Friday, 21 November 2014

Teknik Pernapasan a la Saya

Awalnya saya membaca di Majalah Tempo tentang latihan pernapasan sebagai salah satu cara pengobatan. Di situ dikatakan teknik ini berhasil membantu penderita diabetes lepas dari obat. Lalu, saya mendapati tulisan tentang "Mindfulness" di wall seorang teman. Isinya menyinggung tentang teknik pernapasan seperti yang diulas oleh Tempo.

Ingin tahu lebih jauh, saya browsing tentang "Mindfulness". Jujur, saya lebih banyak bingung daripada ngerti... hihihi... Saya terbantu memahami tentang "kesadaran budi" ini setelah membongkar lagi buku Anthony de Mello, SJ. Contohnya tentang seekor anak anjing yang perhatiannya terpusat pada mainannya membantu saya memahami apa itu meditasi (bagian dari Mindfulness).

Biarpun tidak terlalu mengerti tentang teknik pernapasan "Mindfulness" ini, saya memutuskan untuk mencoba. Kalau dirunut ke belakang, waktu saya mengalami serangan panik di RS, dr. Elly -psikiater saya- menuntun saya bernapas (lewat BB) sampai saya tenang. Lalu, ketika bertemu dengan psikolog, saya juga diajak bermeditasi dengan jalan mengatur pernapasan. Waktu itu saya memang merasa lebih tenang dan lega. Psikolog menyarankan untuk secara rutin melakukannya. Tapi saya, hihihi..., masih malas.

Membaca Tempo dan postingan teman membuat saya mencoba latihan pernapasan seperti yang disarankan.

Saya menggabung-gabungkan sendiri teknik yang dipakai baik oleh psikiater, psikolog, Tempo, maupun artikel Mindfulness. Ini karena menurut saya prinsipnya sama. Yang saya lakukan adalah sebagai berikut:

Berbaring (karena saya belum bisa duduk) dengan santai. Pejamkan mata.
Putar musik instrumental. Favorit saya adalah Kenny G (Ave Maria, Havana) dan Khitaro.
Hirup napas dalam-dalam, hembuskan pelan-pelan.

Sambil bernapas, dirasakan napas yang dihirup dan dihembuskan.
Kendurkan beberapa bagian tubuh: leher, pundak, lengan, tangan, tungkai, lalu kaki.
Sambil memusatkan pikiran pada pernapasan, saya mulai "menjelajahi" sekeliling saya lewat pendengaran.

Saya mendengarkan bunyi-bunyian di lingkaran yang terdekat dengan saya: suara musik, detik jarum jam, tetes air, suara cicak, dll. Lingkaran itu tambah lama tambah besar: deru motor di luar, pesawat, suara tetangga. Semua didengarkan saja.

Lalu saya kembali memusatkan diri pada pernapasan: menghirup dan menghembuskan napas dalam-dalam.

Selanjutnya, tarik napas dalam-dalam dalam 5 hitungan. Tahan dalam 5 hitungan. Lalu, hembuskan lagi dalam 5 hitungan. Ini saya lakukan 5 kali (atau sampai saya merasa benar-benar nyaman)

Terakhir, saya tutup dengan doa. Saya berdoa Rosario lambat-lambat. Sambil berdoa, saya bisikkan ke diri saya sendiri beberapa hal yang saya butuhkan: misalnya, tenang, damai, percaya, dll. Saya ulangi juga perkataan-perkataan positif yang menyejukkan dan menguatkan. Tidak lupa, saya membayangkan diri saya duduk dekat Yesus, seolah-olah ngobrol dengan Yesus (cara ini saya dapatkan dari Sr. Maristella, JMJ, suster yang rutin mengunjungi saya di rumah sakit. Menurut Suster, kita bisa mengundang Yesus untuk datang dan melakukan mukjizat. Kita bisa membuat mukjizat untuk diri kita sendiri.

Itulah yang saya lakukan setiap pagi.

Kendalanya? Yang paling sering terjadi adalah pikiran yang melantur kemana-mana. Tiba-tiba menelusup aja komen teman fb, atau kegiatan yang ingin dilakukan, dan banyak hal lagi. Kalau sudah begini, saya lalu buru-buru balik lagi, konsentrasi ke pernapasan.

Manfaatnya? Yang saya rasakan sih, saya jadi lebih lempeng, lebih tenang, apalagi kalau berhasil "ngobrol" dengan Tuhan Yesus. Rasanya tenaaang banget... hehehe...

