Saturday, 23 July 2016

Hakuna Matata



Ada masanya saya tidak bisa menerima bahwa saya sakit. Seperti sekarang ini, saya sulit menerima bahwa saya tidak bisa melakukan hal-hal paling sepele seperti jalan, berdiri, atau duduk. Apalagi jalan-jalan, makan-makan, atau kesenangan lainnya. Dan,itu sangat membuat frustrasi.

Persis Lebaran lalu saya tumbang lagi.

Oke, kesalahan ada pada saya. Selama bulan puasa, saya ikuti irama hidup toa masjid di kampung saya. Ketika toa mulai membangunkan segenap isi kampung untuk makan sahur, saya juga ikut terbangun. Daripada terbangun sia-sia, saya memutuskan untuk duduk mengetik.

Kalau sudah mengetik, saya suka lupa diri (dan tak tahu diri). Bisa sampai jam 10 atau 11 pagi. Awalnya tidak terasa apa-apa. Lalu, tiba-tiba saya merasakan sengatan di pinggang. Itu sekitar akhir Juni. Masalahnya, saat itu saya sedang ada utang pekerjaan dengan sebuah grup menulis yang tidak mungkin saya tinggalkan.

Dalam kondisi sudah nyengir-nyengir, saya selesaikan juga tugas itu. Syukurlah bisa selesai. Namun, seperti saya katakan, saya tumbang dengan sukses.

Saya kesakitan. Tidak bisa bangun, tidak bisa berdiri, jalan, apalagi duduk. Pertolongan pertama saya adalah tidur berbaring sepanjang hari menenangkan syaraf yang terjepit. Terapis langganan saya belum buka karena libur Lebaran. Jadi, saya hanya bisa menunggu.

Saat itu saya sebenarnya ada tanggungan tugas dari sebuah panitia reuni, selain melanjutkan tugas dari grup menulis di atas. Dengan menahan malu dan tidak enak hati saya terpaksa minta diri dari tugas-tugas itu.

Nah, saya lalu ke terapi untuk berobat, yang mana sangat membantu. Tapi, sebelnya, atau saya harus tulis SEBELNYA dengan huruf besar, kalau HNP saya kumat, pasti diikuti dengan (1) konstipasi, dan... ini yang menyebalkan (2) depresi.

Jadi begini, selagi berjuang dengan HNP, saya kena radang tenggorokan. Tidak parah. Dengan bantuan internet, saya cari tahu pengobatan alaminya. Demam dan radang tenggorokan membuat saya tidak bisa makan dan ini menganggu pencernaan. Konstipasilah saya.

Sudah punya pengalaman sebelumnya, kali ini konstipasi saya gempur dengan sayur hijau dan buah. Syukurlah, mereda tanpa harus ke RS (kali terakhir saya harus ke RS).

Selagi HNP, radang, demam, dan kosntipasi menari-nari di badan saya, saya menyadari ada yang mengintip dari luar, menunggu kesempatan masuk. Depresi.

Saya mulai gloomy, super gloomy. Pokoknya tidak enak. Susah saya menggambarkannya.

Saya malas berurusan dengan orang. Sialnya, pada saat yang bersamaan saya mengalami kendala terkait dengan ilustrasi untuk buku baru saya. Hal itu sungguh memicu depresi saya dan berat rasanya bahkan hanya untuk mengingatnya.

Puji Tuhan, saya segera menyadari gejala-gejala awal depresi yang sedang terjadi pada diri saya. Berbekal itu, saya menyusun diri supaya tidak terseret terlalu jauh dalam gejolak alam pikiran saya sendiri. Hasilnyan umayan, biarpun fluktuatif juga.

Di awal tulisan saya menyebutkan tentang betapa frustrasinya saya karena apa yang saya alami ini. Betapa saya belum bisa menerima bahwa  saya harus seperti ini.

Pikiran itulah yang selalu memberati kepala saya. "Andaikan sehat, saya bisa nulis. Andaikan sehat, saya bisa jalan ke mall. Andaikan sehat, saya bisa ikut kegiatan ini itu. Andaikan sehat... dst"

Mudah bagi anda yang sehat untuk bilang: sudah sabar aja... dst. Faktanya, ketika sakit hal-hal seperti itulah yang menutupi pikiran saya.

