Tuesday, 14 March 2017

MEMBAYAR HUTANG PADA ATUK TENAS

Saya suka belajar. Karenanya, senang sekali bisa ikut kegiatan Bimbingan Teknis Penulisan Cerita Rakyat dari Direktorat Kepercayaan kepada Tuhan YME dan Tradisi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang diadakan 6 - 8 Maret 2017 lalu di Bekasi, Jawa Barat.
Awalnya, saya dicolek oleh Mas Iwok Abqary di grup Forum Penulis Bacaan Anak (FPBA). Rupanya, Kemendikbud bekerja sama dengan FPBA sedang mencari penulis untuk proyek penulisan Cerita Rakyat dan Tradisi untuk 7 provinsi di Sumatera, termasuk Riau. Singkat cerita, saya ikut mengirimkan Curriculum Vitae (CV) dan CV saya itu diterima.

NINO dan 'HUTANG' PADA PAK TENAS
Jujur, waktu menerima email dari Kemendikbud tentang proyek ini saya langsung teringat pada 'Nino, Si Petualang Cilik', buku saya yang terbit tahun 2013.

Seperti Nino, proyek ini juga mengumpulkan berbagai tradisi Nusantara dan mengemasnya menjadi sebuah cerita (Sudah pada baca Nino kan ya? :D)

Waktu menyusun Nino itu, sempat terpikir oleh saya alangkah baiknya kalau lebih banyak budaya dan tradisi Nusantara yang bisa diceritakan. Tak nyana, universe conspires, dua tahun setelahnya Kemendikbud mengeluarkan ide yang sama (proyek ini dimulai tahun 2015).

Mengenai Nino, sekitar tahun 2014 saya berkesempatan bertemu dengan Budayawan Riau, Alm. Tengku Nasruddin Effendi (Tenas Effendi). Saya berikan buku 'Nino, Si Petualang Cilik' buat beliau. Beliau sangat senang karena ada buku anak-anak yang peduli dengan budaya Nusantara. Terlebih beliau senang karena Riau juga diangkat. Namun demikian, beliau berpesan untuk tidak melupakan karakteristik budaya Riau. Budaya Riau, menurut beliau, adalah budaya yang berbasis air; laut, sungai, rawa. Alangkah baiknya kalau digali lagi budaya yang berkaitan dengan air ini.

Mendengar petuah itu, dalam hati saya menetapkan keinginan untuk suatu saat menyusun cerita budaya Riau yang berbasis air. Sebagai catatan, dalam Nino saya menulis tentang  'Bakar Tongkang Bagansiapiapi'. Ini tradisi masyarakat Tionghoa di Bagansiapiapi, Riau, untuk memperingati kebulatan tekad mereka untuk tinggal dan berdiam di Bagansiapiapi dengan jalan membakar tongkang yang mereka naiki dari daratan Cina Selatan.

Lagi-lagi, sepertinya universe conspires, dari berbagai pilihan topik, saya mendapat jatah menuliskan tentang Pacu Jalur Sungai Kuantan. Luar biasa senangnya saya! Akhirnya, saya dapat kesempatan menuliskan tentang budaya Riau yang berbasis air! Biarpun bukan buku pribadi, tulisan ini ingin saya persembahkan buat Bapak Tenas Effendi. Kalau bukan karena 'pe-er' dari beliau, mungkin saya tidak sampai ke proyek ini.

KE BEKASI
Beberapa mentor dalam Bimtek ini merupakan nama-nama besar yang sudah malang melintang di dunia perbukuan anak. Salah satunya adalah Sofie Dewayani. Bertemu lagi dengan Sofie Dewayani yang ramah sangat menyenangkan. Terakhir kami bertemu di acara Singtel Asian Picture Book Award 2013 di Singapura. Kami sama-sama menjadi nominee.

Sofie Dewayani menekankan pentingnya mengenali segmen pembaca termasuk kebutuhannya. Sofie juga menegaskan perlunya mengambil sudut pandang anak dalam setiap penulisan buku anak. Penekanan semacam ini penting buat saya yang masih suka egois memaksakan konsep saya sebagai penulis pada pembaca anak.

