Keliahatan gerak beliau yang lamban. Tapi, kelihatan juga kerasnya keinginan beliau untuk memperbaiki tape itu. Akhirnya, loudspeaker dan tape pun "beres".

Setelahnya, bapak menghabiskan hari-harinya mendengarkan kaset. Kaset yang beliau dengarkan adalah kaset rekaman kami waktu kecil-kecil. Ya, waktu kami kecil, bapak merekam kami bernyanyi (atau menangis, hahaha!) Nah, kaset-kaset itulah yang diputarnya berulang-ulang.

Entah apa yang ada di pikiran bapak saat itu. Mungkinkah bapak kangen dengan anak-anaknya yang sedang jauh darinya (hanya saya yang di rumah saat itu). Mungkin, bapak ingin mendengar lagi anak-anaknya yang memang semua suka nyanyi.

MAKANAN
Suatu hari, saya makan Chiki di dekat bapak. Bapak berbaring di kursi. Saya merasa, bapak sedang mengamati saya. Dan, betul, ketika mengangkat kepala, bapak sedang memandangi saya makan.
"Bapak mau Chiki?" tanya saya, biarpun tahu bapak tak bisa makan apa-apa saat itu.
Bapak menggeleng. Lalu, beliau bilang: "Bapak pingin sekali makan jagung bakar sama singkong rebus."

Saya cuma terdiam. Seandainya pun bisa dibuatkan jagung bakar dan singkong rebus, bapak jelas tak bisa juga memakannya. Pencernaannya yang dihajar kanker tak memungkinkan beliau mencerna makanan.

Namun, bila saya cerna lagi sekarang, saya baru ngeh. Mungkin bapak rindu kampung halamannya. Singkong rebus dan jagung bakar/rebus adalah makanan masa kecil bapak di kampung. Bertahun-tahun merantau, bapak jarang pulang kampung. Mungkin, sesaat, beliau ingin sekali berada di kampung halamannya itu.

DAN BEBERAPA HAL LAIN
Masih ada hal-hal lain yang kalau saya ingat-ingat, jadi semacam pertanda kepergiannya. Tak saya ceritakan karena terlalu personal.

Beberapa waktu yll saya nonton acara "Medium with Tyler Henry". Ini sebuah tayangan yang menampilkan seorang medium bernama Tyler Henry. TH mampu berkomunikasi dengan yang sudah berpulang.

Saya ingat kata-kata TH, kira-kira begini: kematian itu berat bagi kita yang masih hidup tapi sebenarnya bagi yang menjalaninya, mereka merasakan kedamaian.

Benar juga rasanya kata-kata ini. Saya belum juga bisa move on dari berpulangnya bapak. Selalu saya kais cuilan memori, berharap bisa sesaat saja mengembalikan beliau. Sudah TIGA PULUH TAHUN berlalu, hal ini tak berubah. Kematian beliau, berat buat saya.

Namun demikian, dalam iman pada Tuhan Yesus dan Bunda Maria, saya percaya beliau sudah berada dalam kedamaian. Ini yang terbaik buat bapak. Dan, dalam iman yang sama, saya percaya kami akan dipertemukan. Bapak tak perlu mengutak-atik loudspeaker hanya untuk bisa mendengar suara anak-anaknya. Bapak bisa makan jagung bakar sepuas-puasnya bersama kami, anak dan istrinya. Kita pasti bertemu.

I love you, Bapak.


***

Mengenang 30 tahun meninggalnya Bapak Amathus Bemu, SH (Maumere, 4 April 1934 - 23 Agustus 1987)

Du'a

Monday, 7 August 2017

Ring of Fire di Green Radio 96,7 FM Pekanbaru

Jumat, 4 Agustus 2017 lalu saya tampil di Green Radio 96,7 FM Pekanbaru. Saya membicarakan buku terbaru saya "Ring of Fire" di acara Eco Lifestyle.

Berikut saya sampaikan point-point pembicaraannya, khususnya yang mengenai "Ring of Fire" (ya, saya ditanyai riwayat singkat, karya lain, dan prestasi. Saya eliminir point-point tersebut di tulisan ini ya).


