Sunday, 21 January 2018

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: DE KRETEKKONING

Judul Buku                  : Sang Raja
Penulis                         : Iksaka Banu
Editor                          : Pax Benedanto
Penerbit                       : Kepustakaan Populer Gramedia
Genre                          : Novel Sejarah
Tahun Terbit                : Cetakan Pertama, September 2017



Konon, di acara penobatan Ratu Elisabet dari Inggris di tahun 1953, H. Agus Salim diejek oleh Pangeran Philip, suami ratu. Pangeran Philip menyebut H. Agus Salim, yang tidak lepas dari rokok kreteknya, “bau”. Jawaban H. Agus Salim sungguh telak. Benar, Tuan. Dan bau inilah yang membawa bangsa Anda ke negeri saya. “Bau”, atau tepatnya aroma H. Agus Salim berasal dari kretek yang diisapnya. Rokok kretek adalah tembakau asli yang dicampur dengan cengkeh dan saus, yang bila diisap akan menimbulkan suara “kretek-kretek” yang khas.
Berbicara tentang industri tembakau (rokok), kita kenal Goedang Garam, Djaroem, Djie Sam Soe, Sampoerna, dll. Siapa sangka, cikal bakal semuanya itu adalah kerja keras seorang ‘pribumi’ (saya gunakan tanda kutip karena saya kurang suka istilah ini) bernama Nitisemito, pengusaha asal Kudus.  Novel setebal 383 halaman ini berkisah tentang jatuh bangunnya si pribumi ini mendirikan dan mengembangkan pabrik rokok “Bal Tiga” miliknya hingga menjadi pemain utama di masanya.
Diceritakan dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, yaitu melalui mata Filipus Rechterhand dan Wirosoeseno –keduanya adalah karyawan kepercayaan Nitisemito di NV Nitisemito- cerita mengalir lancar, mulai dari asal mulai keduanya bekerja (sekitar tahun 20-an) sampai dengan Nitisemito wafat di tahun 1953.
Kisah Nitisemito sendiri sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kisah-kisah sukses yang lainnya: kerja keras dan tahan banting. Kenyataan bahwa Nitisemito adalah ‘pribumi’ makin menambah makna kesuksesannya. Tidak mudah menjadi pribumi di zaman penjajahan. Hidup layak saja sudah bersyukur. Karenanya, bila berhasil menjadi pengusaha sukses, pasti ada sesuatu yang luar biasa pada pribadi Nitisemito. Inilah yang diangkat oleh novel ini dan membuat novel ini menarik.
Yang membuatnya jadi lebih menarik adalah kemampuan crafting penulisnya. Cerita dikemas sedemikian rupa; berbagai data dan fakta bercampur dengan imajinasi dirangkai dengan rapi, jeli, dan menggelitik rasa ingin tahu. Iksaka Banu, penulisnya, bercerita dengan sangat efisien. Tidak ada kata yang tak berguna atau bahkan penceritaan yang bertele-tele.   
Pembaca diajak berkelana dan berkenalan dengan Nitisemito dan Bal Tiganya sambil melewati fase kehidupan Bangsa Indonesia; Hindia Belanda, Penjajahan Jepang, Kemerdekaan, sampai Agresi Militer Belanda I dan II. Secara tidak langsung, pembaca dibawa melihat kembali sejarah perjuangan Indonesia. Walaupun demikian, buku ini sama sekali tidak terasa sebagai diktat sejarah yang membosankan.
Buat saya pribadi, biarpun buku ini bukan buku sejarah, entah kenapa saya merasa sangat terharu malah di bagian-bagian sejarahnya. Saya berhenti cukup lama di bagian turun gunungnya Jendral Sudirman. Padahal bagian itu hanya satu paragraf pendek.
Saya bukan penggemar Pak Harto biarpun tidak sepenuhnya membencinya (saya hidup di masa beliau berjaya sebagai presiden). Namun, jujur, baru kali inilah, lewat buku ini, saya merasakan pentingnya Serangan Umum 1 Maret 1949 diYogyakarta. Berikut, tumbuh hormat saya pada sosok presiden RI kedua itu. Berulang kali menonton film “Janur Kuning” tak juga membuat saya paham arti serangan itu, kecuali hanya terkenang akan ketampanan Kaharudin Syah. Sungguh. Mungkin, karena diceritakan oleh sosok ‘biasa’ semacam Wirosoeseno, yang saat itu dalam kondisi kebingungan dan membutuhkan kepastian bagi negaranya, saya bisa merasakan strategisnya serangan itu.