Saya juga bertemu dengan Pradhika Bestari, editor yang menjadi 'bidan' bagi "Aubrey dan The Three Musketeers" (terbit 2013 di Penerbit Kiddo. Sudah baca juga, kan?) Saya berharap, mbak Dhika berkenan blak-blakan membuka rahasia menyusun cerita berbasis budaya a la Seri Misteri Favorit kesukaan saya. Tapi lalu saya sadar, tidak sesederhana itu menyamakan dua kegiatan ini :D

Namun demikian, ini hal-hal yang saya jadikan pegangan untuk mengumpulkan data dan menyusunnya menjadi cerita. Pertama adalah '5 W + 1 H'. Kumpulkan sebanyak mungkin data terkait tempat, waktu, pelaku, latar belakang, serta bagaimana berlangsungnya. Selanjutnya, kumpulkan juga hal-hal menarik di luar tradisinya, misalnya makanan, pakaian, permainan, atau apa saja yang jadi ciri khas daerah tersebut. Saya rasa, ini menuntut saya untuk jadi lebih peka dan jeli dalam mengamati tradisi yang hendak saya tulis.

BHINEKA TUNGGAL IKA
Yang super menarik buat saya adalah penekanan terus menerus dari Bpk. Sri Guritno, mewakili Direktorat Kepercayaan kepada Tuhan YME dan Tradisi. Beliau menekankan bahwa kebhinekaan Indonesia ini adalah fakta yang harus terus menerus diperjuangkan dan dipertahankan. Untuk itulah Kemendikbud melalui direktorat terkait getol menyiapkan dan menyusun buku tentang tradisi dan cerita rakyat Indonesia ini. Buku yang nantinya disalurkan ke sekolah-sekolah ini diharapkan membuka wawasan anak Indonesia tentang hakikat bangsa dan negara Indonesia.

Sungguh, dalam arus radikalisme agama yang menjamur serta menyusupi Indonesia, yang potensial menghancurkan Indonesia, saya merinding mendengar ada orang pemerintah yang menyuarakan pentingnya menegakkan kebhinekaan Indonesia.

Hal ini diperkuat oleh paparan Bpk. Semiarto Aji Purwanto, Antropolog dari Universitas Indonesia, yang menegaskan perlunya penulis berdiri secara obyektif dalam menulis ulang sebuah tradisi. Dalam obyektivitas itu penulis tidak boleh menghakimi suatu tradisi berdasarkan kepercayaan pribadinya. Dengan itu, kita mendapatkan kumpulan tradisi yang unik dan khas, yang kemudian menjadi kekayaan budaya Indonesia.

Mudah-mudahan hal ini bisa saya pahami benar-benar dan saya terapkan dalam tulisan saya nantinya. Saya cinta Indonesia dan seluruh kekayaan budayanya dan saya tidak mau melihatnya hancur. Saya rasa, saya diberi kesempatan hadir dan belajar adalah untuk menulis hal yang benar tentang Indonesia yang bhineka, bukan yang lainnya.

BIG SURPRISE!
Yang mengikuti buku-buku saya pasti tahu bahwa ada satu nama ilustrator yang hampir selalu ada di buku saya. Benar: InnerChild Std! Tak sangka, saya bisa bertemu dengan Kang Dwi InnerChild di kegiatan itu! Rupanya beliau salah seorang pembicara juga.

Saya penulis baru yang tidak punya pengalaman ketika pertama kali bertemu InnerChild. Namun, InnerChild membuat segalanya mudah buat saya: enak komunikasinya, kerjanya profesional, dan hasil ilustrasinya bagus. Saya bersyukur mengenal InnerChild Std. Lebih bersyukur lagi bisa bertemu langsung! Bayangkan, selama ini hanya 'ribut' di email atau Blackberry (dulu) :D

LALU, PINGGANG BAGAIMANA?
Ini hal pertama yang saya tanyakan pada diri saya sendiri: kuat tidak, mengikuti kegiatan ini. Saya harus duduk sepanjang waktu, sementara duduk adalah musuh besar saya.

Saya mempersiapkan diri. Berenang setiap hari dan refleksi. Saya juga menetapkan, tidak akan memaksa diri. Bila tidak kuat, saya ke kamar dan istirahat.

Hari pertama berlalu dengan mulus. Keesokan paginya saya sempat berenang. Hari kedua, saya sempat kesakitan. Ada beberapa kali -tidak banyak-saya kabur ke kamar buat meredakan pinggang. Biarpun tidak mulus-mulus amat, saya rasa pinggang saya berhasil melewati hari-hari Bimtek ini dengan aman.

TANGGUNG JAWAB
Bangga karena 'terpilih'? Hehehe... senang, pasti. Tapi, saya sadar, kemungkinan faktor minus malum ada. Jadi, saya harus banyak-banyak refleksi. Dan yang terpenting, ini bukan tentang saya. Ini tentang naskah /buku yang nantinya jadi sumber belajar anak. Saya memiliki tanggung jawab profesional dan moral di sini.

Saya berterima kasih atas kesempatan yang luar biasa ini. Semoga saya dapat mengemban tanggung jawab saya dengan sebaik-baiknya.