Memang pemgaruhmya ke fisik belum saya ketahui karena belum ada perubahan drastis. Harapan saya sih, kalau saya tenang dan positif, saya tidak mudah stress (catatan: akhir-akhir ini saya mudah stress). Kalau tidak mudah stress, saya lebih bersemangat untuk berobat/minum obat. Hasil akhirnya tentu saya harapkan kesembuhan. Eh, hasil paling akhir tentu terserah Yang Di Atas :D

***

Pembatuan, 22 November 2014
@agnes_bemoe



Thursday, 13 November 2014

Salamat, Ginoong Bautista!

Berpikir positif adalah hal yang harus saya usahakan setiap hari. Saya mau membagikan pengalaman unik saya menemukan Si Positif.

Kemarin pagi, hujan turun sejak menjelang subuh. Saya mencemaskan adik saya yang harus berjalan kaki cukup jauh sebelum naik angkot. Angkot itu pun tidak berhenti persis di depan sekolah adik saya. Dia masih harus jalan kaki lagi sekitar 2 km.

Saya juga resah karena ada SMS saya yang tidak terbalas oleh teman. Berbagai skenario buruk bermain di kepala saya.

Saya lalu berdoa Angelus dilanjutkan Rosario. Jujur, setelah berdoa pun saya masih resah. Mungkin karena hujan tak juga kunjung berhenti. Saya buka note di tab. Saya merasa ingin menulis puisi. Dan memang saya lalu menulis puisi. Isinya? Gitu deh, melow goeslow gimana gitu....

Sambil mengetik saya mendengarkan lagu Christian Bautista. Harapannya, puisi saya bisa seromantis lirik lagu Mr. Bautista. Satu, dua, tiga, lagu Christian Bautista menelusup ke telinga saya. Lalu, saya merasa ada sesuatu yang lain.

Lagu-lagu Christian Bautista semuanya bercerita tentang cinta. Namun ada yang spesial yang saya dengarkan pagi itu. Cinta yang dilagukan oleh Christian Bautista adalah cinta yang penuh pengharapan biarpun jauh (Away from You), pengakuan cinta yang setulus hati (Since I Found You), cinta yang penuh kepercayaan (Colour Everywhere), dan seterusnya.

Tulus, berharap, percaya. Semua itu bermain di kepala saya. Lalu entah bagaimana, saya merasa perasaan saya berubah. Yang tadinya melow cenderung gloomy saya lalu merasa hangat dan bersemangat. Hujan masih turun tapi hati saya berubah hangat.

Saya melirik puisi saya. Spontan puisi itu saya delete. Saya buat yang baru. Sebuah puisi yang menurut saya lebih positif, penuh kepercayaan, dan riang (menurut saya lho yaa...). Btw, saya tidak peduli puisi saya bagus atau jelek (bo'ong, saya peduli ding... hihihi...), yang jelas puisi yang saya buat atas dorongan syair lagu Christian Bautista itu telah menyelamatkan pagi saya. Saya berpikir dengan lebih lempang dan enteng. Saya yakin, saya percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. "I don't wanna see you cry once more," kata Christian Bautista dalam "I don't want to See", salah satu lagu yang sukses bikin saya ge-er setengah mati, seolah the beautiful Mr. Bautista sedang duduk di samping saya dan mempuk-puk saya!

So, I do have an obligation to say "Thank You, Mr. Bautista!" (sambil mbayangin meluk Christian Bautista... hihihi...)

***

Pembatuan, 14 November 2014
@agnes_bemoe


Monday, 10 November 2014

Manut dan Jadi Penyintas

Setelah beberapa kali bolak-balik ke tempat akupunktur, baru kemarin saya ngeh bahwa teman-teman saya sesama pasien semuanya lansia. Mereka umumnya pasien jantung karena dokter ahli akupunktur yang merawat saya adalah dokter spesialis jantung.

Sambil diuyel-uyel oleh mas petugas refleksi (saya menjalani akupunktur dan refleksi) saya nguping pembicaraan mereka dengan dokter. Rata-rata mengeluh sesak napas dan tidak bisa tidur. Ada juga yang mengalami semacam stroke ringan di wajah. Ada lagi yang kesakitan karena asam urat.

