Sunday, 28 May 2017

BEHIND THE SCENE [BTS]: Ring of Fire - Dari India ke Sinabung



Tahun 2013 saya baca sebuah buku berjudul "Selvakumar Knew Better". Buku yang saya beli di AFCC 2013 ini bercerita tentang tragedi tsunami di India. Penulisnya bukan orang India melainkan seorang Amerika, bernama Virginia Kroll. Baca resensi saya di sini.



Setelah menikmati ceritanya yang menawan dilengkapi dengan ilustrasi yang menakjubkan, saya tercenung sendiri. Tsunami yang sama juga menghantam Indonesia. Namun, belum ada satu ceritapun mengangkatnya.

Tidak hanya sebagai dokumentasi, cerita-cerita semacam ini bisa menjadi pegenalan untuk anak-anak tentang alam tempatnya tinggal, termasuk mengenali potensi bencananya.

Inilah yang menuntun saya pada ide penulisan bencana-bencana alam yang potensial menerpa Indonesia, yang secara geografis memang terletak di jalur Ring of Fire.



EKSEKUSI MACET
Biarpun mendapatkan idenya mudah, saya mengalami kendala di eksekusinya. Kendalanya adalah saya terseret untuk menulis cerita-cerita yang terlalu gelap. Saya membacanya pun tidak nyaman, apalagi anak-anak. Saya ingin ceritanya tetap manis dan informatif, mirip seperti "Selvakumar Knew Better". Berkali-kali saya coba, ceritanya selalu beratmosfer gelap.

Akhirnya, saya berhentikan penulisannya. Apalagi saat itu (2013 - 2015) saya juga kurang sehat.

DIPAKSA SINABUNG
Tahun 2015, Sinabung meletus. Saya teringat akan naskah yang saya tinggalkan. Saya merasakan ada urgensi untuk menyelesaikan naskah ini. Bencana alam bertubi-tubi tapi minim sekali informasi standar untuk keselamatan, terutama untuk anak-anak.


Meletusnya Sinabung didukung dengan kesehatan yang membaik membuat saya kembali mengotak-atik naskah ini.
Untuk menjauhkan dari "potensi kegelapan", saya ubah cerita-ceritanya dari realis menjadi lebih imajinatif. Contohnya, cerita "Wedhus Gembel" awalnya berisi cerita seorang anak yang selamat dari kejaran awan panas (sudut pandang dari si anak). Cerita itu saya ubah menjadi seekor "wedhus gembel" yang berusaha menyelamatkan seorang anak (sudut pandangnya adalah si wedhus gembel).


Mengubahnya menjadi lebih imajinatif ternyata membantu saya menuliskannya dengan lebih ringan. Saya menuliskannya dengan enak. Dan saya harap, yang membacanya juga merasakan hal yang sama.

ILUSTRASI YANG MEMABUKKAN
Ide buku ini saya sukai. Menuliskannya (akhirnya) saya nikmati. Nah, seperti cherry on my ice-cream, ilustrasi buku ini ternyata mengasyikkan buat saya. Saya tak menyangka kalau akan tenggelam dalam keseruan menikmati ilustrasinya!

Saya dibantu oleh Audelia Agustin (Rokatenda Menari), Gery Adams (Ketika Sinabung Batuk), Dian Ovieta (Monster Air), InnerChild Std. (Kapten Oscar), dan Maman Sulaiman (Wedhus Gembel). Semuanya menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang imut namun hidup.

Ambil "Rokatenda Menari", misalnya. Karakter "Rupak"nya unik sekali, khas menggambarkan Indonesia, bahkan Flores. "Indonesia banget" ini memang tujuan saya karena saya ingin menonjolkan keindonesiaannya.


Lalu, tsunami di "Mosnter Air". Ini adalah tsunami paling imut yang pernah saya lihat! Cocok bagi anak, tanpa mengurangi pesan untuk waspada.


TERBIT
Biarpun proses penulisannya lama (2013 - 2016), proses terbitnya cukup cepat. Syukurlah!

