Wednesday, 15 April 2015

39 untuk Fito

Saya baru saja membuat sebuah buku kumpulan puisi.
Bukan berarti saya penyair yang mampu menghanyutkan pembaca dengan kata-kata. Saya bukan penulis puisi apalah lagi penyair. Buku itu saya buat sebagai kado ulang tahun bagi seorang teman.

Sebenarnya ini sejenis kado yang berisiko. Teman saya ini seorang yang sangat mahir merangkai kata. Ia penyair, malah. Memberinya sekumpulan puisi karya sendiri seperti memasakkan telor ceplok buat Chef Gordon Ramsey. Saya bukannya tidak menyadari.

Untukmu puisi-puisi ini kutulis.
Kepadamu, puisi-puisi ini kutujukan.

Entah kenapa puisi yang kugubah. Padahal aku bukannya mahir berkata-kata.
...

Itu yang saya tulis di Prolog untuk menunjukkan bahwa saya tahu benar kemampuan (atau ketidakmampuan?) saya menulis puisi.

Lalu, kenapa nekad memberikan kado puisi? Satu buku pula!
Saya tidak tahu. Tidak semua kenekadan bisa dijelaskan. Kalau ada penjelasannya, mungkin malah saya tidak jadi nekad.

Kembali ke buku puisi.

Kenekadan saya itu sudah sampai ke tangan teman sebagai kado. Syukurlah. Mudah-mudahan yang bersangkutan suka :D

Biar bagaimanapun "cerita boleh usai, puisiku pun berbatas kata..." (Epilog), tapi semoga pertemanan bahkan persahabatan ini tidak berbatas. Amin.

***

Pembatuan, 15 April 2015
@agnes_bemoe




Tuesday, 7 April 2015

Ndut

Ada nggak yang percaya kalau saya pernah dipanggil "Ndut"? Kalau tak ada, saya bisa mengerti. Dengan berat badan 40 kg tinggi 161 cm seperti ini mungkin cuma yang siwer saja yang akan manggil saya "Ndut".

Kenyataannya, saya pernah dipanggil "Ndut". Waktu saya masih berumur 2 tahunan badan saya (katanya) gemuk, gendut, chubby. Makanya Om dan Mama Kecil yang merawat saya memanggil saya "Ndut".

Selanjutnya, pertambahan umur berbanding terbalik dengan berat badan. Saya bahkan tidak pernah mencapai berat badan ideal, apalah lagi gendut. Namun, seingat saya, saya tidak pernah panik dengan kekurusan saya. Yang panik biasanya orang lain. Mereka takut saya sakit. Padahal saya (cuma) kurus.

Mengenai sakit, satu hal yang selalu saya banggakan adalah biarpun kurus saya sehat. Waktu masih sekolah, saya lebih kuat lari (atau olah raga lain) daripada teman-teman yang lebih gemuk. Saya pun relatif jarang sakit.

Jadi, kurus tidak pernah jadi masalah buat saya.

Sampai ketika saya masuk RS Agustus 2014 kemarin. Ketika masuk BB saya 40 kg. Satu bulan di RS BB saya turun 5 kg menjadi 35 kg. Kata Suster, kurangnya berat badan membuat badan saya tidak punya cukup amunisi untuk melawan penyakit.

Saat itu saya melihat diri saya sendiri aja ngeri. Badan saya kuruuuuuus sekali. Kaki saya seperti ranting kering. Mirip media rangka manusia yang biasanya dipajang di laboratorium Biologi di sekolah-sekolah.

Itulah untuk pertama kalinya saya cemas dengan kekurusan saya. Dan untuk pertama kalinya juga saya ingin menambah berat badan.

Saya mendapat banyak saran dari teman facebook yang intinya: makan banyak dan sering. Masalahnya, saya tidak suka makan. Porsi makan saya juga kecil. Meningkatkan nasfu makan adalah perjuangan buat saya.

Tak nyana saya segera menemukan jawabannya. Nafsu makan saya meningkat drastis berkat renang (P.S. Saya berenang karena HNP). Sehabis berenang saya selalu kelaparan. Kalau sudah kelaparan saya bisa makan apa saja! Kelaparan juga membuat saya doyan ngemil.