Berkaitan dengan cara menulis ini, saya salut pada kemampuan Iksaka Banu untuk menulis dengan elegan dan obyektif. Kisah-kisah mengenai ‘Londo-Pribumi’ gampang sekali ditarik menjadi cerita penuh penderitaan di sisi pribumi, kekejaman di sisi Londo, perasaan terkorbankan, dan lain-lain yang mengaduk-aduk emosi, yang ujung-ujungnya membuat pembaca membenci satu kelompok dan mengagumi kelompok lain. Dua-duanya dilakukan dengan sama-sama buta. Saya bersyukur, Iksaka Banu tidak lari ke arah sana. Seperti yang saya katakan, Iksaka Banu menulis dengan obyektif dan cukup berjarak dengan para tokohnya.
Kembali lagi kepada cerita, di bagian-bagian awal, cerita seolah berjalan lambat dan lebih terpusat pada Filipus Rechterhand dan Wirosoeseno, dibandingkan dengan sosok Nitisemito sendiri. Namun, memasuki perempat kedua, cerita mulai mengalir lebih cepat dengan berbagai keberhasilan maupun rintangan yang dialami pabrik rokok Bal Tiga, dan pelan-pelan, kitapun berkenalan dengan pribadi Nitisemito. Menuliskan ini bukan berarti saya keberatan dengan penceritaan tentang Filipus Rechterhand dan Wirosoeseno. Malahan, dalam bayangan saya, kalau hanya menulis tentang Nitisemito mungkin novel ini mungkin agak kehilangan imajinasinya. Karena dituliskan dengan pandangan orang lain berikut kisah hidup mereka itulah novel ini terbangun ceritanya. Dan kisah tentang keduanya adalah kisah yang menarik; mengharu biru dengan letupan kemanusiaan yang kental.
Mengenai Nitisemito, menurut saya ada yang menarik hati saya tentang sosok ini. Novel ini jelas berevolusi pada Nitisemito, pria Jawa yang dengan kegigihannya membangun kerajaan bisnis kretek yang disegani, tidak hanya untuk kota Kudus tapi juga untuk Hindia Belanda. Namun, ternyata, ada tokoh di belakang layar yang lebih kuat daripada Nitisemito. Ini kelihatan sekali dalam konflik-konflik di akhir hidup Nitisemito (dan yang memicu kejatuhan Bal Tiga). Ibu Nasilah, istri pertama Nitisemito, sebenarnya bisa dibilang ‘raja’ di belakang Sang Raja (julukan bagi Nitisemito). Sayang sekali, penulis sedikit sekali menceritakan tentang Ibu Nasilah ini. Tidak hanya Ibu Nasilah, penulis tidak terlalu banyak bercerita tentang ketiga istri Nitisemito yang lain. Tentu saja penulis punya pertimbangan tersendiri. Namun, menurut saya, menambahkan sedikit tentang Ibu Nasilah pastilah membuat novel ini tambah ‘panas’(dan saya sebagai penggemar gosip dan teori konspirasi lebih terpuaskan… hehehe….)
Namun demikian, secara jujur harus saya akui, tanpa penceritaan tentang Ibu Nasilah pun novel ini sudah sangat menarik dan memuaskan. Sulit bagi saya menemukan kelemahannya karena faktanya saya membacanya dengan sangat asyik dan nyaris tanpa bisa dihentikan. Bila dipaksakan juga, mungkin saya mau mengangkat karakterisasi  Filipus Rechterhand di bagian akhir. Sepanjang cerita, pegawai keuangan NV Nitisemito ini digambarkan sebagai orang yang tenang, ramah, dan mudah bergaul. Di bagian akhir, Filipus sedikit berubah menjadi penggerutu khas Londo, yang tidak tahan dengan kelambanan dan kecuaian ‘pribumi’. Biarpun ada penjelasan bahwa ini karena usia tua, saya rasa sayang sekali kalau Filipus dikembalikan pada stereotype Londo-nya, mengingat sedari kecil ia sudah bergaul dan berusaha keras beradaptasi dengan ‘pribumi’, bahkan ia menikahi seorang pribumi. Menikahi, bukan mengambil gundik. Namun demikian, tentu saja ini bukan sesuatu yang besar yang merusak cerita. Kisah tentang Si Tua Filipus ini malah membuat pembaca (saya) nyengir membanyangkan Londo kasep yang pemarah.
Akhirnya, saya rekomendasikan novel yang super bagus ini kepada siapa saja. Saya anjurkan guru-guru dan sekolah memiliki novel ini dan mengajak para siswa untuk membaca dan membahasnya. Sangat banyak pelajaran yang bisa digali dari novel ini. Tidak hanya pelajaran tentang kesusastraan dari hasil keterampilan penulisnya, namun juga pelajaran hidup yang dipetik dari kisah Sang Raja. Yang terpenting adalah pelajaran tentang keindonesiaan; betapa Indonesia itu dibangun dengan darah dan nyawa. Tidak mudah dan murah. Karenanya, jangan gampang menyerahkan tanah air tercinta ini pada ideologi yang sama sekali belum ada buktinya.
Karena kerennya tema, gaya penceritaan, dan pesan yang dibawa oleh novel ini saya ingin memberikan lima bintang untuk De Kretekkoning alias Sang Raja. 5 out of 5 stars. Salut.  
***