Maret 2017 "Ring of Fire" diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Mudah-mudahan buku ini diterima oleh anak-anak Indonesia. Tidak untuk kepentingan komersil saja tapi juga untuk tujuan awal: anak-anak perlu kenal dengan kondisi alam Indonesia dan potensi bencananya, sebab inilah yang akan mereka hadapi.

Mudah-mudahan para orang tua dan guru membantu saya menyampaikan ini pada anak-anak :)


***

Pembatuan, 29 Mei 2017
@agnes_bemoe

Thursday, 20 April 2017

OLEH-OLEH APA DARI KUANSING?

Jujur, saya tidak sempat secara khusus mencari oleh-oleh khas Kuansing. Namun, pengalaman seuprit ini mungkin bisa jadi gambaran bila ingin mencari oleh-oleh.
Krupuk Sagu, Seberang Taluk, Taluk Kuantan

KRUPUK SAGU
Umumnya, makanan kecil yang bisa jadi oleh-oleh yang menarik adalah penganan berbahan dasar ketan, seperti lomang (lemang) atau lopek (lepat). Sayang sekali, saya tidak sempat membawa pulang penganan-penganan itu.
Namun, saya berjodoh dengan yang satu ini: Krupuk Sagu. Ini makanan ringan, gurih, dan comforting. Buat saya, makanan ini mengingatkan akan masa kecil saya (ini makanan masa kecil :D).

Saya kurang tahu, apakah di pertokoan ada, tapi saya mendapatkannya dari seorang ibu pengusaha Krupuk Sagu yang tinggalnya di Seberang Taluk. Dengan hanya Rp. 10.000,- kita sudah mendapat satu bungkus besar Krupuk Sagu.

MAS TALUK
Sepanjang yang saya tahu, mas Bagansiapiapi (Rokan Hilir) adalah mas yang bagus. Ternyata kota Taluk Kuantan juga menghasilkan mas yang tinggi mutunya.
Bila anda suka berinvestasi di logam mulia, mungkin bisa dipertimbangkan membawa pulang mas Taluk. Catatan, berbeda dengan di Jawa, di Sumatera mas diukur dengan satuan mas, bukan gram. Satu mas sekitar 2 - 3 gram.

OLAHAN DURIAN
Durian memang jadi buah khas Riau. Tidak heran kalau Taluk Kuantan menyediakan berbagai penganan berbahan dasar durian. Untuk olahan durian, anda bisa membawa pulang pancake durian. Tapi, tanyakan dulu bisa tahan berapa jam di luar freezer.
Pancake durian ini adalah daging durian yang dibungkus crepe basah. Rasanya manis dan gurih durian. Enak!

KERAJINAN TANGAN MOTIF TAKULUAK BAREMBAI
Nah, yang ini saya tertarik banget, sayangnya belum ada (belum banyak).


Btw, "Takuluak Barembai" adalah motif hiasan pada baju khas perempuan Kuantan. Motif itu disusun dari renda biku (renda yang bentuknya berkelok-kelok), dengan warna pakem hitam, emas/kuning, merah, dan putih, di atas dasar hitam.

Motif ini diterakan pada busana perempuan. Namun demikian, sekarang motif ini dipakai untuk yang lain, misalnya tas tangan. Sayangnya, belum ada produksi partai besar untuk ini. Saya yakin sekali, penggila motif etnik akan ngiler berat melihat tote bag, atau tas tangan, atau clutch motif Takuluak Barembai ini.

Begitulah kira-kira oleh-oleh yang bisa kita bawa dari Taluk Kuantan. Seru, 'kan?

***

Rantau Kuantan, 18 April 2017
@agnes_bemoe

Catatan: Foto Takuluak Barembai milik Wigati Isye

DI KUANSING, MAKAN APA?

Secara umum, makanan yang banyak di Kuansing adalah masakan Padang dan Melayu. Keduanya mirip -kaya rempah, bersantan, dan pedas- tetapi tidak persis sama. Ada hidangan-hidangan tertentu yang menjadi 'signature dish' yang membuat kita tahu itu masakan Padang atau Melayu (mirip-mirip perbedaan RM Padang dengan RM Kapau atau Lintau; orang luar menyamakan sebagai "Nasi Padang" padahal dari beberapa hidangan khasnya kita tahu itu a la Padang, Kapau, atau, Lintau).