Saya sulit melepaskan keinginan-keinginan itu, sampai pagi ini ketika membaca buku "Mencari Tuhan dalam Segala" karya Anthony de Mello, SJ saya menemukan sebuah kalimat yang menohok sekali: ada orang-orang yang kehilangan hidup demi memelihara kesehatannya. Saya lebih memilih mereka yang kurang sehat namun benar-benar hidup dan  menikmati hidup (Hal. 15).

Kalimat itu benar-benar menggetok kepala saya. Menikmati hidup.

Kalau saya ingat-ingat lagi, itu juga yang pernah disarankan psikiater saya. Dalam bahasa yang tidak terlalu njelimet, seorang teman pernah memberi saran: kalau kepingin Van Hollano (nama bakery), pergi beli. Mau ke karaoke, karaoke! Hidup ini sederhana: susah-senang-susah-senang-lalu mati. Jadi, tidak usah dibuat rumit!

Kata-kata itu yang dulu pernah menyadarkan saya. Sekarang saya dengar lagi: menikmati hidup.

Saya bisa saja meratapi penjara ini atau menari-nari bersama tikus-tikus di dalamnya. It's my call.

***

Pembatuan, 24 Juli 2016
@agnes_bemoe



Wednesday, 29 June 2016

BELAJAR MENULIS CERPEN DARI SELEKSI #PENTIGRAF

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat tugas menyeleksi sejumlah cerpen tiga paragraf ( #Pentigraf) di sebuah grup menulis. Di samping beberapa yang lemah, saya membaca banyak cerpen yang bagus-bagus. Lalu, lama-lama, saya merasa menemukan semacam pola pada cerpen-cerpen yang bagus itu. Ujung-ujungnya, saya bersyukur banget mendapat tugas menyeleksi ini. Ini merupakan pengalaman pembelajaran buat saya. Nah, pengalaman itulah yang saya tuangkan di sini.

Gambar diamil dari Google

BEDA ANTARA CERPEN, INFO/BERITA, KOTBAH, DAN CURHAT
Katakanlah, empat orang mendapat ide tentang “kematian”. A membuatnya menjadi semacam info/berita: tokoh bercerita tentang teman masa kecilnya, dari awal pertemanan sampai temannya kemudian meninggal. B membuatnya menjadi semacam renungan tentang kematian diakhiri dengan pesan tentang kehidupan. C membuatnya menjadi semacam luahan perasaannya tentang kematian orang terdekatnya. Dalam konteks menulis cerpen, ketiga jenis tulisan di atas tidak terlalu menarik dibaca. Yang bergaya info/berita terasa kering, tidak ada lompatan emosional yang ditunggu pembaca. Yang bergaya kotbah terasa (maaf) memuakkan. Toh ada banyak penulis renungan yang lebih bagus dan enak dibaca kalau kita memang ingin membaca renungan. Yang bergaya curhat membuat pembaca kelelahan karena merasa “ditumpahi” cerita. Tidak ada alur, tidak ada plot, terkadang (seringnya) dengan bahasa yang tidak efektif a la curhat, belum lagi biasanya ‘lebay’ secara emosional.  
D mengambil ide “kematian” kemudian memikirkan “bagaimana saya membuatnya menjadi menarik”. Ia menyusun alur, menyusun plot, membentuk karakter, menentukan konfliknya, memikirkan endingnya, memikirkan kata-kata yang akan ditulis apakah cukup tepat atau tidak, dan seterusnya seperti yang disarankan teori-teori penyusunan cerita.

EKSEKUSI IDE
Saya rasa, tujuan untuk membuat menjadi menarik inilah yang membedakan. Ada banyak penulis berhenti pada menulis, titik. Pokoknya menulis, tanpa peduli apakah tulisannya menarik untuk dibaca atau tidak. Penulis cerpen memikirkan dengan cermat eksekusi atas ide yang didapatnya. Ia mengolah ide sedemikian rupa sehingga tulisannya jadi semacam hidangan yang lezat dan bukan sekedar kumpulan beras, lauk mentah, dan bumbu-bumbu (lalu mengharap pembaca mengunyah sendiri).  Ia memulai dengan efisien (tidak bertele-tele). Ia bercerita dengan lancar dan memikat. Ia menggiring pembaca pada ending yang sedap. 
Bicara tentang eksekusi, mengandaikan ada proses wajib yang dilalui penulis. Proses itu bernama rewriting (membaca dan menulis ulang): setelah mendapat ide dan menuliskannya, penulis membaca kembali sambil memperbaiki tulisannya. Seringnya ini perlu dilakukan berulang-ulang sampai penulis benar-benar puas akan hasilnya.