***

Pembatuan, 14 Maret 2017
@agnes_bemoe

Wednesday, 25 January 2017

BEHIND THE SCENE [BTS]: Dkisah Dseru dari Dinoland


Sejak menulis “Bo & Kawan-Kawan di Peternakan Kakek Ars” (terbit 2014) saya sudah tertarik pada ide untuk menyadur buku “The 7 Habits of Most Effective People” karya Stephen R. Covey menjadi cerita anak, seperti yang saya lakukan pada Bo yang idenya saya ambil dari “Emotional Intelligent” karya David Goleman.

Entah kenapa, pada Bo, ide itu lancar sekali. Saya dengan mudah menemukan banyak cerita untuk ditulis. Bahkan ketika editor minta tambahan cerita, saya sama sekali tidak kesulitan. Lain halnya tentang “The 7 Habits”. Kepala saya blank. Padahal saya merasa menguasai materi yang disampaikan Stephen R. Covey dalam bukunya itu (saya pernah memberikan seminar kecil untuk guru-guru berdasarkan buku ini). Ada beberapa kali saya mencoba membangun cerita, semuanya tidak memuaskan.

Akhirnya ide ini saya tinggalkan.

Lalu, suatu saat di tahun 2015, saya tergerak untuk membaca ulang buku “The 7 Habits”. Saat itu saya sedang sakit dan menghabiskan banyak waktu hanya dengan membaca. Saya baca ulang buku itu bukan karena saya mau menuliskannya kembali. Saya baca sekedar baca. Herannya, setelah membaca ulang buku ini, saya seperti ‘kedatangan’ beberapa cerita! Hore! Akhirnya!

DARI MANA DATANGNYA DINOSAURUS, DAVII, DAN DIMITRI?
Saat itu saya sedang ‘jatuh hati’ pada seorang anak laki-laki berusia 5 tahun. Anak itu, dengan segala kecerdasan dan kelucuannya sungguh membuat saya ‘tak berdaya’. Saya lalu terpikir untuk menulis sesuatu yang bisa jadi sebuah persembahan buatnya. Dia suka membaca. Dan, berdasarkan pengamatan saya, buku-buku bacaan yang ada sekarang kurang berpihak pada anak laki-laki. Banyak tokoh dan cerita dibuat dengan atmosfer anak perempuan (terus terang, saya pun menyadari hal ini terjadi pada diri saya sebagai penulis). Karenanya, saya memutuskan membuat cerita yang cowok banget

Dalam pikiran saya, anak laki-laki biasanya suka dinosaurus, suka bola, suka main musik, suka ngeyel, serba ingin tahu, tidak mau kalah, dll. SAYA MOHON MAAF, saya tidak sedang bersikap bias-gender karena saya pribadi tidak setuju hal itu. Saya yakin, banyak anak perempuan yang punya karakteristik seperti itu. Saya hanya bermaksud menyederhanakan untuk kepentingan cerita ini.
Baiklah, kembali ke Davii. Maka, saya bangun tokoh Davii yang tinggal di Dinoland (karena ia seorang dinosaurus), suka main bola, main gitar, menyanyi, dll. Di sekeliling Davii adalah teman dekatnya, Dimitri; kawan-kawan bermain bolanya Dozo, dkk; serta tentu saja adik bayi laki-lakinya Dixie.

Sejak detik pertama menuliskannya saya sudah berkata: ini akan jadi cerita yang cowok banget! Tujuannya jelas, karena saya ingin menyenangkan seorang cowok kecil yang saya sebutkan di atas tadi.

Ya, buku ini saya persembahkan untuk kesayangan saya David Situmorang dan Bastian Situmorang. Sayang sekali, bagian ini dihilangkan dalam buku jadi. Mudah-mudahan kali berikutnya saya (penulis) diberi kesempatan menerakan dedikasi bukunya.

KENAPA JUDULNYA ANEH?
Dkisah Dseru dari Dinoland terdengar aneh ya? Kenapa? Hihihi… untuk bagian ini, baca sendiri di bukunya ya. Biar terasa serunya hidup ini bersama Davii, Dixie, Dimitri, Dozo, Dean, Damien, Pak Darian, Paman Dull de Drost, DiMadino dari Dino United, Don Quixote si Doberman, dkk!

KE PENERBIT
Ini juga peristiwa yang unik banget untuk saya. Desember 2015 naskah ini saya ajukan ke penerbit. Sekitar dua minggu setelahnya saya mendapat balasan, isinya menanyakan tentang ide-ide Stephen R. Covey yang saya gunakan di naskah itu. Setelah saya jelaskan, jadi deh, naskah ini diterima. Wah! Kejutan buat saya. Untuk naskah cerita bergambar, inilah rekor penerimaan paling cepat yang pernah saya alami. Puji Tuhan deh!