Pembatuan, 21 Januari 2018

@agnes_bemoe

Friday, 5 January 2018

10 PENULIS BUKU ANAK INDONESIA FAVORIT SAYA

Akhir Desember 2017 lalu Gramedia Pustaka Utama mengeluarkan data tentang 10 buku anak terlaris. Yang mengusik saya adalah kenyataan bahwa sembilan dari sepuluh buku terlaris itu ditulis oleh penulis luar. Satu-satunya penulis Indonesia adalah Rosie L. Simamora dengan buku aktivitasnya.
Iya sih, ini output dari satu penerbit. Mungkin tidak mewakili kondisi Indonesia pada umumnya. Namun, tetap saja hal itu membuat saya tercenung, apalagi GPU masih dianggap representasi pembaca/pembeli Indonesia. Apakah pembeli buku anak terbitan GPU memang memilih karya penulis luar atas penulis Indonesia, ataukah komposisi jumlah buku terbitan luar yang lebih banyak, ataukah pembeli buku GPU belum familiar dengan penulis Indonesia, ataukah… hehehe…?
Maka, iseng (tapi serius) saya mencoba mengumpulkan penulis-penulis buku anak Indonesia yang saya anggap karya-karyanya sangat layak dibeli, dibaca, dan dikoleksi. Penulis-penulis ini adalah penulis di semua penerbit, bukan hanya yang karyanya terbit di GPU saja.
Penulis-penulis yang saya sebut di sini adalah yang sejauh pengetahuan saya saja (yang karyanya sudah saya baca). Dengan ini, bila ada penulis yang benar-benar berkualitas tapi tidak masuk, itu pasti karena saya belum membaca bukunya (sebab keterbatasan saya). Contohnya, Rosie L. Simamora. Jujur, saya belum pernah membaca buku beliau. Saya niatkan tahun ini akan mencari bukunya.
Yang juga tidak akan ada dalam daftar ini adalah para penulis buku anak yang super besar, semisal Eyang Djoko Lelono, Arswendo Atmowiloto, Gola Gong, atau Murti Bunanta. Ibarat dunia kuliner, saya mengumpulkan para chef, bukan master chef (biarpun seringnya, ini beda tipis).
Tentu saja, standar pemilihan ini murni standar saya. Biarpun saya tetap berusaha obyektif, saya tidak bisa memungkiri bahwa selera membaca saya akan sangat menentukan. Selera membaca saya adalah yang full imajinasi, dituliskan dengan sederhana, manis, dan atau cute, serta, ini yang paling penting, membawa pesan universal; membangun jembatan dan bukan mendirikan tembok, semangatnya adalah bersaudara dalam perbedaan bukannya menyeragamkan perbedaan dan membenci yang berbeda.
Eh, last but not least, biarpun berangkat dari rilis GPU, ini sama sekali tidak bermaksud sebagai counter atau tandingan ya (dan jelas tidak bisa, wong segala indikatornya, obyek, dan ruang lingkupnya juga beda. LOL). Niat saya hanyalah iseng, tapi serius dan fun, untuk men-showcase-kan penulis-penulis buku anak Indonesia.
Oke deh, here we go, ini adalah 10 penulis buku anak favorit menurut saya:
1.      Clara Ng
Imajinasi yang meledak-ledak membuat saya langsung jatuh hati pada Clara Ng. Saya membaca hampir semua buku-bukunya, mulai dari “Padi Merah Jambu” sampai “Dru”. Beberapa buku Clara Ng baru-baru ini dicetak ulang. Saya merekomendasikan buku-buku itu karena memang bagus banget.

2.      Arleen Alexandra
Jujur, buku-buku Arleen Alenxandra termasuk buku-buku yang jadi bahan belajar saya. Saya suka gaya penulisannya yang manis dengan ending yang segar dan tak terduga atas cerita kelihatannya ‘biasa’. Saya rasa, inilah maksudnya ‘jenius’ itu.
3.      Renny Yaniar
Gaya menulisnya lembut dan sederhana, dengan tema-tema yang ‘biasa’ (sederhana) membuat buku-buku Renny Yaniar menjadi semcam ‘sihir’. Membaca buku-buku Renny Yaniar saya yakin membuat anak-anak merasa nyaman. Apa yang lebih penting bagi para pembaca cilik selain rasa nyaman dan asyik membaca?
4.      Ary Nilandari
Saya bukan pembaca rutin buku-buku Ary Nilandari (jujur nih). Tidak membaca rutin karena tema yang dituliskannya kebetulan belum jadi minat saya (pre-teen). Tapi, membaca satu-dua buku Ary Nilandari, saya bisa merasakan passion yang mendalam pada tulisannya. Saya yakin, para remaja kecil (bisakah disebut begitu?) seperti menemukan oase atas pikiran dan perasaannya sebagai remaja dan karenanya saya merekomendasikan banget buku-buku Ary Nilandari ini.

5.      Dian Kristiani
Gaya menulis yang ringan, riang, dan kadang-kadang kocak, membuat saya memilih Dian Kristiani sebagai penulis favorit. Anak-anak pasti suka. Apalagi, rentang ide Dian Kristiani lumayan luas membuat membaca buku-bukunya seperti membaca sesuatu yang selalu baru.
6.      Yovita Siswati
Pembaca seri Novel Misteri pasti tahu mengapa saya suka sekali pada Yovita Siswati. Kecerdasannya meramu dan merangkai cerita (crafting the story) membuat novelnya super asyik dibaca. Di antara minimnya novel anak berkualitas, saya sangat merekomendasikan seri novel misteri, salah satunya (eh, beberapa ding) ditulis oleh Yovita Siswati.