RM Salero Kampuang, Taluk Kuantan

Saya beruntung mencicipi hidangan khas Melayu Kuansing yaitu di RM Salero Kampuang, dengan hidangan khasnya Gulai Cipuik (Gulai Siput). Siput yang digunakan di sini adalah siput sawah. Bentuknya bulat kecil berwarna hitam. Konon, siput sawah ini adanya musiman (belum dibudidayakan) sehingga Gulai Cipuik juga menjadi hidangan musiman.

Rasanya seperti gulai-gulai pada umumnya; gurih, pedas, dengan rasa asam selayang dari terong asam yang ikut dicampurkan ke gulai. Terong asam ini juga sayuran khas Kuansing. Awalnya saya menduga ini terong biasa yang bisa kita jumpai di pasar. Ternyata tidak sama. Terong asam ini bentuknya mirip tomat hijau dengan rasa yang masam.

The Signature Dish: Gulai Cipuik


Yang nikmat dari Gulai Cipuik sebenarnya cara menyantapnya. Siput dimakan dengan cara disedot supaya dagingnya keluar dari cangkang. Nah, fase ini yang menantang. Kadang-kadang daging siput mudah diisap namun lebih sering ia bertahan di dalam cangkang.

Rasa daging siput itu sendiri tidak terlalu kentara (mungkin juga karena pengaruh kuah gulai), agak earthy menurut saya yang bila dipadukan dengan kuah gulai dan terong asam menjadi perpaduan yang enak. Party in your mouth deh!

Btw, untuk di RM Salero Kampuang sendiri, bila anda sedang tidak ingin masakan berkuah santan, cobalah ayam goreng kampungnya. Ini saya berani rekomendasikan karena enak banget!



Ayam kampung sendiri pada dasarnya sudah enak; dagingnya gurih dan tidak eneg. Bumbu ayam goreng ini minimalis sekali (saya duga sih garam dengan bawang putih saja). Namun, bumbu itu meresap cukup dalam dan merata membuat ayam terasa nikmat. Cukup dengan Lado Tanak (sambal cabe hijau), anda bisa nambah berulang-ulang!

Bila anda sedang ingin jajan, tempat berikut ini bisa anda pertimbangkan: Dapoer Saloni di Jl. A. Yani, Taluk Kuantan. Saya menemukannya secara tidak sengaja. Sehabis mengisi bensin, saya tertarik dengan dekorasi Dapoer Saloni yang unik. Lebih tertarik lagi saya melihat ternyata hidangannya adalah berbagai variasi es durian! Wah, sebagai penggila durian, saya tidak boleh melewatkan ini! Kebetulan saat itu panas terik di Taluk Kuantan. Tidak ada yang lebih cocok selain semangkuk es!
Es Campur Durian

Dan, es duriannya memang enak. Manisnya seimbang dengan durian yang nonjok lezatnya. Harganya juga tidak mahal, RP. 15.000,- untuk semangkok es campur durian.

Selain berbagai variasi es durian, disediakan juga berbagai makanan berbahan dasar durian. Sayangnya waktu itu saya sudah kenyang. Namun, buat para petualang kuliner, sepertinya harus coba yang ini deh!
Dapoer Saloni, Taluk Kuantan


Saya tidak sempat mencoba tapi saya lihat Pecel Lele cukup banyak di Taluk Kuantan. Ini bisa jadi alternatif tempat makan yang lumayan menyegarkan. Yang saya belum ketemu (mungkin juga karena saya tidak benar-benar mencari) adalah sate ayam/kambing yang a la Madura dan Chinese Food.

Namun demikian, jangan kawatir selera kuliner kita tidak terpuaskan. Asal tidak super picky atau ekstrim advonturir, kita bisa menikmati lezatnya kuliner Kuansing.

***

Rantau Kuantan, 18 April 2017
@agnes_bemoe

Wednesday, 19 April 2017

KEMANA KE KUANSING? #2

Hari kedua, saya ditawari mengunjungi air terjun Guruh Gemurai di Kasang, Lubuk Jambi, di Kec. Kuantan Mudik. Sebenernya saya ngiler berat. Saya lebih suka wisata alam seperti ini daripada wisata belanja. Sayang sekali, saya harus memperhitungkan kondisi pinggang yang sedang sowak. Saya berharap, suatu saat saya akan cukup kuat untuk menjalani medan menuju air terjun ini (menurut informasi, medannya cukup berat).

