Friday, 30 June 2017

1 Juli



Sejak tahun 2010, 1 Juli bagi saya bukan lagi hari biasa. Saya melihatnya dengan cara berbeda dan saya selalu suka mengenangnya.

Satu Juli 2010, pagi hari,  saya memutuskan untuk tidak mau duduk berpangku tangan. Saya harus melakukan suatu kegiatan. Nothing changed! The sun was still shining there for me. None of their filthiness would stop me (saya mencabut sangkur pada yang memperlakukan saya dengan buruk).

Tidak ada tumpukan jadwal, pembagian tugas guru, dan bahkan laporan keuangan bulanan seperti tahun-tahun sebelumnya, but, you know what, I am more than piles of duty you've dumped to me.

Saya memutuskan untuk MENULIS. Bukan jadi penulis ya, hanya menulis.

'Cuma' menulis yang saya bisa. Maka, saya mengerjakannya dengan penuh determinasi dan kegembiraan.

Biasanya saya menulis puisi, cerpen, atau tulisan refleksi-motivasi. Saya TIDAK PERNAH menulis cerita anak. Hari itu, tanggal 1 Juli 2010, saya kedatangan ide cerita berbentuk cerita anak. Jujur, saya tidak mengaturnya supaya jadi cerita anak. Konsep itu datang begitu saja.

Kisahnya tentang seekor burung pipit kecil bernama Pita yang menghadapi intrik dan kekejian di Istana Raja Kishin.

Hari itu saya menulis, jadi 1 cerita. Langsung saya posting di facebook. Besoknya, saya tulis lagi 1 cerita lalu posting. Dan seterusnya setiap hari, sampai sekitar 20-an hari lalu saya menyadari bahwa respon yang saya dapatkan ternyata positif. Teman-teman yang baca suka cerita ini.

Saya pun ge-er. Apalagi ketika seorang editor dari sebuah penerbit mayor menyarankan untuk mengirimkan naskah itu ke penerbitnya untuk di-review. Ge-er-meter saya jebol!

Naskah Pita memang tidak berjodoh di penerbit tersebut. Pita terbit secara indie di LeutikaPrio tanggal 1 Desember 2010.

Ketika terbit, salah seorang mantan murid saya mendoakan: semoga ini menjadi awal bagi judul-judul berikutnya. Doa anak manis tersebut terkabul. Beberapa judul menyusul setelah Pita. April lalu barusan terbit "Ring of Fire" di Gramedia Pustaka Utama.


Bila melihat sebuah buku saya terbit, mau tak mau saya teringat Pita. Saya tidak pernah merencanakan jadi penulis buku anak. Pita membantu saya melihat panggilan saya yang satu ini, bahkan ketika saya sedang 'buta'. Dan itu semua bermula di suatu pagi di tanggal 1 Juli.

Sejak tahun 2010, 1 Juli bagi saya jelas dan tidak akan pernah jadi hari yang biasa buat saya.

Puji Syukur dan terima kasih saya sampaikan pada Yesus dan Maria, pada para kudus yang tak hentinya saya mintai jadi perantara: St. Yosef, St. Antonius a Padua, St. Malaikat Gabriel, dan Santa Germaine de Pibrac.

Terima kasih pada para pembaca pertama saya. Di antaranya yang saya ingat karena ketulusan dan supportnya: Fonny Jodikin, Femi Khirana,  Bhudi Tjahja, Fidelis R. Situmorang, Christine Thilio Arwan, Mulyani Kurniaty, dkk.



***

Pembatuan, 1 Juli 2017
@agnes_bemoe

Tuesday, 27 June 2017

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: PERNIK ASYIK MARIA SYAUTA

Judul Buku                  : Pernik Indah di Kain Hidupku
Penulis                         : Maria Syauta
Jenis                            : Motivasi