7.      Veronica Widyastuti
Lagi-lagi, gaya bercerita yang ringan dan riang membuat saya jatuh cinta, termasuk pada Veronica Widyastuti ini. Bacalah serial Si Bolang, anda akan tahu apa yang saya maksud
8.   Rae Sita Patappa
Rae Sita Patappa lebih banyak menulis cerpen lepas di Bobo, kalau saya tidak salah. Namun, salah satu bukunya tentang rangkaian cerita rakyat yang dibalut petualangan seorang anak membuat Rae Sita Patappa layak difavoritkan.
9.   Watiek Ideo
Biarpun terkadang idenya tidak terlalu baru (well, tidak ada ide yang benar-benar baru di bawah matahari, kan?), tapi eksekusinya menarik; sederhana dan dekat sekali dengan anak. Saya salut banget pada concern Watiek Ideo atas edukasi pada anak.   .
10.  Yulia Loekito
Saya baru saja mengenal Yulia Loekito, yaitu dari serial Duper (lagi-lagi, ini karena keterbatasan pengetahuan saya). Serial Duper itu imut sekali! Saya rasa, saya akan jadi penggemar buku-buku Yulia Loekito nih.

Itulah 10 nama penulis buku anak Indonesia yang jadi favorit saya. Bila ada di antara pembaca yang mencari buku-buku anak bermutu, carilah yang dituliskan oleh nama-nama tersebut di atas.
Sebelum saya akhiri, saya mohon maaf kalau ada yang kurang tepat dalam tulisan ini. Saya menyadari, ada sangat banyak penulis bermutu di Indonesia. Merangkumnya hanya menjadi 10 nama adalah sesuatu yang sangat sulit. Saya sangat menghargai kalau ada teman-teman yang punya usulan nama lain yang belum tercantum di sini. Silakan tuliskan di kolom komen, siapa penulis favorit Anda, pasti jadi referensi yang menarik buat saya.
Selanjutnya, kalau teman-teman adalah tipe pembaca sampai tuntas, teman-teman akan sampai pada bagian yang (mudah-mudahan) menarik. Saya akan memberikan 10 buah buku saya yang berjudul "KOPRAL JONO" bagi teman-teman pembaca yang beruntung. Caranya:
1.      Terakan “mau” di kolom komen di postingan blog ini (di blog ya, bukan di fb)
2.      Share postingan ini di fb dan twitter, mention nama saya: fb Agnes Bemoe, twitter @agnes_bemoe
3.      Tag 3 orang teman lain, tapi tolong jangan beri petunjuk bahwa ini adalah giveaway ya. Mention saja, sambil menuliskan siapa penulis buku anak favorit teman-teman (boleh yang namanya tidak ada di daftar di atas tapi jangan nama saya (GR!) supaya jangan ada konflik kepentingan) J
4.      Giveaway diam-diam ini akan berakhir pada 8 Februari 2018. Pengumuman pemenang dilakukan pada tanggal 14 Februari 2018, bertepatan dengan Hari Pemberian Buku Sedunia.
Baiklah, saya tunggu respon baik teman-teman.

Selamat Natal 2017 dan Selamat Tahun Baru 2018!

Pebatuan, 5 November 2018

@agnes_bemoe 

Wednesday, 3 January 2018

2017 ke 2018

Saya memasuki tahun 2017 seperti petinju kalah KO, seperti lilin tersapu angin, seperti krupuk tersiram hujan. Babak belur. 2016 memang brutal buat saya. Sakit fisik yang turun naik, disambung sakit mental yang lebih turun naik lagi saya duga menggerogoti ketangguhan saya. Lalu suatu peristiwa di akhir tahun benar-benar menumbangkan saya. Peristiwa kecil sebenarnya tapi, seperti kata Poirot, itu semacam selembar jerami yang mematahkan punggung unta.



'Kebrutalan' itu berefek. Saya tidak bisa menulis. Awalnya saya anggap itu writer's block biasa, dan akan hilang dalam 1-2 minggu. Nyatanya saya keliru. Berbulan-bulan setelahnya saya masih menzombie di depan laptop.

Tentu saja saya menerbitkan buku. Tapi buku-buku yang terbit di tahun 2017 adalah hasil kerja tahun-tahun sebelumnya. Btw, sudah beli buku saya, belum?



Sungguh, saya tidak berharap banyak pada 2017. Tapi, saya tidak ingin ditinggalkan oleh harapan. Saya tulis di sebuah status fb: Hope is all I have to accompany me through this year. 

Nah, 2017 berakhir. Kemana harapan itu membawa saya?

Saya tidak banyak menulis tapi saya banyak jalan-jalan. Jalan-jalan yang tidak saya rencanakan dan tidak menggunakan uang saya (ya iyalah, duit dari mana mau keliling Indonesia. LOL)

Awal tahun, saya lolos seleksi Kemendikbud untuk penulisan naskah cerita rakyat dan budaya lokal. Karenanya, saya diikutkan di Bimtek (bimbingan teknis) di Bekasi dan kemudian pencarian data ke Kab. Kuantan Singingi, Riau(saya menulis tentang Pacu Jalur, tradisi masyarakat Kuantan Singingi). Saya belum pernah ke kedua tempat itu. Kuantan Singingi ternyata tempat yang eksotis. Banyak wisata alamnya yang menarik. Kapan-kapan, saya ingin ke sana lagi dan memuaskan diri mengunjungi tempat wisata alam di sana.