TATA TULIS YANG DISIPLIN
Selain eksekusi yang memikat, saya mendapati bahwa cerpen-cerpen yang asyik dibaca ditulis dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Saya salut pada penulis yang menulis dengan tertib seperti ini. Kata Sutardji Calzoum Bachri: “seindah-indahnya bahasa, akan rusak juga bila dipakai oleh orang yang tak peduli dan lalai.” Bahasa Indonesia itu bahasa yang indah dan unik. Yang mengaku penulis seharusnya lebih getol mempertahankannya ketimbang merusaknya.
Apakah Bahasa Indonesia yang baik dan benar lantas membuat tulisan kaku? Tidak tuh. Dalam konteks seleksi #Pentigraf ini baca saja tulisan Tengsoe Tjahjono, Krismariana Widyaningsih, atau Wrini Harlindi. Ini hanyalah tiga orang di antara banyak penulis yang menulis dengan tertib dan tulisannya enak dibaca. Ada penulis yang memilih gaya jenaka dalam menulis dan mampu menulis dengan tertib tanpa bersembunyi di balik alasan kejenakaan (gokil). Coba baca tulisan Theresia Anik Soetaryo atau Fidelis R. Situmorang.

PENUTUP
Sekali lagi saya bersyukur mendapat tugas menyeleksi cerpen-cerpen ini. Terpapar dengan bacaan yang bagus dan menarik membuat saya seperti bersekolah dengan gratis. Namun demikian, “kunyahan” saya tentang cerpen yang bagus ini adalah yang paling tepat untuk “pencernakan” saya. Saya yakin, teman-teman pembaca punya “kunyahan” tersendiri yang lebih baik untuk diri teman-teman sendiri. Yang penting, tetap semangat menulis. (db)

Pembatuan, 30 Juni 2016
@agnes_bemoe

Apa itu "Cerpen Tiga Paragraf" dapat dibaca di blog Tengsoe Tjahjono di sini.


Monday, 20 June 2016

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: ANOTHER FACE OF CHRISTMAS STORY

Title                             : BABUSHKA
Retold by                    : Sandra Ann Horn
Illustrator                    : Sophie Fatus
Publishers                    : Barefoot, Ltd (Great Britain), Barefoot Inc. (United States of
                                      America


An old lady who spent her days sweeping, dusting, and polishing her house once got shocked as she found a mark on her windowpane. What she didn’t know was that the mark led her to an awesome journey, started with her greeting the angels who appeared at the front door as she rubbed the windowpane. The journey didn’t stop until Babushka found the one who finally filled her empty heart.
“Babushka” is a story which puts an old conventional Christmas story to another level in such a sweet way. The way Sandra Ann Horn conveys the story is heartwarming. While keeping the Christmas’ spirit alive, Ms. Horn spices the story up with sweet yet brilliant twists. Those twists make this book suitable for all seasons of the year, not just in the holiday season as it used to be.
Not only the story, the illustrations are also fascinating. This is the kind of book that will entertain children’s eyes and mind. No wonder that BBC Parenting said: “This is a lovely update of an old story, with great illustrations, that contains a valuable message about love”.
If you think some Christmas’ stories are boring and predictable, you should try reading this. I wish you would have the same (Christmas) excitement as I had.



Pekanbaru, 21 June 2016

Agnes Bemoe

Friday, 10 June 2016

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: NGOS-NGOSAN DENGAN DANANG


Judul Buku                  : Misteri Gurindam Makam Kuno
Serial                           : Serial Misteri Favorit
Penulis                         : Yovita Siswati
Ilustrator                     : Indra Bayu
Penerbit                       : Penerbit Kiddo
Genre                          : Fiksi Anak
Jumlah Halaman          : 192 halaman