Saya membuka hari dengan minum kopi decaf dan biskuit. Lalu sarapan nasi. Sekitar jam 10 saya makan buah. Lalu makan siang (nasi dkk) dan makan malam (nasi, kadang-kadang mi instant, bakso, atau sate). Di antaranya saya ngemil, mulai dari chocolate chip sampai marning (jagung goreng). Saya menutup hari dengan segelas yogurt home made (tanpa pengawet) campur buah (sirsak, tomat, buah naga, atau strawberry).

Bandingkan dengan sebelumnya: pagi segelas teh, siang nasi dkk, malam mie instant atau seringnya tidak makan. Itu tanpa ngemil.

Tidak heran kalau BB saya merangkak naik. Mula-mula 2 kg lalu 5 kg! Itu berarti saya sudah kembali ke BB awal saya yakni 40 kg. Ternyata, terakhir saya timbang BB saya 45 kg! Owaauww!

Saya belum bisa dipanggil "Ndut" pastinya. Tapi yang jelas saya tidak lagi sekurus media tengkorak di laboratorium Biologi.

***

Pembatuan, 8 April 2015
@agnes_bemoe

Friday, 3 April 2015

3 April 2015

Ini hari Jumat Agung. Hari paling agung sepanjang tahun. Harusnya saya nulis sesuatu yang religius. Sayangnya, belum bisa. Yang mau saya tulis ini luahan hati yang jauh dari religius. Itu juga kalau saya berhasil menuliskannya. Biasanya, butuh waktu lama atau bahkan tak bisa tertuliskan sama sekali.

Seminggu ini saya mengikuti berita berpulangnya Olga Syahputra. Saya memang penggemar komedian ini sejak mendiang di acara Ceriwis. Saya tak menduga, menonton tayangan ini punya pengaruh buat saya.

Tadi pagi, lagi-lagi saya mengikuti berita tentang mendiang. Kebetulan, dilanjutkan dengan berita berpulangnya ayahanda seorang presenter gossip. Saat itulah saya merasakan sesuatu yang amat sangat tidak nyaman. Saya minta adik saya memindahkan channel. Tapi, karena adik tidak mengerti, dia berkeras.

Saya benar-benar tak tahan. Saya berteriak sekeras-kerasnya. Napas saya sesak. Badan saya gemetar. Saya tidak ingin ada di dalam rumah :’(

Dan, mulai lagi! Segala pikiran yang menakutkan hinggap di kepala saya. Berulang kali saya berbisik: Tuhan sayang kamu, Tuhan sayang kamu, sambil menahan diri untuk tidak lari membebaskan diri dari sesuatu yang menghimpit saya.

Saya lalu mengambil tab. Saya buka Gallery dan mencari folder “Calming Picture”. Isinya gambar-gambar doggy yang lucu-lucu.  Saya pandangi ratusan gambar doggie itu (saya buat slide show). Pada saat yang sama tetangga sedang menyetel lagu. Suara dentuman loud-speaker tetangga membuat saya tambah ketakutan (entah kenapa, kalau sedang ketakutan, telinga saya peka sekali). Saya tidak nyaman memakai head-set, tapi tidak ada pilihan lain. Saya pasang head-set untuk menangkal bunyi loud-speaker tetangga. Saya putarkan instrumentalia Yiruma, Kenny G, dan beberapa lagu balada kesukaan saya.

Saya tidak tahu berapa lama saya berjuang melawan rasa takut aneh ini. Lalu, ada suatu saat ketika saya teringat Yesus. Biasanya, saya membayangkan Yesus memeluk saya atau saya rebah di pangkuanNya. Kali itu, entah kenapa, yang terbayang malah Yesus yang sedang berdarah-darah di kayu salib. Aduh! Jujur, saya paling tidak suka melihat gambar Yesus seperti itu. Bila ada gambar seperti itu di facebook, pasti saya skip cepat-cepat.