Di Bimtek Bekasi, bertemu dengan editor favorit dan penulis yang saya kagumi: Mbak Dhika dan Mbak Sophie

Di Perkampungan Adat di Taluk Kuantan



Lalu, saya diajak oleh seorang aktivis gerakan perempuan yang juga kakak asrama saya untuk menulis buku tentang pendidikan seksual. Ini membawa saya ke kota Jambi dan Medan. Ini juga kota-kota yang asyik buat dijelajahi. Jambi adalah kota tua yang cantik dan ayem. Melihat Jambi, saya teringat Malang. Medan, saya tak perlu cerita banyak, kota ini cantik, riuh, sangar, sekaligus cool... hehehe....

Di Istana Maimun Medan


Saya juga pergi ke Sorong karena diundang oleh OMK St. Gaudensius Sorong untuk memberikan seminar. Selagi di Sorong, saya diajak ke Raja Ampat! Ibarat durian runtuh, saya diruntuhi durian sepohon!

Di Raja Ampat

Jalan ke sana ke mari terasa seperti menyuntikkan obat buat saya. Saya gembira. Gembira dan bersyukur. Kalau saya lihat lagi, saya tidak merencanakan perjalanan-perjalanan yang menggembirakan itu. Tapi, itu terjadi.

Ketemu dengan kakak-kakak editor di kantor Gramedia

Oh iya, awal September, tiba-tiba saja kepala saya disambar ide. Yeay! Saya mulai tuliskan ceritanya. Belum selesai, tapi it was huge.

Sekarang, di sinilah saya, mengakhiri 2017 dengan perasaan yang gembira dan positif. Tahun 2018 ini, kalau sampai umur saya, saya akan berusia 50 tahun. Wow! Saya sendiri juga kaget. Emang saya udah setua itu yah? Saya masih suka mewek seperti anak kecil. Mimpi-mimpi saya juga mimpi yang 'kekanakan' banget. Enggak cocok buat wanita berusia 50 tahun. Tapi, we'll see, kan?


Eh, ada sedikit 'kecelakaan' kecil yang membuat saya agak muram di sepanjang Natal sampai Tahun Baru 2018. Tapi, ya sudah deh, saya jalani saja sekuatnya. Saya letakkan mimpi dan harapan saya pada butiran hujan yang gencar membasahi pagi pertama 2018. Saya berharap HOPE, teman lama saya, masih menyertai saya sepanjang tahun 2018. A little bit of luck will also be welcomed... xixixi....



Selamat Natal 2017 dan Tahun Baru 2018

***

Pebatuan, 4 Januari 2018
@agnes_bemoe

Monday, 18 December 2017

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: Menyusur Chairil

Judul Buku: Ini Kali Tak Ada yang Mencari Cinta
Penulis: Sergius Sutanto
Penyunting: Esti Ayu Budihabsari
Penerbit: Qanita, Cetakan I, Oktober 2017
Genre: Fiksi Biografi



Seperti yang disampaikan di lembar awal, buku ini adalah novelisasi kehidupan penyair besar Indonesia, Chairil Anwar. Novel 432 halaman ini memuat kisah hidup Ninik, panggilan Chairil semasa kecil, dari kecil hingga wafatnya. Seperti yang dijanjikan di tagline-nya juga, novel ini mengulik pemberontakan bathin penyair kelahiran Medan ini. Pemberontakan bathin yang membawanya melesat sebagai penyair besar di satu pihak tapi menggerus sisi personal dan sosial si penyair di pihak lain. Pemberontakan yang menyulut ironi demi ironi dalam kehidupan tokoh sastra Angkatan 45 ini.

Secara umum, saya sudah pernah membaca sepotong-sepotong kisah hidup Chairil Anwar. Bila hanya untuk sekedar tahu, saya merasa sudah cukup tahu. Namun demikian novel ini tidak lantas jadi membosankan buat saya. Ketrampilan Sergius Sutanto menyadur potongan sejarah menjadi lembar fiksi membuat saya bertahan membacanya. Menggunakan kalimat pendek-pendek, Sergi tampil hangat dan manusiawi, tidak kaku dan dingin. Kehangatan dalam rangkaian kalimat-kalimat pendeknya itulah yang membuat novel biografi ini enak dibaca.

Biarpun setiap genre punya tingkat kesulitan tersendiri dan tidak adil bila diperbandingkan, saya rasa, saya pribadi akan menghindari menulis novel biografi karena tingkat kesulitannya yang tinggi. Penulis tidak bisa begitu saja meluahkan imajinasinya karena yang ditulis adalah tokoh riil. Akan ada ekspektasi yang tinggi terhadap keakuratan atas tokoh dan kehidupannya. Saya ingat bertahun -tahun lalu pernah membaca sebuah review atas film Frida Kahlo. Kritik paling kuat adalah ketidakmiripan karakter Frida dengan aslinya. Ini menimbulkan penolakan oleh penonton di negara asal Frida, Meksiko.

Memahami tingkat kesulitannya yang tinggi ini, saya salut, ada penulis yang mau berkutat di dalamnya. Ini jadi semacam angin segar buat dunia bacaan di Indonesia. Sergi pun menuliskannya tidak hanya (relatif) akurat, namun lancar dan indah, seperti yang saya sebutkan sebelumnya.

Bahwa ini bukan buku sejarah (non-fiksi), akan kita temukan di beberapa bagian. Sergi tidak melemparkan semua fakta sejarah dalam tulisannya. Awalnya saya kurang paham. Namun kemudian saya malah mendukungnya. Memenuhinya dengan serangkaian informasi sejarah malah potensial membuat novel ini membosankan.