1. Mengenai anak dahulu dan sekarang:
Jelas ada perbedaan antara anak zaman dahulu dan sekarang. Ada perbedaan kecanggihan permainan, perbedaan kompleksitas tantangan dan rangsangan, dll. Namun demikian, adavsatu hal penting yang tidak berubah: anak tetaplah anak. Mau di zaman apapun, anak tetap punya kebutuhan dan harapan yang sama sebagai anak-anak. Anak tetap butuh main, tetap butuh bersikap kekanak-kanakan, tetap butuh bimbingan. Perkembangan zaman tidak berarti anak juga bisa tumbuh dewasa secara instan.

2. Ring of Fire (RoF)
Buku ini berisi 5 buah cerita tentang bencana alam yang disebabkan oleh posisi Indonesia yang berada di jalur cincin api (Ring of Fire). Jalur ini membentang dari Amerika Selatan, menyusuri Pasifik, lalu turun ke Jepang dan AsianTenggara, sampai ke New Zealand. Jalur ini menyebabkan negara-negara di atasnya rawan akan bencana gempa, gunung, meletus, tsunami, dll.


Ada 5 buah bencana yang disinggung oleh RoF. Pertama tentang posisi Indonesia sendiri dalam jalur cincin api diceritakan dalam "Rokatenda Menari". "Ketika Pak Sinabung Batuk" menceritakan tentang gunung meletus. "Monster Air" menceritakan tentang tsunami. "Kapten Oscar" bercerita tentang langkah-langkah penyelamatan diri bila terjadi gempa bumi. Dan "Wedhus Gembel" bercerita tentang awan panas Gunung Merapi".

Semua itu dikemas dalam bentuk cerita yang imut dan ramah anak, diperindah dengan ilustrasi yang menarik.

Selain cerita, RoF dilengkapi dengan lembar pengetahuan di setiap akhir ceritanya. Jadi, dari buku ini anak-anak bisa mengetahui apa itu tsunami, mengapa sering terjadi bencana alam di Indonesia, dll.

3. Latar Belakang Penulisan RoF
Tahun 2013 saya membaca sebuah buku anak-anak tentang tsunami tahun 2006. Buku itu saya beli di Singapura waktu saya ikut SingTel Asian Picture Book Award.

Buku tentang tsunami itu bersetting India dan ditulis oleh seorang penulis Amerika. Menurut saya, ini adalah buku yang indah sekali. Indah bahasanya, indah ilustrasinya.

Lalu saya berpikir, Indonesia juga dihantam tsunami parah. Secara literasi, sepertinya belum ada buku anak yang secara khusus mengangkat masalah ini ke dalam bentuk dokumentasi cerita.

Selain kepentingan dokumentasi literasi, saya rasa anak-anak Indonesia sangat butuh disadarkan tentang kondisi alamnya yang rawan bencana ini. Inilah yang mendorong saya untuk menuliskannya.


4. Mengapa Menuliskan Tentang Bencana
Saya menyadari, tema bencana adalah tema yang gelap, berat, dan muram buat anak-anak. Proses penulisan buku ini juga sempat terhambat karena cerita-cerita yang saya buat cenderung berat dan penuh tekanan emosional.

Namun, saya tetap berkeras ingin menuliskannya karena saya yakin anak-anak butuh tahu tentang ini. Selama ini kita hanya tahu ada bencana, lalu lewat begitu saja, seolah-olah tak ada yang bisa kita lakukan lagi. Padahal, faktanya, anak adalah korban terlemah dalam setiap bencana.

Di luar, sistem perlindungan diri terhadap bencana ditanamkan di sekolah-sekolah. Kita di sini, minim sekali padahal bencana sudah seperti bagian dari kehidupan orang Indonesia.

Dengan menuliskan tentang bencana alam ini saya harap anak-anak punya awareness. Awareness ini mudah-mudahan menuntun mereka pada perilaku bertanggung jawab atas perlindungan diri. Jangka panjangnya, mudah-mudahan mereka tumbuh besar dan mulai memikirkan tentang sistem perlindungan masyarakat, terutama anak, dalam menghadapi bencana.

5. Apakah Buku Ini Ramah Anak?
Biarpun isinya tentang bencana, cerita-ceritanya disampaikan dengan ringan dan cute. Ambil contoh "Rokatenda Menari" yang isinya tentang Gunung Rokatenda, sebuah gunung di Flores, yang menari-nari. Cerita yang sebenarnya menggambarkan gempa ini dibuat dengan unik dan ringan. Ditambah lagi dengan ilutrasi-ilustrasi keren dari teman-teman ilustrator.
Tsunami dalam "Monster Air" dibuat cute sekali dengan kacamata bundarnya.

