Wednesday, 21 March 2018

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: Antara Bulan, Prasasti, dan Harta Karun

Judul: Misteri Batu Bertulis
Penulis: Yovita Siswati
Editor: Pradhika Bestari
Penerbit: Penerbit Kiddo
Tahun Terbit: 2017
Jumlah Halaman: 192



Selain meninggalkan jejak sejarah panjang kerajaan Hindu di Jawa Barat, Prasasti Batu Bertulis di Bogor ternyata meninggalkan jejak harta karun harta karun. Harta karun  ini langsung menjadi incaran para pemburu harta. Bagja dan Mira terjebak di pusaran perburuan harta ini gara-gara mereka tidak sengaja memasuki sebuah toko buku kuno persis saat para penjahat sedang berusaha merebut salah satu petunjuk utama menuju harta karun, sebuah buku kuno bertuliskan huruf Kawi.

Perburuan harta karun Prasasti Batu Bertulis di Bogor itulah yang dikisahkan di buku ini, dengan Bagja dan Mira (baca Misteri Kerajaan Kuno) sebagai tokohnya.

Seperti biasa Yovita Siswati sangat kuat plottingnya. Cerita mengalir lancar, logis, dan -yang terpenting untuk sebuah cerita misteri- tak tertebak. Saya sudah membaca tujuh cerita misteri karya Yovita. Tetap saja saya kesulitan mencari polanya. Setiap buku punya twist tersendiri.

Yang juga membuat buku ini menarik adalah setting sejarahnya yang detil dan mengambil posisi ujung tombak dalam cerita (bukan sekedar setting). Saya kagum sekali akan kemahiran Yovita merangkai fakta-fakta sejarah ini menjadi semacam petunjuk penting bagi diketemukannya harta karun. Yang mana ini tentu saja 'fiksi banget' tetapi saya sebagai pembaca tidak merasakan fiksinya. Seolah-olah yang saya baca benar-benar terjadi.

Pengenalan situs-situs purbakala melalui cerita menurut saya keren banget karena tidak terkesan dipaksakan. Pembaca akan membacanya karena itu kebutuhan cerita.

Kejeniusan Yovita tidak berhenti sampai di situ. Menggunakan Candrakala sebagai sebuah sandi? Wow! Saya angkat topi, membungkukkan badan, dan standing applause sekaligus untuk ini.

Kesemuanya itu tidak akan ada artinya kalau penulis tidak mampu mengeksekusi dengan penceritaan yang sesuai dengan pembaca target. Syukurlah, Yovita mahir sekali bercerita. Saya yakin, anak-anak akan sangat asyik membacanya. Sebagai 'mantan anak', saya ingat sangat terhanyut oleh cerita Lima Sekawan. Nah, buku Yovita Siswati ini tidak hanya 'menggantikan' posisi Lima Sekawan dalam hal keasyikannya tapi terlebih lagi membuat pembaca ikut menjelajah sisi-sisi Indonesia. Dan mengenal Indonesia inilah sisi yang keren sekali dari serial ini! Menurut saya, sangat perlu bagi anak-anak Indonesia untuk mengenal dan mencintai negaranya, termasuk sejarahnya.

Tidak ada yang bisa saya tambahkan untuk memperbaiki buku ini. Cover, ilustrasi, dan terutama cerita sudah oke banget menurut saya. Mudah-mudahan serial ini bisa ditambah jumlahnya dengan mengambil daerah-daerah lain di pelosok Indonesia.

Dengan yang sudah saya sampaikan di atas, saya rekomendasikan buku ini buat anak-anak Indonesia. Bacalah buku ini maka saya janjikan kalian akan mendapatkan pengalaman seru dan tak terlupakan. Orang tua yang terkasih, tolong pertimbangkan untuk mengkoleksi buku ini. Ini adalah investasi yang bagus sekali bagi kecerdasan anak-anak. Bapak-Ibu Guru, saya sarankan untuk memilih buku ini untuk dibahas dalam Program Literasi Sekolah. Buku ini adalah angin segar yang dibutuhkan oleh anak-anak Indonesia. Lima dari lima bintang!

***

Pebatuan, 22 Maret 2018
@agnes_bemoe

Monday, 19 March 2018

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: Rendang, Laut, Buku, Sekolah, dan Makkah

Judul: HATTA Aku Datang Karena Sejarah
Penulis: Sergius Sutanto
Editor: Agus Hadiyono
Penerbit: Qanita (PT Mizan Pustaka)
Jumlah Halaman: 364 hal.
Tahun Terbit: Edisi Kedua, Cetakan I, Januari 2018


Drs. Muhammad Hatta sering kita baca dalam buku-buku sejarah. Kita kenal beliau sebagai tokoh utama pergerakan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Dalam konteks itu kita melihat Hatta sebagai orang besar, tokoh besar, sosok yang seolah-olah tak terjangkau karena kebesarannya. Lalu, bagaimana Hatta sebagai manusia? Apa harapan dan impiannya? Apa kerinduannya? Apa kecemasan dan ketakutannya? Bagaimana dia semasa kecil? Bagaimana percintaannya? Dan lain-lain pertanyaan yang sekiranya membuat Hatta menjadi manusia yang hangat dan hidup di benak kita. Inilah yang disusun oleh Sergius Sutanto dalam novelisasi biografi Bung Hatta yang diberi judul "HATTA Aku Datang Karena Sejarah" ini.