Ada 2 air terjun yang bisa dinikmati di Kuansing. Selain Air Terjun Guruh Gemurai ada lagi Air Terjun Tujuh Tingkat Batang Koban di Kec. Hulu Kuantan.

Desa Wisata Koto Sentojo

Kami akhirnya menuju ke lokasi Desa Wisata Koto Sentajo. Di sini kita bisa melihat masyarakat Melayu Kuantan asli, lengkap dengan penghidupannya. Di sepanjang kampung berjejer rumah-rumah adat asli, lengkap dengan dapur dan lumbung. Rumah-rumah itu dibangun dari kayu hutan asli (bukan beton) dan sudah berumur puluhan tahun. Di sebuah sisi terdapat sebuah masjid dan di sebelahnya ada semacam aula untuk masyarakat bermusyawarah.

Desa Wisata Koto Sentojo

Satu hal yang menarik perhatian saya adalah atap masjid. Tidak seperti masjid Indonesia pada umumnya yang menyerap gaya Timur Tengah, masjid di lokasi ini mirip Masjid Agung Demak, dengan atap bersusun meninggi ke atas. Saya kurang tahu, gaya ini memang terpengaruh dari Jawa, atau bagaimana.

Kami memutari kompleks desa wisata yang unik dan asri itu. Senang rasanya bisa menikmati atmosfer Melayu yang masih asli seperti itu.

Rangkiang, atau Lumbung Padi masyarakat Sentojo

Dua hari di Kuansing, baru tempat-tempat di atas itu yang bisa saya kunjungi. Jujur: tidak puas! Semoga saya bisa kembali lagi, kali ini sendiri -atau dengan teman yang menyenangkan untuk diajak berpetualang- supaya bisa lebih exploratif. Selain ingin mengunjungi air terjun, saya juga ingin melihat makam Syekh Angku Angin di Kec. Hulu Kuantan, ingin melihat tradisi Perahu Baganduang di Koto Lubuk Jambi, ke Air Panas Sungai Pinang di Kec. Hulu Kuantan, ke Hutan Bukit Baling dan Bukit Rimbang di Kec. Singingi, serta ke beberapa danau seperti Danau Kebun Nopi, Danau Masjid Koto Kari, dan Danau Rawang Udang.

Sedikit tips untuk teman-teman yang berniat ke Kuansing: kita harus punya kendaraan sendiri karena tidak ada kendaraan umum. Lebih baik kalau punya pemandu dari masyarakat setempat. Perjalanan kami terasa bermanfaat dan menyenangkan karena dipandu oleh Ibu Wigati Isye dan Bpk. Dedi yang asli Kuansing.

Selama di Kuansing kami menginap di Wisma Hasanah di Jl. Perintis Kemerdekaan (belum ada chained-hotel). Dengan rate Rp. 400.000,- per malam (rate tertinggi), kita sudah mendapat fasilitas sarapan pagi, kamar besar (bisa untuk 3 orang karena disiapkan juga sebuah dipan kecil selain sebuah tempat tidur besar), ber-AC, kulkas, dan dispenser. Sayang sekali, tidak disertakan gelas minum dan perlengkapan lain seperti tissu atau keranjang sampah. Yang juga disayangkan adalah air panas dan wi-fi yang belum terlalu lancar. Namun, secara umum, penginapan ini bersih, petugasnya ramah (ini yang paling penting), dan dekat dengan kota.

Bagi yang dari luar Sumatera, Kota Taluk Kuantan bisa dicapai dengan berkendara dari Pekanbaru. Perjalanan menghabiskan waktu sekitar 4 jam. Kalau teman-teman mau lanjut, dengan jarak tempuh 2 jam teman-teman sudah bisa mencapai Sumatera Barat.