Saya yakin, buku ini ramah anak.

6. Dapat Diperoleh di Mana?
RoF bisa dibeli di TB Gramedia ataupun di tokomonline Gramedia



7. Rencana ke Depan dan Proyek yang Sedang Dikerjakan
Selanjutnya masih ingin tetap menulis, secara khusus menulis tentang tema budaya dan alam Indonesia. Pendeknya, saya ingin menuliskan hal-hal yang berbeda dari yang sudah banyak dituliskan.
Terkahir menulis tentang tradisi Pacu Jalur Kuantan Singingi bersama Kemendiknas.

Begitulah kira-kira pembicaraan RoF di Green Radio.

Saya berterima kasih sekali, ada radio yang konsern dengan alam seperti Green Radio. Secara khusus, saya bersyukur karena dengan ini akan semakin banyak orang aware dengan bencana.

P.S. Saya pendengar setia Green Radio, jauh sebelum wawancara ini. Frekuensinya jadi frekuensi wajib di mobil saya :)

***

Pebatuan, 8 Agustus 2017
@agnes_bemoe

Friday, 30 June 2017

1 Juli



Sejak tahun 2010, 1 Juli bagi saya bukan lagi hari biasa. Saya melihatnya dengan cara berbeda dan saya selalu suka mengenangnya.

Satu Juli 2010, pagi hari,  saya memutuskan untuk tidak mau duduk berpangku tangan. Saya harus melakukan suatu kegiatan. Nothing changed! The sun was still shining there for me. None of their filthiness would stop me (saya mencabut sangkur pada yang memperlakukan saya dengan buruk).

Tidak ada tumpukan jadwal, pembagian tugas guru, dan bahkan laporan keuangan bulanan seperti tahun-tahun sebelumnya, but, you know what, I am more than piles of duty you've dumped to me.

Saya memutuskan untuk MENULIS. Bukan jadi penulis ya, hanya menulis.

'Cuma' menulis yang saya bisa. Maka, saya mengerjakannya dengan penuh determinasi dan kegembiraan.

Biasanya saya menulis puisi, cerpen, atau tulisan refleksi-motivasi. Saya TIDAK PERNAH menulis cerita anak. Hari itu, tanggal 1 Juli 2010, saya kedatangan ide cerita berbentuk cerita anak. Jujur, saya tidak mengaturnya supaya jadi cerita anak. Konsep itu datang begitu saja.

Kisahnya tentang seekor burung pipit kecil bernama Pita yang menghadapi intrik dan kekejian di Istana Raja Kishin.

Hari itu saya menulis, jadi 1 cerita. Langsung saya posting di facebook. Besoknya, saya tulis lagi 1 cerita lalu posting. Dan seterusnya setiap hari, sampai sekitar 20-an hari lalu saya menyadari bahwa respon yang saya dapatkan ternyata positif. Teman-teman yang baca suka cerita ini.

Saya pun ge-er. Apalagi ketika seorang editor dari sebuah penerbit mayor menyarankan untuk mengirimkan naskah itu ke penerbitnya untuk di-review. Ge-er-meter saya jebol!

Naskah Pita memang tidak berjodoh di penerbit tersebut. Pita terbit secara indie di LeutikaPrio tanggal 1 Desember 2010.

Ketika terbit, salah seorang mantan murid saya mendoakan: semoga ini menjadi awal bagi judul-judul berikutnya. Doa anak manis tersebut terkabul. Beberapa judul menyusul setelah Pita. April lalu barusan terbit "Ring of Fire" di Gramedia Pustaka Utama.


Bila melihat sebuah buku saya terbit, mau tak mau saya teringat Pita. Saya tidak pernah merencanakan jadi penulis buku anak. Pita membantu saya melihat panggilan saya yang satu ini, bahkan ketika saya sedang 'buta'. Dan itu semua bermula di suatu pagi di tanggal 1 Juli.

Sejak tahun 2010, 1 Juli bagi saya jelas dan tidak akan pernah jadi hari yang biasa buat saya.