Anehnya (untungnya), kali ini saya tidak merasakan ketidaknyamanan. Saya malah membayangkan bersimpuh di dekat kaki Yesus yang penuh luka dan berdarah. Saya bilang, Tuhan Yesus, kasihanilah saya. Saya ketakutan.

Lalu, saya mengarang sebuah percakapan di kepala saya. Seolah-olah Tuhan Yesus menjawab: “Tenang aja, Nes, Aku di sini. Masak kamu takut sih. Aku di sini kok…”
Berulang kali saya mengulang kata-kata itu: “Tenang aja, Nes…”
Pelan, air mata saya turun. Tuhan, kata saya, saya nggak butuh terkenal, nggak butuh apa-apa. Saya butuh sembuh. Nggak mau ketakutan seperti ini lagi. Tuhan jangan jahat-jahat dong sama saya.

Kurang tahu juga berapa lama saya seperti itu. Yang jelas, slide show doggies masih berlangsung, Yiruma pun masih mengalun. Puji Tuhan, pelan-pelan saya merasa santai. Saya ingat sempat sekejap tertidur kelelahan.

Ini bukan kejadian pertama.

Bulan Desember tahun lalu saya juga intens mengikuti perkembangan berita Air Asia. Sama seperti semua orang, saya sangat terkejut dan berduka dengan musibah yang menimpa Air Asia. Lalu, di suatu siang, saya sedang menonton tayangan tentang Air Asia ketika saya merasaka sesuatu yang lain. Saya melihat ke pintu keluar. Saya ingin lari! Tuhan, ini adalah perasaan paling tidak enak yang harus saya alami….

Segera saya matikan TV. Saya sedang sendirian karena adik di sekolah. Saya hanya terdiam di tempat tidur sambil mencoba mengatur napas. Untungnya, terror itu cepat hilang.  Saya membiarkan hal itu berlalu dan tidak ingin mengingatnya lagi. (saya bahkan tidak ceritakan hal ini ke adik). Kejadian di pesawat dan kejadian kemarin siang membuat saya teringat lagi.

Saya menuliskannya, berharap setelah ini saya lupa. Benar-benar lupa, kalau perlu terhapus dari ingatan saya.

***
Pembatuan, 4 April 2015
@agnes_bemoe

Mungkin Anda mau baca ini juga: Naik Pesawat

Naik Pesawat

Naik pesawat bukan hal baru buat saya. Selama ini saya naik pesawat tanpa ada masalah. Makanya, saya heran dengan kejadian terakhir yang saya alami ketika mau ke Jakarta, 25 Maret 2015 lalu.

FYI saya berangkat dengan kondisi super excited. Memang saya ke Jakarta untuk berobat tapi jujur saya malah tidak mengingat sama sekali tentang pengobatan (Sila baca Berobat ke Jakarta). Karenanya, tidak ada sedikitpun rasa takut hinggap di pikiran saya. Saya malah senang akan bertemu dengan adik.

Ketika sudah di pesawat saya duduk baik-baik seperti biasa, mengucapkan doa, lalu membuka-buka majalah pariwisata yang disediakan (semua yang saya lakukan normal-normal saja). Begitu pesawat mau take off, saya tutup majalah pariwisata yang tadi saya baca lalu melihat ke luar.

Detik itu jugalah terror itu datang.

At a sudden. Dalam satu kedipan mata. Tanpa aba-aba. Saya menoleh ke langit-langit pesawat. Langit-langit seakan menyempit. Napas saya sesak. Aduh, saya sulit menggambarkannya kembali. Saya ingin lari keluar dari pesawat.

Tenang, tenang, tenang, kata saya dalam hati. Kalau ada apa-apa, peluk saja bapak yang ada di sebelahmu (di sebelah saya duduk seorang bapak-bapak). Saat itu saya butuh pikiran gila ini untuk mengembalikan kewarasan saya.

