Monday, 20 June 2016

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: ANOTHER FACE OF CHRISTMAS STORY

Title                             : BABUSHKA
Retold by                    : Sandra Ann Horn
Illustrator                    : Sophie Fatus
Publishers                    : Barefoot, Ltd (Great Britain), Barefoot Inc. (United States of
                                      America


An old lady who spent her days sweeping, dusting, and polishing her house once got shocked as she found a mark on her windowpane. What she didn’t know was that the mark led her to an awesome journey, started with her greeting the angels who appeared at the front door as she rubbed the windowpane. The journey didn’t stop until Babushka found the one who finally filled her empty heart.
“Babushka” is a story which puts an old conventional Christmas story to another level in such a sweet way. The way Sandra Ann Horn conveys the story is heartwarming. While keeping the Christmas’ spirit alive, Ms. Horn spices the story up with sweet yet brilliant twists. Those twists make this book suitable for all seasons of the year, not just in the holiday season as it used to be.
Not only the story, the illustrations are also fascinating. This is the kind of book that will entertain children’s eyes and mind. No wonder that BBC Parenting said: “This is a lovely update of an old story, with great illustrations, that contains a valuable message about love”.
If you think some Christmas’ stories are boring and predictable, you should try reading this. I wish you would have the same (Christmas) excitement as I had.



Pekanbaru, 21 June 2016

Agnes Bemoe

Friday, 10 June 2016

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: NGOS-NGOSAN DENGAN DANANG


Judul Buku                  : Misteri Gurindam Makam Kuno
Serial                           : Serial Misteri Favorit
Penulis                         : Yovita Siswati
Ilustrator                     : Indra Bayu
Penerbit                       : Penerbit Kiddo
Genre                          : Fiksi Anak
Jumlah Halaman          : 192 halaman





Benar belaka komentar seorang teman di laman facebook tentang buku ini: siap-siap ngos-ngosan karena kejar-kejaran.
Yovita tidak banyak berbasa-basi di bukunya ini. Dari halaman pertama pembaca sudah diajak untuk “ngos-ngosan” (tentu saja dalam arti yang baik, yakni ketegangan sudah terasa sejak halaman pertama). Danang tiba-tiba mendapati dirinya di daerah Bagan Deli yang tidak dikenalnya setelah ia diserang oleh orang tak dikenal. Pertemanannya dengan Seruni dan Bang Gopal –orang-orang yang menyelamatkan dirinya- membawanya pada petualangan seru mencari harta karun.
Selanjutnya, pembaca diajak mengikuti plot-plot cerita dengan twist yang mengagetkan. Saya pribadi sudah kapok menebak-nebak dan menduga-duga. Lima buku misteri favorit tulisan Yovita sebelumnya tidak juga membuat saya bisa menduga polanya. Selalu baru dan banyak hal mengejutkan, termasuk di judul yang satu ini.
Membaca buku Yovita ini, kita memang harus habis-habisan. Yovita tidak memberi ruang bagi pembaca alay yang hanya mau konflik-konflik cemen dengan penyelesaian yang mudah. Sebaliknya, Yovita menggempur pikiran pembaca dengan lemparan-lemparan konflik yang sepertinya tak mungkin terpecahkan (yang membuat kita geregetan ingin segera menuntaskan buku ini).
Kekuatan Yovita yang lain adalah kemampuannya menciptakan karakter yang unik dan kuat. Ambil contoh Seruni. Seruni seorang anak perempuan. Namun, di tangan Yovita, ia jadi “bukan anak perempuan biasa”. Saya yakin, setiap pembaca pasti akan langsung teringat pada Seruni, bila disebutkan tentang seorang anak perempuan yang tomboy, kasar, dan bergaya bicara seenaknya.
Seperti buku-buku sebelumnya, judul yang satu ini juga kaya akan asupan sejarah dan budaya, dalam hal ini sejarah Kota Deli, Kota Medan, budaya masyarakat Tionghoa di sana, serta sedikit tentang budaya Melayu Deli. Pengetahuan tentang sejarah dan budaya ini disisipkan dengan apik sekali dalam rangkaian cerita sehingga pembaca tidak merasa sedang berhadapan dengan diktat sejarah. Saya pribadi sangat menyambut baik buku-buku cerita yang menampilkan budaya Nusantara. Buku-buku cerita seperti ini akan mengisi alam pikir pembacanya dengan kenyataan tentang indah dan kayanya Nusantara. Buku-buku semacam ini membantu pembaca untuk lebih cinta pada Indonesia.
Tentu saja, buku ini jadi semakin mengasyikkan karena ilustrasi-ilustrasi yang dibuat oleh Indra Bayu. Sayang sekali, sepertinya ilustrasi dalam buku ini tidak sebanyak di buku-buku sebelumnya.
Bila ada yang ingin saya diskusikan dari buku ini adalah informasi bahwa orang-orang Tiongkok yang datang ke Tanah Deli beragama Budha. Setahu saya, orang-orang Tiongkok pertama yang datang ke Nusantara beragama Kong Hu Cu. Ini bisa ditemukan pada komunitas orang-orang Cina di kepulauan, seperti di Bagansiapiapi, Bengkalis, dll., yang saya duga tidak jauh berbeda dengan komunitas orang Cina yang ada di kota Deli. Agama Budha dianut kemudian karena dulunya pemerintah tidak mengakui agama Kong Hu Cu.
Namun demikian, selain keraguan saya yang masih harus didiskusikan itu, buku ini jelas sangat layak koleksi dan terutama layak baca. Saya belum menemukan serial lain yang seasyik ini, setelah berpisah cukup lama dengan serial Lima Sekawan, Trio Detektif, Sapta Siaga, atau STOP. Ngomong-ngomong, ini musim liburan. Daripada tenggelam dalam gadget, lebih baik membaca. Dan judul dan serial ini adalah yang saya rekomendasikan untuk jadi bahan bacaan.