Benar belaka komentar seorang teman di laman facebook tentang buku ini: siap-siap ngos-ngosan karena kejar-kejaran.
Yovita tidak banyak berbasa-basi di bukunya ini. Dari halaman pertama pembaca sudah diajak untuk “ngos-ngosan” (tentu saja dalam arti yang baik, yakni ketegangan sudah terasa sejak halaman pertama). Danang tiba-tiba mendapati dirinya di daerah Bagan Deli yang tidak dikenalnya setelah ia diserang oleh orang tak dikenal. Pertemanannya dengan Seruni dan Bang Gopal –orang-orang yang menyelamatkan dirinya- membawanya pada petualangan seru mencari harta karun.
Selanjutnya, pembaca diajak mengikuti plot-plot cerita dengan twist yang mengagetkan. Saya pribadi sudah kapok menebak-nebak dan menduga-duga. Lima buku misteri favorit tulisan Yovita sebelumnya tidak juga membuat saya bisa menduga polanya. Selalu baru dan banyak hal mengejutkan, termasuk di judul yang satu ini.
Membaca buku Yovita ini, kita memang harus habis-habisan. Yovita tidak memberi ruang bagi pembaca alay yang hanya mau konflik-konflik cemen dengan penyelesaian yang mudah. Sebaliknya, Yovita menggempur pikiran pembaca dengan lemparan-lemparan konflik yang sepertinya tak mungkin terpecahkan (yang membuat kita geregetan ingin segera menuntaskan buku ini).
Kekuatan Yovita yang lain adalah kemampuannya menciptakan karakter yang unik dan kuat. Ambil contoh Seruni. Seruni seorang anak perempuan. Namun, di tangan Yovita, ia jadi “bukan anak perempuan biasa”. Saya yakin, setiap pembaca pasti akan langsung teringat pada Seruni, bila disebutkan tentang seorang anak perempuan yang tomboy, kasar, dan bergaya bicara seenaknya.
Seperti buku-buku sebelumnya, judul yang satu ini juga kaya akan asupan sejarah dan budaya, dalam hal ini sejarah Kota Deli, Kota Medan, budaya masyarakat Tionghoa di sana, serta sedikit tentang budaya Melayu Deli. Pengetahuan tentang sejarah dan budaya ini disisipkan dengan apik sekali dalam rangkaian cerita sehingga pembaca tidak merasa sedang berhadapan dengan diktat sejarah. Saya pribadi sangat menyambut baik buku-buku cerita yang menampilkan budaya Nusantara. Buku-buku cerita seperti ini akan mengisi alam pikir pembacanya dengan kenyataan tentang indah dan kayanya Nusantara. Buku-buku semacam ini membantu pembaca untuk lebih cinta pada Indonesia.
Tentu saja, buku ini jadi semakin mengasyikkan karena ilustrasi-ilustrasi yang dibuat oleh Indra Bayu. Sayang sekali, sepertinya ilustrasi dalam buku ini tidak sebanyak di buku-buku sebelumnya.
Bila ada yang ingin saya diskusikan dari buku ini adalah informasi bahwa orang-orang Tiongkok yang datang ke Tanah Deli beragama Budha. Setahu saya, orang-orang Tiongkok pertama yang datang ke Nusantara beragama Kong Hu Cu. Ini bisa ditemukan pada komunitas orang-orang Cina di kepulauan, seperti di Bagansiapiapi, Bengkalis, dll., yang saya duga tidak jauh berbeda dengan komunitas orang Cina yang ada di kota Deli. Agama Budha dianut kemudian karena dulunya pemerintah tidak mengakui agama Kong Hu Cu.
Namun demikian, selain keraguan saya yang masih harus didiskusikan itu, buku ini jelas sangat layak koleksi dan terutama layak baca. Saya belum menemukan serial lain yang seasyik ini, setelah berpisah cukup lama dengan serial Lima Sekawan, Trio Detektif, Sapta Siaga, atau STOP. Ngomong-ngomong, ini musim liburan. Daripada tenggelam dalam gadget, lebih baik membaca. Dan judul dan serial ini adalah yang saya rekomendasikan untuk jadi bahan bacaan.

***

Pekanbaru, 11 Juni 2016
@agnes_bemoe

Saturday, 4 June 2016

Guru, Sanksi, dan Lebay

Berabad-abad-abad-abad yang lalu saya jadi guru. Nyubit? Njewer? Pernah dong. Banyak saksi hidup di jagad fb ini yang bisa membuktikan bahwa saya suka nyubit dan suka ngejewer. Bikin petal rambut anak? Sama. Saya punya banyak saksi memberatkan. Did that make me bad? Do I have to feel sorry?