Sergie memplot novelnya seturut lima keinginan Hatta: Mekkah, sekolah, buku, laut, rendang, yang dengan cerdik dibuat menjadi terbalik. Di atas rel inilah kisah berjalan, dimulai dengan masa kecil Atta (panggilan untuk Hatta) di Bukittinggi sampai pada zaman kemerdekaan.

Sejak halaman pertama saya sudah menyukainya karena seperti harapan saya Hatta muncul sebagai manusia, bukan super hero dalam buku sejarah atau biografi. Saya rasa ketrampilan berbahasa penulisnya berperan besar dalam 'memanusiakan' sosok Hatta. Sergie terampil sekali menyadur fakta-fakta sejarah menjadi cerita. Beberapa puisi yang diselipkan membuat novel biografi ini menjadi lembut dan manis. Semakin ke belakang, cerita semakin menghanyutkan. Seolah-olah saya sedang membaca kisah yang seratus persen fiksi.

Tidak hanya terampil menyadur fakta, Sergie juga terampil memproyeksikan tokoh Muhammad Hatta sehingga nilai-nilai yang selama ini melekat pada beliau mendapatkan penegasan latar belakangnya. Ambil contoh sikap hemat penuh integritas yang selama ini kita (saya) tahu lewat buku sejarah. Bagaimana Hatta bisa terbentuk sebagai pribadi yang seperti itu dapat kita runut dari halaman depan ketika Atta kecil menerima didikan Pak Gaek dan Siti Saleha. Mereka adalah kakek dan ibunda Bung Hatta. Proyeksi yang tepat ini membuat tokoh Hatta muncul sangat inspiratif di sepanjang buku tanpa si tokoh perlu berkotbah tentang dirinya atau karyanya.

Selain salut akan kemampuan Sergie merangkai kata, saya juga salut akan kuatnya riset di belakang novel ini. Kekuatan riset ini terasa sekali karena saya sebagai pembaca tidak hanya disuguhi hal-hal umum tentang Bung Hatta yang sudah kita ketahui. Ini membuat saya sebagai pembaca terpuaskan rasa ingin tahunya (intelectually entertained).

Cover baru menurut saya jauh lebih keren daripada cover lamanya. Cover yang baru ini lebih kuat karakternya.

Tentu saja tak ada gading yang tak retak tapi tidak banyak yang bisa saya katakan tentang kekurangan novel ini. Kalaupun ada, itu dalam skala kecil yang tidak terlalu mengganggu. Mengambil POV Orang Ketiga Serba Tahu, di beberapa tempat penulis sempat tergelincir untuk menulis biografi dan bukan novel. Ini terasa sekali di bagian kemelut sekitar/sesaat sebelum proklamasi. Kemudian, ada beberapa gesture Bung Hatta yang akan lebih asyik kalau sudah diceritakan dari awal: kesukaannya akan kopi, misalnya, sehingga tidak terlalu membingungkan ketika di penjara di Belanda Bung Hatta 'menceracau' tentang kopi.

Ada juga beberapa kesalahan ketik, misalnya kalimat langsung diletakkan di luar tanda kutip, yang membuat pembaca harus mengulang-ulang baca untuk memahaminya.

Namun demikian, seperti saya katakan, kekeliruan kecil itu tidak ada apa-apanya berbanding kedalaman novel ini. Salut berat buat penulisnya yang mau bertungkus lumus di genre ini. Salut juga buat penerbitnya, tentu saja. Novel ini adalah bahan bacaan yang sangat dibutuhkan oleh Indonesia di masa sekarang. Bung Hatta berjuang untuk meraih kemerdekaan. Sekarang banyak pihak hendak merusak kemerdekaan Indonesia dengan memaksakan ideologi mereka. Karenanya, saya sangat merekomendasikan novel yang sudah dicetak ulang ini untuk dibaca oleh semua saja. Novel ini bukan sekedar bacaan, ini adalah tuntunan. Bintang 4 dari 5 buat HATTA Aku Datang Karena Sejarah.

***

Pebatuan, 20 Maret 2018
@agnes_bemoe

Friday, 9 March 2018

BELAJAR MEMBANGUN KARAKTER TOKOH LEWAT NOVEL MISTERI KARYA YOVITA SISWATI


Bila teman-teman adalah pembaca serial Novel Misteri karya Yovita Siswati yang diterbitkan oleh Penerbit Kiddo, teman-teman pasti setuju: karakterisasi tokoh dalam novel-novel itu nendang banget. Tokoh-tokoh yang dibangun Yovita Siswati (selanjutnya disingkat YS) unik dan meninggalkan jejak fotografi di kepala pembaca. Dalam “Misteri Gua Purba” pembaca pasti langsung tersedot oleh tokoh Galuh yang kriwil dan pecicilan. Sementara itu, Sari yang suaranya cemengkring dan suka sekali memakai pita kupu-kupu dalam “Misteri Kota Tua” pasti sulit dilupakan oleh pembaca.
Tertarik dengan keterampilan YS mengukir tokoh-tokohnya, saya mencoba mempelajarinya lewat cerita-cerita yang ditulisnya. Super disclaimer: tulisan ini adalah interpretasi saya atas cerita YS dan BUKAN keterampilan atau ilmu asli YS. Karenanya, pasti akan ada banyak lubang, kelemahan, dan kecetekan di dalam tulisan ini. Kelemahan itu saya anggap bagian dari proses belajar saya dan saya akan sangat senang sekali seandainya ada yang bersedia menambahkan dan memperbaiki.