***

Pekanbaru, 11 Juni 2016
@agnes_bemoe

Saturday, 4 June 2016

Guru, Sanksi, dan Lebay

Berabad-abad-abad-abad yang lalu saya jadi guru. Nyubit? Njewer? Pernah dong. Banyak saksi hidup di jagad fb ini yang bisa membuktikan bahwa saya suka nyubit dan suka ngejewer. Bikin petal rambut anak? Sama. Saya punya banyak saksi memberatkan. Did that make me bad? Do I have to feel sorry?



Saya tidak mendukung tindak kekerasan membabi buta pada siswa. Namun, dalam porsi yang tepat dengan konteks yang tepat, koreksi pada anak adalah tindakan membantu anak menyadari kekeliruannya.


Syukurlah, pada zaman saya jadi guru, tidak ada orang tua alay bombay dan super songong seperti sekarang, yang bahkan sampai memperkarakan dan "membalas" tindakan guru. Tapi, serius, kalau beneran ada yang seperti itu, hari itu juga saya antar anaknya pulang, dengan pesan besok ga usah kembali ke sekolah. Kalau orang tua murid sudah tidak percaya pada institusi sekolah/guru, carilah alternatif lain, homeshooling, misalnya. Jangan mengambil sikap songong terhadap sekolah.


Yang bisa saya pastikan, kemanapun anaknya disekolahkan, sampai kapanpun, dan dengan biaya berapapun, anaknya tidak pernah bisa lolos dari the rules of school of life: konsekuensi adalah bagian dari pilihan. Kalau karena sikap alay orang tuanya, anaknya tidak pernah belajar bertanggung jawab dan menerima konsekuensi, jangan salahkan siapa-siapa kalau hidup akan terus-terusan mengejarnya dengan serangkaian konsekuensi yang tidak bisa ditanggungnya.

***

Tulisan ini saya copy-paste dari status fb saya

Pekanbaru, 5 Juni 2016
@agnes_bemoe

Friday, 15 April 2016

BEHIND THE SCENE [BTS]: PRISCILLA'S EASTER EGGS AND THE OTHER EASTER STORIES



Beberapa tahun yang lalu, ketika mengajar Sekolah Minggu, saya kesulitan mencari buku-buku cerita tentang Paskah. Sampai ketika saya menjadi penulis sekarang ini, jarang sekali saya menemukan cerita bertema Paskah di toko buku. 
Saya pun terpikir, kenapa tidak membuatnya?

Dengan itu, saya lalu mulai mengerjakan naskah ini.
Sejak awal saya memang menginginkan naskah ini dalam bentuk picture story book, untuk anak usia 3 – 6 tahun. Dalam bayangan saya, cute sekali Paskah itu untuk anak usia dini. Namun, karena untuk anak usia dini, kesulitannya adalah menerjemahkan katekese Paskah menjadi lebih sederhana.
Prapaskah dan Paskah itu berat dan dalam. Saya ingin anak-anak menangkap intinya, yakni kasih sayang Allah melalui Yesus tapi saya tidak ingin ceritanya menjadi terlalu biblis-teologis (yang mana saya juga nggak bisa). Di lain pihak, saya agak keberatan kalau ceritanya hanya festive saja lalu mengaburkan inti perayaannya.