Ada sedikit "jebakan betmen" ketika kita masuk daerah Singingi dari Kampar. Jalanannya berliku-liku, mirip Kelok Sembilan di Sumatera Barat. Red zone bagi yang kurang fit. Tapi selebihnya, perjalanan lumayan menyenangkan kok, dengan rimbunan hutan karet atau sawit di sisi jalan.

Jadi, tunggu apa lagi, ayo ke Kuansing!

TAMAT

***

Rantau Kuantan, 18 April 2017
@agnes_bemoe

Tulisan sebelumnya di sini.

KEMANA KE KUANSING? #1

Sekaligus mengambil data untuk kepentingan penulisan, saya menyempatkan diri melihat-lihat kemolekan Kuansing (singkatan dari Kuantan dan Singingi, dua sungai besar di kabupaten ini). Berbatasan di Utara dengan Kabupaten Kampar dan Kabupaten Pelalawan, di Timur dengan Kabupaten Indragiri Hulu, di Selatan dengan Provinsi Jambi, dan di Barat dengan Provinsi Sumatera Barat, Kuansing adalah sebuah kabupaten hasil pemekaran dari Kab. Indragiri Hulu di tahun 2000.

PACU JALUR
Sebuah kelompok pacu jalur sedang latihan (17/4). Foto milik Wigati Isye

Primadona pariwisata kabupaten ini tentu saja Pacu Jalur. Itu semacam lomba dayung perahu tradisional (masyarakat menamainya "jalur") yang hanya ada pada masyarakat Kuantan (sering disebut "Rantau Kuantan"). Sayang sekali, kedatangan saya tidak bersamaan dengan event Pacu Jalur. Pacu Jalur biasanya diadakan setahun sekali di bulan Agustus sempena Hari Kemerdekaan. Penyelenggaraannya biasanya dilakukan di bagian sungai Kuantan yang dinamakan Tepian Narosa. Daerah ini berada tepat di pusat kota. Di dekatnya didirikan taman yang disebut Taman Jalur. Di tengah Taman Jalur ada sebuah tugu, disebut Tugu Jalur. Pada bagian bawah atau dasar tugu tersebut terdapat relief yang menggambarkan proses pembuatan jalur.

Tidak bisa menyaksikan Pacu Jalur, bukan berarti saya tidak bisa menikmati Kota Jalur ini.

CAGAR BUDAYA KANAGORIAN TALUK KUANTAN
Dengan ditemani oleh Ibu Wigati Isye dan Bpk. Dedi Erianto, S. Sos. kami menuju ke Cagar Budaya Kanagorian Taluk Kuantan. Letaknya tidak jauh dari pusat kota. Di sana ada kompleks bangunan yang merupakan tiruan rumah adat masyarakat Kuantan.
Cagar Budaya Kanagorian Taluk Kuantan

Sepintas, bangunannya mirip rumah asli masyarakat Melayu pada umumnya; berbentuk rumah panggung yang panjang (melintang) dengan ukiran-ukiran khas Melayu pada atap dan dinding terasnya. Bedanya, tiruan rumah adat ini dibuat dari beton dan bukan kayu seperti rumah aslinya.

Di dalam komplek cagar budaya itu terdapat beberapa rumah. Lalu, di ujungnya terdapat semacam aula (tapi tanpa dinding). Menurut Bpk. Dedi, biasanya dalam suatu kampung, satu rumah diisi oleh satu suku/marga. Ada 4 suku dalam Kanagorian Taluk Kuantan yang diistilahkan dengan Suku Babilang. Mereka adalah Suku Tigo, Suku Ompek, Suku Limo, dan Suku Onam.

Secara berkala suku-suku tersebut berkumpul di "aula" di ujung kampung untuk membicarakan kemaslahatan kampung.

Dari lokasi cagar budaya, kami menuju ke Hutan Kota Pulau Bungin. Tempatnya juga tidak jauh dari pusat kota. Kekayaan sejati hutan kota ini adalah pepohonan (dan hewan) di dalamnya. Semuanya adalah pohon asli sisa hutan hujan tropis Sumatera!
Hutan Kota Pulau Bungin

Sangat bersyukur masih bisa melihat dengan mata kepala sendiri hutan asli Sumatera ini. Sambil berjalan menikmati pohon-pohon raksasa kita bisa mendengar suara burung (atau kelelawar?) bersahut-sahutan. Hutan kota ini punya jalur berpaving-block yang mengelilinginya, yang biasanya dimanfaatkan oleh masyarakat untuk lari pagi atau sore.