Dokter dengan sabar mendengar keluhan mereka satu persatu. Lalu dengan lemah lembut namun ceria dokter menyuruh mereka untuk ini dan itu. Para pasien itu pun jarang ada yang ngeyel. Semuanya nurut sama petunjuk dokter. Faktor usia membuat mereka lebih pasrah, atau bagaimana ya? Padahal, saya bisa membayangkan ketidakenakan yang mereka alami. Kesakitan, tidak bisa tidur, aaarrghh... hell!

Mungkin karena pikiran saya lagi mellow apa gimana, adegan ini kok nancep di benak saya. Saya membayangkan, begitu juga, kali ya, saya dengan The Big Boss over there. Harusnya saya manut pada petunjukNya. Mendengarkan dengan seksama arahanNya lalu melaksanakan sebaik mungkin. Bayangkan, kalau sebagai pasien saya marah-marah sama dokter: "Sembuhkan sekarang! SEKARANG JUGA!!!" Bukannya sembuh, bisa-bisa saya malah di-euthanasia sama dokternya! Hihihi....

Btw, urusan ngamuk-ngamuk sama The Big Boss, sayalah ahlinya :p

Saya merasa bosan, sebel, diperlakukan dengan nggak adil olehNya. Lalu, saya ngamuk. "You said You are good! Why can't I find any of Your Goodness?! What the hell all these are for?!" blah... blah... blah... *cencored*

Adegan yang barusan saya saksikan di ruang praktek itu melengkapi serangkaian sentilan Tuhan pada saya. Dia bilang: Aku ini Dokter yang Maha Penyembuh. Take you medicine, shut your mouth up, and start believing in My Work. How hard it could be?

Sambil nyengir-nyengir karena sakit (akibat pijatan refleksi) saya mengunyah kembali adegan itu. Lalu, saya teringat sepenggal kalimat indah yang ditulis teman saya, seorang penyair muda, bernama Fidelis R. Situmorang.

"Jiwa ini bukan milik diri semata. Ada pemilik sesungguhnya yang benar-benar mengasihinya."

Kalimat yang saya temukan dalam buku "Butir-Butir Hujan", buku paling baru Fidelis R. Situmorang itu, benar-benar menancap di benak saya.

Kenapa saya tak henti-hentinya mencemaskan diri saya? Padahal ada Dia yang menggenggam erat jiwa saya? Dia yang sabar banget dengan semua kemarahan dan sikap kekanak-kanakan saya. In short, Dia yang menyayangi saya sebagai saya. Harusnya saya mempercayainya, seperti pasien percaya pada dokter ahli yang menanganinya.

Haduuh, menuliskan kata "percaya" tuh begitu gampangnya, menghayati dan menghidupinya butuh perjuangan tersendiri. *narik napas panjaaaaaaang banget*

Tapi eh, toh saya nggak sendirian. Dia pasti bantu saya dan saya pasti survived! Kalaupun saya "tidak survived" saya tetap "survived". Yeay!

***

Pembatuan, 11 November 2014
@agnes_bemoe



Sunday, 9 November 2014

Lingkaran Pahlawan

Ini hari Pahlawan.
Karena dilahirkan di Kota Pahlawan, saya mau bagikan tentang "pahlawan" yang baru-baru ini lewat dalam hidup saya.

Saya sedang dalam proses pemulihan dari sakit HNP dan depresi. "Lumayan," itu jawaban saya kalau ada teman yang tanya. Sekarang, waktu nulis catatan ini, saya sudah bisa duduk dan berjalan kurang lebih sepuluh menit; sudah bisa mandi sendiri; ambil makanan dan minuman sendiri. Seminggu terakhir ini saya merasakan nyeri di sepanjang kaki kanan berkurang. Kelihatannya sepele ya, but this is huge for me.

Sebulan lalu, sekeluar dari rumah sakit, saya harus bed-rest total. Mandi, makan, minum, semua diladeni, termasuk buang air. Saya menghabiskan sebagian besar waktu sehari itu dengan tidur karena obat-obatan yang saya minum membuat ngantuk. Lalu saya pelan-pelan mencoba duduk atau berjalan. Ketika masih di rumah sakit saya hanya kuat duduk atau berdiri selama kurang lebih dua menit.

Di rumah, ketika pertama kali mencoba berjalan, saya kuat selama tiga sampai lima menit. "Rekor" ini terus menerus terkoreksi sampai hari ini seperti yang  saya ceritakan di awal tulisan. Dan suwer, saya senang banget, biarpun pergerakannnya lambat seperti kura-kura, yang penting ada kemajuan.