Mencari illustrator pun tidak makan waktu lama. Saya dibantu oleh Anastasia Fransiska. Saya belum pernah bekerja sama dengannya. Namun, saya tertarik melihat ilustrasi-ilustrasi karyanya di akun facebook-nya. Ada satu karyanya tentang dinosaurus yang keren banget. Dari situlah saya merasa mungkin gaya itu yang cocok dengan naskah Dinoland milik saya.

Bekerja sama dengan Siska memberi saya pengalaman belajar yang menyenangkan. Selain professional (menghargai waktu, mudah dihubungi, mencoba memahami pendapat klien, berkomunikasi dengan baik, dll), ada satu hal yang saya pelajari dari Anastasia Fransiska, yaitu bekerja dengan sistematis dan terorganisir. Buat saya, ini membantu saya (penulis) untuk memahami produk ilustrasi yang dibuat illustrator.

Saya juga suka illustrator yang mampu menginterpretasikan cerita ke dalam ilustrasinya. Biarpun saya memberikan panduan ilustrasi, terkadang seringnya saya butuh kreativitas visual (karena memang saya lemah sekali dalam hal ini). Ada beberapa potongan cerita yang ilustrasinya adalah ide Siska sendiri dan kemudian saya setujui karena hasilnya lebih bagus daripada ide saya.
Pendek kata, saya bersemangat sekali dengan ilustrasi di buku Dkisah Dseru dari Dinoland ini!

TERBIT!
Januari 2017 lalu, ketika iseng ke Gramedia Sudirman Pekanbaru, saya mendapati Dkisah Dseru dari Dinoland sudah nagkring di rak buku. Wah! Kejutan Tahun Baru yang menyenangkan!
Saya berterima kasih kepada Gramedia Pustaka Utama yang percaya pada naskah ini, kepada Kak Anastasia Mustika Wijaya, mbak Ramayanti, dan mbak Yuniar Budiarti. Tentu saja saya berterima kasih pada Anastasia Fransiska untuk ilustrasinya yang luar biasa. Last but not least saya berterima kasih pada David Situmorang, muasal semua cerita dalam Dkisah Dseru dari Dinoland. God bless you!
Semoga buku ini diterima anak-anak Indonesia ya! IHS


Pembatuan, 26 Januari 2017
@agnes_bemoe

Saturday, 10 December 2016

BEHIND THE SCENE [BTS]: 12 HIASAN POHON NATAL



Belum pernah saya menarik napas sepanjang ini untuk buku terbit seperti terbitnya '12 HIASAN POHON NATAL' (12 HPN). Legaaaa! Itulah yang saya rasakan, di samping haru, lelah, bangga, bersyukur, dan seribu macam perasaan yang saling campur aduk.

Bagaimana tidak, 12 HPN adalah naskah dengan 'Jalan Salib' terpanjang di antara pengalaman saya menerbitkan buku. Entah kenapa, banyak sekali kerikil tajam mengusik perjalanan naskah ini. Termasuk di antaranya adalah saya dan Lisa, ilutrator, jatuh sakit.

Saya kena HNP (sudah sering saya ceritakan ya) yang menyebabkan naskah ini terhenti lama, sampai hitungan tahun. Naskah ini saya tulis tahun 2012, baru bertemu dengan penerbit di tahun 2015. Tahun 2016 akhirnya naskah ini resmi terbit di Penerbit Grasindo.

Maka ... fiuh, syukur kepada Allah, Puji Tuhan!
Apapun yang terjadi di belakang, itu sudah lewat. Sekarang melangkah dengan penuh keyakinan dan harapan agar buku ini diterima pembaca kecilnya.



MENGAPA NASKAH NATAL?
Jujur, awalnya saya tidak terlalu tertarik menulis naskah Natal. Menurut saya, cerita Natal sudah banyak. Lalu, saya bertemu dengan beberapa teman yang bukan Kristen tapi menulis cerita Natal. Saya merasa tertohok. Saya rasa, saya telah meremehkan moment Natal untuk anak-anak. Maka, saya pun mulai merancang naskah ini.

Biarpun tentu saja tetap ingin atmosfer Natal yang festive, saya menyelipkan ide tentang Natal yang lebih dalam. Cerita 'Christie Kabur dari Rumah' adalah harapan saya tentang Natal yang lebih sederhana tapi bermakna. Cerita 'Hari Natal tanpa Mama Papa' juga menampilkan opini saya bahwa Natal adalah kepekaan terhadap lingkungan sekeliling kita. Saya yakin, hal-hal mendasar dan universal seperti inilah yang perlu diketahui oleh anak sejak dini. Saya memanfaatkan moment Natal untuk menyampaikannya. Dengan kata lain, makna ceritanya sebenarnya bisa diterapkan sepanjang tahun, tidak hanya dalam suasana Natal saja.