Selain Hutan Kota, Kuansing memiliki tempat lain yang dijadikan  kawasan hutan wisata, yaitu Bukit Rimbang dan Bukit Baling di Kec. Singingi. Di kawasan ini hutannya konon benar-benar hutan perawan.

Kami mengakhiri acara keliling Kuantan untuk hari itu karena hari sudah gelap (kami mulai berkeliling sudah sore). Besok, kami akan jalan lagi.

--- Bersambung ke sini ---

Rantau Kuantan, 17 April 2017
@agnes_bemoe

Monday, 10 April 2017

Nino, Si Petualang Cilik - Semangat Nusantara di Bologna Book Fair 2017

Awal April kemarin saya di-tag oleh akun Penerbit BIP di Twitter. Ternyata buku saya, "Nino, Si Petualang Cilik" diikutkan di Bologna Book Fair 2017.

Nino, Si Petualang Cilik di Bologna Book Fair. Foto diambil dari page Komite Buku


Tentu saja saya senang, bangga, dan bersyukur. Mudah-mudahan ada penerbit luar negeri yang tertarik pada Nino.

Btw, Nino berisi 10 cerita tentang budaya dan tradisi Nusantara. Di antaranya: Hombo Batu di Nias, Tradisi Perang Suku di Papua, Pasola Sumba, atau Lomba Lanting Bambu di Kalimantan. Pokoknya, khas Nusantara. Anak-anak Indonesia seharusnya tahu dan kenal tradisi-tradisi ini dan selanjutnya menghormati dan menjaga tidak sampai punah. 

Punah? Ya, tidak hanya modernisasi yang jadi "musuh" tradisi-tradisi Nusantara. Radikalisme yang muncul bagai jamur di musim hujan di bumi Indonesia benar-benar mencemaskan. Radikalisme ini seringnya memandang dan mendakwa tradisi Nusantara sebagai sesuatu yang harus dihilangkan dan diganti. Mungkin tidak langsung secara keseluruhan, tapi pelan-pelan, bagian per bagian "dimusuhi" lalu diganti. Ini mencemaskan. Sangat mencemaskan. Apalah Indonesia tanpa keragaman budayanya yang dikagumi dan diirikan oleh pelbagai negara lain di dunia? 

Sebagai penulis cerita-cerita anak, yang 'konstituen' saya adalah masa depan bangsa ini, saya memilih sikap menjaga dan mempertahankan budaya dan tradisi Nusantara. Saya ingin dikenang sebagai penulis yang menghargai dan menjaga Nusantara, bukan sebaliknya. 

Mudah-mudahan, "Nino, Si Petualang Cilik", membawa pesan, baik kepada Indonesia maupun dunia, tentang Indonesia yang sebenar-benarnya. 

***

Pembatuan, 10 April 2017
@agnes_bemoe

Tuesday, 14 March 2017

MEMBAYAR HUTANG PADA ATUK TENAS

Saya suka belajar. Karenanya, senang sekali bisa ikut kegiatan Bimbingan Teknis Penulisan Cerita Rakyat dari Direktorat Kepercayaan kepada Tuhan YME dan Tradisi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang diadakan 6 - 8 Maret 2017 lalu di Bekasi, Jawa Barat.
Awalnya, saya dicolek oleh Mas Iwok Abqary di grup Forum Penulis Bacaan Anak (FPBA). Rupanya, Kemendikbud bekerja sama dengan FPBA sedang mencari penulis untuk proyek penulisan Cerita Rakyat dan Tradisi untuk 7 provinsi di Sumatera, termasuk Riau. Singkat cerita, saya ikut mengirimkan Curriculum Vitae (CV) dan CV saya itu diterima.

NINO dan 'HUTANG' PADA PAK TENAS
Jujur, waktu menerima email dari Kemendikbud tentang proyek ini saya langsung teringat pada 'Nino, Si Petualang Cilik', buku saya yang terbit tahun 2013.