Puji Syukur dan terima kasih saya sampaikan pada Yesus dan Maria, pada para kudus yang tak hentinya saya mintai jadi perantara: St. Yosef, St. Antonius a Padua, St. Malaikat Gabriel, dan Santa Germaine de Pibrac.

Terima kasih pada para pembaca pertama saya. Di antaranya yang saya ingat karena ketulusan dan supportnya: Fonny Jodikin, Femi Khirana,  Bhudi Tjahja, Fidelis R. Situmorang, Christine Thilio Arwan, Mulyani Kurniaty, dkk.



***

Pembatuan, 1 Juli 2017
@agnes_bemoe

Tuesday, 27 June 2017

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: PERNIK ASYIK MARIA SYAUTA

Judul Buku                  : Pernik Indah di Kain Hidupku
Penulis                         : Maria Syauta
Jenis                            : Motivasi

Pernik Indah di Kain Hidupku - Maria Syauta

Dalam kehidupan yang serba sibuk dan bising, banyak hal kecil dilewati, dianggap remeh, lalu dilupakan begitu saja. Maria Syauta memilih jalan berbeda. Ia memilih berhenti sejenak, menajamkan telinga, melihat lebih dalam, lalu ‘mengunyahnya’. Kunyahannya itulah yang dikumpulkan menjadi duapuluh sembilan tulisan di buku ini.
Sebuah lorong ICU yang bersebelahan dengan ruang bersalin di sebuah rumah sakit, misalnya, yang sehari-harinya adalah hal yang amat sangat lumrah mengantar Maria Syauta pada permenungan tentang siklus hidup manusia. Lahir dan mati. Suka dan duka. Datang dan pergi. Semuanya itu adalah satu paket keniscayaan yang tidak bisa dielakkan oleh manusia. Kalimat seperti ini mungkin sering terbaca di berbagai tulisan. Namun, pernahkan kita hening sejenak merasakan maknanya?  
Buku ini asyik dibaca terutama karena mengangkat hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Diawali dengan kutipan lagu atau puisi, setiap tulisannya memaparkan perjalanan refleksi penulisnya dengan ringan. Penulisannya ringkas dan tidak bertele-tele. Tulisannya pendek dengan bahasa yang efektif. Karenanya, beberapa tulisan di dalamnya langsung menjadi favorit saya. Sebut saja “Don’t Give Up” di halaman 35 atau “Komitmen Cinta 40 Hari” di halaman 89.
Selain isinya yang menyenangkan, saya ingin secara khusus mengangkat topi pada kualitas bahasa yang digunakan Maria Syauta. Bila pengamatan saya tidak keliru, buku ini tidak menggunakan editor profesional. Namun demikian, saya nyaris tidak menemukan kesalahan berbahasa yang memalukan. Menurut saya, sudah saatnya yang mengaku penulis konsekuen dengan kualitas pembahasaannya. Dan, saya sangat menghargai Maria Syauta dalam hal ini. Ini menjadi standar baru yang akan mengangkat martabat buku-buku indie.
Bila saya boleh menyampaikan kritik, yang mengganggu buat saya adalah jumlah endorsement di bagian awal. Saya pernah menemukan buku-buku serupa dan saya menamainya buku dengan “entrĂ©e yang terlalu berat pada jamuan three-courses meal”. Karena isinya cenderung sama, pembaca ‘kekenyangan’ sebelum menikmati isi buku sebenarnya. Saya memilih memanfaatkan endorsement sebagai pemancing terhadap isi. Karenanya, satu, dua, atau tiga buah yang benar-benar ‘nonjok’ akan lebih menyegarkan dan bermanfaat.
Namun demikian, terlepas dari kekurangannya (yang mungkin juga selera pribadi saya), saya menikmati buku ini. Mengutip yang dikatakan Fidelis R. Situmorang –salah seorang endorser-: buku ini sangat saya rekomendasikan kepada para pembaca karena sebenarnya semua orang mengalaminya dan pemaknaannya tergantung pada semua pengalaman dan input yang masuk entah tersaring secara spiritual atau tidak. Buku ini menjadi cerminan dan tuntunan yang sangat apik bagi kita untuk memaknai kehidupan kita sehari-hari. Highly recommended! (db)

***

Pembatuan, 28 Juni 2017

@agnes_bemoe

Sunday, 25 June 2017

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: INFORMASI VERSUS IMAJINASI