IDENYA DARI LAGU
Biasanya, saya memetik ide dari baca buku, cerita teman, pengalaman pribadi, dan lain sebagainya. Nah, untuk naskah ini awalnya saya mencari ide dari lagu-lagu Natal. Psst... awalnya naskah ini berjudul 'Christmas Carol' yang mengacu pada tradisi menyanyikan lagu-lagu Natal oleh paduan suara kecil.

Dengan berjalnnya waktu, ide juga mengalami penyesuaian. Akhirnya, tidak semua cerita didasarkan pada sebuah lagu. Namun, jejak 'Christmas Carol' masih ditemui di banyak cerita, semisal 'Natalie Ingin Bertemu Sinterklas' (Santa Claus Is Coming to Town) atau 'Di dalam Rumah Kue Jahe' (It's The Most Wonderful Time of The Year). Judul '12 HIASAN POHON NATAL' sendiri terinspirasi dari lagu 'Twelve Days of Christmas'.

ILUSTRASI dan ILUSTRATOR
Sejak awal, ilustrator yang saya pilih adalah Lisa Gunawan. Saya tidak mengadakan audisi. Saya suka gaya ilustrasi Lisa yang imut. Pilihan saya tidak salah. Lisa memberikan ilustrasi yang luar biasa meriah, manis, dan cute untuk keseluruhan buku. Seingat saya, sata tidak pernah mengkoreksi atau minta perbaikan. Ilustrasi Lisa langsung mendapat persetujuan saya.



Ilustrasi yang bagus, 'tidak sebanding' dengan ilustrator yang baik. Saya salut banget pada pribadi Lisa. Jujur, kalau ilustratornya bukan Lisa, mungkin saya dan naskah ini sudah lama mogok.

TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih yang tak terhingga saya sampaikan pada ibu Maria Silabakti dan Penerbit Grasindo yang memercayai naskah ini.
Terima kasih juga tentu saja buat Lisa Gunawan. Semoga lain waktu kita bisa bekerja sama lagi.
Terima kasih buat teman-teman yang sudah PO. Sangat menyemangati.

Akhirnya, semoga buku ini diterima oleh anak-anak.
Selamat menyambut Natal, Damai buat kita semua.
***

Pekanbaru, 11 Desember 2016
@agnes_bemoe

Thursday, 24 November 2016

12 HIASAN POHON NATAL DAN ANAK-ANAK UNIVERSAL


Ah, akhirnya, saya punya juga buku cerita Natal! Sangattt puas dan bangga. Biarpun sudah lumayan punya buku, belum afdol rasanya kalau belum punya buku Natal. Tetapi tentu saja, saya menulis ini bukan untuk gagah-gagahan, sekedar memuaskan ego sebagai penulis. Ada hal yang saya ingin anak-anak mengenalnya sedini mungkin.

Saya merasa, anak-anak sekrang menghadapi radikalisme di satu sisi dan krisis kepercayaan terhadap agama dan Tuhan di sisi lain. Saya tidak ingin anak-anak terperangkap dalam kedua sikap tersebut. Saya tidak yakin, dua kutub itulah kondisi ideal. Bagi saya, anak beriman (apapun agamanya), tetapi tidak buta dan sempit, melainkan terbuka pada dunia yang beraneka warna, itulah yang ideal.

Anak-anak UNIVERSAL, begitulah.

Maka, saya mengambil moment Natal 2016 ini untuk mengajak anak-anak: percayalah kepada Tuhan, pada kasih sayang Allah, sambil menyayangi sekitarmu yang berbeda. Itulah yang saya tuangkan ke dalam 12 cerita di "12 Hiasan Pohon Natal" ini. Vertikal ke Allah dan horisontal ke manusia.

Ambil contoh kisah "Baju Merah Berenda Putih". Hanna dan Tara adalah dua orang anak yang berbeda nasib. Apakah lantas mereka tidak bisa bertemu? Ternyata tidak. Ajaran baik yang diterima Hanna membuatnya mampu melihat Yesus sendiri dalam pribadi Tara.

Tidakkah kita ingin anak-anak kita hidup berdampingan dalam harmoni, apapun perbedaan yang mereka miliki?

Dengan tujuan seperti itu, saya berharap orang tua mau memilih buku ini untuk anak-anaknya. Saya juga berharap, anak-anak menikmati ceritanya dan mengambil hikmah Natal yang indah buat mereka.

Buku ini dihiasi dengan ilustrasi indah karya Elisabeth Lisa dan diterbitkan oleh Grasindo. Akan terbit awal Desember ini, tapi teman-teman bisa menghubungi saya untuk PO. Oh iya, harganya Rp. 95.000,- saja.

