Friday, 24 October 2014

Nama

Adakah yang lebih pahit daripada mendengarmu memanggilku, dengan namanya....

"Maafkan aku, sayang. Maafkan aku...." Engkau cepat-cepat merengkuhku erat dalam pelukmu. Sejenak senyap membuatku ngilu.
"Iya. Aku mengerti...." Bisikku, kelu.

Kusembunyikan luka dalam-dalam. Menyimpan tiap sayatan yang makin menusuk, setiap kali terngiang nama itu....

Maafkan aku, sayang. Maafkan aku, rintihku dalam hati. Andaikan namakulah yang tertera di cincinmu, engkau tak perlu keliru memanggilku....

***

Pembatuan, 24 Oktober 2014
@agnes_bemoe



Monday, 20 October 2014

Bunga Mangga

Memandangi pohon mangga yang mulai berbunga dan  angin Oktober yang membuatnya rapuh melambai. Entah mengapa kurasakan gemulainya membisu. Lalu dingin yang aneh menyesapku pelan-pelan.

Mungkinkah kita sama?

Sama-sama menyembunyikan pahit dalam-dalam. Pahit, yang hanya deru angin yang mengerti: kehilangan adalah gemuruh yang merontokkan putik jiwa.

Angin membuat beberapa bunga mangga berguguran. Ada yang jatuh di pipiku, persis di titik air mataku.

***



Pembatuan, 21 Oktober 2014
@agnes_bemoe



Sunday, 19 October 2014

Luka

Tak ada yang selembut malam, merengkuh titik tangis tertahan dalam dekapnya, jadi embun yang kilaukan dedaunan, di pagi berikutnya.

Tak ada yang sehangat malam, membisikkan kebisuan paling mesra, untuk jadi sinar pertama keesokan paginya.

***
Pantai Kuta. 2008. Agnes Bemoe

Pembatuan, 20 Oktober 2014
@agnes_bemoe

Saturday, 11 October 2014

Antisipasi Konstipasi

Mau ngomongin masalah ga keren nih: konstipasi.
Saya tidak punya masalah pencernakan serius. Paling mules setelah ngembat rujak satu panci... hehehe....
Makanya saya tidak menyadari kalau terkena konstipasi (sembelit). Ketika masuk RS pertama kali di minggu terakhir Agustus, saya sama sekali tidak sadar bahwa sudah beberapa hari saya tidak BAB. Saya juga masih merasa tidak akan ada hal serius waktu perut saya dikuras sampai tiga kali karena konstipasi (tidak BAB menyulitkan tindakan suntik SNRB yang saya jalani).

Psst... ada yang pernah dikuras perutnya ga? Hell, isn't it?

Jadi, ketika kembali dari rumah sakit setelah suntik SNRB saya merasa baik-baik saja dan hanya perlu memulihkan HNP saja. Hari ke-8 saya di rumah, pagi-pagi saya merasa aneh. Kedinginan. Dingiiiin banget, sampai saya butuh selimut beberapa lapis.

Dingin berlalu, diganti dengan perasaan gerah. Sambil itu saya berkeringat sampai kuyub badan saya. Beberapa saat setelahnya saya merasa mules. Saya coba ke kamar mandi tapu tidak berhasil. Berikutnya, saya hanya berputar pada panas-dingin, keringat dingin, mules. Begitu yang saya rasakan sepanjang hari. Besoknya saya coba minum obat pencahar. Hasilnya, setiap dua jam saya malah mules dan kesakitan hebat, dari pagi sampai pagi keesokan harinya! Bahkan obat tidur dan obat penenang dari dokter tidak mampu menahan badan saya dari terbangun karena kesakitan.

Saya sudah nggak tahan lagi! Jumat pagi, 19 September 2014, saya ke RS dengan ambulance. Hwuih, kedengarannya ngeri ya? Saya tidak bisa jalan, perut super sakit dan super mules, dan badan panas dingin tak menentu. Saya bukan orang yang gampang menangis. Tapi pagi itu saya menangis, mohon sama Tuhan untuk berhenti menyiksa saya. Saya juga ketakutan karena teringat penyakit yang diderita almarhum ayah saya. Ayah saya meninggal karena kanker usus besar. Penyakit itu diawali dengan sangat sepele: sakit pencernakan.