Segera saya meraih majalah pariwisata yang tadi saya letakkan. Saya baca tiap kalimatnya, huruf demi huruf, dengan seksama. Majalah itu adalah majalah dwi-bahasa. Saya baca bahasa Inggrisnya berikut bahasa Indonesianya. Saya seperti berlomba lari dengan pikiran saya sendiri. Saya harus mengalahkan pikiran menakutkan yang sedang menguasai akal sehat saya. Oh, Tuhan, andaikan saya tidak harus menulis tulisan ini.

Kuping saya terasa sesak dan sakit. Perut saya mual. Berulang kali saya minta permen dari pramugari. Memang diberi sih. Tapi lama-lama saya malu sendiri. Saya isap-isap lidah saya untuk mengurangi sakit di telinga.

Yang membantu mengurangi horror di telinga saya adalah sekumpulan ibu-ibu di depan saya. Mereka bercerita dengan riuhnya sepanjang penerbangan. Suara mereka membantu saya menyadari bahwa saya tidak tuli (saya takut tuli). Dalam keadaan normal saya pasti terganggu dengan kebisingan itu. Namun pagi itu, saya bersyukur sekali ada sekumpulan ibu-ibu dengan suara riuh mereka.

Penerbangan saya isi dengan membaca. Seperti yang saya katakan tadi, saya baca semua huruf di majalah tersebut. Tidak bermasud lebay, tapi ini amat sangat tidak nyaman buat saya.

Sampai di Jakarta, tujuan pertama saya adalah kamar kecil. Saya langsung muntah (aduh, nggak enak banget dibaca ya…)

Ini adalah ketiga kalinya saya merasa ketakutan yang tak beralasan (saya tahu ini tidak beralasan, tapi rasa takut saya itu begitu mencengkeram sampai-sampai logika saya tidak mampu menepisnya). Kalau tulisan ini berhasil di-posting maka ini adalah tulisan kedua yang berhasil saya buat mengenai ketakutan saya ini (yang pertama ketika saya masuk mesin MRI, sila baca di sini).

Pengalaman tak enak saya ketika di RS tidak pernah berhasil saya tuliskan :’(

Ya, pasti banyak yang tidak percaya. Banyak yang menyangka saya mengada-ada. Lebay, manja, dst. Whatever. Saya tuliskan terutama buat diri saya sendiri. Saya perlu mengeluarkannya.

Saya tuliskan juga buat siapa saja di luar sana yang mungkin mengalami hal yang sama. Saya tahu, pengalaman seperti ini SULIT diceritakan dan dituliskan.

Secara lisan pengalaman ini hanya saya ceritakan pada adik saya. Puji Tuhan, dia adalah pendengar yang baik. Dia tidak menunjukkan ekspresi tidak percaya. Dia tidak menuduh saya mengada-ada (secara verbal maupun diam-diam, melalui air muka). Dia hanya bertanya, apakah saya takut pesawat jatuh. Saya katakan tidak. Saya takut saja. Takut pesawat menyempit dan menghimpit saya. Pikiran itu membuat dada saya sesak dan perut saya mual. Dia tidak memperdebatkan jawaban saya. Dia hanya mendengarkan, dan itu sudah lebih dari cukup buat saya.

Lalu, bagaimana ketika pulang?
Itu juga yang langsung jadi kecemasan saya. Sengaja saya tidak mau memikirkan dan membahasnya. Kalau saya bahas malah semakin besar kecemasan saya. Namun, mau tak mau terpikir juga, terutama ketika saya sedang menunggu boarding. Ada waktu sekitar dua jam sebelum boarding dan saya tidak punya kegiatan untuk mengalihkan perhatian saya.

Lagi-lagi, adik saya yang saya mintai tolong. Dia tidak bisa mengantarkan saya sampai bandara makanya saya sendirian di bandara. Namun, saya membombardirnya dengan obrolan di Blackberry. Saya ketikkan semua yang ada di kepala. Karena kesibukannya terkadang adik tidak langsung membalas. Saya tidak peduli. Tetap saya kirimkan “cerita” melalui Blackberry. Puji Tuhan, tanpa terasa waktu berlalu sampai tiba-tiba terdengar panggilan untuk boarding.