FISIK, NON-FISIK, DAN KEBIASAAN
Hal pertama dari karakterisasi YS yang saya perhatikan adalah penamaan. Nama-nama yang digunakan YS adalah nama-nama yang tidak terlalu umum di pasaran buku/cerita anak Indonesia dan itu menjadikannya unik. Bagas, Galuh, Damar adalah nama-nama kejawa-jawaan di cerita “Misteri Gua Purba”. Bisa dimengerti karena settingnya adalah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Lalu, ada nama-nama semacam Danu, Dodo, Beno, Seruni, Ira, atau Bagja yang sepintas terdengar ‘biasa’ namun dalam ‘kebiasaan’-nya itu ada semacam keluarbiasaan karena tidak terlalu terikut arus dengan nama-nama zaman sekarang. Setiap pembaca pasti nyaman mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh-tokoh tersebut.
Yang berikutnya adalah tanda-tanda fisik pada setiap tokoh. Tanda-tanda fisik adalah sesuatu yang dipunyai sejak lahir. Bagja berambut gimbal, Galuh berambut keriting, Ira badannya jangkung, Danu berkaca mata dan berbadan kecil, atau Mira yang rambutnya sangat panjang. Atau, tinggalkan sejenak tokoh-tokoh utama, kita lihat tokoh berikutnya yang penggambaran fisiknya begitu lekat. Sebut misalnya Aki Uban di “Misteri Kota Tua” yang kurus kering dan tentu saja rambutnya sudah putih semua. Atau, orang tua misterius yang bermata menonjol keluar di “Misteri Kerajaan Kuno”.
Terkait dengan ciri-ciri fisik adalah kebiasaan-kebiasaan si tokoh. Ingat Galuh yang suka jalan melompat-lompat seperti kelinci (Misteri Gua Purba)? Atau Ira yang suka bicara sambil mengebas-ngebaskan tangannya (Misteri Kota Topeng Angker)? Atau Seruni yang punya gaya bicara yang kasar (Misteri Gurindam Makam Kuno)?
Selanjutnya, selain penggambaran fisik, karakter juga bisa dibangun dengan tanda-tanda di luar bawaan lahir. Kita ingat akan “Si Sepatu Ular” di “Misteri Gua Purba”. Atau “Si Pipi Tarantula” di “Misteri Kerajaan Kuno”, selain “Bang Raung” yang suara raungannya membuat bulu kuduk berdiri di “Misteri Gurindam Makam Kuno” atau “Embok Tua Cerewet” yang suka menyanyi dan menandak-nandak serta super pemarah di “Misteri Kota Topeng Angker”. Menggambarkan seseorang yang tidak diketahui namanya oleh pembaca melalui ciri-ciri semacam ini membuat cerita menjadi sangat menarik selain membantu pembaca mengingat si tokoh ini.
Yang terakhir adalah hobi dan kebiasaan lain yang tidak melulu berupa hobi. Galuh yang pecicilan adalah pembaca buku garis keras. Hobinya itu jelas membantu Bagas memecahkan misteri. Seruni suka mencopet, biarpun ia mencopet agar bisa makan. Pak Bon dalam “Misteri Kerajaan Kuno” punya kebiasaan unik: mengakhiri kalimatnya dengan peribahasa yang malangnya peribahasa itu sama sekali lain artinya dengan yang ia maksud.
“… diejek sekarang tak apa, yang penting nanti jadi orang besar. Seperti kata pepatah: sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga.” (Misteri Kerajaan Kuno, hal. 3).

Satu orang tokoh tidak hanya memiliki satu ciri unik. Tidak jarang kita temukan seorang tokoh dengan beberapa ciri. Sebut saja Seruni (Misteri Gurindam Makam Kuno) yang hitam legam dan keriting (fisik), suka bicara kasar (non fisik) dan suka memerintah  selain pencopet ulung (kebiasaan lain). Eksplorasi terhadap tokoh membuat tokoh tidak sekedar lewat di kepala kita namun melekat erat seolah kita menonton filmnya di bayangan kita.
Walaupun demikian, bila benar-benar kuat, tokoh dengan satu ciri khas saja sudah langsung memikat pembaca. Saya masih selalu teringat akan Pak Bon dengan ‘keterampilannya’ berperibahasa.

TIDAK ADA TOKOH YANG TERLALU SEPELE UNTUK DIBERI POLESAN KARAKTER
Yang juga saya pelajari dari karakterisasi YS di cerita-ceritanya adalah tidak ada tokoh yang terlalu sepele untuk diberi polesan karakter. Biarpun contoh-contoh saya di atas kebanyakan terkait tokoh utama namun kalau teman-teman membaca sendiri novel YS, teman-teman akan temukan bahwa tokoh-tokoh pendamping pun selalu hadir dengan ukiran karakter yang kuat. Membaca nama-nama “Bang Oding” dan “Bang Gopal” di “Misteri Gurindam Makam Kuno”, kita tidak bisa melewatkan mereka tanpa membayangkan seperti apa orangnya. Mereka bukan sekedar tokoh yang lewat di kepala kita namun menjadi “seseorang” yang hidup.
Apakah tokoh baik otomatis memiliki karakter/ciri baik yang sempurna? Dan sebaliknya? Syukurlah novel-novel YS tidak menganut mahzab membosankan itu. Sebaliknya, pembaca sering dibuat terkecoh dengan karakterisasi yang dibangun oleh YS atas tokoh-tokohnya bila dihubungkan dengan moralitas si tokoh. Sebut saja tokoh “Pak Bon” atau “Topi Tengkorak”, atau yang lebih abu-abu lagi adalah “Seruni”. Saya pribadi berpendapat penokohan semacam ini membantu pembaca (anak) untuk belajar tentang dirinya dan manusia di sekelilingnya.  