Oke deh, akhirnya saya ditangani oleh RS. Enam hari dirawat, saya dinyatakan sembuh. Dokter bilang pencernakan saya bagus. Beliau menengarai kasus saya karena pengaruh obat penenang dan obat pereda nyeri. Obat-obatan tersebut kadang-kadang membuat pencernakan ikut "malas" beraktivitas. Beliau juga menduga ada faktor stress (dan dugaan ini kemudian dibenarkan oleh psikolog saya)

O'oi! Itu lagi! Selalu berawal dari stress.

Akhirnya, untuk sementara pengobatan HNP dikurangi sampai konstipasi saya tertangani. Catatan: pengurangan obat HNP berarti tidak ada yang membantu saya mengurangi rasa nyeri di sepanjang tungkai kanan. Namun, saya harus memilih. Dan saya memilih untuk memerangi dulu konstipasi sialan ini! Saya menurunkan tulisan ini untuk membagi pengalaman saya melawan konstipasi (atau dalam kasus saya sudah masuk tahap obstipasi).

Sejak pulang dari RS menu makan saya berubah: lebih banyak serat dan air. Ini yang saya asup setiap hari:
Beras merah dan ubi cilembu untuk karbohidrat
Tahu kukus, atau goreng setengah matang. Ikan, juga dikukus.
Sayuran hijau: bayam, sawi, brokoli, dll. Semuanya hanya direbus sebentar dengan sedikit garam.
Minum banyak air putih (8 gelas sehari)
Buah: pepaya, mangga, nanas, buah naga, dll. Saya juga makan agar-agar untuk camilan.
Nah, dua yang berikut ini yang saya rasa sangat membantu. Ini info dari teman saya: malam sebelum tidur minum jus lidah buaya. Cara membuatnya: ambil lidah buaya seukuran telapak tangan (catatan: lidah buaya ini saya dapatkan yang berbentuk sudah dibudidayakan dan dijual di pasar swalayan). Cuci bersih lalu potong kecil-kecil. Campurkan dengan buah yang disukai, tambahkan madu atau sirup (karena lidah buaya pahit rasanya). Bisa juga dikucuri perasan lemon. Sudah. Jadilah jus yang segar. Jus ini diminum malam sebelum tidur.
Bergantian dengan jus lidah buaya, saya minum yogurt. Harus yogurt asli. Puji Tuhan, teman saya itu juga sering membuat yogurt sendiri. Jadi dari dialah saya memperoleh yogurt asli. Sama juga dengan lidah buaya, campur saja yogurt dengan buah-buahan yang disukai (untuk saya harus buah-buahan yang tajam, seperti mangga, untuk "mengalahkan" rasa yogurt. Saya bukan penyuka susu dan segala produk turunannya.)

Waktu pulang dari RS, saya dibekali dengan obat pencahar. Obat itu diminum hanya kalau setelah empat hari saya belum juga BAB. Jadi, pembaca, empat hari pertama di rumah adalah empat hari menengangkan buat saya. Bagaimana kalau sayur dan buah alami yang saya konsumsi tidak mampu membantu saya? Masak harus bergantung pada obat?

Saya lupa hari keberapa, jelas bukan hari pertama, setelah seharian makan makanan berserat tinggi, banyak minum, dan menutup hari dengan segelas jus lidah buaya, keesokan paginya... horeee!!! Sumpah, seumur hidup belum pernah saya sebersyukur itu bisa BAB!

Awalnya dua-tiga hari sekali, sekarang setiap pagi saya BAB. Yeay! Obat dokter tidak tersentuh sama sekali. Yess! Seperti yang saya katakan di awal tulisan, saya tidak punya masalah pencernakan. Namun kalau toh saya harus menghadapi, saya sudah punya informasi bagaimana menghadapinya. Saya bagikan, mudah-mudahan ada yang membutuhkan.