Biarpun saya merasa sudah mengantisipasinya, terror itu tetap juga datang.
Saya ambil majalah pariwisata dan saya baca semua isinya. Sayangnya, majalah pariwisata ini tipis sekali. Artikelnya juga pendek-pendek. Lebih banyak iklan pendek daripada artikel. Dalam waktu sekejab sudah selesai saya membacanya.

Syukurlah, sebelum tidak bisa berpikir karena terlalu panik, saya teringat di tab saya ada game. FYI, saya bukan penggemar game. Saya benci, malah. Sangat tidak berguna, pikir saya. Nah, kemarin malam, anak adik saya ingin main game di tab saya. Karenanya, saya menginstalkan dua buah game kesukaannya: Angry Bird dan Boboiboy.

Saya lalu melakukan hal yang tidak akan pernah saya lakukan dalam keadaan waras: main Angry Bird!

Dan, Puji Tuhan, Angry Bird menyelamatkan saya. Saya asyik main sampai tiba-tiba saya mendengar suara pilot memberi perintah pada pada flight attendant untuk mempersiapkan pendaratan. Pendaratan? Benar, saya melihat Sungai Siak yang berkelok-kelok di bawah. PUJI TUHAN! Lebih bersyukur lagi karena penerbangan kali ini saya tidak muntah. Saya memang merasakan telinga sakit tapi saya sudah membeli permen banyak-banyak di Cengkareng untuk menguranginya.

Terpikir oleh saya, bagaimana nanti kalau saya mau naik pesawat lagi. Saya juga kurang tahu. Mudah-mudahan terror dan horror ini bisa tertangani. Saya mohon doa dari teman-teman semua.

***
Pembatuan, 3 April 2015

@agnes_bemoe





Friday, 27 March 2015

Meet The Artist

Bertemu teman, apalagi yang sudah lama tidak ketemu, pasti menyenangkan. Itulah juga yang sebenarnya saya inginkan waktu ke Jakarta kemarin. Hasrat hati memeluk gunung, apadaya tangan tak sampai. Dengan kondisi badan yang “sowak” begini, pertemuan dengan teman hanya akan jadi beban buat teman tersebut.

Fidelis R. Situmorang

Namun demikian, saya bersyukur bisa bertemu dengan salah seorang idola saya, Fidelis R. Situmorang, seorang penulis dan penyair. Saya baca karyanya sejak bukunya yang pertama “Remah-Remah Kehidupan”, sebuah kumpulan puisi yang romantis dan manis banget. Indah dan sangat menyentuh.

Saya langsung “jatuh hati” sejak karya pertama itu dan terus mengikuti buku-bukunya sampai yang terbaru, “Butir-Butir Hujan”. Walaupun semua buku Fidelis R. Situmorang terasa spesial buat saya tapi ada dua buah di antaranya yang istimewa: “Pejaten – Dekat di Hatimu” dan “PULANG”.

Hadiah dari Fidelis R. Situmorang buat saya
Buku-buku itu sampai ke meja saya 25 Maret 2014. Saat itu saya sedang pemulihan setelah disuntik SNRB (Selective Nerve Root Block) karena sakit HNP (Herniated Nucleus Pulposus) atau syaraf kejepit. Selain itu, saya juga sedang dalam tahapan penyembuhan depresi, yang dipicu oleh sakit fisik saya. Intinya, saya sedang super ringsek, fisik dan mental.

Dalam kondisi seperti itu, membaca kedua buku Fidelis, terutama PULANG, seperti sebuah terapi buat saya. Banyak sekali kalimat yang seolah-olah ditujukan pada saya, atau ingin saya ungkapkan tapi tidak mampu. Saya benar-benar terhanyut oleh novel pendek itu. Bukan hanya karena ceritanya yang kuat, dalam, dan menyentuh, tetapi juga karena seolah-olah ada kedekatan dengan diri saya.

Saya bersyukur mendapat hadiah dua buah novel pendek itu dari penulisnya langsung. Entah apa yang mendorong Fidelis mengirimi saya novel itu. Beliau tidak tahu saya sakit dan butuh bacaan yang menenangkan. Saya juga tidak pernah berkomunikasi sebelumnya, apalagi minta dikirimi buku.