Akhirnya, saya ucapkan selamat menyambut Adven dan Natal, dan selamat membaca!




***

Pembatuan, 25 November 2016
@agnes_bemoe

Saturday, 12 November 2016

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: SEBUAH PESTA UNTUK SENJA

Judul Buku                  : Melukis Senja
Genre                          : Fiksi - Kumpulan Puisi
Penulis                         : Tantrini Andang dan Yusup Priyasudiarja
Penerbit                       : Penerbit Pohon Cahaya, 2016




Tentang hal-hal yang tak terungkapkan,
aku ingin punguti apa-apa yang kau tinggalkan,
sajak cinta, senja, dan hujan,
lalu satu demi satu,
akan kueja bersama waktu,
karena selalu akan ada yang tak sama,
dalam setiap langkah kepergian,
yang menjadi rahim dari rasa kehilangan.
(Tentang Kehilangan, Hal. 89)

Puisi di atas seolah menjadi ringkasan atasantologi bertajuk “Melukis Senja”. Cinta, senja, dan hujan ditaburkan dengan indah di sepanjang buku 182 halaman ini. Dari ketiganya, senja seolah mendapat porsi sedikit lebih banyak sehingga tidak berlebihan kalau kumpulan puisi yang ditulis oleh Tantrini Andang dan Yusup Priyasudiarja ini terasa sebagai sebuah panggung untuk senja.
Seratus empatpuluh puisi kamar; sembilanpuluh karya Tantrini Andang selebihnya karya Yusup Priyasudiarja mengalir dengan indah dan lembut sejak dari “Senja Tanpamu” sampai “Gerimis atau Hujan”. Konsistensinya sungguh patut diacungi jempol. Kelihatan sekali penulis memilih diksinya dengan cermat dan merangkaikannya dengan terampil. Tidak hanya konsisten dalam kualitas puisi, namun juga dalam hal penuturan. Saya kagum dan salut kepada kedua penulisnya. Puisi-puisi di buku ini seolah ditulis oleh satu orang yang sama! Karena menyangkut rasa, saya pikir hal ini tidak mudah.
Namun demikian, yang jauh lebih penting daripada diksi dan teknik pemuisian adalah kesediaan penulis untuk membuka diri secara jujur dan otentik, membiarkan pembaca masuk pada ruang batin si aku liris di setiap puisinya, dan karenanya membiarkan pembaca untuk ikut merasakan apa yang dirasakan si aku liris; entah rindu, rapuh, ataupun penuh harap.
Saya bersyukur atas terbitnya kumpulan puisi ini. Dunia tulis-menulis sekarang ini saya rasa sedang dirajai oleh tulisan yang bertabur kata-kata indah namun lebay tanpa makna. Antologi ini menunjukkan kepada kita bahwa kita bisa menggunakan kata-kata dengan indah dan anggun  sambil menitipkan makna yang dalam di setiap kata-katanya.
Selain karena puisi-puisinya yang seolah-olah membawa para pembaca terbang dengan awan-awan, saya salut dengan tata tulisnya. Tidak sedikit penulis –bahkan yang mengaku penyair- abai tentang tata tulis ini. Akibatnya, puisi yang sebenarnya indah menjadi berkurang nilainya. Syukurlah, puisi-puisi dalam antologi ini tidak mengalami penurunan nilai karena tata tulis yang ceroboh.
Namun demikian, ada beberapa hal yang mengusik saya. Yang pertama, tentang tema dan para penulisnya. Apa yang mengikat mereka? Apa bedanya kalau Tantrini Andang dan Yusup Priyasudiarja menulis sendiri-sendiri dalam buku masing-masing? Saya teringat akan “Tiga Menguak Takdir”, karya besar tiga orang penyair Rivai Apin, Chairil Anwar, dan Asrul Sani. Mereka mengikat diri dalam tema mendobrak kekunoan pemikiran Sutan Takdir Alisyahbana saat itu dalam menginterpretasikan sastra. Kembali kepada “Melukis Senja”. Tentu saja tidak wajib ada semacam tema kuat pengikat keseratusempatpuluh puisi di dalam buku ini. Namun, saya pikir akan lebih kental seandainya Tantrini Andang dan Yusup Priyasudiarja bersedia menyortir lagi puisi-puisinya ke dalam sebuah tema yang lebih sempit.
Hal berikutnya adalah cover. Saya tidak mempermasalahkan ilustrasinya (saya dengar, cover bahkan digambar sendiri oleh Tantrini Andang, yang mana ini merupakan nilai lebih bagi kumpulan puisi ini). Hanya saja, untuk selera pribadi saya, cover terkesan suram.  Endorsement Joko Pinurbo yang diterakan di bagian cover pun seolah tenggelam dan agak sulit ditangkap. Dan ini, menurut saya, sangat disayangkan.
Namun demikian, terlepas dari itu, antologi puisi ini adalah buku yang sangat berharga untuk dimiliki dan dikoleksi. Saya sangat menikmati puisi-puisinya dan saya merekomendasikannya pada siapa saja yang gemar membaca atau menulis puisi.