***

Pembatuan, 12 Oktober 2014
@agnes_bemoe

Wednesday, 8 October 2014

Painful, but Fun (and Healthy)

Kemarin saya berenang.
Apa istimewanya? Hehehe... nggak ada.
Saya berenang, selain untuk having fun, juga untuk terapi penyakit HNP saya. Saya baca testimmoni penderita HNP di internet: berenang harus menjadi sesuatu yang wajib (biarpun sudah dinyatakan sembuh).

Oke deh, mungkin itulah letak kesalahan saya kemarin. Sejak bulan puasa saya tidak berenang karena kolam renang tutup. Saya pun tidak mencari alternatif tempat berenang lain karena menganggap tidak akan merugikan. Terbukti saya salah. Akumulasi dari tidak berenang, tidak akupunktur (juga karena bulan puasa), terlalu banyak menyetir, terlalu banyak duduk, angkat berat dan kena batuk menyebabkan HNP saya kambuh.

Saya belum bisa duduk dan berdiri atau berjalan lama, sebenarnya. Paling kuat lima menitan. Namun, saya mau mencoba. Daripada berbaring saja nggak ada hasilnya mending saya berenang. Maka, perjalanan pulang pergi dari rumah ke tempat berenang jadi perjuangan tersendiri.


Dari rumah ke Hotel Premier tidak ada masalah. Ayu, anak saya yang menyupiri saya mengatakan nanti saya akan diturunkan di lantai lima (tempat pool) jadi saya tidak perlu jalan atau berdiri lama. Sip!

Nyatanya, parkiran hanya sampai di lantai tiga (lobby hotel). Berarti harus jalan lagi ke lantai lima. Buat yang sehat itu tidak masalah. Perjalanan terasa pendek dan mudah. Anak saya, waktu saya tanya "Jauh, Kak?", dengan mantap ia menjawab "Enggak, Mi!".

Nah, itu tadi, jelas enggak buat yang sehat. Buat saya, sebelum sampai ke lift saja saya sudah meringis-meringis. Sampai di depan pool, penjaga pool yang cantik malah menahan saya untuk menawari beberapa paket keanggotaan. Aduh, adik cantik, saya sudah nggak tahan! Saya minta diperbolehkan langsung nyemplung dan biar masalah paket keanggotaan diselesaikan Ayu, anak saya.

Syukurlah si adik cantik memperbolehkan.

Saya pun nyemplunglah dengan leganya. Air kolam yang hangat terasa enak di badan saya. Wow! Saya memang pilih berenang di sana karena airnya hangat. Ada seorang penderita HNP yang menyarankan untuk berenang di kolam air hangat. Selain itu, badan saya memang tidak tahan air dingin. Terasa nyuuuut kalau terkena air dingin.

Selesai berenang, saya harus berjuang lagi untuk membilas diri, ganti baju, dll. Ternyata, shower di kamar mandi hanya air dingin. Astaga! Sama juga bunuh diri nih! Saya tidak jadi membilas badan, hanya melap badan dengan handuk. Selain karena airnya dingin juga karena saya sudah kesakitan. Untung sedang sepi. Hanya ada saya dan Ayu. Maka, tanpa berpikir panjang, saya keluar dari kamar mandi hanya mengenakan pakaian dalam. Saya lalu langsung merebahkan diri di kursi kayu di sebelah kamar mandi. Sumpah, sudah nggak kuat nahan sakitnya!

Sambil berbaring saya memakai kaos dan celana. Selagi berjuang memakai kaos, baru kelihatan oleh saya semacam alat tertempel di langit-langit. Astaga! CCTV-kah itu? Matik saya! Gak tau deh, mereka mikir apa tentang saya....

Sukses memakai baju, saya masih membutuhkan waktu sekitar 20 menitan untuk menenangkan HNP saya. Setelah itu barulah saya beranjak. Sebenarnya masih terasa nyeri, tapi ya sudahlah, saya coba lagi untuk perjalanan pool ke mobil. Bisa dibayangkan, perjalanan itu adalah perjalanan yang menyakitkan. Rasanya sudah pingin nggeblak di lantai saat itu juga (mumpung lantainya berkarpet tebal... hihihi...).