Namun demikian, ada beberapa bagian yang saya rasa perlu diperdalam. Salah satunya adalah kematian Toeloes bin Manan, ayah Chairil. Untuk tokoh sepenting ayahnya -yang dikagumi sekaligus dibenci oleh Chairil- moment kematian yang cuma diangkat berdasarkan cerita Uda Husni, pedagang nasi kapau dari Bukittingi, rasanya kurang memadai. Saya membayangkan adanya ledakan emosi yang lebih kuat, mengingat ayahnya itulah pangkal kegalauan dan kelabilan Chairil.

Namun demikian, novel ini sangat asyik dibaca. Teknik flashback di prolog-nya keren, menurut saya. Dari awal, saya merasa sedang menonton film, dan bukan membaca buku. Saya kurang tahu, ini hal yang bagus atau bukan, yang jelas saya tidak keberatan.

Novel semacam ini sangat langka di Indonesia. Selain Iksaka Banu, saya tidak tahu siapa lagi yang mau bertungkus lumus di genre ini. Karenanya, saya bersemangat sekali membacanya. Saya menyarankan novel ini jadi bacaan wajib anak-anak SMA. Ini novel yang membantu anak memahami tokoh dan sejarah dengan lebih menyenangkan. Secara khusus untuk situasi Indonesia yang sedang diancam pertikaian dan perpecahan oleh ide kilafah, novel ini sangat bagus untuk mengingatkan, betapa mahalnya harga kemerdekaan (silakan baca di bagian pembantaian Rawa Gede).

Akhirnya, salut untuk Sergius Sutanto, penulisnya, sangat ditunggu buku-buku berikutnya.

***

Pebatuan, 19 Desember 2017
Agnes Bemoe

Wednesday, 13 December 2017

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: Harga Sebuah Kesuksesan


Judul: Juniper Berry
Pengarang: M. P. Kozlowsky
Penerbit: Walden Pond Press (Imprint of Harper Collins Publishers)
Terbitan Pertama: 2012



"Kesuksesan ada harganya". Semua orang tahu hal itu. Ada yang jadi kehausan kita, ada yang kita harapkan jadi pemenuhan jati diri kita. Semua orang tahu dan mungkin diam-diam ada yang sedang berjuang di dalamnya.

Novel ini mengupas topik tersebut. Topik 'mencari kebahagiaan hakiki' dari sudut pandang seorang anak perempuan 11 tahun, Juniper Berry.

Lalu, kalau semua orang sudah tahu rumusan 'kesuksesan ada harganya', apa menariknya novel ini? Penceritaannya menarik! Kisah 'biasa' (seorang anak yang haus kasih sayang orang tuanya yang super sibuk) yang dirangkai ke dalam penceritaan yang luar biasa kreatif. Melibatkan unsur fantasi (pohon aneh dan dunia bawah tanah) dengan logika terjaga. Saya kurang tahan cerita yang terlalu menegangkan. Tapi di buku ini, saya malah tak tahan ingin membalik halaman selanjutnya biarpun membaca dengan tegang.

Yang juga saya suka dari novel ini adalah opininya untuk tidak menghakimi. Juniper tidak menghakimi orang tuanya yang gila ketenaran, tidak juga menghakimi Giles, temannya, yang lemah. Berangkat dari situlah spirit cerita ini berkembang. Dan dari keyakinan untuk tidak menghakimi itulah Juniper selangkah demi selangkah menuntaskan rencana besarnya.

Kendala buat saya menikmati novel ini adalah Bahasa Inggrisnya yang tingkat tinggi. Saya bukan pemakai Bahasa Inggris aktif sementara pilihan kata di novel ini adalah 'Thesaurus-style' (menurut ukuran saya). Namun, jujur, saya tidak patah arang membacanya. Tak mengerti setiap katanya tapi paham maksudnya, sudah cukup buat saya.

Karena kekayaan makna, penceritaan, dan bahasanya itu, kalau saya seorang pustakawan atau guru, saya akan pilih buku ini untuk dibaca dan dibahas. Alangkah indahnya kalau di usia dini anak-anak sudah dikenalkan ketrampilan menentukan prioritas hidup. Dan itu yang ditawarkan oleh buku yang ditulis oleh mantan seorang Guru Bahasa Inggris SMP ini.

***

Pebatuan, 14 Desember 2017
Agnes Bemoe

Tuesday, 22 August 2017

TANDA-TANDA

Hari ini 30 tahun yang lalu bapak berpulang. Seminggu ini saya teringat mendiang bapak.

Saya teringat saat-saat terakhir beliau. Ada hal-hal, yang kalau saya pikir lagi, seperti jadi pertanda buat kepergiannya.



TAPE RECORDER
Saya beruntung bisa berada dekat dengan beliau secara fisik. Waktu itu saya baru lulus SMA dan sedang tidak ada kegiatan (saya diterima di PT melalui PMDK jadi saya relatif tidak repot mencari PT).

Bapak sedang menjalani masa pemulihan setelah operasi pembersihan kanker di usus besarnya (secara teknis, usus besar bapak dipotong karena sudah digerogoti kanker).