Seperti Nino, proyek ini juga mengumpulkan berbagai tradisi Nusantara dan mengemasnya menjadi sebuah cerita (Sudah pada baca Nino kan ya? :D)

Waktu menyusun Nino itu, sempat terpikir oleh saya alangkah baiknya kalau lebih banyak budaya dan tradisi Nusantara yang bisa diceritakan. Tak nyana, universe conspires, dua tahun setelahnya Kemendikbud mengeluarkan ide yang sama (proyek ini dimulai tahun 2015).

Mengenai Nino, sekitar tahun 2014 saya berkesempatan bertemu dengan Budayawan Riau, Alm. Tengku Nasruddin Effendi (Tenas Effendi). Saya berikan buku 'Nino, Si Petualang Cilik' buat beliau. Beliau sangat senang karena ada buku anak-anak yang peduli dengan budaya Nusantara. Terlebih beliau senang karena Riau juga diangkat. Namun demikian, beliau berpesan untuk tidak melupakan karakteristik budaya Riau. Budaya Riau, menurut beliau, adalah budaya yang berbasis air; laut, sungai, rawa. Alangkah baiknya kalau digali lagi budaya yang berkaitan dengan air ini.

Mendengar petuah itu, dalam hati saya menetapkan keinginan untuk suatu saat menyusun cerita budaya Riau yang berbasis air. Sebagai catatan, dalam Nino saya menulis tentang  'Bakar Tongkang Bagansiapiapi'. Ini tradisi masyarakat Tionghoa di Bagansiapiapi, Riau, untuk memperingati kebulatan tekad mereka untuk tinggal dan berdiam di Bagansiapiapi dengan jalan membakar tongkang yang mereka naiki dari daratan Cina Selatan.

Lagi-lagi, sepertinya universe conspires, dari berbagai pilihan topik, saya mendapat jatah menuliskan tentang Pacu Jalur Sungai Kuantan. Luar biasa senangnya saya! Akhirnya, saya dapat kesempatan menuliskan tentang budaya Riau yang berbasis air! Biarpun bukan buku pribadi, tulisan ini ingin saya persembahkan buat Bapak Tenas Effendi. Kalau bukan karena 'pe-er' dari beliau, mungkin saya tidak sampai ke proyek ini.

KE BEKASI
Beberapa mentor dalam Bimtek ini merupakan nama-nama besar yang sudah malang melintang di dunia perbukuan anak. Salah satunya adalah Sofie Dewayani. Bertemu lagi dengan Sofie Dewayani yang ramah sangat menyenangkan. Terakhir kami bertemu di acara Singtel Asian Picture Book Award 2013 di Singapura. Kami sama-sama menjadi nominee.

Sofie Dewayani menekankan pentingnya mengenali segmen pembaca termasuk kebutuhannya. Sofie juga menegaskan perlunya mengambil sudut pandang anak dalam setiap penulisan buku anak. Penekanan semacam ini penting buat saya yang masih suka egois memaksakan konsep saya sebagai penulis pada pembaca anak.

Saya juga bertemu dengan Pradhika Bestari, editor yang menjadi 'bidan' bagi "Aubrey dan The Three Musketeers" (terbit 2013 di Penerbit Kiddo. Sudah baca juga, kan?) Saya berharap, mbak Dhika berkenan blak-blakan membuka rahasia menyusun cerita berbasis budaya a la Seri Misteri Favorit kesukaan saya. Tapi lalu saya sadar, tidak sesederhana itu menyamakan dua kegiatan ini :D

Namun demikian, ini hal-hal yang saya jadikan pegangan untuk mengumpulkan data dan menyusunnya menjadi cerita. Pertama adalah '5 W + 1 H'. Kumpulkan sebanyak mungkin data terkait tempat, waktu, pelaku, latar belakang, serta bagaimana berlangsungnya. Selanjutnya, kumpulkan juga hal-hal menarik di luar tradisinya, misalnya makanan, pakaian, permainan, atau apa saja yang jadi ciri khas daerah tersebut. Saya rasa, ini menuntut saya untuk jadi lebih peka dan jeli dalam mengamati tradisi yang hendak saya tulis.