SARANA BELAJAR
Karakterisasi tokoh jelas membuat cerita menjadi jauh lebih menarik. Tokoh-tokoh menjadi lebih hidup di kepala kita. Selagi membaca, kita seperti bertemu langsung dengan para tokoh tersebut. Saya sangat bersyukur disuguhi cerita-cerita yang menarik dengan penokohan yang luar biasa. Bagi saya, ini adalah sarana belajar cara membangun tokoh, seperti yang saya tuliskan di sini.
Setelah belajar, hasilnya mana dong?
Ehem, saya tidak bisa menyebutkan ini hasil belajar dari buku-buku YS karena kawatir malah menjatuhkan reputasi YS. Namun jujur, saya banyak ‘mencontek’ cara YS menghidupkan tokoh-tokohnya. Saya cuplikkan sedikit hasil belajar saya ya:

“Surya?”
Seorang anak berbadan jangkung, berambut jagung, tiba-tiba sudah berdiri di depanku. Ia menjilati bibirnya sendiri seperti orang yang sedang gelisah. Wajahnya sih seperti wajah orang Indonesia pada umumnya. Hidungnya malah terhitung pesek untuk ukuran orang Kaukasia tapi rambutnya sangat pirang. Selain rambutnya yang sangat pirang, kedua bola matanya juga sangat biru. Biru seperti birunya langit yang cerah. Di salah satu telinganya ia mengenakan anting kecil bermata biru.
“Iya, kenapa?”

Bagaimana menurut teman-teman? Thumb up atau upside down? Hihihi…
Btw, Si Bule ini akan hadir di novel anak terbaru saya, yang merupakan ‘the series-‘nya KOPRAL JONO (Yeay!) Tahu novel saya yang KOPRAL JONO ini kan? Tentang seorang anak cacat bernama Surya dan pitbull liarnya? Kalau belum baca, baca ya….
Aih, penutupnya kepanjangan. Ya sudah, saya mohon pamit. Semoga tulisan ini bermanfaat!



Pebatuan, 10 Maret 2018
@agnes_bemoe

Thursday, 15 February 2018

PENGUMUMAN PEMENANG GIVEAWAY JANUARI 2018

Selamat siang, Teman-Teman,
Januari lalu saya mengadakan Giveaway novel "Kopral Jono". Pengumuman pemenang seharusnya di tanggal 14 Februari 2018, bertepatan dengan Hari Berbagi Buku Sedunia.


Saya mohon maaf karena pegumumannya tertunda. Penundaan ini karena sampai hari ini saya belum menerima novel Kopral Jono yang saya pesan. Saya sedang mencoba menanyakan kembali keberadaan pesanan saya itu.

Sambil itu, saya umumkan saja ya para pemenangnya.

Terim kasih untuk yang sudah membaca dan mengikuti GA ini. Berikut adalah pemenang-pemenanya:

1. Gita Louvusa
2. Nabila Anwar
3. Leli Erwinda
4. Yunike
5. Fery Lorena Yani
6. Yovita Siswati
7. Yulia Loekito
8. Dian Kristiani

Mohon kesediaannya mengirimkan alamat lengkap (lengkap dengan Kode Pos dan Nomor HP) ke email: abemoe@gmail.com. Novel KOPRAL JONO akan dikirimkan sesegera mungkin.

Terima kasih atas partisipasinya. Selamat Hari Bagi Buku Sedunia. Selamat Hari Valentine. Selamat Hari Raya Imlek.

Salam,
Agnes Bemoe

Pebatuan, 16 Februari 2018

Friday, 9 February 2018

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: MEMAHAMI TRAGEDI BERSAMA JAMIE

Judul: My Sister Lives On The Mantelpiece
Penulis: Annabel Pitcher
Penerbit: Little, Brown and Company
Tahun Terbit: 2012 (Terbitan Kedua. Terbit pertama 2011 oleh Orion Publishing Group)
Jumlah Halaman: 211 halaman




Jamie dipaksa hidup bersama 'hantu' Rose, kakaknya yang tewas kena bom London. Peristiwa tewasnya Rose itu begitu dalam menikam keluarga Jamie sehingga ayahnya menjadi pemabuk dan pembenci muslim. Selain itu, ayahnya juga terobsesi pads Rose dan tidak rela melepaskan anaknya, yang sisa-sisa jenazahnya dikremasi dan disimpan dalam tempat abu jenazah itu. Ibunya memilih lari dengan pria lain karena tak tahan dengan sikap ayahnya. Tinggallah Jamie dengan Jasmine, saudara kembar Rose, berjuang untuk hidup sebagai anak 'normal', mencoba mengembalikan ibunya, mencoba bertahan terhadap bully-an di sekolahnya, dan yang terpenting, mencoba melepaskan diri dari 'hantu' Rose.