Pernik Indah di Kain Hidupku - Maria Syauta

Dalam kehidupan yang serba sibuk dan bising, banyak hal kecil dilewati, dianggap remeh, lalu dilupakan begitu saja. Maria Syauta memilih jalan berbeda. Ia memilih berhenti sejenak, menajamkan telinga, melihat lebih dalam, lalu ‘mengunyahnya’. Kunyahannya itulah yang dikumpulkan menjadi duapuluh sembilan tulisan di buku ini.
Sebuah lorong ICU yang bersebelahan dengan ruang bersalin di sebuah rumah sakit, misalnya, yang sehari-harinya adalah hal yang amat sangat lumrah mengantar Maria Syauta pada permenungan tentang siklus hidup manusia. Lahir dan mati. Suka dan duka. Datang dan pergi. Semuanya itu adalah satu paket keniscayaan yang tidak bisa dielakkan oleh manusia. Kalimat seperti ini mungkin sering terbaca di berbagai tulisan. Namun, pernahkan kita hening sejenak merasakan maknanya?  
Buku ini asyik dibaca terutama karena mengangkat hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Diawali dengan kutipan lagu atau puisi, setiap tulisannya memaparkan perjalanan refleksi penulisnya dengan ringan. Penulisannya ringkas dan tidak bertele-tele. Tulisannya pendek dengan bahasa yang efektif. Karenanya, beberapa tulisan di dalamnya langsung menjadi favorit saya. Sebut saja “Don’t Give Up” di halaman 35 atau “Komitmen Cinta 40 Hari” di halaman 89.
Selain isinya yang menyenangkan, saya ingin secara khusus mengangkat topi pada kualitas bahasa yang digunakan Maria Syauta. Bila pengamatan saya tidak keliru, buku ini tidak menggunakan editor profesional. Namun demikian, saya nyaris tidak menemukan kesalahan berbahasa yang memalukan. Menurut saya, sudah saatnya yang mengaku penulis konsekuen dengan kualitas pembahasaannya. Dan, saya sangat menghargai Maria Syauta dalam hal ini. Ini menjadi standar baru yang akan mengangkat martabat buku-buku indie.
Bila saya boleh menyampaikan kritik, yang mengganggu buat saya adalah jumlah endorsement di bagian awal. Saya pernah menemukan buku-buku serupa dan saya menamainya buku dengan “entrĂ©e yang terlalu berat pada jamuan three-courses meal”. Karena isinya cenderung sama, pembaca ‘kekenyangan’ sebelum menikmati isi buku sebenarnya. Saya memilih memanfaatkan endorsement sebagai pemancing terhadap isi. Karenanya, satu, dua, atau tiga buah yang benar-benar ‘nonjok’ akan lebih menyegarkan dan bermanfaat.
Namun demikian, terlepas dari kekurangannya (yang mungkin juga selera pribadi saya), saya menikmati buku ini. Mengutip yang dikatakan Fidelis R. Situmorang –salah seorang endorser-: buku ini sangat saya rekomendasikan kepada para pembaca karena sebenarnya semua orang mengalaminya dan pemaknaannya tergantung pada semua pengalaman dan input yang masuk entah tersaring secara spiritual atau tidak. Buku ini menjadi cerminan dan tuntunan yang sangat apik bagi kita untuk memaknai kehidupan kita sehari-hari. Highly recommended! (db)

***

Pembatuan, 28 Juni 2017

@agnes_bemoe

Sunday, 25 June 2017

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: INFORMASI VERSUS IMAJINASI

Judul Buku                  : Empat Pintu
Penulis                         : Afifah Rosyad, Intan Raksaprawira, Va Madina, Udo Indra
Penerbit                       : The AR Publishing, 2017
Jenis                            : Kumpulan Puisi (Antologi)