Buat saya, kemajuan sekecil apapun adalah prestasi yang patut dirayakan. Saya berusaha sekuat tenaga untuk tidak berpikir bahwa "saya ambruk", "saya tak berdaya", "semua ini ga berguna", dll, yang intinya negatif melulu (psst, FYI, I am pretty capable of thinking negatively :p).

Sebaliknya, saya terus menerus menyuntikkan pemikiran bahwa "saya sehat", "this is great", "saya hebat", "you can do your best", dll. Saya bersyukur, punya teman -di dunia nyata dan maya- yang tidak henti-hentinya mensupport dengan aura positif mereka. Suwer, kalau nggak ada mereka, saya mungkin sudah memilih cara paling jelek buat mengakhiri hidup (I meant it!).

Ada (banyak) saat-saat dimana saya merasa: "hadiih, kok cuman baring doang yah, ga berguna banget!". Apalagi kalau lihat teman-teman penulis lain menunjukkan buku baru mereka atau melihat teman posting foto travelling mereka. Pada saat-saat seperti itu selalu ada saja yang datang kemudian menyuntikkan kata-kata yang mak nyuss di telinga. Padahal saya nggak curhat lho. Jadi, mereka berbicara tanpa menyadari bahwa perkataan mereka sangat berarti.

Salah satu yang  saya ingat adalah perkataan seorang teman tentang "kemunduran". Tidak ada yang keliru dengan "kemunduran", katanya. Tari "Cha-Cha" yang asyik dan dinamis tidak akan terbentuk tanpa adanya sebuah langkah mundur. Yeay! Kata-kata ini nendang banget!

Ini diperkuat dengan tulisan seorang teman penulis, Femi Khirana, di buku "Biji Sesawi di Rerumputan". Di situ Femi menukiskan antara lain tentang hikmah "kemunduran". Analoginya tentang kisah Thomas yang sedang diperbaiki dalam "Thomas and Friends" benar-benar membuat saya seperti habis dicubit (atau, dikeplak mungkin lebih tepat! :p)

Saya sedang "rusak" dan perlu "perbaikan". Saya perlu "mundur" supaya suatu saat saya bisa "beroperasi" lagi dengan lebih mulus. Saya perlu mengambil suatu langkah mundur supaya bisa menampilkan tarian Cha-Cha yang paling asyik. Oke, sip!

Btw, saya juga nggak tergeletak-tergeletak amat kok. Dalam keadaan "tak berdaya" saya tetap bisa berbuat hal-hal "hebat" (syombyongnya kumat! :p). Saya jadi rajin menulis status. Dan, ada saja yang mengirim inbox, mengatakan bahwa ia suka membaca status-status saya yang lucu (katanya) dan membuat dia tidak merasa sendirian. Saya menulis beberapa puisi galau dan ada saja yang mengatakan diwakili perasaannya oleh puisi saya. Nah, nah, saya tidak setakberguna itu kan? :)

Oke deh, sebelum leher saya patah tak kuat menahan kepala yang membesar, saya mau bilang terima kasih buat orang-orang baik yang Tuhan kirimkan jadi teman saya. Mereka membuat kondisi saya membaik setiap harinya. Yaps, saya tidak (belum) hebat tapi saya membaik di setiap harinya. Saya terbantu karena beberapa "pahlawan" di sekitar saya. Dalam porsi tertentu saya pun jadi semacam "pahlawan" buat orang lain. Saya rasa, lingkaran yang paling indah adalah "lingkaran pahlawan" semacam ini.

Selamat Hari Pahlawan!

***

Pembatuan, 10 November 2014
@agnes_bemoe




Tuesday, 4 November 2014

Tuhan dan Senyum Doggieku

Kata teman baik saya: mudah bersyukur/bersaksi kalau kita sedang senang. Teman saya ini mengutip Andar Ismail, seorang pendeta dan penulis "Seri Selamat" (buku ini isinya keren banget! Saya baca beberapa contoh kisahnya, sumpah langsung ingin mengkoleksinya!).

Kembali ke perkataan teman baik saya (persisnya perkataan Pdt. Andar Ismail). Saya tidak sedang ingin berkotbah tentang makna "bersyukur". Saya hanya mau curcol soal "bersyukur". Bagi saya, bener banget yang dikatakan oleh Pdt. Andar Ismail. Saya teringat betapa gampangnya saya bilang "Tuhan itu baik!" ketika, misalnya, naskah saya lolos ke penerbit; saya sembuh dari sakit; atau dapat voucher belanja. Dalam suasana hati riang, doa saya makin kenceng. Pokoknya gas puol berterima kasih pada Tuhan.