Tidak heran kalau novel ini menuai banyak pujian. "Compelling and belivable... by turns heartbreaking and histerically funny." Itu kata School Library Journal. "In this powerfully honest, quirkily humorous debut novel... Pitcher tackles grief, prejudice, religion, bullying, and familial instability." - Publishers Weekly.

Tema yang diangkat dan cara penulisnya bercerita membuat novel ini luar biasa menarik. Selain itu, ini adalah novel yang sangat dibutuhkan di masa kini, tidak hanya oleh London, tapi juga oleh dunia termasuk Indonesia. Dunia sedang dirasuki oleh kekejaman atas nama agama. Dalam situasi itu, kebencian dan balas dendam mudah tersulut. Dan itu yang terjadi pada ayah Jamie. Ia punya alasan yang sangat manusiawi untuk membenci kaum muslim: anaknya luluh lantak diledakkan bom. Alih-alih bersikap lebay sebagai korban, novel ini menawarkan sesuatu yang berbeda di dalamnya.

Ditulis dengan sudut pandang Jamie, pembaca bisa merasakan hancurnya hati si ayah, namun juga memahami ketidakmengertian Jamie akan kehilangan. Ia masih balita waktu peristiwa itu terjadi. Menjembatani ketidakmengertian ini, novel ini tidak berkotbah, juga tidak menghakimi. Inilah yang membuatnya luar biasa. Gaya bercerita yang lucu dan polos menyebabkan pembaca tidak sadar bahwa yang dibacanya adalah sebuah tragedi. Namun, jangan salah, kocak bukan berarti meremehkan. Melalui penceritaannya yang terkesan kocak, Pitcher menunjukkan pemahamannya akan luka yang dialami keluarga Jamie.

Saya pribadi berpikir, ini novel yang berani. Bayangkan, bom mengoyak London, dan penulis ini memilih untuk tetap berdamai (bukan dengan teroris, tetapi dengan manusia yang kebetulan muslim)? Bila posisinya dibalik, apakah mungkin tercipta novel yang setara (khususnya untuk konteks Indonesia)?

Sulit saya menemukan cacat novel ini. Bahkan, bahasa yang digunakan pun ringan dan mudah. Terbukti, saya yang pengguna Bahasa Inggris pasif mampu memahaminya.

Mungkin terkesan ikut-ikutan, tapi jujur, saya sangat berharap novel ini bisa diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia. Tidak ada saat yang paling tepat untuk membaca dan memahami novel ini kecuali sekarang ini. Dan alangkah indahnya kalau novel ini sudah dibaca oleh anak-anak sedini mungkin. Bagi para guru, sangat saya sarankan agar mengajak para siswanya membaca dan membahas novel ini. 5/5 ☆☆☆☆☆ dari saya.

***

Pebatuan, 9 Februari 2018
@agnes_bemoe

Sunday, 21 January 2018

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: DE KRETEKKONING

Judul Buku                  : Sang Raja
Penulis                         : Iksaka Banu
Editor                          : Pax Benedanto
Penerbit                       : Kepustakaan Populer Gramedia
Genre                          : Novel Sejarah
Tahun Terbit                : Cetakan Pertama, September 2017