“Ada daun jatuh, tulis!” Begitu kata Saut Sitompul dalam puisinya “Puisi”.
Puisi sejatinya ungkapan rekaman penulisnya tentang dirinya dan atau hal-hal yang terjadi di sekelilingnya. Rekaman itu bisa sesederhana sehelai daun yang jatuh atau sekompleks sebuah perang dan pertikaian. Antologi puisi “Empat Pintu” merekam dengan jeli segala peristiwa yang dialami atau terjadi di sekeliling para penulisnya.
Rentang ragam ini dicerminkan dalam judulnya, Empat Pintu, yang menunjukkan bahwa buku ini memberi panggung tersendiri bagi kekhasan setiap penulisnya yang berjumlah empat orang itu. Hal itu menjadikan buku ini seolah kumpulan empat buah buku kecil yang dijadikan satu.
Dari keempatnya, most favorite saya adalah puisi-puisi Intan Raksaprawira di pintu kedua. Membaca puisi-puisi Intan, saya merasa bertemu dengan harmoni yang sama. Harmoni itu anehnya diciptakan oleh kata-kata yang ‘tidak sepenuhnya saya mengerti’ bila harus menggunakan akal namun saya merasakannya.
Saya suka pada kenyataan bahwa kata-kata yang dirangkaikan Intan seolah mempunyai sayap yang membawa saya terbang bebas pada penafsiran dan atau indentifikasi. Intan, bagi saya, merekam dengan jeli apa yang sedang dia alami atau terjadi di sekelilingnya lalu meramunya menjadi sesuatu yang bisa dirasakan oleh orang lain (saya). Saya menghargai bahwa Intan tidak menjejali pembacanya dengan informasi atau pengajaran seperti yang ia inginkan. Intan menuliskannya dan membiarkan pembaca mengunyah dengan kenikmatan masing-masing. Saya menikmati kematangan Intan dalam mengolah kata-kata. Kelihatan sekali Intan meluangkan waktu untuk mengendapkan semua informasi yang dimiliki sebelum akhirnya menuangkannya dalam sebentuk puisi.
Seperti Natal dan Sabatmu, aku termangu
Aku enggan pulang
Sejak dulu aku benci mengalah
Benci satu kata pecundang yang sering kali diputar di kepala,
kekalahan
(Rahim, Hal. 36)
Apa kemungkinan makna yang muncul dari kata ‘rahim’, ‘natal’, ‘sabat’? Bisa berjuta makna. Intan pasti punya makna spesifiknya buat dia sendiri. Bagi saya, percikan ironi yang tersirat dalam puisi ini sungguh melontarkan saya pada imajinasi yang bermacam-macam. Dan bagi saya yang hanya seorang penikmat puisi, itulah keasyikan membaca puisi: pembaca diberi langit maha luas untuk dijelajahi. Ini adalah satu contoh kecil mengapa saya sangat menikmati puisi-puisi Intan Raksaprawira.
Bila ada yang paling saya suka, ada juga my least favorite poems. Dan itu adalah puisi-puisi Afifah Rosyad di pintu pertama. Afifah terampil merekam hal-hal yang dialaminya atau terjadi di sekelilingnya. Namun demikian, menurut saya, puisi-puisi Afifah akan jauh lebih baik bila dituliskan melalui proses pengendapan dan pematangan. Membaca puisi-puisinya, pembaca langsung tahu apa yang sedang dibicarakannya. Ini, buat saya, mempersempit ruang interpretasi, apalagi kalau kebetulan interpretasi akan suatu peristiwa tidak sama dengan yang dipaparkan oleh puisi. Pembaca jadi penadah informasi, tanpa ruang imajinasi. Tanpa imajinasi, di mana puisi berdiri?
Di antara keduanya ada puisi-puisi Va Madina dan Udo Indra. Tidak semua puisi-puisi yang mereka tuliskan bisa saya nikmati walaupun terus terang saya menyukai permainan kata dan bentuk puisi yang mereka tawarkan, terutama pada puisi-puisi Udo Indra. Coba simak contoh yang satu ini:
TAFSIR
Tanda Tanya menghadapi Titik.
(Udo Indra)
Ini sebentuk puisi yang sangat pendek, hanya satu baris. Memang bukan sesuatu yang otentik dalam bentuk. Namun demikian, permainan bentuk seperti ini membuat pembaca lebih lama tercenung untuk menelusuri relung kata-katanya. Dan itu mengasyikkan.
Demikianlah “Empat Pintu” bagi saya. Bila anda juga seorang penikmat puisi seperti saya, tidak ada salahnya anda mengkoleksi buku ini. Bila anda pecinta imajinasi lewat kata-kata, buku ini adalah teman yang tepat! (db)

***

Pembatuan, 25 Juni 2017

@agnes_bemoe

Sunday, 28 May 2017

BEHIND THE SCENE [BTS]: Ring of Fire - Dari India ke Sinabung



Tahun 2013 saya baca sebuah buku berjudul "Selvakumar Knew Better". Buku yang saya beli di AFCC 2013 ini bercerita tentang tragedi tsunami di India. Penulisnya bukan orang India melainkan seorang Amerika, bernama Virginia Kroll. Baca resensi saya di sini.