***


Pekanbaru, 12 November 2016

@agnes_bemoe

Friday, 11 November 2016

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: MENGENAL NILAI DAN NORMA SECARA SEDERHANA

Judul Buku                  : Cerita Bijak untuk Anak
Penulis                         : Krismariana
Penyunting                  : Deesis Edith M.
Ilustrator                     : InnerChild Studio
Penerbit                       : Penerbit Bhuana Ilmu Populer
Genre                          : Fiksi Anak



Buku ini berisi lima buah cerita yang –dari judulnya sudah dapat kita tebak- mengajak anak untuk bersikap bijak. Ada Bubu si Polisi yang dihadapkan antara keinginan memiliki kue ulang tahun dan tugasnya sebagai penegak hukum sampai Si Kancil yang kehabisan persediaan mentimun padahal ia ingin sekali makan timun.
Kelimanya dituturkan dengan apik dan menarik. Apik, karena tidak menggurui biarpun mengandung muatan pesan moral yang cukup berat. Apik, karena penggunaan bahasanya sederhana.  Menarik, dengan ilustrasi yang hidup dan cerah karya InnerChild Studio. Menarik, dengan bonus stiker dan puzzle di akhir cerita. Secara khusus saya suka ukurannya yang besar (25 X 25) dan tidak terlalu tebal. Anak akan mudah memegangnya saat membaca. Dengan kelebihan ini, buku ini tak diragukan lagi ideal untuk anak-anak.
Yang mengganggu buat saya adalah judulnya. Mungkin ada pertimbangan tersendiri untuk hal ini tapi judul “Cerita Bijak untuk Anak” menurut saya sangat predictable sehingga kurang menantang dan menarik. Yang juga mengganggu buat saya adalah Kata Pengantar di halaman awal. Menilik dari pembahasaannya Kata Pengantar tersebut sepertinya ditulis untuk konsumsi orang dewasa. Apapun maksud dan tujuannya, bukankah ini tetap buku anak? Mengapa tidak memberi ruang semaksimal mungkin untuk anak?
Namun demikian, buku ini sangat layak dibaca, bahkan wajib dibaca, oleh anak-anak. Bagi orang tua yang masih memiliki anak berusia 4 – 7 tahun, saya sarankan untuk membeli dan membacakan buku ini. Bila saya seorang guru TK atau SD kelas 1 atau 2, saya akan dengan senang hati membacakan ini ke murid-murid saya dan membicarakan isinya. Saya yakin, inilah maksud buku ini ditulis; supaya anak-anak mulai menginternalisasi nilai dan norma yang terstandar.

***

Pekanbaru, 12 November 2016
@agnes_bemoe




Saturday, 5 November 2016

DARI NASKAH KE BUKU

Beberapa waktu yang lalu saya menulis tentang bagaiman menulis cerita anak. Sekarang, saya ingin berbagi tentang bagaimana membuat naskah menjadi buku. Oh iya, seperti "Menulis Cerita Anak a la Saya", proses teknis ini adalah yang saya alami karena saya bukan ahlinya. 

‘ANATOMI’ BUKU
Ada baiknya kita kenali dulu bagian-bagian penting buku sebelum kita menyusun buku. Secara sederhana, buku terdiri dari:
1.      Cover
2.      Halaman Prancis
3.      Isi
4.      Punggung buku

Cover adalah lembar pertama dan terakhir buku. Istilah yang sering dipakai adalah “Front Cover” dan “Back Cover”. Cover bisa berbentuk cover tebal (hard cover) atau tipis (soft cover).
Contoh cover: Aubrey dan The Three Musketeers, Soft Cover

Di Front Cover dituliskan judul buku, nama penulis (dan illustrator), nama penerbit, serta logo penerbit. Sedangkan di Back Cover dituliskan blurb. Blurb berisi ringkasan isi buku. Blurb berbeda dengan sinopsis. Bila sinopsis menceritakan secara ringkas isi buku dari awal sampai penyelesaian, blurb menyisakan penyelesaiannya sebagai daya tarik untuk pembaca.