Ada hari-hari dimana bapak merasa cukup kuat dan sehat biarpun lebih banyak hari beliau hanya bisa tertidur dengan lemah.

Nah, suatu saat, ketika merasa cukup sehat, beliau mulai mengutak-atik kabel-kabel loudspeaker berikut tape-nya. P.S. itu adalah tape kesayangan beliau, sebuah JVC yang keren banget saat itu. Buat kami sih, tak ada yang salah dengan tape itu. Suaranya halus dan bersih. Tapi beliau berpendapat lain. Ada yang harus diperbaiki, katanya. Ya sudah. Tak tega juga melarang beliau.


Buat orang sehat, pekerjaan membereskan kabel-kabel loudspeaker mungkin kerja ringan belaka. Tapi buat beliau, ini seperti naik gunung. Keliahatan gerak beliau yang lamban. Tapi, kelihatan juga kerasnya keinginan beliau untuk memperbaiki tape itu. Akhirnya, loudspeaker dan tape pun "beres".

Setelahnya, bapak menghabiskan hari-harinya mendengarkan kaset. Kaset yang beliau dengarkan adalah kaset rekaman kami waktu kecil-kecil. Ya, waktu kami kecil, bapak merekam kami bernyanyi (atau menangis, hahaha!) Nah, kaset-kaset itulah yang diputarnya berulang-ulang.

Entah apa yang ada di pikiran bapak saat itu. Mungkinkah bapak kangen dengan anak-anaknya yang sedang jauh darinya (hanya saya yang di rumah saat itu). Mungkin, bapak ingin mendengar lagi anak-anaknya yang memang semua suka nyanyi.

MAKANAN
Suatu hari, saya makan Chiki di dekat bapak. Bapak berbaring di kursi. Saya merasa, bapak sedang mengamati saya. Dan, betul, ketika mengangkat kepala, bapak sedang memandangi saya makan.
"Bapak mau Chiki?" tanya saya, biarpun tahu bapak tak bisa makan apa-apa saat itu.
Bapak menggeleng. Lalu, beliau bilang: "Bapak pingin sekali makan jagung bakar sama singkong rebus."

Saya cuma terdiam. Seandainya pun bisa dibuatkan jagung bakar dan singkong rebus, bapak jelas tak bisa juga memakannya. Pencernaannya yang dihajar kanker tak memungkinkan beliau mencerna makanan.

Namun, bila saya cerna lagi sekarang, saya baru ngeh. Mungkin bapak rindu kampung halamannya. Singkong rebus dan jagung bakar/rebus adalah makanan masa kecil bapak di kampung. Bertahun-tahun merantau, bapak jarang pulang kampung. Mungkin, sesaat, beliau ingin sekali berada di kampung halamannya itu.

DAN BEBERAPA HAL LAIN
Masih ada hal-hal lain yang kalau saya ingat-ingat, jadi semacam pertanda kepergiannya. Tak saya ceritakan karena terlalu personal.

Beberapa waktu yll saya nonton acara "Medium with Tyler Henry". Ini sebuah tayangan yang menampilkan seorang medium bernama Tyler Henry. TH mampu berkomunikasi dengan yang sudah berpulang.

Saya ingat kata-kata TH, kira-kira begini: kematian itu berat bagi kita yang masih hidup tapi sebenarnya bagi yang menjalaninya, mereka merasakan kedamaian.

Benar juga rasanya kata-kata ini. Saya belum juga bisa move on dari berpulangnya bapak. Selalu saya kais cuilan memori, berharap bisa sesaat saja mengembalikan beliau. Sudah TIGA PULUH TAHUN berlalu, hal ini tak berubah. Kematian beliau, berat buat saya.

Namun demikian, dalam iman pada Tuhan Yesus dan Bunda Maria, saya percaya beliau sudah berada dalam kedamaian. Ini yang terbaik buat bapak. Dan, dalam iman yang sama, saya percaya kami akan dipertemukan. Bapak tak perlu mengutak-atik loudspeaker hanya untuk bisa mendengar suara anak-anaknya. Bapak bisa makan jagung bakar sepuas-puasnya bersama kami, anak dan istrinya. Kita pasti bertemu.

I love you, Bapak.


***

Mengenang 30 tahun meninggalnya Bapak Amathus Bemu, SH (Maumere, 4 April 1934 - 23 Agustus 1987)

Du'a

Monday, 7 August 2017

Ring of Fire di Green Radio 96,7 FM Pekanbaru

Jumat, 4 Agustus 2017 lalu saya tampil di Green Radio 96,7 FM Pekanbaru. Saya membicarakan buku terbaru saya "Ring of Fire" di acara Eco Lifestyle.

Berikut saya sampaikan point-point pembicaraannya, khususnya yang mengenai "Ring of Fire" (ya, saya ditanyai riwayat singkat, karya lain, dan prestasi. Saya eliminir point-point tersebut di tulisan ini ya).


1. Mengenai anak dahulu dan sekarang:
Jelas ada perbedaan antara anak zaman dahulu dan sekarang. Ada perbedaan kecanggihan permainan, perbedaan kompleksitas tantangan dan rangsangan, dll. Namun demikian, adavsatu hal penting yang tidak berubah: anak tetaplah anak. Mau di zaman apapun, anak tetap punya kebutuhan dan harapan yang sama sebagai anak-anak. Anak tetap butuh main, tetap butuh bersikap kekanak-kanakan, tetap butuh bimbingan. Perkembangan zaman tidak berarti anak juga bisa tumbuh dewasa secara instan.