Dengan menahan nyeri, sampai juga saya di mobil. Fiuh, di kolamnya sih fun banget. Perjalanan pulang perginya yang painful... hehehe....

Tapi saya tidak kapok kok. Buktinya hari ini saya mau berenang lagi... hehehe.... Minta doanya supaya saya cepat sehat ya. Makasih....

***

Pembatuan, 9 Oktober 2014
@agnes_bemoe

Tuesday, 7 October 2014

"Sleeping with Enemy"

Bisakah anda bayangkan bahwa hal yang anda sukai malah jadi musuh besar anda? Hiiy... kok kayak "sleeping with enemy" ya?

Saya suka nulis. Saya suka baca.

Sangat sering saya menemukan oase dari kegiatan nulis atau baca. Waktu di rumah sakit saya sangu buku bacaan setumpuk. Kebanyakan buku-buku A. de Mello dan buku teman saya seorang penulis, Fidelis R. Situmorang. Saya suka buku-buku mereka karena menenangkan.

Dulu waktu masih jadi guru, saya meluahkan kemarahan dan frustrasi lewat tulisan. Waktu sudah jadi penulis, saya menulis dengan enjoy terutama karena saya bisa memuaskan fantasi kekanak-kanakan saya (saya penulis buku anak-anak).

Intinya, dua kegiatan itu, baca dan tulis, means a world to me.

Nah, makanya saya bagaikan disambar petir (idiih, suka banget lebay ya...) waktu saya saat-saat ini disarankan untuk tidak membaca dan menulis, khususnya fiksi. Lebih khusus lagi fiksi mellow. Kondisi saya sekarang sedang sangat peka. Impuls sekecil apapun bisa memicu reaksi berlebihan dalam diri saya. Dan itu tidak baik buat diri saya.

Saya pikir-pikir, ada benarnya juga perkataan psikolog saya itu. Saya suka buku-buku Fidelis R. Situmorang salah satunya karena tulisannya yang mellow walaupun tidak lebay. Anehnya, akhir-akhir ini, ketika sakit, setiap kali membaca tulisan Fidelis, saya langsung mewek. Tambah jelek meweknya kalau kebetulan membaca kalimat yang syahdu banget.

Saya sudah baca buku Fidelis ratusan kali. Harusnya saya sudah kebal dengan isinya. Bukannya kebal, saya malah seperti nonton telenovela paling memeras air mata. Herannya, baru akhir-akhir ini saja saya jatuh termehek-mehek. Dulu-dulunya sih merasakan sesuatu tapi tidak sampai mewek jelek begitu. Saya sampai tidak merasa nyaman lagi membaca buku-buku favorit saya itu.

Saya menemukan penjelasanannya dari psikolog saya. Kalau mau baca (atau menulis) lebih baik non-fiksi. Maka, kini, bacaan saya adalah majalah Tempo atau ke internet mencari biografi tokoh yang saya sukai.

Untuk menulis, ini yang agak susah. Dorongan untuk menulis puisi sedang besar-besarnya. Seminggu yang lalu saya kehilangan seorang teman yang sangat baik. Rasa kehilangan itu seperti terus mendesak saya menulis puisi. Padahal, kalau sudah menulis puisi, bukannya lega, tapi malah tambah mewek ga karuan, lalu mikir yang enggak-enggak.

Saya memeranginya dengan jalan menuliskan jurnal-jurnal seperti ini. Harapan saya tulisan-tulisan seperti ini bisa tetap meluahkan perasaan saya tanpa saya kemudian terseret terlalu dalam ke dalam perasaan saya sendiri (untuk kemudian susah keluar).

Iya, bener, kalau anda membaca tulisan ini anda pasti paham: saya tidak sedang menulis buat orang lain, saya menulis untuk diri saya sendiri. Saya sedang berusaha menyeimbangkan radar mellow saya yang sedang berat sebelah.

Tidak heran kalau anda tidak menemukan informasi atau apapun yang berguna di tulisan ini... hehehe.... Maaf ya, mudah-mudahan tidak lama lagi saya bisa menulis buat orang lain. Amin.