Lalu, saya sakit. Lumayan berat. Lalu saya mengomel-ngomel pada teman baik saya itu. Lalu, ia menceritakan kisah Pdt. Andar Ismail yang di usia mudanya berjuang dengan kebutaan. Lalu, sampailah pada kalimat "mudah bagi kita untuk bersyukur/bersaksi kalau sedang senang".

Ketika sakit, jangankan bilang "Tuhan, Engkau sungguh baik!", berdoa pun saya tak sanggup. Saya berjuang, jatuh bangun (kebanyakan jatuh) untuk mencari dimana kebaikan Tuhan: secara fisik, badan saya sakit semua; saya hanya bisa tergeletak tak bisa berbuat apa-apa; tabungan saya terkuras, sakitnya saya juga menguras energi mereka yang mengurusi saya. Ini bisa jadi litani maha panjang!

Setengah mati saya berusaha merasakan kehadiran Tuhan. Tuhan, Kamu dimana sih? Kok aku kesakitan, ketakutan kayak gini Kamu nggak juga bertindak? Itu yang saya sampaikan di doa saya, secara harafiah. Saya tulis lagi, tanpa edit.

Yaps, sudah saya bilang, ini bukan tulisan tentang heroine iman. Ini curcol iman saya.

Tentu saja ada saat-saat saya merasa kuat. Harus saya akui, saya kuat ketika BERTEMU dan BERBINCANG dengan orang lain. Teman-teman fb, dokter, psikolog, psikiater, suster (nun), suster (nurse), anak saya, dan termasuk teman baik saya tadi. Catatan: tidak semua orang yang saya temui tersebut seiman dengan saya lho. Di situ saya merasakan PENYERTAAN TUHAN. Tuhan hadir melalui orang-orang yang saya temui.

Apa lalu masalah saya selesai? Buat saya, yang imannya seperseribu biji sesawi ini, masih belum.

Apakah berarti saya tidak boleh bersyukur? Kenapa saya, yang sudah bersyukur, masih juga dihajar dengan kesusahan yang tiada akhir?

Lagi-lagi, saya menemukan tulisan tentang Pdt. Andar Ismail di wall teman saya. Tulisan yang isinya menceritakan tentang pergulatan bathin Pdt. Andar Ismail, seperti yang dulu pernah secara lisan diceritakannya pada saya.  Tulisan ini memancing saya untuk berpikir. Saya mungkin harus mendefinisikan ulang konsep "Tuhan Baik" sebagai pemicu ucapan syukur saya. "Tuhan Baik" kalau saya menerima sesuatu yang enak (secara fisik dan psikis). Tidak heran saya gampang bersyukur kalau menerima rezeki nomplok, misalnya.
Mungkin, mungkin nih, Tuhan juga baik ketika saya "diberi" sakit (lengkap dengan seluruh perasaan tidak enaknya dan krisis ekonomi yang menyertainya). Baiknya dimana? Enaknya dimana?

Waktu kecil jari jemari saya susah sekali menuliskan angka 1. Sekarang, saya bisa menulis sampai pegel. Kalau terbiasa dengan sesuatu yang lebih besar, lebih hebat, lebih luar biasa, yang sederhana jadi terlihat sepele dan tak bermakna (dan karenanya, tak perlu disyukuri).

Saya terbiasa "melesat", punya target lalu dhass dhess... tercapai! Bersyukur. Bikin target baru!
Saya lupa pada hal remeh-temeh yang bisa saya syukuri: pagi-pagi bisa senyum sendiri baca status teman yang lucu; bisa bersin (tanpa meringis), bisa ambil minum sendiri, ngeliat wajah Oscar dan Ocha yang lucu (mereka doggies). Ya, jangankan anda, saya aja heran dengan daftar saya itu. Kalo yang seperti itu sih, semua orang juga punya. Apa hebatnya?

Gak ada hebatnya, buat saya setahun lalu. Sekarang, bisa senyum sendiri dengan perasaan geli, itu mukjizat (banyak hal yang tidak bisa saya ceritakan secara detail tapi percayalah saya tidak sedang lebay).