Judul Buku                  : Empat Pintu
Penulis                         : Afifah Rosyad, Intan Raksaprawira, Va Madina, Udo Indra
Penerbit                       : The AR Publishing, 2017
Jenis                            : Kumpulan Puisi (Antologi)



“Ada daun jatuh, tulis!” Begitu kata Saut Sitompul dalam puisinya “Puisi”.
Puisi sejatinya ungkapan rekaman penulisnya tentang dirinya dan atau hal-hal yang terjadi di sekelilingnya. Rekaman itu bisa sesederhana sehelai daun yang jatuh atau sekompleks sebuah perang dan pertikaian. Antologi puisi “Empat Pintu” merekam dengan jeli segala peristiwa yang dialami atau terjadi di sekeliling para penulisnya.
Rentang ragam ini dicerminkan dalam judulnya, Empat Pintu, yang menunjukkan bahwa buku ini memberi panggung tersendiri bagi kekhasan setiap penulisnya yang berjumlah empat orang itu. Hal itu menjadikan buku ini seolah kumpulan empat buah buku kecil yang dijadikan satu.
Dari keempatnya, most favorite saya adalah puisi-puisi Intan Raksaprawira di pintu kedua. Membaca puisi-puisi Intan, saya merasa bertemu dengan harmoni yang sama. Harmoni itu anehnya diciptakan oleh kata-kata yang ‘tidak sepenuhnya saya mengerti’ bila harus menggunakan akal namun saya merasakannya.
Saya suka pada kenyataan bahwa kata-kata yang dirangkaikan Intan seolah mempunyai sayap yang membawa saya terbang bebas pada penafsiran dan atau indentifikasi. Intan, bagi saya, merekam dengan jeli apa yang sedang dia alami atau terjadi di sekelilingnya lalu meramunya menjadi sesuatu yang bisa dirasakan oleh orang lain (saya). Saya menghargai bahwa Intan tidak menjejali pembacanya dengan informasi atau pengajaran seperti yang ia inginkan. Intan menuliskannya dan membiarkan pembaca mengunyah dengan kenikmatan masing-masing. Saya menikmati kematangan Intan dalam mengolah kata-kata. Kelihatan sekali Intan meluangkan waktu untuk mengendapkan semua informasi yang dimiliki sebelum akhirnya menuangkannya dalam sebentuk puisi.
Seperti Natal dan Sabatmu, aku termangu
Aku enggan pulang
Sejak dulu aku benci mengalah
Benci satu kata pecundang yang sering kali diputar di kepala,
kekalahan
(Rahim, Hal. 36)
Apa kemungkinan makna yang muncul dari kata ‘rahim’, ‘natal’, ‘sabat’? Bisa berjuta makna. Intan pasti punya makna spesifiknya buat dia sendiri. Bagi saya, percikan ironi yang tersirat dalam puisi ini sungguh melontarkan saya pada imajinasi yang bermacam-macam. Dan bagi saya yang hanya seorang penikmat puisi, itulah keasyikan membaca puisi: pembaca diberi langit maha luas untuk dijelajahi. Ini adalah satu contoh kecil mengapa saya sangat menikmati puisi-puisi Intan Raksaprawira.
Bila ada yang paling saya suka, ada juga my least favorite poems. Dan itu adalah puisi-puisi Afifah Rosyad di pintu pertama. Afifah terampil merekam hal-hal yang dialaminya atau terjadi di sekelilingnya. Namun demikian, menurut saya, puisi-puisi Afifah akan jauh lebih baik bila dituliskan melalui proses pengendapan dan pematangan. Membaca puisi-puisinya, pembaca langsung tahu apa yang sedang dibicarakannya. Ini, buat saya, mempersempit ruang interpretasi, apalagi kalau kebetulan interpretasi akan suatu peristiwa tidak sama dengan yang dipaparkan oleh puisi. Pembaca jadi penadah informasi, tanpa ruang imajinasi. Tanpa imajinasi, di mana puisi berdiri?
Di antara keduanya ada puisi-puisi Va Madina dan Udo Indra. Tidak semua puisi-puisi yang mereka tuliskan bisa saya nikmati walaupun terus terang saya menyukai permainan kata dan bentuk puisi yang mereka tawarkan, terutama pada puisi-puisi Udo Indra. Coba simak contoh yang satu ini:
TAFSIR
Tanda Tanya menghadapi Titik.
(Udo Indra)
Ini sebentuk puisi yang sangat pendek, hanya satu baris. Memang bukan sesuatu yang otentik dalam bentuk. Namun demikian, permainan bentuk seperti ini membuat pembaca lebih lama tercenung untuk menelusuri relung kata-katanya. Dan itu mengasyikkan.
Demikianlah “Empat Pintu” bagi saya. Bila anda juga seorang penikmat puisi seperti saya, tidak ada salahnya anda mengkoleksi buku ini. Bila anda pecinta imajinasi lewat kata-kata, buku ini adalah teman yang tepat! (db)