BHINEKA TUNGGAL IKA
Yang super menarik buat saya adalah penekanan terus menerus dari Bpk. Sri Guritno, mewakili Direktorat Kepercayaan kepada Tuhan YME dan Tradisi. Beliau menekankan bahwa kebhinekaan Indonesia ini adalah fakta yang harus terus menerus diperjuangkan dan dipertahankan. Untuk itulah Kemendikbud melalui direktorat terkait getol menyiapkan dan menyusun buku tentang tradisi dan cerita rakyat Indonesia ini. Buku yang nantinya disalurkan ke sekolah-sekolah ini diharapkan membuka wawasan anak Indonesia tentang hakikat bangsa dan negara Indonesia.

Sungguh, dalam arus radikalisme agama yang menjamur serta menyusupi Indonesia, yang potensial menghancurkan Indonesia, saya merinding mendengar ada orang pemerintah yang menyuarakan pentingnya menegakkan kebhinekaan Indonesia.

Hal ini diperkuat oleh paparan Bpk. Semiarto Aji Purwanto, Antropolog dari Universitas Indonesia, yang menegaskan perlunya penulis berdiri secara obyektif dalam menulis ulang sebuah tradisi. Dalam obyektivitas itu penulis tidak boleh menghakimi suatu tradisi berdasarkan kepercayaan pribadinya. Dengan itu, kita mendapatkan kumpulan tradisi yang unik dan khas, yang kemudian menjadi kekayaan budaya Indonesia.

Mudah-mudahan hal ini bisa saya pahami benar-benar dan saya terapkan dalam tulisan saya nantinya. Saya cinta Indonesia dan seluruh kekayaan budayanya dan saya tidak mau melihatnya hancur. Saya rasa, saya diberi kesempatan hadir dan belajar adalah untuk menulis hal yang benar tentang Indonesia yang bhineka, bukan yang lainnya.

BIG SURPRISE!
Yang mengikuti buku-buku saya pasti tahu bahwa ada satu nama ilustrator yang hampir selalu ada di buku saya. Benar: InnerChild Std! Tak sangka, saya bisa bertemu dengan Kang Dwi InnerChild di kegiatan itu! Rupanya beliau salah seorang pembicara juga.

Saya penulis baru yang tidak punya pengalaman ketika pertama kali bertemu InnerChild. Namun, InnerChild membuat segalanya mudah buat saya: enak komunikasinya, kerjanya profesional, dan hasil ilustrasinya bagus. Saya bersyukur mengenal InnerChild Std. Lebih bersyukur lagi bisa bertemu langsung! Bayangkan, selama ini hanya 'ribut' di email atau Blackberry (dulu) :D

LALU, PINGGANG BAGAIMANA?
Ini hal pertama yang saya tanyakan pada diri saya sendiri: kuat tidak, mengikuti kegiatan ini. Saya harus duduk sepanjang waktu, sementara duduk adalah musuh besar saya.

Saya mempersiapkan diri. Berenang setiap hari dan refleksi. Saya juga menetapkan, tidak akan memaksa diri. Bila tidak kuat, saya ke kamar dan istirahat.

Hari pertama berlalu dengan mulus. Keesokan paginya saya sempat berenang. Hari kedua, saya sempat kesakitan. Ada beberapa kali -tidak banyak-saya kabur ke kamar buat meredakan pinggang. Biarpun tidak mulus-mulus amat, saya rasa pinggang saya berhasil melewati hari-hari Bimtek ini dengan aman.

TANGGUNG JAWAB
Bangga karena 'terpilih'? Hehehe... senang, pasti. Tapi, saya sadar, kemungkinan faktor minus malum ada. Jadi, saya harus banyak-banyak refleksi. Dan yang terpenting, ini bukan tentang saya. Ini tentang naskah /buku yang nantinya jadi sumber belajar anak. Saya memiliki tanggung jawab profesional dan moral di sini.

Saya berterima kasih atas kesempatan yang luar biasa ini. Semoga saya dapat mengemban tanggung jawab saya dengan sebaik-baiknya.

***

Pembatuan, 14 Maret 2017
@agnes_bemoe