Konon, di acara penobatan Ratu Elisabet dari Inggris di tahun 1953, H. Agus Salim diejek oleh Pangeran Philip, suami ratu. Pangeran Philip menyebut H. Agus Salim, yang tidak lepas dari rokok kreteknya, “bau”. Jawaban H. Agus Salim sungguh telak. Benar, Tuan. Dan bau inilah yang membawa bangsa Anda ke negeri saya. “Bau”, atau tepatnya aroma H. Agus Salim berasal dari kretek yang diisapnya. Rokok kretek adalah tembakau asli yang dicampur dengan cengkeh dan saus, yang bila diisap akan menimbulkan suara “kretek-kretek” yang khas.
Berbicara tentang industri tembakau (rokok), kita kenal Goedang Garam, Djaroem, Djie Sam Soe, Sampoerna, dll. Siapa sangka, cikal bakal semuanya itu adalah kerja keras seorang ‘pribumi’ (saya gunakan tanda kutip karena saya kurang suka istilah ini) bernama Nitisemito, pengusaha asal Kudus.  Novel setebal 383 halaman ini berkisah tentang jatuh bangunnya si pribumi ini mendirikan dan mengembangkan pabrik rokok “Bal Tiga” miliknya hingga menjadi pemain utama di masanya.
Diceritakan dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, yaitu melalui mata Filipus Rechterhand dan Wirosoeseno –keduanya adalah karyawan kepercayaan Nitisemito di NV Nitisemito- cerita mengalir lancar, mulai dari asal mulai keduanya bekerja (sekitar tahun 20-an) sampai dengan Nitisemito wafat di tahun 1953.
Kisah Nitisemito sendiri sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kisah-kisah sukses yang lainnya: kerja keras dan tahan banting. Kenyataan bahwa Nitisemito adalah ‘pribumi’ makin menambah makna kesuksesannya. Tidak mudah menjadi pribumi di zaman penjajahan. Hidup layak saja sudah bersyukur. Karenanya, bila berhasil menjadi pengusaha sukses, pasti ada sesuatu yang luar biasa pada pribadi Nitisemito. Inilah yang diangkat oleh novel ini dan membuat novel ini menarik.
Yang membuatnya jadi lebih menarik adalah kemampuan crafting penulisnya. Cerita dikemas sedemikian rupa; berbagai data dan fakta bercampur dengan imajinasi dirangkai dengan rapi, jeli, dan menggelitik rasa ingin tahu. Iksaka Banu, penulisnya, bercerita dengan sangat efisien. Tidak ada kata yang tak berguna atau bahkan penceritaan yang bertele-tele.   
Pembaca diajak berkelana dan berkenalan dengan Nitisemito dan Bal Tiganya sambil melewati fase kehidupan Bangsa Indonesia; Hindia Belanda, Penjajahan Jepang, Kemerdekaan, sampai Agresi Militer Belanda I dan II. Secara tidak langsung, pembaca dibawa melihat kembali sejarah perjuangan Indonesia. Walaupun demikian, buku ini sama sekali tidak terasa sebagai diktat sejarah yang membosankan.
Buat saya pribadi, biarpun buku ini bukan buku sejarah, entah kenapa saya merasa sangat terharu malah di bagian-bagian sejarahnya. Saya berhenti cukup lama di bagian turun gunungnya Jendral Sudirman. Padahal bagian itu hanya satu paragraf pendek.
Saya bukan penggemar Pak Harto biarpun tidak sepenuhnya membencinya (saya hidup di masa beliau berjaya sebagai presiden). Namun, jujur, baru kali inilah, lewat buku ini, saya merasakan pentingnya Serangan Umum 1 Maret 1949 diYogyakarta. Berikut, tumbuh hormat saya pada sosok presiden RI kedua itu. Berulang kali menonton film “Janur Kuning” tak juga membuat saya paham arti serangan itu, kecuali hanya terkenang akan ketampanan Kaharudin Syah. Sungguh. Mungkin, karena diceritakan oleh sosok ‘biasa’ semacam Wirosoeseno, yang saat itu dalam kondisi kebingungan dan membutuhkan kepastian bagi negaranya, saya bisa merasakan strategisnya serangan itu.
Berkaitan dengan cara menulis ini, saya salut pada kemampuan Iksaka Banu untuk menulis dengan elegan dan obyektif. Kisah-kisah mengenai ‘Londo-Pribumi’ gampang sekali ditarik menjadi cerita penuh penderitaan di sisi pribumi, kekejaman di sisi Londo, perasaan terkorbankan, dan lain-lain yang mengaduk-aduk emosi, yang ujung-ujungnya membuat pembaca membenci satu kelompok dan mengagumi kelompok lain. Dua-duanya dilakukan dengan sama-sama buta. Saya bersyukur, Iksaka Banu tidak lari ke arah sana. Seperti yang saya katakan, Iksaka Banu menulis dengan obyektif dan cukup berjarak dengan para tokohnya.
Kembali lagi kepada cerita, di bagian-bagian awal, cerita seolah berjalan lambat dan lebih terpusat pada Filipus Rechterhand dan Wirosoeseno, dibandingkan dengan sosok Nitisemito sendiri. Namun, memasuki perempat kedua, cerita mulai mengalir lebih cepat dengan berbagai keberhasilan maupun rintangan yang dialami pabrik rokok Bal Tiga, dan pelan-pelan, kitapun berkenalan dengan pribadi Nitisemito. Menuliskan ini bukan berarti saya keberatan dengan penceritaan tentang Filipus Rechterhand dan Wirosoeseno. Malahan, dalam bayangan saya, kalau hanya menulis tentang Nitisemito mungkin novel ini mungkin agak kehilangan imajinasinya. Karena dituliskan dengan pandangan orang lain berikut kisah hidup mereka itulah novel ini terbangun ceritanya. Dan kisah tentang keduanya adalah kisah yang menarik; mengharu biru dengan letupan kemanusiaan yang kental.
Mengenai Nitisemito, menurut saya ada yang menarik hati saya tentang sosok ini. Novel ini jelas berevolusi pada Nitisemito, pria Jawa yang dengan kegigihannya membangun kerajaan bisnis kretek yang disegani, tidak hanya untuk kota Kudus tapi juga untuk Hindia Belanda. Namun, ternyata, ada tokoh di belakang layar yang lebih kuat daripada Nitisemito. Ini kelihatan sekali dalam konflik-konflik di akhir hidup Nitisemito (dan yang memicu kejatuhan Bal Tiga). Ibu Nasilah, istri pertama Nitisemito, sebenarnya bisa dibilang ‘raja’ di belakang Sang Raja (julukan bagi Nitisemito). Sayang sekali, penulis sedikit sekali menceritakan tentang Ibu Nasilah ini. Tidak hanya Ibu Nasilah, penulis tidak terlalu banyak bercerita tentang ketiga istri Nitisemito yang lain. Tentu saja penulis punya pertimbangan tersendiri. Namun, menurut saya, menambahkan sedikit tentang Ibu Nasilah pastilah membuat novel ini tambah ‘panas’(dan saya sebagai penggemar gosip dan teori konspirasi lebih terpuaskan… hehehe….)
Namun demikian, secara jujur harus saya akui, tanpa penceritaan tentang Ibu Nasilah pun novel ini sudah sangat menarik dan memuaskan. Sulit bagi saya menemukan kelemahannya karena faktanya saya membacanya dengan sangat asyik dan nyaris tanpa bisa dihentikan. Bila dipaksakan juga, mungkin saya mau mengangkat karakterisasi  Filipus Rechterhand di bagian akhir. Sepanjang cerita, pegawai keuangan NV Nitisemito ini digambarkan sebagai orang yang tenang, ramah, dan mudah bergaul. Di bagian akhir, Filipus sedikit berubah menjadi penggerutu khas Londo, yang tidak tahan dengan kelambanan dan kecuaian ‘pribumi’. Biarpun ada penjelasan bahwa ini karena usia tua, saya rasa sayang sekali kalau Filipus dikembalikan pada stereotype Londo-nya, mengingat sedari kecil ia sudah bergaul dan berusaha keras beradaptasi dengan ‘pribumi’, bahkan ia menikahi seorang pribumi. Menikahi, bukan mengambil gundik. Namun demikian, tentu saja ini bukan sesuatu yang besar yang merusak cerita. Kisah tentang Si Tua Filipus ini malah membuat pembaca (saya) nyengir membanyangkan Londo kasep yang pemarah.
Akhirnya, saya rekomendasikan novel yang super bagus ini kepada siapa saja. Saya anjurkan guru-guru dan sekolah memiliki novel ini dan mengajak para siswa untuk membaca dan membahasnya. Sangat banyak pelajaran yang bisa digali dari novel ini. Tidak hanya pelajaran tentang kesusastraan dari hasil keterampilan penulisnya, namun juga pelajaran hidup yang dipetik dari kisah Sang Raja. Yang terpenting adalah pelajaran tentang keindonesiaan; betapa Indonesia itu dibangun dengan darah dan nyawa. Tidak mudah dan murah. Karenanya, jangan gampang menyerahkan tanah air tercinta ini pada ideologi yang sama sekali belum ada buktinya.
Karena kerennya tema, gaya penceritaan, dan pesan yang dibawa oleh novel ini saya ingin memberikan lima bintang untuk De Kretekkoning alias Sang Raja. 5 out of 5 stars. Salut.  
***