Jamak kalau kemudian saya berharap bisa bertemu dengan penulis idola saya itu. Ingin tahu bagaimana proses kreatif beliau sehingga karya-karyanya begitu menyentuh dan menggugah.

Fidelis R. Situmorang ternyata sangat rendah hati. Ramah, bersahabat, santun tapi kocak juga. Sangat menyenangkan bisa ngobrol langsung dengannya. Menurut penulis yang lahir dan besar di Jakarta ini, cerita-cerita yang ditulisnya mengalir dari kehidupan sehari-hari di dekatnya. Setting yang dimunculkan dalam cerita juga yang beliau temui sehari-hari. Contohnya adalah kantor BKN Cililitan  (dalam novelette PULANG) yang ternyata lokasinya berdekatan dengan kediamannya di Cawang.

Seperti saya duga, Fidelis adalah pelahap buku sejati (jarang memang saya temui orang yang jago menulis tidak suka membaca). Beliau suka baca apa saja, tapi, kata beliau, favoritnya adalah buku-buku sejarah. Tidak heran kalau saya menemukan nukilan-nukilan sejarah di beberapa tulisannya. Saya duga, beliau juga seorang researcher yang tekun.

Buku-Buku Karya Fidelis R. Situmorang

Penggemar kopi dan jazz ini juga seorang pengamat yang teliti dan sangat memperhatikan detail. Dari pengamatannya itulah beliau sering mendapatkan ide ataupun bantuan untuk mengeksekusi ide. Kemampuannya mengamati dan merekam detail “sepele” di sekitarnya inilah yang tampaknya membuat tulisan-tulisannya menjadi membumi dan karenanya menyentuh.

Satu hal yang saya pelajari dari beliau adalah kehati-hatiannya dalam membuat tulisan. Sangat perlu membaca ulang sebuah tulisan dan jangan buru-buru memposting atau mem-publish, itu pendapat beliau. Jangan sampai sebuah tulisan menyakiti atau menimbulkan perasaan tidak nyaman bagi pihak-pihak tertentu. Beliau juga menghindari menggunakan kisah hidup teman sebagai bahan ceritanya walaupun tidak bisa dihindari bahwa kisah hidup bisa mirip satu dengan yang lain.

Ah, andaikan bisa lebih lama ngobrol dengan penyair yang  baik hati ini pasti lebih banyak ilmu yang saya dapatkan. Sayangnya, waktu saya tidak banyak. Namun demikian, saya sudah bersyukur sekali. Mudah-mudahan suatu saat kelak saya diperbolehkan lagi berjumpa dengan beliau dan menggali lebih banyak ilmu. Amin. Saya juga menantikan buku(-buku) terbarunya (dengan tidak sabar) :D

***

Pembatuan, 27 Maret 2015
@agnes_bemoe

Resensi saya atas kumpulan puisi "Remah-Remah Kehidupan" bisa dibaca di sini: Mencicipi Remah-Remah Fidelis

Resensi saya atas novelette "Pejaten - Dekat di Hatimu" bisa dibaca di sini: Besame Mucho, Riri

Kesan saya atas kumpulan puisi "Butir-Butir Hujan" bisa dibaca di sini: Butiran Luka


Wednesday, 25 March 2015

Berobat ke Jakarta

Puji Tuhan, akhirnya saya diberi kesempatan berobat ke Pak Yuyun, ahli akupunktur yang terkenal bertangan dingin mengobati pasien HNP (Herniated Nucleus Pulposus) alias syaraf kejepit.

Sudah lama saya dengar reputasi beliau. Sudah lama juga saya ingin berobat. Jarak yang jauh (yang pasti menimbulkan biaya yang tidak sedikit) serta badan saya yang belum kuat benar membuat keinginan tersebut beberapa kali tertunda.

Merasa mulai agak kuat, tannggal 25 Maret kemarin, saya pun menemui Pak Yuyun.

Syukurlah, perjalanan dengan pesawat tidak menimbulkan nyeri. Selanjutnya, perjalanan dengan bus dari bandara ke penginapan di Cililitan juga tidak ada masalah. Sip!