Setelah menikmati ceritanya yang menawan dilengkapi dengan ilustrasi yang menakjubkan, saya tercenung sendiri. Tsunami yang sama juga menghantam Indonesia. Namun, belum ada satu ceritapun mengangkatnya.

Tidak hanya sebagai dokumentasi, cerita-cerita semacam ini bisa menjadi pegenalan untuk anak-anak tentang alam tempatnya tinggal, termasuk mengenali potensi bencananya.

Inilah yang menuntun saya pada ide penulisan bencana-bencana alam yang potensial menerpa Indonesia, yang secara geografis memang terletak di jalur Ring of Fire.



EKSEKUSI MACET
Biarpun mendapatkan idenya mudah, saya mengalami kendala di eksekusinya. Kendalanya adalah saya terseret untuk menulis cerita-cerita yang terlalu gelap. Saya membacanya pun tidak nyaman, apalagi anak-anak. Saya ingin ceritanya tetap manis dan informatif, mirip seperti "Selvakumar Knew Better". Berkali-kali saya coba, ceritanya selalu beratmosfer gelap.

Akhirnya, saya berhentikan penulisannya. Apalagi saat itu (2013 - 2015) saya juga kurang sehat.

DIPAKSA SINABUNG
Tahun 2015, Sinabung meletus. Saya teringat akan naskah yang saya tinggalkan. Saya merasakan ada urgensi untuk menyelesaikan naskah ini. Bencana alam bertubi-tubi tapi minim sekali informasi standar untuk keselamatan, terutama untuk anak-anak.


Meletusnya Sinabung didukung dengan kesehatan yang membaik membuat saya kembali mengotak-atik naskah ini.
Untuk menjauhkan dari "potensi kegelapan", saya ubah cerita-ceritanya dari realis menjadi lebih imajinatif. Contohnya, cerita "Wedhus Gembel" awalnya berisi cerita seorang anak yang selamat dari kejaran awan panas (sudut pandang dari si anak). Cerita itu saya ubah menjadi seekor "wedhus gembel" yang berusaha menyelamatkan seorang anak (sudut pandangnya adalah si wedhus gembel).


Mengubahnya menjadi lebih imajinatif ternyata membantu saya menuliskannya dengan lebih ringan. Saya menuliskannya dengan enak. Dan saya harap, yang membacanya juga merasakan hal yang sama.

ILUSTRASI YANG MEMABUKKAN
Ide buku ini saya sukai. Menuliskannya (akhirnya) saya nikmati. Nah, seperti cherry on my ice-cream, ilustrasi buku ini ternyata mengasyikkan buat saya. Saya tak menyangka kalau akan tenggelam dalam keseruan menikmati ilustrasinya!

Saya dibantu oleh Audelia Agustin (Rokatenda Menari), Gery Adams (Ketika Sinabung Batuk), Dian Ovieta (Monster Air), InnerChild Std. (Kapten Oscar), dan Maman Sulaiman (Wedhus Gembel). Semuanya menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang imut namun hidup.

Ambil "Rokatenda Menari", misalnya. Karakter "Rupak"nya unik sekali, khas menggambarkan Indonesia, bahkan Flores. "Indonesia banget" ini memang tujuan saya karena saya ingin menonjolkan keindonesiaannya.


Lalu, tsunami di "Mosnter Air". Ini adalah tsunami paling imut yang pernah saya lihat! Cocok bagi anak, tanpa mengurangi pesan untuk waspada.


TERBIT
Biarpun proses penulisannya lama (2013 - 2016), proses terbitnya cukup cepat. Syukurlah!

Maret 2017 "Ring of Fire" diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Mudah-mudahan buku ini diterima oleh anak-anak Indonesia. Tidak untuk kepentingan komersil saja tapi juga untuk tujuan awal: anak-anak perlu kenal dengan kondisi alam Indonesia dan potensi bencananya, sebab inilah yang akan mereka hadapi.