***

Pembatuan, 25 Juni 2017

@agnes_bemoe

Sunday, 28 May 2017

BEHIND THE SCENE [BTS]: Ring of Fire - Dari India ke Sinabung



Tahun 2013 saya baca sebuah buku berjudul "Selvakumar Knew Better". Buku yang saya beli di AFCC 2013 ini bercerita tentang tragedi tsunami di India. Penulisnya bukan orang India melainkan seorang Amerika, bernama Virginia Kroll. Baca resensi saya di sini.



Setelah menikmati ceritanya yang menawan dilengkapi dengan ilustrasi yang menakjubkan, saya tercenung sendiri. Tsunami yang sama juga menghantam Indonesia. Namun, belum ada satu ceritapun mengangkatnya.

Tidak hanya sebagai dokumentasi, cerita-cerita semacam ini bisa menjadi pegenalan untuk anak-anak tentang alam tempatnya tinggal, termasuk mengenali potensi bencananya.

Inilah yang menuntun saya pada ide penulisan bencana-bencana alam yang potensial menerpa Indonesia, yang secara geografis memang terletak di jalur Ring of Fire.



EKSEKUSI MACET
Biarpun mendapatkan idenya mudah, saya mengalami kendala di eksekusinya. Kendalanya adalah saya terseret untuk menulis cerita-cerita yang terlalu gelap. Saya membacanya pun tidak nyaman, apalagi anak-anak. Saya ingin ceritanya tetap manis dan informatif, mirip seperti "Selvakumar Knew Better". Berkali-kali saya coba, ceritanya selalu beratmosfer gelap.

Akhirnya, saya berhentikan penulisannya. Apalagi saat itu (2013 - 2015) saya juga kurang sehat.

DIPAKSA SINABUNG
Tahun 2015, Sinabung meletus. Saya teringat akan naskah yang saya tinggalkan. Saya merasakan ada urgensi untuk menyelesaikan naskah ini. Bencana alam bertubi-tubi tapi minim sekali informasi standar untuk keselamatan, terutama untuk anak-anak.


Meletusnya Sinabung didukung dengan kesehatan yang membaik membuat saya kembali mengotak-atik naskah ini.
Untuk menjauhkan dari "potensi kegelapan", saya ubah cerita-ceritanya dari realis menjadi lebih imajinatif. Contohnya, cerita "Wedhus Gembel" awalnya berisi cerita seorang anak yang selamat dari kejaran awan panas (sudut pandang dari si anak). Cerita itu saya ubah menjadi seekor "wedhus gembel" yang berusaha menyelamatkan seorang anak (sudut pandangnya adalah si wedhus gembel).


Mengubahnya menjadi lebih imajinatif ternyata membantu saya menuliskannya dengan lebih ringan. Saya menuliskannya dengan enak. Dan saya harap, yang membacanya juga merasakan hal yang sama.

ILUSTRASI YANG MEMABUKKAN
Ide buku ini saya sukai. Menuliskannya (akhirnya) saya nikmati. Nah, seperti cherry on my ice-cream, ilustrasi buku ini ternyata mengasyikkan buat saya. Saya tak menyangka kalau akan tenggelam dalam keseruan menikmati ilustrasinya!

Saya dibantu oleh Audelia Agustin (Rokatenda Menari), Gery Adams (Ketika Sinabung Batuk), Dian Ovieta (Monster Air), InnerChild Std. (Kapten Oscar), dan Maman Sulaiman (Wedhus Gembel). Semuanya menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang imut namun hidup.