Pembatuan, 21 Januari 2018

@agnes_bemoe

Friday, 5 January 2018

10 PENULIS BUKU ANAK INDONESIA FAVORIT SAYA

Akhir Desember 2017 lalu Gramedia Pustaka Utama mengeluarkan data tentang 10 buku anak terlaris. Yang mengusik saya adalah kenyataan bahwa sembilan dari sepuluh buku terlaris itu ditulis oleh penulis luar. Satu-satunya penulis Indonesia adalah Rosie L. Simamora dengan buku aktivitasnya.
Iya sih, ini output dari satu penerbit. Mungkin tidak mewakili kondisi Indonesia pada umumnya. Namun, tetap saja hal itu membuat saya tercenung, apalagi GPU masih dianggap representasi pembaca/pembeli Indonesia. Apakah pembeli buku anak terbitan GPU memang memilih karya penulis luar atas penulis Indonesia, ataukah komposisi jumlah buku terbitan luar yang lebih banyak, ataukah pembeli buku GPU belum familiar dengan penulis Indonesia, ataukah… hehehe…?
Maka, iseng (tapi serius) saya mencoba mengumpulkan penulis-penulis buku anak Indonesia yang saya anggap karya-karyanya sangat layak dibeli, dibaca, dan dikoleksi. Penulis-penulis ini adalah penulis di semua penerbit, bukan hanya yang karyanya terbit di GPU saja.
Penulis-penulis yang saya sebut di sini adalah yang sejauh pengetahuan saya saja (yang karyanya sudah saya baca). Dengan ini, bila ada penulis yang benar-benar berkualitas tapi tidak masuk, itu pasti karena saya belum membaca bukunya (sebab keterbatasan saya). Contohnya, Rosie L. Simamora. Jujur, saya belum pernah membaca buku beliau. Saya niatkan tahun ini akan mencari bukunya.
Yang juga tidak akan ada dalam daftar ini adalah para penulis buku anak yang super besar, semisal Eyang Djoko Lelono, Arswendo Atmowiloto, Gola Gong, atau Murti Bunanta. Ibarat dunia kuliner, saya mengumpulkan para chef, bukan master chef (biarpun seringnya, ini beda tipis).
Tentu saja, standar pemilihan ini murni standar saya. Biarpun saya tetap berusaha obyektif, saya tidak bisa memungkiri bahwa selera membaca saya akan sangat menentukan. Selera membaca saya adalah yang full imajinasi, dituliskan dengan sederhana, manis, dan atau cute, serta, ini yang paling penting, membawa pesan universal; membangun jembatan dan bukan mendirikan tembok, semangatnya adalah bersaudara dalam perbedaan bukannya menyeragamkan perbedaan dan membenci yang berbeda.
Eh, last but not least, biarpun berangkat dari rilis GPU, ini sama sekali tidak bermaksud sebagai counter atau tandingan ya (dan jelas tidak bisa, wong segala indikatornya, obyek, dan ruang lingkupnya juga beda. LOL). Niat saya hanyalah iseng, tapi serius dan fun, untuk men-showcase-kan penulis-penulis buku anak Indonesia.
Oke deh, here we go, ini adalah 10 penulis buku anak favorit menurut saya:
1.      Clara Ng
Imajinasi yang meledak-ledak membuat saya langsung jatuh hati pada Clara Ng. Saya membaca hampir semua buku-bukunya, mulai dari “Padi Merah Jambu” sampai “Dru”. Beberapa buku Clara Ng baru-baru ini dicetak ulang. Saya merekomendasikan buku-buku itu karena memang bagus banget.