Intinya, saya sedang belajar mendefinisikan ulang makna "Tuhan Baik" buat saya. Bisa jadi saya keliru berat dengan persepsi ini. Bisa jadi, kalaupun benar, saya akan menghadapi roller-coaster yang lain lagi. Ya, saya butuh banyak belajar lagi.


***

Pembatuan, 5 November 2014
@agnes_bemoe


Monday, 3 November 2014

Masih Bolehkah Aku Memanggilmu dengan Kata "Sayang"?



Sayang,
(Masih bolehkah aku memanggilmu dengan kata "sayang"?)

Sungguh, aku tak mengira lelaki sepertimu akan pernah ada. Engkau tidak hanya tampan, tapi juga cerdas, periang, dan lucu. Dan di atas segalanya engkau sangat baik. Engkau mengajariku untuk selalu berpikir positif. Engkau selalu punya cara unik untuk melihat permasalahan dari sudut yang paling baik. Engkau mengajariku untuk tidak buru-buru menghakimi orang. Engkau selalu punya kata-kata paling lembut untuk menguatkanku ataupun meredakan gusarku.

Dapat diduga, sangat mudah bagiku untuk jatuh cinta padamu. 

Lalu, aku mengetahui bahwa engkau sudah tidak sendiri lagi. Ah, aku sungguh kecewa dan ingin segera menarik diri. Namun, tak kusangka akan sesulit itu. Berkali-kali mencoba, selalu berakhir dengan jatuhnya aku kembali ke pelukanmu. 

Pelukanmu. Tempat terhangat yang pernah aku rasakan. Tempat paling indah yang membuatku sejenak lupa bahwa suatu saat aku akan kehilanganmu. 

Berkali-kali aku memikirkan saat ini, saat paling mengerikan ini: saat aku harus mengembalikanmu pada dia yang lebih dahulu memilikimu.

Aku tersentak ketika  saat itu datang juga. Datang bersama rajaman yang membuat ngilu setiap kali aku bernapas. 

Awalnya engkau tak mau lagi menemuiku pada akhir pekan. Waktu biasanya kita menghabiskan malam dalam kehangatan yang paling memabukkan.

Lalu, engkau tak lagi menyapaku lewat surat-suratmu. Surat yang isinya sanggup merontokkan hatiku, membuatku tambah merinduimu. Engkau mulai enggan diajak bicara soal harimu ataupun mendengar apa yang kulakukan seharian.

Aku tahu, hari ini akan datang. Aku tak pernah tahu ternyata sebegini menyakitkan.

Ketika engkau tak lagi membalas surat-suratku dan tak lagi mengangkat teleponku, aku mengerti. 

Biar bagaimanapun juga, aku berterima kasih pernah mengenalmu. Engkau adalah pria termanis yang pernah kutahu. Bila harus mengulang kembali semuanya, aku tidak akan mengubah sedikitpun apa yang sudah kulakukan bersamamu. Sedetikpun tak kusesali pertemuan denganmu. 

Bersama surat ini kukirimkan buku ini. Ingat pembicaraan kita tentang kesukaanmu akan sejarah? Aku ingat engkau sangat ingin memiliki buku ini. Setelah menabung beberapa saat akhirnya terbeli juga olehku.  Kuharap engkau senang. 

Sungguh, aku ingin menukar nyawaku dengan kesempatan untuk melihat sendiri binar matamu saat memegang buku ini. Tolong simpan, demi secuil masa lalu yang pernah kita lalui bersama. 

Kutitipkan rinduku, sayangku, doaku di setiap lembaran yang kaubuka dan kaubaca. Kuharap jemarimu merasakan uluran tanganku, mencoba menggapaimu lewat buku kesukaanmu ini.

"Cintaku tak pernah mati, sayang, ia berubah jadi puisi." Itu yang pernah kau katakan padaku. Sayang, bila aku bisa menulis puisi sepertimu, engkau adalah puisi terindah yang pernah kutulis. Dan puisi itu, tak akan pernah selesai....

Salamku,
Riri


Tanganku bergetar hebat. Pasti bukan hanya karena Parkinson yang kuderita. Tigapuluh tahun aku tak pernah punya keberanian untuk membuka paket ini. Aku terlalu pengecut untuk menghadapi kerumitan yang ada di depanku. Keberanian kudapatkan setelah istriku meninggal sebulan yang lalu.