Contoh sinopsis (diambil dari “Bo & Kawan-Kawan di Peternakan Kakek Ars): Lomba Lari Musim Panas: Vicky Kelinci sangat kecewa ketika dia hanya menempati posisi juara dua dalam lomba lari. Ia sudah berlatih sangat keras dan harapannya adalah merebut gelar juara satu. Bo membuatnya sadar bahwa kekalahan tidak harus disikapi dengan keputusasaan.
Contoh blurb: Setiap hari Vicky Kelinci berlatih lari bersama Bo. Tujuannya hanya satu: menjadi juara dalam Lomba Lari Musim Panas! Berhasilkah Vicky mendapat gelar juara itu? Setelah pertandingan, mengapa Bo malah mendorongnya jatuh?

Halaman prancis atau prelim adalah halaman yang berisi cover dalam (half cover), KDT (Katalog dalam terbitan); nama penulis, editor, layouter, desain kaver, penerbit, tahun terbit, alamat, dll; kata pengantar; daftar isi, dll.

Isi tentu memuat isi naskah. Pada buku anak, isi naskah dipecah-pecah menjadi beberapa halaman, misalnya duapuluh delapan atau tigapuluh dua. Jumlah halaman haruslah yang habis dibagi 4.
Masih ingat contoh “Lila Mencari Tetes Air Hujan” di tulisan saya sebelumnya? Cerita itu dibagi menjadi tigapuluh dua halaman termasuk cover.

Punggung buku adalah bagian yang menghubungkan front cover dengan back cover.

Halaman. Pada pembuatan buku, halaman dibedakan dengan ‘halaman kiri’ dan ‘halaman kanan’. Kiri dan kanan ini dari arah pembaca. Selain kiri dan kanan, halaman dibedakan menjadi halaman single dan spread. Halaman single adalah halaman kiri saja atau kanan saja. Halaman spread adalah halaman kiri dan kanan.

MEMBAGI NASKAH
Secara sederhana, naskah bisa dibagi begitu saja secara seimbang sesuai dengan jumlah halaman. Namun, idealnya, naskah dibagi berdasarkan plot-nya. Ini dimaksudkan agar anak-anak pembacanya tertarik untuk terus membaca buku tersebut sampai halaman terakhir.
Naskah bentuk matriks

Secara teknis, pembagian naskah bisa dibuat konsepnya seperti contoh di bawah ini. Format semacam ini sering disebut matriks. Naskah dibagi dari Front Cover sampai Back Cover, halaman single atau spread, termasuk teks yang akan diterakan di halaman tersebut.
Naskah dibagi dari cover sampai blurb


ILUSTRASI DAN USULAN ILUSTRASI
Buku cerita anak membutuhkan ilustrasi. Dalam hal ini, penulis perlu bekerja sama dengan illustrator. Ilustrasi pada buku haruslah berupa kerja sama harmonis antara penulis dan illustrator. Penulis bisa berinisiatif memberikan usulan ilustrasi. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan ilustratorlah yang merancang ilustrasi berdasarkan teks yang dibacanya. Tentu saja, ilustrasi itu –siapapun penggagasnya- tetap dibicarakan bersama.
Contoh Sketsa, diambil dari "Kumpulan Kisah Santo Santa", Agnes Bemoe & Fanny Liem

Di luar negeri cara kedua itulah yang lebih sering diterapkan. Itulah sebabnya, buku anak sering ditulis “Oleh: … & …”, misalnya “Oleh Agnes Bemoe & Lisa Gunawan” karena memang dipikirkan dan diolah oleh dua orang –penulis dan illustrator-.

SELANJUTNYA BAGAIMANA?
Naskah sudah ada, sudah dibagi ke dalam format matriks. Selanjutnya?
Selanjutnya, lengkapi dengan kata pengantar yang baik dan data diri, kirimkan ke penerbit. Ada baiknya kalau naskah itu dikemas dalam bentuk proposal naskah. Proposal naskah berarti pengiriman naskah dilengkapi dengan beberapa detail seperti ukuran buku, pembaca target, sinopsis, keunggulan buku, selling point, dll.
Proposal Naskah

Bila sudah lengkap semuanya, kirim dan… lupakan! Hehehe… send and forget. Jangan terlalu dipikirkan seolah-naskah kita akan dibalas keesokan harinya. Penerbit menerima ratusan (bahkan mungkin ribuan) naskah tiap harinya. Butuh waktu bagi naskah kita hingga sampai di tangan editor. Namun demikian, anda bisa tanyakan nasib naskah anda setelah kurang lebih tiga bulan.

Selamat menulis, membagi, dan mengirimkan naskah!

***
"Hujan! Hujan! Hujaaan!", Agnes Bemoe, Gramedia Pustaka Utama, 2014


Pekanbaru, 6 November 2016

@agnes_bemoe