Dengan berusaha tarik ulur antara dua titik itu, saya menyusun ceritanya.
Kurang tahu deh, apakah saya berhasil berdiri di posisi tengah antara sisi bliblis-teologis dengan sisi festive. Yang jelas, kemudian jadilah lima buah cerita yang saya anggap cukup unyu.
Saya minta tolong InnerChild Std. untuk membuatkan ilustrasinya. Hasilnya, luar biasa! Serangkaian ilustrasi super cute dibuatkan oleh InnerChild Std.! Saya menggunakan kata “dibuatkan” di sini karena saya sama sekali tidak membuat usulan ilustrasi. Jadi, ilustrasi murni interpretasi InnerChild Std. atas naskah saya. Hasilnya, seperti saya katakana tadi: rruarrr biasa! Mungkin agak aneh, hehehe… tapi saya jatuh cinta pada ilustrasi naskah ini.

Ilustrasi oleh InnerChild Std.

Maka, selanjutnya, naskah berikut ilustrasinya ini saya usulkan ke Penerbit Andi. Puji Tuhan, Penerbit Andi menerimanya. Proses di Penerbit Andi cukup lama, apalagi kemudian saya sakit. Naskah ini sebenarnya sudah selesai setahun lalu namun karena jatuhnya setelah masa Paskah maka ditunda ke tahun berikutnya yaitu tahun 2016.

Maret 2016 saya menerima email dari Penerbit Andi, mengabarkan bahwa naskah ini  sudah terbit per 1 Maret 2016. Betapa lega rasanya, mendengar berita itu. Naskah ini melewati perjalanan waktu yang cukup panjang sampai terbitnya. Lebih bersemangat lagi waktu saya menerima bukti terbit dan melihat isinya. Woah! Super duper cute! Apa yang saya bayangkan tentang isi buku yang kristiani dan cute tertuang di situ. Puji Tuhan!

Terima kasih pada Penerbit Andi. Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk InnerChild Std. Mudah-mudahan buku ini bermanfaat (untuk anak-anak Sekolah Minggu, khususnya) dan diterima oleh anak-anak di seluruh Indonesia ya.


Pembatuan, 16 April 2016

@agnes_bemoe

Info detil tentang buku ini bisa dibaca di sini.

Sunday, 20 March 2016

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: KETIKA ANAK 8 TAHUN MENULIS

Judul Buku                  : Ugly Hammerhead Shark
Penulis                         : Kiera E. Kusuma, Jaythaneal S. Sutrisno, P. Nina Hamdani
Bahasa                         : Bahasa Inggris
Ilustrator                     : Hans Christian
Penerbit                       : CV Jade Edukasi
Genre                          : Fiksi Anak
Jumlah Halaman          : 56 halaman



Kata orang, kualitas lebih berarti daripada kuantitas. Buku ini salah satu buktinya. Isinya hanya tiga buah cerita tapi cerita-cerita di dalamnya sangat menarik dari segala aspeknya.
Ambil contoh cerita yang ditulis oleh P. Nina Hamdani (8 tahun). Nina menulis tentang Ade, orang utan yang super manja. Karena kemanjaannya itu orang tua angkatnya memutuskan untuk mengembalikannya ke kebun binatang. Dari situlah permasalahan Ade dimulai: ia yang terbiasa manja tidak tahan dengan kehidupan mandiri dan bebas di luar rumahnya.
Kedengarannya sederhana ya? Tapi justru kesederhanaan ide itulah yang membuat cerita ini menarik. Apalagi, Nina piawai mengeksekusi ide dan menuangkannya ke dalam cerita. Cerita mengalir lancar dalam bahasa Inggris yang berterima. Cerita juga terasa cute, khas cerita anak.  Melihat betapa sempurnanya tata bahasa dan kosa kata, disertai dengan gaya bercerita yang luwes, sulit untuk percaya bahwa cerita itu ditulis oleh anak yang baru duduk di kelas 3 SD. Dua cerita lainnya, yang ditulis oleh anak berusia 8 dan 9 tahun, juga memiliki kualitas yang sama. 
Cerita-cerita di buku ini menawarkan ruang yang luas pada pembacanya untuk berimajinasi. Lembar demi lembar menuntun pembacanya untuk sejenak pindah ke kehidupan Bella, Hammerhead Shark, dan Ade. Masing-masing adalah ketiga tokoh dalam cerita-cerita tersebut. Apa lagi yang bisa diharapkan pembaca selain dipuaskan kehausannya untuk berimajinasi?
Ketiga cerita itu juga menunjukkan bahwa penulisnya punya pengetahuan yang dalam tentang apa yang ditulisnya. Bacalah cerita “Ugly Hammerhead Shark”, cerita kedua yang menjadi judul buku ini, anda akan dibawa pada keindahan beraneka ikan, khususnya hiu.
Buku ini, menurut saya, sebentuk angin segar dalam dunia perbukuan anak Indonesia. Tidak hanya karena isinya yang bagus dan menarik tapi juga karena ditulis oleh anak-anak Indonesia, dalam usia mereka yang masih sangat muda.
Beberapa kali dalam beberapa tulisan saya mengungkapkan keprihatinan saya tentang buku anak Indonesia yang semakin denotatif, penuh ajaran/informasi (beberapa di antaranya malah ajaran untuk membenci kelompok/makhluk lain), miskin imajinasi, dan ditulis dengan bahasa yang amburadul. Buku ini saya rasa menjadi alternatif bagi orang tua yang membutuhkan bacaan bermutu untuk anak-anaknya.