Mudah-mudahan para orang tua dan guru membantu saya menyampaikan ini pada anak-anak :)


***

Pembatuan, 29 Mei 2017
@agnes_bemoe

Thursday, 20 April 2017

OLEH-OLEH APA DARI KUANSING?

Jujur, saya tidak sempat secara khusus mencari oleh-oleh khas Kuansing. Namun, pengalaman seuprit ini mungkin bisa jadi gambaran bila ingin mencari oleh-oleh.
Krupuk Sagu, Seberang Taluk, Taluk Kuantan

KRUPUK SAGU
Umumnya, makanan kecil yang bisa jadi oleh-oleh yang menarik adalah penganan berbahan dasar ketan, seperti lomang (lemang) atau lopek (lepat). Sayang sekali, saya tidak sempat membawa pulang penganan-penganan itu.
Namun, saya berjodoh dengan yang satu ini: Krupuk Sagu. Ini makanan ringan, gurih, dan comforting. Buat saya, makanan ini mengingatkan akan masa kecil saya (ini makanan masa kecil :D).

Saya kurang tahu, apakah di pertokoan ada, tapi saya mendapatkannya dari seorang ibu pengusaha Krupuk Sagu yang tinggalnya di Seberang Taluk. Dengan hanya Rp. 10.000,- kita sudah mendapat satu bungkus besar Krupuk Sagu.

MAS TALUK
Sepanjang yang saya tahu, mas Bagansiapiapi (Rokan Hilir) adalah mas yang bagus. Ternyata kota Taluk Kuantan juga menghasilkan mas yang tinggi mutunya.
Bila anda suka berinvestasi di logam mulia, mungkin bisa dipertimbangkan membawa pulang mas Taluk. Catatan, berbeda dengan di Jawa, di Sumatera mas diukur dengan satuan mas, bukan gram. Satu mas sekitar 2 - 3 gram.

OLAHAN DURIAN
Durian memang jadi buah khas Riau. Tidak heran kalau Taluk Kuantan menyediakan berbagai penganan berbahan dasar durian. Untuk olahan durian, anda bisa membawa pulang pancake durian. Tapi, tanyakan dulu bisa tahan berapa jam di luar freezer.
Pancake durian ini adalah daging durian yang dibungkus crepe basah. Rasanya manis dan gurih durian. Enak!

KERAJINAN TANGAN MOTIF TAKULUAK BAREMBAI
Nah, yang ini saya tertarik banget, sayangnya belum ada (belum banyak).


Btw, "Takuluak Barembai" adalah motif hiasan pada baju khas perempuan Kuantan. Motif itu disusun dari renda biku (renda yang bentuknya berkelok-kelok), dengan warna pakem hitam, emas/kuning, merah, dan putih, di atas dasar hitam.

Motif ini diterakan pada busana perempuan. Namun demikian, sekarang motif ini dipakai untuk yang lain, misalnya tas tangan. Sayangnya, belum ada produksi partai besar untuk ini. Saya yakin sekali, penggila motif etnik akan ngiler berat melihat tote bag, atau tas tangan, atau clutch motif Takuluak Barembai ini.

Begitulah kira-kira oleh-oleh yang bisa kita bawa dari Taluk Kuantan. Seru, 'kan?

***

Rantau Kuantan, 18 April 2017
@agnes_bemoe

Catatan: Foto Takuluak Barembai milik Wigati Isye

DI KUANSING, MAKAN APA?

Secara umum, makanan yang banyak di Kuansing adalah masakan Padang dan Melayu. Keduanya mirip -kaya rempah, bersantan, dan pedas- tetapi tidak persis sama. Ada hidangan-hidangan tertentu yang menjadi 'signature dish' yang membuat kita tahu itu masakan Padang atau Melayu (mirip-mirip perbedaan RM Padang dengan RM Kapau atau Lintau; orang luar menyamakan sebagai "Nasi Padang" padahal dari beberapa hidangan khasnya kita tahu itu a la Padang, Kapau, atau, Lintau).

RM Salero Kampuang, Taluk Kuantan

Saya beruntung mencicipi hidangan khas Melayu Kuansing yaitu di RM Salero Kampuang, dengan hidangan khasnya Gulai Cipuik (Gulai Siput). Siput yang digunakan di sini adalah siput sawah. Bentuknya bulat kecil berwarna hitam. Konon, siput sawah ini adanya musiman (belum dibudidayakan) sehingga Gulai Cipuik juga menjadi hidangan musiman.