Saya tidak mendukung tindak kekerasan membabi buta pada siswa. Namun, dalam porsi yang tepat dengan konteks yang tepat, koreksi pada anak adalah tindakan membantu anak menyadari kekeliruannya.


Syukurlah, pada zaman saya jadi guru, tidak ada orang tua alay bombay dan super songong seperti sekarang, yang bahkan sampai memperkarakan dan "membalas" tindakan guru. Tapi, serius, kalau beneran ada yang seperti itu, hari itu juga saya antar anaknya pulang, dengan pesan besok ga usah kembali ke sekolah. Kalau orang tua murid sudah tidak percaya pada institusi sekolah/guru, carilah alternatif lain, homeshooling, misalnya. Jangan mengambil sikap songong terhadap sekolah.


Yang bisa saya pastikan, kemanapun anaknya disekolahkan, sampai kapanpun, dan dengan biaya berapapun, anaknya tidak pernah bisa lolos dari the rules of school of life: konsekuensi adalah bagian dari pilihan. Kalau karena sikap alay orang tuanya, anaknya tidak pernah belajar bertanggung jawab dan menerima konsekuensi, jangan salahkan siapa-siapa kalau hidup akan terus-terusan mengejarnya dengan serangkaian konsekuensi yang tidak bisa ditanggungnya.

***

Tulisan ini saya copy-paste dari status fb saya

Pekanbaru, 5 Juni 2016
@agnes_bemoe

Friday, 15 April 2016

BEHIND THE SCENE [BTS]: PRISCILLA'S EASTER EGGS AND THE OTHER EASTER STORIES



Beberapa tahun yang lalu, ketika mengajar Sekolah Minggu, saya kesulitan mencari buku-buku cerita tentang Paskah. Sampai ketika saya menjadi penulis sekarang ini, jarang sekali saya menemukan cerita bertema Paskah di toko buku. 
Saya pun terpikir, kenapa tidak membuatnya?

Dengan itu, saya lalu mulai mengerjakan naskah ini.
Sejak awal saya memang menginginkan naskah ini dalam bentuk picture story book, untuk anak usia 3 – 6 tahun. Dalam bayangan saya, cute sekali Paskah itu untuk anak usia dini. Namun, karena untuk anak usia dini, kesulitannya adalah menerjemahkan katekese Paskah menjadi lebih sederhana.
Prapaskah dan Paskah itu berat dan dalam. Saya ingin anak-anak menangkap intinya, yakni kasih sayang Allah melalui Yesus tapi saya tidak ingin ceritanya menjadi terlalu biblis-teologis (yang mana saya juga nggak bisa). Di lain pihak, saya agak keberatan kalau ceritanya hanya festive saja lalu mengaburkan inti perayaannya.

Dengan berusaha tarik ulur antara dua titik itu, saya menyusun ceritanya.
Kurang tahu deh, apakah saya berhasil berdiri di posisi tengah antara sisi bliblis-teologis dengan sisi festive. Yang jelas, kemudian jadilah lima buah cerita yang saya anggap cukup unyu.
Saya minta tolong InnerChild Std. untuk membuatkan ilustrasinya. Hasilnya, luar biasa! Serangkaian ilustrasi super cute dibuatkan oleh InnerChild Std.! Saya menggunakan kata “dibuatkan” di sini karena saya sama sekali tidak membuat usulan ilustrasi. Jadi, ilustrasi murni interpretasi InnerChild Std. atas naskah saya. Hasilnya, seperti saya katakana tadi: rruarrr biasa! Mungkin agak aneh, hehehe… tapi saya jatuh cinta pada ilustrasi naskah ini.

Ilustrasi oleh InnerChild Std.

Maka, selanjutnya, naskah berikut ilustrasinya ini saya usulkan ke Penerbit Andi. Puji Tuhan, Penerbit Andi menerimanya. Proses di Penerbit Andi cukup lama, apalagi kemudian saya sakit. Naskah ini sebenarnya sudah selesai setahun lalu namun karena jatuhnya setelah masa Paskah maka ditunda ke tahun berikutnya yaitu tahun 2016.