***

Pembatuan, 8 Oktober 2014
@agnes_bemoe

Monday, 6 October 2014

Berkata Benar Harus Dipelajari

Beberapa waktu yang lalu saya ditegur oleh seorang teman baik atas kata yang saya tuliskan di sebuah status. Saya menggunanakan kata "sakaw" untuk menggambarkan betapa sukanya saya akan sebuah buku (yang mana buku tersebut ditulis oleh kawan baik saya itu). Menurut teman saya, kita harus mempertimbangkan siapa tahu di antara pembaca status ada yang punya saudara, kerabat, sanak, famili yang kecanduan. Kata "sakaw" tentu menjadi hal sensitif buat mereka. Karena dia kawan yang sangat baik, saya langsung nurut. Sebenarnya saya bertanya-tanya juga (dalam hati) apa salahnya sesekali ber-lebay-ria dengan menggunakan istilah tertentu.

Tadi pagi, ketika ngelayap di fb, saya menemukan foto orang yang didandani lucu-lucuan (cenderung norak) dan pengunggah memberi komentar "orang stress" untuk foto itu. Entah kenapa, saya langsung tersentak. Wah, beginikah masyarakat menilai penderita stress? Stress jadi bahan olokan. Dan saya merasa diri saya sedang diolok-olok. Saat itulah saya bisa memahami sudut pandang teman baik saya itu.

Saya mengalami stress. Tidak hanya itu, saya mengalami depresi, anxiety-affect, dan panic attact (ini dianogsa psikiaater dan psikolog saya). Tidak ada penyakit, fisik dan psikis, yang mengenakkan. Saya tidak perlu memerinci betapa tidak enaknya terkena penyakit itu. Okelah, secara pribadi saya harus menguatkan diri menghadapi masyarakat yang belum paham (seperti saya dulu). Namun di sisi lain saya rasa yang saya rasakan dirasakan juga oleh semua penderita lain. Mereka mungkin tidak bisa menyampaikan keberatan dan dasar keberatan. Saya rasa, melalui tulisan ini saya bisa menyampaikannya, mewakili teman-teman yang lain. Tidak spesifik untuk penderita stress saja tapi juga untuk penderita lain, seperti autis, misalnya, yang juga kerap dijadikan bahan olok-olok.

Alangkah baiknya kalau kita menjadi masyarakat yang lebih peka. Menjadi masyarakat yang lebih supportif serta menjadi masyarakat yang lebih peduli. Kepekaan kita mungkin kecil namun itu berdampak besar bagi penderitanya, siapapun itu. Syukur-syukur kalau bisa kita tularkan pada orang lain, seperti yang dilakukan oleh teman baik saya.

Kembali ke saya pribadi sebagai penulis, keinginan saya untuk menghiperbola kata harus saya seimbangkan dengan kebutuhan orang lain untuk merasa nyaman membaca tulisan saya. Jangan sampai pesan yang saya sampaikan salah diterima. Dietrich Bonhöffer, seorang theolog dan pendeta Lutheran, penulis puisi dan novel, dan juga musisi mengatakan bahwa: Berkata benar harus dipelajari. Maknanya, seperti yang saya tuliskan di atas. Jangan sampai menimbulkan distorsi.

Satu dua kata seolah sepele. Namun bisa punya efek yang sangat besar bagi orang-orang yang kebetulan terhubung dengan itu. Saya merasakan dalam kasus kata "stress". Betapa tidak nyamannya membaca bahan olokan seperti itu.

Ini menjadi refleksi saya pagi ini. Dalam menulis pun hendaknya saya memilih dengan cermat kata-kata yang hendak saya tulis. Besar kemungkinan saya akan mengulangi kesalahan yang sama. Untuk itulah saya membutuhkan teman baik, seperti teman yang saya ceritakan di atas, sebagai "editor" yang tidak segan-segan menyampaikan pendapatnya. Bila kita terus menerus melatih hal ini, kita akan mejadi masyarakat yang supportif dan bukan judgmental. Kita menjadi masyarakat yang sehat, bukan sakit.

***



Pembatuan, 7 Oktober 2014
@agnes_bemoe