Rasanya seperti gulai-gulai pada umumnya; gurih, pedas, dengan rasa asam selayang dari terong asam yang ikut dicampurkan ke gulai. Terong asam ini juga sayuran khas Kuansing. Awalnya saya menduga ini terong biasa yang bisa kita jumpai di pasar. Ternyata tidak sama. Terong asam ini bentuknya mirip tomat hijau dengan rasa yang masam.

The Signature Dish: Gulai Cipuik


Yang nikmat dari Gulai Cipuik sebenarnya cara menyantapnya. Siput dimakan dengan cara disedot supaya dagingnya keluar dari cangkang. Nah, fase ini yang menantang. Kadang-kadang daging siput mudah diisap namun lebih sering ia bertahan di dalam cangkang.

Rasa daging siput itu sendiri tidak terlalu kentara (mungkin juga karena pengaruh kuah gulai), agak earthy menurut saya yang bila dipadukan dengan kuah gulai dan terong asam menjadi perpaduan yang enak. Party in your mouth deh!

Btw, untuk di RM Salero Kampuang sendiri, bila anda sedang tidak ingin masakan berkuah santan, cobalah ayam goreng kampungnya. Ini saya berani rekomendasikan karena enak banget!



Ayam kampung sendiri pada dasarnya sudah enak; dagingnya gurih dan tidak eneg. Bumbu ayam goreng ini minimalis sekali (saya duga sih garam dengan bawang putih saja). Namun, bumbu itu meresap cukup dalam dan merata membuat ayam terasa nikmat. Cukup dengan Lado Tanak (sambal cabe hijau), anda bisa nambah berulang-ulang!

Bila anda sedang ingin jajan, tempat berikut ini bisa anda pertimbangkan: Dapoer Saloni di Jl. A. Yani, Taluk Kuantan. Saya menemukannya secara tidak sengaja. Sehabis mengisi bensin, saya tertarik dengan dekorasi Dapoer Saloni yang unik. Lebih tertarik lagi saya melihat ternyata hidangannya adalah berbagai variasi es durian! Wah, sebagai penggila durian, saya tidak boleh melewatkan ini! Kebetulan saat itu panas terik di Taluk Kuantan. Tidak ada yang lebih cocok selain semangkuk es!
Es Campur Durian

Dan, es duriannya memang enak. Manisnya seimbang dengan durian yang nonjok lezatnya. Harganya juga tidak mahal, RP. 15.000,- untuk semangkok es campur durian.

Selain berbagai variasi es durian, disediakan juga berbagai makanan berbahan dasar durian. Sayangnya waktu itu saya sudah kenyang. Namun, buat para petualang kuliner, sepertinya harus coba yang ini deh!
Dapoer Saloni, Taluk Kuantan


Saya tidak sempat mencoba tapi saya lihat Pecel Lele cukup banyak di Taluk Kuantan. Ini bisa jadi alternatif tempat makan yang lumayan menyegarkan. Yang saya belum ketemu (mungkin juga karena saya tidak benar-benar mencari) adalah sate ayam/kambing yang a la Madura dan Chinese Food.

Namun demikian, jangan kawatir selera kuliner kita tidak terpuaskan. Asal tidak super picky atau ekstrim advonturir, kita bisa menikmati lezatnya kuliner Kuansing.

***

Rantau Kuantan, 18 April 2017
@agnes_bemoe

Wednesday, 19 April 2017

KEMANA KE KUANSING? #2

Hari kedua, saya ditawari mengunjungi air terjun Guruh Gemurai di Kasang, Lubuk Jambi, di Kec. Kuantan Mudik. Sebenernya saya ngiler berat. Saya lebih suka wisata alam seperti ini daripada wisata belanja. Sayang sekali, saya harus memperhitungkan kondisi pinggang yang sedang sowak. Saya berharap, suatu saat saya akan cukup kuat untuk menjalani medan menuju air terjun ini (menurut informasi, medannya cukup berat).