Maret 2016 saya menerima email dari Penerbit Andi, mengabarkan bahwa naskah ini  sudah terbit per 1 Maret 2016. Betapa lega rasanya, mendengar berita itu. Naskah ini melewati perjalanan waktu yang cukup panjang sampai terbitnya. Lebih bersemangat lagi waktu saya menerima bukti terbit dan melihat isinya. Woah! Super duper cute! Apa yang saya bayangkan tentang isi buku yang kristiani dan cute tertuang di situ. Puji Tuhan!

Terima kasih pada Penerbit Andi. Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk InnerChild Std. Mudah-mudahan buku ini bermanfaat (untuk anak-anak Sekolah Minggu, khususnya) dan diterima oleh anak-anak di seluruh Indonesia ya.


Pembatuan, 16 April 2016

@agnes_bemoe

Info detil tentang buku ini bisa dibaca di sini.

Sunday, 20 March 2016

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: KETIKA ANAK 8 TAHUN MENULIS

Judul Buku                  : Ugly Hammerhead Shark
Penulis                         : Kiera E. Kusuma, Jaythaneal S. Sutrisno, P. Nina Hamdani
Bahasa                         : Bahasa Inggris
Ilustrator                     : Hans Christian
Penerbit                       : CV Jade Edukasi
Genre                          : Fiksi Anak
Jumlah Halaman          : 56 halaman



Kata orang, kualitas lebih berarti daripada kuantitas. Buku ini salah satu buktinya. Isinya hanya tiga buah cerita tapi cerita-cerita di dalamnya sangat menarik dari segala aspeknya.
Ambil contoh cerita yang ditulis oleh P. Nina Hamdani (8 tahun). Nina menulis tentang Ade, orang utan yang super manja. Karena kemanjaannya itu orang tua angkatnya memutuskan untuk mengembalikannya ke kebun binatang. Dari situlah permasalahan Ade dimulai: ia yang terbiasa manja tidak tahan dengan kehidupan mandiri dan bebas di luar rumahnya.
Kedengarannya sederhana ya? Tapi justru kesederhanaan ide itulah yang membuat cerita ini menarik. Apalagi, Nina piawai mengeksekusi ide dan menuangkannya ke dalam cerita. Cerita mengalir lancar dalam bahasa Inggris yang berterima. Cerita juga terasa cute, khas cerita anak.  Melihat betapa sempurnanya tata bahasa dan kosa kata, disertai dengan gaya bercerita yang luwes, sulit untuk percaya bahwa cerita itu ditulis oleh anak yang baru duduk di kelas 3 SD. Dua cerita lainnya, yang ditulis oleh anak berusia 8 dan 9 tahun, juga memiliki kualitas yang sama. 
Cerita-cerita di buku ini menawarkan ruang yang luas pada pembacanya untuk berimajinasi. Lembar demi lembar menuntun pembacanya untuk sejenak pindah ke kehidupan Bella, Hammerhead Shark, dan Ade. Masing-masing adalah ketiga tokoh dalam cerita-cerita tersebut. Apa lagi yang bisa diharapkan pembaca selain dipuaskan kehausannya untuk berimajinasi?
Ketiga cerita itu juga menunjukkan bahwa penulisnya punya pengetahuan yang dalam tentang apa yang ditulisnya. Bacalah cerita “Ugly Hammerhead Shark”, cerita kedua yang menjadi judul buku ini, anda akan dibawa pada keindahan beraneka ikan, khususnya hiu.
Buku ini, menurut saya, sebentuk angin segar dalam dunia perbukuan anak Indonesia. Tidak hanya karena isinya yang bagus dan menarik tapi juga karena ditulis oleh anak-anak Indonesia, dalam usia mereka yang masih sangat muda.
Beberapa kali dalam beberapa tulisan saya mengungkapkan keprihatinan saya tentang buku anak Indonesia yang semakin denotatif, penuh ajaran/informasi (beberapa di antaranya malah ajaran untuk membenci kelompok/makhluk lain), miskin imajinasi, dan ditulis dengan bahasa yang amburadul. Buku ini saya rasa menjadi alternatif bagi orang tua yang membutuhkan bacaan bermutu untuk anak-anaknya.


Pekanbaru, 21 Maret 2016

Agnes Bemoe