Berkendara dengan taxi menuju rumah Pak Yuyun ternyata yang cukup menguji nyali. Saya mulai merasa nyeri, apalagi kalau taxi melintasi polisi tidur atau jalan tidak rata. Untung saya bersama adik, yang saya paksa untuk menyediakan lengannya  buat saya cengkeram kuat-kuat untuk menahan sakit :D

Semua itu ternyata tidak seberapa dengan yang harus saya hadapi di ruang praktek Pak Yuyun!

Saya sudah sering mendengar bahwa akupunktur dengan Pak Yuyun lebih sakit daripada akupunktur biasa. Oke deh, saya siap, pikir saya, menguatkan hati.
Ternyata, saya tidak siap. I litterally sobbed, uglily, when Pak Yuyun penetrated the needle into my lower back! Ruangan praktek Pak Yuyun full AC tapi telapak tangan dan leher saya berkeringat!

Hanya satu kata yang saya ulang-ulang buat menguatkan diri: sembuh! Sembuh! Sembuh!

Setelah dimasukkan, jarum-jarum akupunktur dialiri listrik. Aliran listrik malah menimbulkan sensasi enak, bukannya sakit. Terakir, punggung bawah saya diberi pijatan kecil dan diolesi semacam param.

Sebelum pulang, saya disuruh membungkuk oleh Pak Yuyun. Dan, memang saya bisa membungkuk dengan enak. Biasanya saya nyengir-nyengir menahan sakit. Kata Pak Yuyun, itu karena syaraf L5-S1 saya yang bermasalah sudah diperbaiki. Syukurlah. Ada bagian di sisi kanan yang belum berhasil diperbaiki karena saya sudah kesakitan sekali. Rasa sakit membuat badan saya sulit dimasuki jarum. Namun, menurut Pak Yuyun, bagian itu bisa diperbaiki dengan berenang.

Oke deh, dengan perasaan masih mengharu biru menahan sakit saya meninggalkan ruang praktek Pak Yuyun. Sakit di sini adalah sakit bekas tusukan jarumnya.

Hari ini rencananya saya mau istirahat full. Sangat bangak yang ingin saya lihat di Jakarta ini. Tapi, saya harus tahu diri :p

Mudah-mudahan besok perjalanan pulang saya lancar. Selanjutnya,  mudahan-mudahan saya bisa berativitas lagi. Mohon doanya ya teman-teman :)

***

Cililitan, 26 Maret 2015
@agnes_bemoe
Pagi Ini, dari jendela hotel di Cililitan

Sinaran



Burung-burung bernyanyi di hari kau lahir
Bintang-bintang mengerling di dua bola matamu
Malaikat pinjamkan hatinya untukmu
Mentari tiupkan hangatnya di senyummu

Sinaran, hadirmu begitu indah
Kau nyalakan kehangatan dalam hidupku
Engkau matahariku

Tahun-tahun berlari, tulis kisah sendiri
Perahumu berlayar pergi arungi dalamnya samudra
Dan kini ketika kau buka hari
Usia membawamu sampai si sini

Sinaran, hadirmu begitu indah
Kupanjatkan sgala doa bagi dirimu
Penuhlah bahagiamu

Sinaran, hadirmu begitu indah
Kuyakin 'kan kebahagiaan bagimu
Tertulis indah dalam hidupmu

Dari kejauhan hanya doa yang kuberi
Smakin indah dirimu dan tahun di depanmu

Sinaran, hadirmu begitu indah
Kupanjatkan sgala doa bagi dirimu
Penuhlah bahagiamu

Sinaran, hadirmu begitu indah
Kuyakin 'kan kebahagiaan bagimu
Tertulis indah dalam hidupmu

Sinaran, hadirmu begitu indah
Kupanjatkan sgala doa bagi dirimu
Tuhan menjagamu...

HAPPY BIRTHDAY!

***

Pembatuan, 25 Maret 2015
@agnes_bemoe

Dengarkan lagunya di SoundCloud di sini

Saksikan videonya di Youtube di sini.