Ada 2 air terjun yang bisa dinikmati di Kuansing. Selain Air Terjun Guruh Gemurai ada lagi Air Terjun Tujuh Tingkat Batang Koban di Kec. Hulu Kuantan.

Desa Wisata Koto Sentojo

Kami akhirnya menuju ke lokasi Desa Wisata Koto Sentajo. Di sini kita bisa melihat masyarakat Melayu Kuantan asli, lengkap dengan penghidupannya. Di sepanjang kampung berjejer rumah-rumah adat asli, lengkap dengan dapur dan lumbung. Rumah-rumah itu dibangun dari kayu hutan asli (bukan beton) dan sudah berumur puluhan tahun. Di sebuah sisi terdapat sebuah masjid dan di sebelahnya ada semacam aula untuk masyarakat bermusyawarah.

Desa Wisata Koto Sentojo

Satu hal yang menarik perhatian saya adalah atap masjid. Tidak seperti masjid Indonesia pada umumnya yang menyerap gaya Timur Tengah, masjid di lokasi ini mirip Masjid Agung Demak, dengan atap bersusun meninggi ke atas. Saya kurang tahu, gaya ini memang terpengaruh dari Jawa, atau bagaimana.

Kami memutari kompleks desa wisata yang unik dan asri itu. Senang rasanya bisa menikmati atmosfer Melayu yang masih asli seperti itu.

Rangkiang, atau Lumbung Padi masyarakat Sentojo

Dua hari di Kuansing, baru tempat-tempat di atas itu yang bisa saya kunjungi. Jujur: tidak puas! Semoga saya bisa kembali lagi, kali ini sendiri -atau dengan teman yang menyenangkan untuk diajak berpetualang- supaya bisa lebih exploratif. Selain ingin mengunjungi air terjun, saya juga ingin melihat makam Syekh Angku Angin di Kec. Hulu Kuantan, ingin melihat tradisi Perahu Baganduang di Koto Lubuk Jambi, ke Air Panas Sungai Pinang di Kec. Hulu Kuantan, ke Hutan Bukit Baling dan Bukit Rimbang di Kec. Singingi, serta ke beberapa danau seperti Danau Kebun Nopi, Danau Masjid Koto Kari, dan Danau Rawang Udang.

Sedikit tips untuk teman-teman yang berniat ke Kuansing: kita harus punya kendaraan sendiri karena tidak ada kendaraan umum. Lebih baik kalau punya pemandu dari masyarakat setempat. Perjalanan kami terasa bermanfaat dan menyenangkan karena dipandu oleh Ibu Wigati Isye dan Bpk. Dedi yang asli Kuansing.

Selama di Kuansing kami menginap di Wisma Hasanah di Jl. Perintis Kemerdekaan (belum ada chained-hotel). Dengan rate Rp. 400.000,- per malam (rate tertinggi), kita sudah mendapat fasilitas sarapan pagi, kamar besar (bisa untuk 3 orang karena disiapkan juga sebuah dipan kecil selain sebuah tempat tidur besar), ber-AC, kulkas, dan dispenser. Sayang sekali, tidak disertakan gelas minum dan perlengkapan lain seperti tissu atau keranjang sampah. Yang juga disayangkan adalah air panas dan wi-fi yang belum terlalu lancar. Namun, secara umum, penginapan ini bersih, petugasnya ramah (ini yang paling penting), dan dekat dengan kota.

Bagi yang dari luar Sumatera, Kota Taluk Kuantan bisa dicapai dengan berkendara dari Pekanbaru. Perjalanan menghabiskan waktu sekitar 4 jam. Kalau teman-teman mau lanjut, dengan jarak tempuh 2 jam teman-teman sudah bisa mencapai Sumatera Barat.

Ada sedikit "jebakan betmen" ketika kita masuk daerah Singingi dari Kampar. Jalanannya berliku-liku, mirip Kelok Sembilan di Sumatera Barat. Red zone bagi yang kurang fit. Tapi selebihnya, perjalanan lumayan menyenangkan kok, dengan rimbunan hutan karet atau sawit di sisi jalan.

Jadi, tunggu apa lagi, ayo ke Kuansing!

TAMAT

***

Rantau Kuantan, 18 April 2017
@agnes_bemoe

Tulisan sebelumnya di sini.