2.      Arleen Alexandra
Jujur, buku-buku Arleen Alenxandra termasuk buku-buku yang jadi bahan belajar saya. Saya suka gaya penulisannya yang manis dengan ending yang segar dan tak terduga atas cerita kelihatannya ‘biasa’. Saya rasa, inilah maksudnya ‘jenius’ itu.
3.      Renny Yaniar
Gaya menulisnya lembut dan sederhana, dengan tema-tema yang ‘biasa’ (sederhana) membuat buku-buku Renny Yaniar menjadi semcam ‘sihir’. Membaca buku-buku Renny Yaniar saya yakin membuat anak-anak merasa nyaman. Apa yang lebih penting bagi para pembaca cilik selain rasa nyaman dan asyik membaca?
4.      Ary Nilandari
Saya bukan pembaca rutin buku-buku Ary Nilandari (jujur nih). Tidak membaca rutin karena tema yang dituliskannya kebetulan belum jadi minat saya (pre-teen). Tapi, membaca satu-dua buku Ary Nilandari, saya bisa merasakan passion yang mendalam pada tulisannya. Saya yakin, para remaja kecil (bisakah disebut begitu?) seperti menemukan oase atas pikiran dan perasaannya sebagai remaja dan karenanya saya merekomendasikan banget buku-buku Ary Nilandari ini.

5.      Dian Kristiani
Gaya menulis yang ringan, riang, dan kadang-kadang kocak, membuat saya memilih Dian Kristiani sebagai penulis favorit. Anak-anak pasti suka. Apalagi, rentang ide Dian Kristiani lumayan luas membuat membaca buku-bukunya seperti membaca sesuatu yang selalu baru.
6.      Yovita Siswati
Pembaca seri Novel Misteri pasti tahu mengapa saya suka sekali pada Yovita Siswati. Kecerdasannya meramu dan merangkai cerita (crafting the story) membuat novelnya super asyik dibaca. Di antara minimnya novel anak berkualitas, saya sangat merekomendasikan seri novel misteri, salah satunya (eh, beberapa ding) ditulis oleh Yovita Siswati.

7.      Veronica Widyastuti
Lagi-lagi, gaya bercerita yang ringan dan riang membuat saya jatuh cinta, termasuk pada Veronica Widyastuti ini. Bacalah serial Si Bolang, anda akan tahu apa yang saya maksud
8.   Rae Sita Patappa
Rae Sita Patappa lebih banyak menulis cerpen lepas di Bobo, kalau saya tidak salah. Namun, salah satu bukunya tentang rangkaian cerita rakyat yang dibalut petualangan seorang anak membuat Rae Sita Patappa layak difavoritkan.
9.   Watiek Ideo
Biarpun terkadang idenya tidak terlalu baru (well, tidak ada ide yang benar-benar baru di bawah matahari, kan?), tapi eksekusinya menarik; sederhana dan dekat sekali dengan anak. Saya salut banget pada concern Watiek Ideo atas edukasi pada anak.   .
10.  Yulia Loekito
Saya baru saja mengenal Yulia Loekito, yaitu dari serial Duper (lagi-lagi, ini karena keterbatasan pengetahuan saya). Serial Duper itu imut sekali! Saya rasa, saya akan jadi penggemar buku-buku Yulia Loekito nih.

Itulah 10 nama penulis buku anak Indonesia yang jadi favorit saya. Bila ada di antara pembaca yang mencari buku-buku anak bermutu, carilah yang dituliskan oleh nama-nama tersebut di atas.
Sebelum saya akhiri, saya mohon maaf kalau ada yang kurang tepat dalam tulisan ini. Saya menyadari, ada sangat banyak penulis bermutu di Indonesia. Merangkumnya hanya menjadi 10 nama adalah sesuatu yang sangat sulit. Saya sangat menghargai kalau ada teman-teman yang punya usulan nama lain yang belum tercantum di sini. Silakan tuliskan di kolom komen, siapa penulis favorit Anda, pasti jadi referensi yang menarik buat saya.
Selanjutnya, kalau teman-teman adalah tipe pembaca sampai tuntas, teman-teman akan sampai pada bagian yang (mudah-mudahan) menarik. Saya akan memberikan 10 buah buku saya yang berjudul "KOPRAL JONO" bagi teman-teman pembaca yang beruntung. Caranya:
1.      Terakan “mau” di kolom komen di postingan blog ini (di blog ya, bukan di fb)
2.      Share postingan ini di fb dan twitter, mention nama saya: fb Agnes Bemoe, twitter @agnes_bemoe
3.      Tag 3 orang teman lain, tapi tolong jangan beri petunjuk bahwa ini adalah giveaway ya. Mention saja, sambil menuliskan siapa penulis buku anak favorit teman-teman (boleh yang namanya tidak ada di daftar di atas tapi jangan nama saya (GR!) supaya jangan ada konflik kepentingan) J
4.      Giveaway diam-diam ini akan berakhir pada 8 Februari 2018. Pengumuman pemenang dilakukan pada tanggal 14 Februari 2018, bertepatan dengan Hari Pemberian Buku Sedunia.
Baiklah, saya tunggu respon baik teman-teman.

Selamat Natal 2017 dan Selamat Tahun Baru 2018!

Pebatuan, 5 November 2018

@agnes_bemoe