Ambil "Rokatenda Menari", misalnya. Karakter "Rupak"nya unik sekali, khas menggambarkan Indonesia, bahkan Flores. "Indonesia banget" ini memang tujuan saya karena saya ingin menonjolkan keindonesiaannya.


Lalu, tsunami di "Mosnter Air". Ini adalah tsunami paling imut yang pernah saya lihat! Cocok bagi anak, tanpa mengurangi pesan untuk waspada.


TERBIT
Biarpun proses penulisannya lama (2013 - 2016), proses terbitnya cukup cepat. Syukurlah!

Maret 2017 "Ring of Fire" diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Mudah-mudahan buku ini diterima oleh anak-anak Indonesia. Tidak untuk kepentingan komersil saja tapi juga untuk tujuan awal: anak-anak perlu kenal dengan kondisi alam Indonesia dan potensi bencananya, sebab inilah yang akan mereka hadapi.

Mudah-mudahan para orang tua dan guru membantu saya menyampaikan ini pada anak-anak :)


***

Pembatuan, 29 Mei 2017
@agnes_bemoe

Thursday, 20 April 2017

OLEH-OLEH APA DARI KUANSING?

Jujur, saya tidak sempat secara khusus mencari oleh-oleh khas Kuansing. Namun, pengalaman seuprit ini mungkin bisa jadi gambaran bila ingin mencari oleh-oleh.
Krupuk Sagu, Seberang Taluk, Taluk Kuantan

KRUPUK SAGU
Umumnya, makanan kecil yang bisa jadi oleh-oleh yang menarik adalah penganan berbahan dasar ketan, seperti lomang (lemang) atau lopek (lepat). Sayang sekali, saya tidak sempat membawa pulang penganan-penganan itu.
Namun, saya berjodoh dengan yang satu ini: Krupuk Sagu. Ini makanan ringan, gurih, dan comforting. Buat saya, makanan ini mengingatkan akan masa kecil saya (ini makanan masa kecil :D).

Saya kurang tahu, apakah di pertokoan ada, tapi saya mendapatkannya dari seorang ibu pengusaha Krupuk Sagu yang tinggalnya di Seberang Taluk. Dengan hanya Rp. 10.000,- kita sudah mendapat satu bungkus besar Krupuk Sagu.

MAS TALUK
Sepanjang yang saya tahu, mas Bagansiapiapi (Rokan Hilir) adalah mas yang bagus. Ternyata kota Taluk Kuantan juga menghasilkan mas yang tinggi mutunya.
Bila anda suka berinvestasi di logam mulia, mungkin bisa dipertimbangkan membawa pulang mas Taluk. Catatan, berbeda dengan di Jawa, di Sumatera mas diukur dengan satuan mas, bukan gram. Satu mas sekitar 2 - 3 gram.

OLAHAN DURIAN
Durian memang jadi buah khas Riau. Tidak heran kalau Taluk Kuantan menyediakan berbagai penganan berbahan dasar durian. Untuk olahan durian, anda bisa membawa pulang pancake durian. Tapi, tanyakan dulu bisa tahan berapa jam di luar freezer.
Pancake durian ini adalah daging durian yang dibungkus crepe basah. Rasanya manis dan gurih durian. Enak!

KERAJINAN TANGAN MOTIF TAKULUAK BAREMBAI
Nah, yang ini saya tertarik banget, sayangnya belum ada (belum banyak).


Btw, "Takuluak Barembai" adalah motif hiasan pada baju khas perempuan Kuantan. Motif itu disusun dari renda biku (renda yang bentuknya berkelok-kelok), dengan warna pakem hitam, emas/kuning, merah, dan putih, di atas dasar hitam.

Motif ini diterakan pada busana perempuan. Namun demikian, sekarang motif ini dipakai untuk yang lain, misalnya tas tangan. Sayangnya, belum ada produksi partai besar untuk ini. Saya yakin sekali, penggila motif etnik akan ngiler berat melihat tote bag, atau tas tangan, atau clutch motif Takuluak Barembai ini.

Begitulah kira-kira oleh-oleh yang bisa kita bawa dari Taluk Kuantan. Seru, 'kan?

***

Rantau Kuantan, 18 April 2017
@agnes_bemoe

Catatan: Foto Takuluak Barembai milik Wigati Isye