Pekanbaru, 21 Maret 2016

Agnes Bemoe

Sunday, 6 March 2016

SERU SETIAP SAAT

SERU SETIAP SAAT
Saya langsung jatuh cinta pada Seru Setiap Saat sejak pertama kali membaca cerita-ceritanya. Ceritanya (yang berupa picture story book) dibuat dengan sederhana.  Bahasanya indah, isinya  menarik, serta memanjakan daya imajinasi anak.
Akhir-akhir ini saya melihat buku anak (bahkan yang picture story book) bergerak dari imajinatif menjadi informatif. Pembahasaan konotatif menjadi denotatif. Implisit menjadi eksplisit. Buku anak dipenuhi dengan pesan-pesan moral atau ilmu pengetahuan yang eksplisit. Ruang untuk berimajinasi menyempit, kalau tidak mau dikatakan tidak ada.
Masa kanak-kanak adalah masa dimana imajinasi anak sedang berkembang dengan “liar”. Perhatikan bahwa anak bisa mengarang sendiri cerita sambil bermain. Tunas imajinasi itu hendaknya dipupuk dan dibina. Salah satunya dengan bahan bacaan yang baik, yang memberi ruang bagi imajinasi anak.
Sebaliknya, bila pada masa bermain dengan imjinasi itu anak-anak disesakkan dengan informasi dan pengajaran lain, daya imajinasinya tidak sempat berkembang, sudah langsung terkotakkan dengan pengajaran dan informasi yang didapatnya. Anak-anak dengan kapasitas berpikir yang terkotakkan adalah kerugian besar, buat anak, buat keluarga, buat masyarakat, buat bangsa.

MENULIS UNTUK SERU SETIAP SAAT
Karenanya, saya senang sekali diajak ikut menulis di “Seru Setiap Saat” oleh Gita Lovusa, kreator “Seru Setiap Saat”.
Saya mengirimkan cerita yang berjudul "Harta Karun Kakek". Isinya tentang salah satu kekayaan alam Indonesia yang belum semua orang tahu, yakni ikan terubuk. Apa uniknya ikan ini? Baca saja ceritanya ya.


Selanjutnya, saya menyarankan teman-teman saya yang punya anak balita, silakan berkunjung ke “Seru Setiap Saat”. Kunjungi fanpage di sini dan IG-nya di serusetiapsaat. Saya merekomendasikan cerita-ceritanya untuk dibaca bersama putra-putri di rumah. 
Buat Mbak Gita Lovusa, salut berat! Angkat topi! Mudah-mudahan semakin berkembang!

***



Pembatuan, 6 Maret 2016
@agnes_bemoe

Thursday, 18 February 2016

Apakah Kau Merasakan Rindu yang Sama

Apakah kau merasakan rindu yang sama
Yang mengetuk-ngetuk seperti gemericik air di kali kecil
Mendesau seperti daun-daun dihela angin musim gugur

Rindu yang mengganggu
Setiap kali kulihat hanya bayangmu

Rindu yang kucoba titipkan pada siul burung pagi
Atau percik sinar matahari

Rindu yang membuncah waktu bintang-bintang asyik berkelip
Berlomba-lomba menarik malam dalam rengkuhnya

Rindu yang kuharap hinggap pada pucuk-pucuk jemarimu
Dan menghangat waktu kau sentuh dadamu,
Tempat hatimu berada

Apakah kau merasakan rindu yang sama,
Yang kutahan dalam-dalam
Dalam syair puisi miskin makna

Apakah kau merasakan rindu yang sama,
Atau biar kurelakan ia terlunta-lunta
Di padang tandus tak bernama
Sampai suatu saat, ia akhirnya bertemu
ajalnya

 ***

Pembatuan, 19 Februari 2016
@agnes_bemoe

Foto milik Agnes Bemoe