Kembali tanganku bergetar hebat. Kucoba membuka buku itu. "Untuk Fito", hanya itu tulisan di lembar pertamanya. Tulisan yang sangat rapi dan halus. Dengan tangan yang makin bergetar kucoba mengusap tulisan itu selembut mungkin. 

"Tell me, tell me that your sweet love hasn't died,
 Give me, give me one more chance
To keep you satisfied, satisfied..."
Suara Michael Bublé dari CD-Player menelusup pelan.

Di luar, hujan bulan November berjatuhan menerpa kaca jendela. 

Derunya membawa sebentuk puisi paling indah yang pernah kutulis, keluar dari relung hatiku yang paling dalam.

***

Pembatuan, 3 November 2014
@agnes_bemoe

Cat: Lagu dicuplik dari lagu "You Were Always on My Mind", dipopulerkan pertama kali oleh Elvis Presley.





Monday, 27 October 2014

Mimpi

Aku tak mau bermimpi sendirian maka kuajak kunang-kunang untuk bermimpi bersamaku.
"Apa mimpimu?" Tanyaku pada kunang-kunang.
"Ah, kamu akan bosan mendengarnya."
"Try me."

Kunang-kunang menghela napas sejenak.
"Aku mimpi bertemu dengan pemuda, eh, kunang-kunang jantan yang tampan. Sepasang mata cokelatnya sangat hangat. Lesung pipinya menambah ketampanannya..."
"Eh, kunang-kunang juga punya lesung pipi dan mata cokelat?"
"Kamu mau ndengerin mimpiku, nggak?" Kunang-kunang merengut.
"Ups, iya deh, maaf..."
Kunang-kunang menghela napas lagi.

"Kami jalan bersama. Dia ternyata teman yang sangat menyenangkan. Dia periang, lucu, dan hangat. Hatinya sangat lembut. Dia juga teman ngobrol yang sangat menyenangkan."
Kulihat mata Kunang-kunang berbinar ketika menceritakan pria, eh, kunang-kunang jantan yang jadi temannya itu. Aku bahkan bisa merasakan deburan jantungnya.

"Kamu jatuh cinta padanya ya?"
Alih-alih menjawab, Kunang-kunang melanjutkan ceritanya.

"Perjalanan kami sangat menyenangkan. Aku belajar banyak hal baik dari dia, si Kunang-kunang bermata cokelat. Aku merasa sangat nyaman bersamanya. Banyak kecocokan kami. Kurasa kami ini soul mate...."

Hah? Kunang-kunang juga mengenal istilah "soul mate". Namun aku tak berani membantah. Kulihat Kunang-kunang sangat serius dengan ceritanya.

"Sampai suatu saat dalam perjalanan kami aku akhirnya mengetahui. Dia sedang mencari kekasihnya. Hatiku hancur mendengarnya. Namun, aku memutuskan untuk tetap menemaninya. Dia sedang butuh kawan dalam pencarian kekasihnya itu."

Kudengar suara Kunang-kunang mulai memelan. Matanya mengerjab-ngerjab, berusaha menyembunyikan titik-titik air mata.

"Lalu, pelan-pelan ia mulai menjauh. Dan kemudian, hilang sama sekali. Kurasa, ia sudah menemukan kekasihnya...."

Kami sama-sama terdiam.

"Engkau tidak sedih?"
Kunang-kunang menatapku. Ada kilau muram di situ.

"Tanyakan bagaimana perasaan senja bila malam tak menyambutnya. Bagaimana perasaan sabana bila kuda-kuda tak lagi bergemuruh di atasnya. Perasaan burung bila pagi tak lagi menunggu kicaunya. Perasaan bunga bila semesta tak lagi mengenali wanginya. Perasaan samudra bila ikan tak lagi ingin menjelajahinya. Perasaan..."

"Iya, iya, aku mengerti. Aku mengerti." Tenggorokanku tercekat. Kunang-kunang menukas cepat.
"Tidak, engkau tak mungkin mengerti. Hanya angin yang mengerti rapuhnya dedaunan yang jatuh..."

Aku terbangun. Astaga, kenapa mataku basah? Kenapa hatiku seperti mau pecah? Hanya Kunang-kunang yang akan mengerti perasaanku.

"Tidak. Engkau tak mungkin mengerti. Hanya angin yang mengerti rapuhnya dedaunan yang jatuh...." Terngiang kembali kata-kata Kunang-kunang di mimpiku. Mataku makin basah.

***

Pembatuan, 28 Oktober 2014
@agnes_bemoe