2. Ring of Fire (RoF)
Buku ini berisi 5 buah cerita tentang bencana alam yang disebabkan oleh posisi Indonesia yang berada di jalur cincin api (Ring of Fire). Jalur ini membentang dari Amerika Selatan, menyusuri Pasifik, lalu turun ke Jepang dan AsianTenggara, sampai ke New Zealand. Jalur ini menyebabkan negara-negara di atasnya rawan akan bencana gempa, gunung, meletus, tsunami, dll.


Ada 5 buah bencana yang disinggung oleh RoF. Pertama tentang posisi Indonesia sendiri dalam jalur cincin api diceritakan dalam "Rokatenda Menari". "Ketika Pak Sinabung Batuk" menceritakan tentang gunung meletus. "Monster Air" menceritakan tentang tsunami. "Kapten Oscar" bercerita tentang langkah-langkah penyelamatan diri bila terjadi gempa bumi. Dan "Wedhus Gembel" bercerita tentang awan panas Gunung Merapi".

Semua itu dikemas dalam bentuk cerita yang imut dan ramah anak, diperindah dengan ilustrasi yang menarik.

Selain cerita, RoF dilengkapi dengan lembar pengetahuan di setiap akhir ceritanya. Jadi, dari buku ini anak-anak bisa mengetahui apa itu tsunami, mengapa sering terjadi bencana alam di Indonesia, dll.

3. Latar Belakang Penulisan RoF
Tahun 2013 saya membaca sebuah buku anak-anak tentang tsunami tahun 2006. Buku itu saya beli di Singapura waktu saya ikut SingTel Asian Picture Book Award.

Buku tentang tsunami itu bersetting India dan ditulis oleh seorang penulis Amerika. Menurut saya, ini adalah buku yang indah sekali. Indah bahasanya, indah ilustrasinya.

Lalu saya berpikir, Indonesia juga dihantam tsunami parah. Secara literasi, sepertinya belum ada buku anak yang secara khusus mengangkat masalah ini ke dalam bentuk dokumentasi cerita.

Selain kepentingan dokumentasi literasi, saya rasa anak-anak Indonesia sangat butuh disadarkan tentang kondisi alamnya yang rawan bencana ini. Inilah yang mendorong saya untuk menuliskannya.


4. Mengapa Menuliskan Tentang Bencana
Saya menyadari, tema bencana adalah tema yang gelap, berat, dan muram buat anak-anak. Proses penulisan buku ini juga sempat terhambat karena cerita-cerita yang saya buat cenderung berat dan penuh tekanan emosional.

Namun, saya tetap berkeras ingin menuliskannya karena saya yakin anak-anak butuh tahu tentang ini. Selama ini kita hanya tahu ada bencana, lalu lewat begitu saja, seolah-olah tak ada yang bisa kita lakukan lagi. Padahal, faktanya, anak adalah korban terlemah dalam setiap bencana.

Di luar, sistem perlindungan diri terhadap bencana ditanamkan di sekolah-sekolah. Kita di sini, minim sekali padahal bencana sudah seperti bagian dari kehidupan orang Indonesia.

Dengan menuliskan tentang bencana alam ini saya harap anak-anak punya awareness. Awareness ini mudah-mudahan menuntun mereka pada perilaku bertanggung jawab atas perlindungan diri. Jangka panjangnya, mudah-mudahan mereka tumbuh besar dan mulai memikirkan tentang sistem perlindungan masyarakat, terutama anak, dalam menghadapi bencana.

5. Apakah Buku Ini Ramah Anak?
Biarpun isinya tentang bencana, cerita-ceritanya disampaikan dengan ringan dan cute. Ambil contoh "Rokatenda Menari" yang isinya tentang Gunung Rokatenda, sebuah gunung di Flores, yang menari-nari. Cerita yang sebenarnya menggambarkan gempa ini dibuat dengan unik dan ringan. Ditambah lagi dengan ilutrasi-ilustrasi keren dari teman-teman ilustrator.
Tsunami dalam "Monster Air" dibuat cute sekali dengan kacamata bundarnya.

Saya yakin, buku ini ramah anak.

6. Dapat Diperoleh di Mana?
RoF bisa dibeli di TB Gramedia ataupun di tokomonline Gramedia



7. Rencana ke Depan dan Proyek yang Sedang Dikerjakan
Selanjutnya masih ingin tetap menulis, secara khusus menulis tentang tema budaya dan alam Indonesia. Pendeknya, saya ingin menuliskan hal-hal yang berbeda dari yang sudah banyak dituliskan.
Terkahir menulis tentang tradisi Pacu Jalur Kuantan Singingi bersama Kemendiknas.

Begitulah kira-kira pembicaraan RoF di Green Radio.

Saya berterima kasih sekali, ada radio yang konsern dengan alam seperti Green Radio. Secara khusus, saya bersyukur karena dengan ini akan semakin banyak orang aware dengan bencana.

P.S. Saya pendengar setia Green Radio, jauh sebelum wawancara ini. Frekuensinya jadi frekuensi wajib di mobil saya :)

***

Pebatuan, 8 Agustus 2017
@agnes_bemoe